DIBALIK EMOTICON CINTA 1515 (END OF LOVE STORIES)

DIBALIK EMOTICON CINTA 1515 (END OF LOVE STORIES)
EPS 70 BERTARUNG DENGAN KEKUATAN YANG SAMA


EPS 70 BERTARUNG DENGAN KEKUATAN YANG SAMA


Bagaikan bayang-bayang yang berkelebat, tubuh Miryam melesat secepat angin. Andika bahkan tak melihat melihat gerakannya, tahu-tahu Miryam sudah berada di depan Pranaja dan memegang ujung kepala pemuda itu. Menyalurkan kekuatan Tirtanala yang membekukan sekaligus menghancurkan.


“Kekuatan Tirtanala!” teriaknya.


Seketika ruangan kamar Miryam mendadak dingin. Hawa dingin yang membekukan dan menghancurkan menyerang tubuh Pranaja. Sebenarnya dia melihat gerakan Miryam saat menyerangnya, tapi Pranaja diam saja. Dia tahu, Miryam hanya bermaksud untuk menguji kekuatannya, bukan untuk melukainya. Dia membiarkan hawa dingin itu menyerangnya, lal merubahnya menjadi kekuatan Tirtanala yang menyejukkan sekaligus menyembuhkan..


Beberapa saat kemudian Miryam menghentikan serangannya, dia melihat Pranaja malah tersenyum-senyum. Sekarang dia yakin, Pranaja memang menguasai kekuatan murni Tirtanala, seperti yang diajarkan oleh Panembahan Somawangi. Tapi perempuan bidadari itu masih ingin menguji kekuatan Pranaja yang lainnya. Dia pun menarik tubuh Pranaja keluar dari kamarnya, lalu melemparkannya ke udara.


“Kekuatan Geni Sawiji!”


Segulung api berwarna merah kekuningan yang sangat panas, keluar dari tangan Miryam, lalu melesat ke arah tubuh Pranaja yang melayang di udara. Gumpalan api itu semakin membesar lalu menghantam tubuh pemuda itu. Seketika tubuh pemimpin terpilih Trah Somawangi itu diselubungi api merah yang sangat panas. Beberapa saat api berwarna merah itu berkobar-kobar di udara, sebelum perlahan berubah warnanya menjadi biru.


Miryam terkesiap kaget. Dia tidak pernah menyangka, warna apinya yang membakar tubuh Pranaja akan berubah warna, Kekuatan panasnyapun meningkat tiga kali lipatnya. Miryam dapat merasakannya. Kekuatan Geni Sawiji macam apa yang dimiliki bocah itu, sehingga kekuatannya bertambah dahsyat? Batinnya.


“Jangan jumawa dulu anak muda. Terimalah ini Anugerah Mata Dewa,” teriaknya.


Selarik sinar berwarna biru muda keluar dari kedua matanya. Kekuatan Anugerah Mata Dewa sangatlah dahsyat. Setiap benda yang terkena sinar ini akan hancur tak bersisa. Bahkan abunya pun akan hilang tertiup angin. Kekuatan puncak Eyang Karangkobar setelah bertahun-tahun dia menutup mata dan menjaga pandangannya dari gemerlap kilau dunia. Dewata menganugerahinya dengan kekuatan ini, makanya disebut Anugerah Mata Dewa,


‘Slap! Slap! Slap!”


Sinar berwarna biru muda itu melabrak tubuh Pranaja. Pemuda itu membalasnya. Api biru yang menyelubungi tubuhnya langsung menghilang. Lalu dari kedua matanya juga meluncur selarik sinar dengan warna yang sama. Kedua kekuatan itu bertemu di satu titik di udara, menimbulkan suara ledakan di bawahnya. Kedua sinar biru yang bertabrakan itu sama kuatnya!


Brrt..Brrtt…Brrtt…


Perlahan terlihat angin yang berputar-putar, disertai kilatan-kilatan cahaya, seperti petir. Juga udara sekitarnya yang mendadak hangat tanpa ada seorang pun yang menyadarinya. Tubuh Miryam juga tanpa disadari ikut melayang di udara. Lagi-lagi hatinya dikagetkan dengan kemampuan Pranaja.


‘Pemuda yang luar biasa!’ batinnya.


Mendadak dari dalam kamar melesat keluar segumpal api kecil berwarna merah keemasan, terbang melayang dan berhenti dibelakang Miryam. Lalu terlihat tangan mungil yang menyentuh tubuh Miryam. Rupanya dia ikut membantu Miryam dengan menyalurkan tenaga kedalam ke tubuhnya.


“Apa ini? Siapa yang menyentuh bahuku?” batinnya.


