EPS 111 PERNIKAHAN PALSU
Siang begitu panas. Angin yang berkesiur lembut tak mampu mendinginkan sinar matahari yang terik. Kemarau panjang membuat semuanya menjadi kering. Debu dan tanah beterbangan di udara. Perjalanan Kyai Badrussalam dan Panembahan Mbah Iro mengikuti jejak Pranaja seperti menemui jalan buntu. Mereka sama sekali tidak melihat tanda-tanda keberadaan pemuda itu.
“Menurut firasatku, seharusnya Pranaja ada di sekitar sini,” ujar Kyai Badrussalam.
Mereka berdua berdiri tegak di depan bukit Sinduraja, sebuah bukit kecil yang cukup dikeramatkan. Di puncaknya terdapat candi kecil makam seorang pendekar sakti yang hidup pada jaman Belanda. Konon dia dijebak oleh antek-antek penjajah untuk membuat sebuah sumur yang dalam. Saat dia berada di dalamnya, para pengkhianat itu menimbunnya dengan batu-batu besar. Kemudian mereka membuat sebuah candi kecil diatasnya.
“Kau benar. Memang jejaknya berhenti di bukit ini,” sahut Panembahan Mbah Iro.
Saat mereka berada dalam ketegangan, tiba-tiba terlihat ada tiga sosok makhluk astral yang keluar dari dalam candi. Mereka melesat meninggalkan tempat itu dengan wajah ketakutan. Panembahan Mbah Iro dan Kyai Badrussalam saling berpandangan sejenak. Setelah itu tubuh kedua tokoh sakti itu melesat mengejar makhluk-makhluk yang tidak bisa dilihat oleh mata biasa tersebut
“Berhenti!” teriak Mbah Iro. “Kalau tidak akan aku musnahkan kalian semua!”
“Biarkan saja saudaraku,” cegah Kyai Badrussalam. “Mereka adalah petunjuk kita.”
Makhluk-makhluk astral itu menambah kecepatannya. Tubuh mereka meliuk-liuk di udara. Tapi Kyai Badrussalam dan Panembahan Mbah Iro tak membiarkan mereka lolos. Mereka mengejar ketiga makhluk astral itu kembali ketempat asalnya. Ternyata tempatnya cukup jauh dari bukit Sinduraja, Melewati lembah Silangit masuk ke dalam gua di kaki bukit Mendelem.
Kedua tokoh pendekar tua itu berdiri tegak di depan gua. Menunggu tuan rumah untuk keluar menyambutnya. Benar saja, sesaat kemudian, seorang kakek berpakaian hitam-hitam. Dengan ikat kepala berwarna hijau keluar dari dalam gua. Berjalan keluar dengan tongkatnya yang berbentuk kepala ular. Kedua matanya menatap tajam ke depan. Dan siapapun terkesiap melihatnya karena kedua mata kakek itu berwarna putih semua!
“heh..heh..heh..” suara ketawanya membuat siapapun merinding mendengarnya. “Nyalimu besar juga berani menginjakkan kaki di rumahku, orang tua. Siapa kalian?”
“Hm, rupanya kau Panut. Aku Badrussalam dan ini Panembahan Mbah Iro.”
“Heh..heh..heh.Kau sudah tahu namaku rupanya. Lalu kenapa kau masih berani menyambangiku? Heh..heh..heh..”
Kyai Badrussalam bersikap tenang, sementara Panembahan Mbah Iro mengawasi gerak-geriknya.
“Siapa yang menyuruhmu memata-matai kami?”
Mendengar pertanyaan itu, ki Panut malah semakin terkekeh.
“Heh..heh..heh..kau pasti mencari anak muda itu kan? Heh..heh..heh..”
“Jawab saja sahabatku Panut,” sahut Mbah Iro dengan geram. “Atau aku akan memaksamu.”
Panut terhentak. Dia merasakan aura yang begitu kuat dalam diri kedua orang didepannya itu. Dan dia sadar, dia tidak akan sanggup melawan mereka.
“Heh..heh..heh.. Sabar Iro, aku juga tidak mau bertarung denganmu. Tentu saja aku akan memberitahumu.”
Hiyaa!
Ki Panut mengangkat tongkatnya. Dari ujung tongkatnya yang terukir kepala ular keluar asap berwarna abu-abu tua. Asap itu terus mengepul menghalangi pandangan. Namun di tengah asap terpampang gambar makhluk menyeramkan yang menjebak Pranaja. Setelah itu asapnya menghilang, dan tubuh ki Panut juga ikut lenyap dari tempat itu.
“Iblis setan dajjal busuk!” Mbah Iro mengeluarkan sumpah serapahnya. “Makhluk jelek macam apa ini yang berani menjebak cucuku?”
