EPS 75 KESERAKAHAN.
Allpanigard Castle adalah sebuah istana kecil dengan pemandangan yang indah karena terletak persis di bibir pantai. Arsitektur bangunan yang dibuat dengan corak Inggris abad ke-dua puluh terlihat megah. Secara keseluruhan jika dilihat dari udara bangunan Allpanigard Castle berbentuk kura-kura. Bangunan kastil ini dipenuhi ornamen-ornamen cantik khas Eropa yang menggambarkan kejayaan pemerintahan Kolonial Inggris saat itu.
Tapi suasana indah itu tak dirasakan oleh Susan See, penasihat hokum Mexican Media Viscom milik Marcon Alpanigard. Wajah cantiknya berubah menjadi marah, saat mendengar usulan Pramono kepada Marcon untuk menukar seluruh saham kepemilikan Media Televisi terbesar di Amerika Utara itu kepada Subrata. Dan dia langsung menunjukkan kemarahannya.
“Mexican Viscom Media adalah perusahaan media dan telekomunikasi teresar di seluruh kawasan Amerika, dan akan terus berkembang. Dan itu jauh lebih meguntungkan daripada bisnis property semacam Megapolitan.””
Pramono tertawa terkekeh.
“Kau benar Susan. Tapi tetap saja tidak ada artinya bila kau memiliki bongkahan emas sebesar Rocky Mountain yang terkandung sepanjang perbukitan Kethileng.”
Susan memandang wajah Pramono tak mengerti. Lalu mengalihkan pandangannya ke wajah Marcon dengan tatapan mata yang tajam.
“Benarkah apa yang diucapkan Pramono Marcon?”
“Seberapa besar keyakinanmu kepada Pramono?”
“Bahkan keyakinanku lebih besar daripada Pramono saying. Karena satelitku yang pertama kali mendeteksi keberadaan gunung emas di perbukitan Kethileng itu.”
Betapa kesalnya wajah Susan. Dia seperti tak percaya Marcon merahasiakan hal sepenting ini darinya.
“Apa ada hal lain yang kau sembunyikan padaku Marcon?” tanya Susan lagi.
Marcon hanya mengangkat bahunya.
“Aku tidak pernah menyimpan rahasia denganmu Susan. Mungkin aku belum menemukan waktu yang tepat untuk membicarakannya denganmu. Itu saja, tidak lebih. Dan tidak ada maksud lainnya.”
Susan masih memandang wajah Marcon tak percaya. Tapi, paling tidak, sekarang dia tahu alasan Marcon begitu ngotot menguasai Megapolitan.
Bongkahan emas sebesar Rocky Maountain? Hm, batin Susan, it’s excellent!
“Kalau begitu biarkan aku terlibat dengan semuanya.”
Marcon terdiam. Dia tahu dia tak akan kuasa menolak keinginan Susan.
“Aku penasehat hukummu Marcon,” jujar Susan menegaskan. “Atau aku akan meninggalkanmu selama-lamanya.”
Marcon tergagap
“Ba..baiklah. Kau akan selalu aku libatkan dalam urusan ini Susan.”
Marcon menghembuaskan nafas lega. Sementara bibir Pramono langsung manyun dan mencibir. Hm, dasar laki-laki lemah, batinnya. Kalah sama perempuan.
***
Penulis perjalanan berkelana ke tempat-tempat yang jauh. Melukis nuansa lewat tulisan. Yang hanya bisa dinikmati oleh orang-orang yang hidup daya imajinasinya.
Di depan tiga orang anak muda yang menghadapnya Subrata bersikap santai. Tapi karisma dan wibawanya sungguh luar biasa. Tdak ada emosi yang tergambar diwajahnya sehingga orang tidak bisa menebak apakah Subrata sedang senang, sedih, marah, atau kecewa. Dia duduk mencagkung, kakai kanannya menyilang di atas kaki krinya, dan kedua tangannya terlipat di atasnua.
“Bolehkah akumeceriterakan satu kisah kepada kalian tentang keserakahan?” Tanya Subrata.
Subrata tersenyum, lalu dia mulai menceriterakan kisah itu.
Alkisah ada seorang petani yang hidup bersahaja namun bahagia bersama istri dan anak-anaknya. Mereka memiliki makanan yang cukup, bisa berpakaian layak, dan tinggal di rumah yang sederhana tetapi nyaman dan penuh kehangatan. Suatu hari, saat mencangkul di sawah, petani itu menemukan sebuah guci di dalam tanah.
