DIBALIK EMOTICON CINTA 1515 (END OF LOVE STORIES)

DIBALIK EMOTICON CINTA 1515 (END OF LOVE STORIES)
EPS 54 CINTA TANPA KATA


EPS 54 CINTA TANPA KATA


Siang itu cukup dingin. Matahari baru muncul setelah sepenggalah. Itupun tidak terlalu terang. Seperti ada kabut tipis yang menyelubungi udara sehingga cahaya matahari seperti kesulitan menembusnya. Wajahnya menjadi temaram namun cukup untuk membuat suasana menjadi lebih hangat. Sehangat suasana pagi itu di kantor pusat Megapolitan Intercorp, di lantai 68 gedung perkantoran Subrata’s Tower, Jakarta Pusat.



Ada pesta kecil menyambut kedatangan para karyawan baru yang hari ini mulai bekerja. Lima orang merupakan hasil seleksi ketat yang dilakukan tim sumber daya manusia bagian personalia Megapolitan Intercorp pimpinan Joni Kamandanu, sedangkan dua orang adalah pegawai baru yang direkomendasikan langsung Subrata. Mereka semua di tempatkan di divisi yang berbeda, kecuali Fitri Ray dan dua orang pegawai pilihan Subrata.


Mereka ditempatkan di bagian analisis kebijakan perusahaan, subah divisi kecil tetapi memiliki peran yang sangat penting dalam menentukan arah kebijakan perusahaan. Divisi ini dikepalai langsung oleh Fitri Ray dan berada dibawah kendali langsung Presiden Direktur Desta Rahman. Dia tidak tahu, kalau divisi baru ini memang dirancang oleh Subrata, dan dua orang yang direkomendasikan itu bertugas untuk melindungi calon menantunya.


“Kepada Ibu Fitri Ray Queena Aisha, dimohon mewakili teman-teman untuk secara simbolis menerima Surat Keputusan Pengangkatan Pegawai dan penyematan Pin Save Megapolitan,” ujar pembawa acara.


Fitri Ray kemudian maju ke depan diiringi tatapan seluruh pimpinan dan karyawan yang hadir di tempat itu. Hampir semua orang memuji kecantikan gadis keturunan Tionghoa berhijab itu. Wajahnya terlihat berwibawa dan cerdas serta penuh percaya diri. Tak heran dia menjadi lulusan terbaik program Magister ot Economy, Beijing University, sehingga bisa menyelesaikan studinya lebih cepat daripada yang lain.


“Di mohon kepada Presiden Direktur Megapolitan Intercorp, bapak Desta Rahman, untuk menyerahkan SK pengangkatan secara simbolis,” sambung si pembawa acara.


Desta Rahman maju ke depan dengan penuh wibawa. Walaupun usianya masih muda, namun dia mampu menunjukkan kinerja yang sangat baik, sehingga Subrata menunjuknya sebagi pelaksana tugas Presiden Direktur menggantikan Pramono untuk sementara. Setelah menyerahkan satu amplop besar, Desta menyalami tangan lembut Fitri dengan hangat.


“Selamat bergabung di perusahaan kami, bu Fitri. Semoga kehadiran kalian semua dapat mengembalikan citra dan kejayaan Megapolitan City,” ujarnya sambil menatap manik mata hitam mempesona itu dalam-dalam.


Fitri Ray menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.


“Terimakasih pak Desta. Mohon bimbingannya,” sahut Fitri merendah.


Lalu semua orang yang hadir di tempat itu pun memberikan tepuk tangan yang meriah. Mereka semua menyambut kedatangan pegawai baru dengan senang, kecuali mereka yang takut posisinya diambil alih oleh pegawai baru. Salah satunya adalah Anindya Respati, perempuan cantik, sekertaris pribadi presiden direktur, yang melihat Fitri Ray dengan tatapan penuh rasa cemburu.


“Rin, aku kok merasa tatapan pak Desta begitu mesra kepada pegawai bari itu ya?” bisiknya kepada Rindu, teman sekretaris lainnya.


Rindu malah tertawa.


“Yaelah, kamu cemburuan banget sih? Dari dulu tatapan matanya pak Desta ya memang begitu. Terlihat sayu dan meriang.”


“Meriang?” sahut Nindya tak mengerti.


“Iya, meriang. Merindukan kasih sayang. Dia kan jona, Jomblo mempesona,” ujar Rindu lagi masih sambil tertawa lirih.


Mereka pun tertawa mengikik dan baru berhenti saat Desta melirik mereka dengan wajah sedikit kesal.