Kyai Badrussalam tidak menanggapi kemarahan Mbah Iro. Tubuhnya melayang tenang masuk ke dalam gua. Panembahan Mbah Iro langsung menyusul di belakangnya. Begitu keduanya masuk ke dalam gua, pemandangan di depan mereka langsung hilang. Berganti dunia yang penuh warna, dan tubuh mereka tersedot melewati pintu portal menuju alam gaib.
Heyaa!
Tubuh keduanya berputar di udara, lalu mendarat dengan kuda-kuda yang kokoh di tengah ruang Pelaminan Istana peri. Tepat ketika seorang peri tua dan jelek mengumumkan pernikahan Pranaja dengan Dewi Nawangwulan.
“Upacara Perkawinan segera dilaksanakan!”
Semua yang hadir di ruang itu terkesiap kaget. Bahkan wajah Dewi Nawangwulan berubah pucat saat melihat Kyai Badrussalam. Dia langsung memerintahkan para prajuritnya untuk menyerang kedua tamu yang tak diharapkan itu. Ratusan prajurit Istana Peri langsung melakukan pengepungan dengan senjata terhunus. Tombak yang ujungnya memancarkan sinar keabu-abuan dan mengeluarkan asap hitam yang beracun.
“Aarggh!”
Teriakan mereka bagaian auman singa yang berada pada puncak kemarahan. Wajah-wajah prajurit yang semula berujud manusia berubah menjadi wajah-wajah berlubang, mata yang membesar merah menyala serta gigi taring panjang yang terus meneteskan darah.
Panembahan Mbah Iro berdiri tenang. Kedua tangannya bersedekap sambil membaca mantera-mantera perlindungan yang diambilnya dari kitab Irodarsulasikin. Seperti ada selubung putih yang menutupi tubuh keduanya. Saat makhluk-makhluk berlompatan menyerang ke arah mereka, selubung putih itu bergerak meluas. Menabrak tubuh makhluk-makhluk astral yang masih berlompatan di udara. Dan akibatnya sungguh di luar dugaan, tubuh-tubuh makhluk mengerikan itu langsung musnah, hilang tak berbekas.
Eeerkkk! Eeerkkk! teriak mereka kesakitan sebelum hilang dari pandangan.
Makhluk-makhluk astral lainnya terpaksa menghentikan gerakannya. Namun selubung putih itu terus membesar, menyapu dan memusnahkan setiap makhluk yang ada di ruang Pelaminan. Melihat situasi yang mengancam, Dewi Nawangwulan segera berbisik lembut di telinga Pranaja.
“Kakang pangeran, kita kedatangan tamu yang hendak menghancurkan perkawinan kita. Cegah dan bunuhlah kedua orang itu.”
“Apa!?”
Pranaja tercengang dan tidak tahu harus berbuat apa. Kedua matanya jelas melihat Panembahan Mbah Iro dan Kyai Badrussalam, tapi entah kenapa hati dan pikirannya seperti terdorong untuk menyerang mereka. Secara reflek tubuhnya meloncat ke depan menyambut selubung putih itu. Dan dengan satu kali gerakan, selubung putih yang telah membunuh ratusan makhluk astral itu langsung hilang.
“Hentikan kakek! Kenapa kalian berbuat kekacauan di hari pernikahanku?” teriak Pranaja dengan nada tinggi.
Panembahan Mbah Iro dan Kyai Badrussalam terkesiap dan memandang takjub. Mereka tahu tubuh dan jiwa Pranaja sedang dalam pengaruh kekuatan pengasihan yang paling kuat, tetapi kesadarannya masih tetap utuh. Pemuda itu masih mengenali kedua kakek yang sangat dihormatinya.
“Kau bisa mengenali kami Pranaja?” sahut Panembahan Mbah Iro.
Kyai Badrussalam bersikap waspada. Kalau sampai Pranaja menggunakan kekuatannya untuk melawan, itu artinya bahaya mengancam jiwa mereka. Pranaja bukan hanya menguasai kekuatan Anugerah Mata Dewa tapi juga menguasai kekuatan sang Raja Surya, kekuatan paling tinggi di alam semesta.
“Tentu saja kakek, aku kan belum buta,” kata Pranaja lagi semakin kesal.
Kenapa kakeknya melontarkan pertanyaan sebodoh itu? batinnya.
“Kalau begitu buka hati dan pikiranmu cucuku! Menjauhlah dari makhluk jelek buruk rupa yang hendak menipumu dan pura-pura mau menjadi isterimu itu,” ujar Panembahan Mbah Iro lagi.
Kemarahan Pranaja mencapai puncaknya. Mendadak sekujur tubuhnya dari ujung rambut sampai ujung kaki diselubungi api biru yang sangat panas. Lalu dengan satu kali hentakan segumpal api biru melesat dengan kecepatan tinggi, siap membakar tubuh Mbah Iro hingga hancur menjadi abu.
“Beraninya kau menghina calon isteriku kakek! Terima kematianmu!”