Mendadak tubuhnya terasa begitu ringan, tapi tenaganya bertambah berlipat-lipat. Demikian juga kekuatan tenaga dalamnya ikut meningkat drastis. Miryam tidak berani menengok ke belakang. Dia sedang fokus memberi pelajaran kepada Pranaja.Tanpa dia sadari kekutan Anugrah Mata Dewanya pun menjadi lebih kuat. Sinar biru muda itu berubah warnanya menjadi biru tua!


Dengan cepat sinar itu melabrak sinar biru muda milik Pranaja, terus melaju tanpa bisa di tahan. Saat sinar biru tua itu hampir mengenai mata Pranaja, secepat itu pula Miryam mengalihkan pandangannya. Sinar biru tua itu melesat mengenai tempat kosong. Sementara tubuh Pranaja reflek melenting ke belakang. Ups! Hampir saja.


“Oa! Oa!Oa!...”


Suara tangisan bayi itu melengking tinggi menusuk gendang telinga. Andika terpaksa menutup kedua telinganya dengan kain tisu yang ada di depannya. Lalu terlihat fenomena yang menakjubkan. Tiba-tiba alam berubah. Mendadak dari langit turun kembali butiran-butiran salju yang begitu dingin dan lembut. Inilah kekuatan Tirtanala sejati yang hanya dimiliki si jabang bayi putera Miryam.


“Diamlah anakku, dia bukan musuhmu,” bisik Miryam di telinga puteranya.


Mendengar bisikan ibunya, perlahan bayi itu menjadi tenang. Tangisnya hilang sat bibirnya tenggelam dalam kelezatan air susu ibunya. Alam pun kembali benderang, butiran salju yang tadi sempat menutupi bumi Ksatrian Santri langsung mencair dan hilang tak berbekas. Pranaja kembali turun, dan masuk kembali ke kamar Miryam dengan wajah tegang.


“Duduklah. Semua sudah selesai,” ujar Miryam tanpa menoleh.


“Terimakasih eyang,” sahut Pranaja.


Miryam masih asik menyusui bayinya. Dibiarkannya kedua pemuda yang sedang menunggunya terduduk dalam diam. Andika yang biasa bertemu Miryam terlihat santai saja. Berbeda dengan Pranaja, hatinya masih terkesima dengan peristiwa yang baru dialaminya. Alangkah dahsyatnya kekuatan putera Miryam, bisiknya dalam hati.


Beberapa saat setelah puteranya tertidur, Miryam membalikkan tubuhnya. Ditatapnya wajah Andika dan Pranaja bergantian.


“Sekarang aku percaya kepadamu Pranaja,” katanya. “Kau memang bukan pembohong. Maafkan aku.”


Tubuh Pranaja terlihat sedikit bergetar, mendengar kata maaf dari Miryam. Alangkah lembut suaranya, dan alangkah baik hatinya. Secepat dia merasa berbuat kesalahan, secepat itu pula dia meminta maaf. Walaupun tuduhannya memiliki dasar dan fakta yang kuat berdasarkan pengalamannya selama sepuluh tahun menjadi isteri Panembahan Somawangi.


“Tidak eyang. Justru akulah yang seharusnya meminta maaf. Atas nama keluarga besar Trah Somawangi, kami memohon maaf dari dasar hati yang paling dalam, atas segala penderitaan yang harus kau rasakan akibat ulah leluhur kami itu,” sahut Pranaja. “Itu adalah sejarah hitam yang harus kami tanggung sebagai keturunannya.”


Miryam menganggukkan kepalanya.


“Aku tidak tahu bagaimana ceritanya, kakang Somawangi bisa memiliki keturunan. Tapi aku juga tidak tertarik untuk mendengarkannya, karena itu bukan urusanku lagi.”


Pranaja menatap eyang secantik bidadari itu dalam-dalam. Betapa tangguhnya perempuan ini. Lalu penderitaan apa sesungguhnya yang sedang dirasakan di dalam hatinya?


“Bagaimanapun eyang harus tahu cerita ini, biar tidak ada lagi kesalahpahaman di antara kita. Aku mohon, biarkan aku menceriterakan semuanya.”


Miryam tersenyum, lalu menganggukkan kepalanya. Sejenak Pranaja terpesona. Itu adalah senyum terindah yang pernah dilihat pemuda selama hidupnya.


“Baiklah. Aku akan mendengarkanmu.”


Pranaja menarik nafas dalam-dalam, lalu mengeluarkannya dalam nafas yang panjang. Setelah itu dia mulai menceritakan sejarah lahirnya keluarga besar Trah Somawangi dari sejak direndamnya tubuh Panembahan Somawangi di dasar Sendang Edi Peni yang telah memulihkan keperkasaannya sebagai lelaki. Sampai menikah dan memiliki banyak keturunan.