Guci itu ternyata berisi keping-keping uang emas. Dia segera membawa harta itu pulang dan menunjukkan pada istrinya. Keduanya lalu menghitung emas itu, dan mendapati ada 99 keping uang emas.
Petani itu memandang istrinya dan berkata, “Mengapa hanya ada 99 keping ya? Mestinya ada 100 keping.”
Istrinya mengiyakan dan mereka berdua kemudian sepakat akan mencari keping ke-100. Seharian mereka mencari di sawah dan di tempat-tempat yang diduga menjadi tempat tercecernya satu keping itu. Namun hasilnya nihil. Sang suami kemudian bertekad menggenapi keping itu agar menjadi 100. Dia pun bekerja lebih keras dan berhemat agar bisa menukarkan uangnya dengan sekeping koin emas.
Mereka mengurangi jatah makan sehari-hari, dan tidak lagi membeli pakaian baru. Semua dilakukan demi memiliki keping emas ke-100. Namun usahanya tak kunjung mendapat hasil. Alih-alih mendapat emas, kondisi keluarganya malah menjadi buruk. Anak-anak mereka kurang makan, baju yang dikenakan lusuh, dan tiada lagi canda tawa karena si petani sibuk mencari keping terakhirnya.
Yang ada di pikirannya hanyalah menggenapi keping-keping emasnya. Dalam kondisi penasaran seperti itu, muncul niat tak terpuji di benak petani. Ia memutuskan mencuri untuk mendapatkan emasnya. Namun akhirnya, petani itu tertangkap dan dihadapkan pada raja. Sambil menangis dia berkata pada raja bahwa ia mencuri untuk mendapatkan satu keping koin emas.
Raja tertegun sejenak, lalu bertanya, “Apakah kamu menemukan guci berisi 99 keping emas?”
“Ya,” jawab petani.
“Ketahuilah, guci itu diletakkan di sana oleh iblis untuk menggoda manusia. Iblis tahu bahwa kita tidak pernah puas. Karenanya dia memasang umpan agar kita jatuh pada keserakahan,” kata raja.
Mendengar sabda raja itu, menyesallah si petani. Ia teringat anak-anak dan istrinya yang kini kurus dan telah ia abaikan. Ia teringat hidupnya dahulu yang bahagia. Kini harta justru membuatnya merasa miskin dan tidak pernah cukup. Petani itu pun berjanji untuk kembali pada kehidupannya semula. Mensyukuri apa yang dia miliki dan tak lagi tergoda oleh keserakahan.
“Apa maksudmu menceriterakan semua ini Mister Subrata?” tanya Marcon dengan nada tinggi.
“Maksudku? Apa kau belum bisa menangkap inti kisah tadi?” Subrata balik bertanya.
Marcon hampir saja berbicara lagi, tapi Susan menggamit punggungnya agar dia tidak terbawa emosi. Hanya Pramono yang duduk diam sambil memperhatikan. Dia sudah hafal benar karakter Subrata yang begitu percaya diri, tenang menghadapi berbagai situasi, dan siap memukul balik untuk memuat musuh frustasi.
“Terimakasih telah menceritakan kisahmu, sungguh inspiratif. Kita kembali ke inti persoalan Mister Subrata, tidak perlu berbelit," ujar Susan
Subrata menghela nafas. Tapi wajahnya begitu datar, hampir tanpa ekspresi. Kemudian dia berdiri, berjalan mondar-mandir seperti berpikir. Membuat para tamunya diam menunggu dalam gelisah. Yang paling kesal tentu saja Marcon Allpanigard. Perilaku Subrata benar-benar mengaduk-aduk perasaannya.
“Inti persoalan? Baiklah. Sekarang katakan apa maksud kalian datang kemari,” ujar Subrata akhirnya.
“Kami ingin mengakuisisi seluruh kepemilikan saham Megapolitan,” sahut Susan hati-hati.
Subrata menatap wajah Susan See dalam-dalam. Lawyer kelas atas di negeri paman Sam itu jadi salah tingkah. Tatapan Subrata seperti menguliti tubuhnya luar dalam. Hal yang membuat Marcon semakin sebal.
“Katakan Susan,” kata Subrata. “Apakah kau mencintainya?”
“Apa?”
Susan terkesiap kaget. Pertanyaan Subrata betul-betul di luar perkiraannya.
“Apa kau mencintai Marcon Allpanigard?”
Bahkan Marcon langsung berdiri dari tempat duduknya, saking kagetnya.