***


Malam itu Fitri masih duduk di kantor Megapolitan City. Dia baru saja mengunjungi tempat dimana kebocoran gas yang menyebabkan banjir lumpur itu terjadi. Dari hasil pengamatan sementara gadis itu berkesimpulan kalau semburan lumpur berhubungan dengan kesalahan prosedur dalam kegiatan pengeboran. Atau bisa jadi, semburan lumpur kebetulan terjadi bersamaan dengan pengeboran akibat sesuatu yang belum diketahui.



“Kemungkinan kedua ini bisa jadi merupakan tindakan sabotase oleh pihak ketiga, yaitu musuh-musuh papa Subrata yang ingin menghancurkan Megapolitan,” batinnya.



Lalu siapa yang pantas dicurigai? Yang pertama jelas Pramono. Dia merupakan pelaku pertama yang diduga paling berperan andai tindakan sabotase ini benar-benar ada. Tapi Pramono tidak mungkin bekerja sendirian, karena untuk melakukan tindakan sabotase semacam ini butuh koordinasi dari beberapa pihak dan dana yang cukup besar. Kalau begitu siapa penyandang dananya?



Fitri terus berpikir keras, sampai tak terasa hari sudah menjelang malam. Bulan purnama muncul begitu indahnya menerangi bumi. Memberi terang jalan para pengembara yang tersesat atau para penggembala yang meniupkan serulingnya di tengah padang sabana yang luas dan sunyi. Dan dari balik jendela kaca, gadis itu menikmati wajah bulan yang malam ini terlihat lebih besar daripada purnama-purnama sebelumnya.



“Aku akan mencari tahu siapa dalang dibalik upaya penghancuran Megapolitan City. Aku yakin, Pramono hanyalah wayang yang bisa dikendalikan dengan uang. Sedangkan dalangnya masih bersembunyi dibalik topeng kesantunan yang penuh kepalsuan,” batinnya.



Drrt..Drrt..Drrt..



Ponselnya bergetar. Fitri tersenyum sambil melirik jam dinding sekilas. Jam tujuh malam, waktunya makan sambil bercengkerama dengan kekasihnya Andika.



“Assalamu’alaikum.”


“Wa’alaikumsalam.”



Andika tersenyum memandang wajah Fitri yang terlihat kelelahan.


“Sudah makan Fit?”



Fitri mengambil kotak makan dari dalam tasnya. Lalu membuka tutupnya dan memperlihatkannya kepada kekasihnya. Andika terlihat terkejut.



“Kau makan nasi pecel?”



Fitri mengangguk sambil tertawa.


“Beli dimana. Memang ada penjual pecel di Beijing?”


Fitri menutup mulut dengan tangan kanannya. Bakul pecel di Beijing? Tentu tidak ada, yang ada adalah vegetable salad. Bentuknya? Pecel juga, hehehe..



“Kok malah tertawa sayang?”


“Lucu saja mendengar kata-katamu.”



Wajah Andika polos banget. Dia tidak tahu kalau Fitri Ray sekarang sudah kembali ke Indonesia dan bekerja di perusahaan milik papanya Andika. Tapi sengaja Fitri merahasiakannya, karena Subrata tidak ingin Andika tahu kalau kekasihnya ada di Megapolitan. Walau segumpal kerinduan begitu memenuhi ruang cintanya.



“Aku membuatnya sendiri karena lagi kangen sama rumah.”


Andika mencibirkan bibirnya.


“Kangen sama rumah? Nggak kangen sama aku?”



“Tentu saja kangen sayang.I love you.”


“I love you, too. Sudah kamu makan dulu, aku temenin sambil baca buku.”


“Mas Andika gak makan?”


“Sudah. Hari ini aku berpuasa, dan tadi baru makan selepas maghrib.”



Andika menatap wajah kekasihnya dalam-dalam.


“Kau baik-baik saja kan?”


Fitri menganggukkan kepalanya.


“Kenapa kau bertanya begitu?”


“Wajahmu terlihat begitu lelah. Jangan terlalu malam belajarnya ya. Beristirahatlah yang cukup.”


“Iya.”



Ingin rasanya Fitri memeluk pemuda tampan berhati malaikat itu. Apa daya tangan tak sampai. Hanya rasa haru yang memenuhi hatinya. Andika memang begitu perhatian kepadanya.



“Sekarang makanlah yang banyak, setelah itu beristirahat.”


“Oke.”



Fitri mengambil sendok lalu mulai makan nasi pecelnya. Dipandanginya wajah Andika di layar ponselnya yang nampak sedang serius membaca sesuatu. Dia ingin bertanya tapi ditahannya. Karena Andika melarangnya berbicara saat sedang makan. Dan begitulah cinta, begitu indah dihayati dalam keadaan sunyi.


Biarkan hati bicara, karena seringkali cinta memberi apa yang kita pinta, walau tanpa kata-kata.