DIBALIK EMOTICON CINTA 1515 (END OF LOVE STORIES)

DIBALIK EMOTICON CINTA 1515 (END OF LOVE STORIES)
EPS 86 TONGKAT MUSTIKA DANDUNG


EPS 86 TONGKAT MUSTIKA DANDUNG


Lagu dendam terpasung begitu dalam. Membebani langkah hidupmu tak bisa melaju. Meski seringkali kita tidak tahu kenapa kita harus menyimpannya. Terbawa amarah yang bahkan sudah lupa penyebabnya. Atau terbawa emosi karena perasaan yang terabaikan, dan cinta yang seharusnya mengguyur tapi justru tak tercurahkan.



Seperti dendam yang dirasakan Ken Darsih terhadap Miryam. Gadis itu bahkan tahu kalau Miryam adalah salah satu ibu kandungnya. Dia juga tahu kalau Miryam tidak melahirkan dan merawatnya penuh cinta selayaknya ibu kepada anaknya. Dan itu jelas bukan kesalahan Miryam. Panembahan Somawangilah yang telah memindahkan janin Ken Darsih ke tubuh Daningrum, ibu kandung yang telah melahirkan dan membesarkannya penuh cinta.



Dari situ jelas dapat disimpulkan, Panembahan Somawangilah yang menjadi biang kerok semua permasalahan ini. Memisahkan buah hati dengan ibu kandungnya, sehingga mereka sekarang harus saling mencari untuk melampiaskan dendam. Terutama Ken Darsih, dendam dan \*\*\*\*\* membunuh menguasai hati dan perasaannya. Pertama karena Miryam telah membunuh ibu angkatnya Nyai Badranaya, kedua karena Miryam pernah mengalahkan dirinya dalam pertarungan mereka yang pertama.



“Jangan terburu \*\*\*\*\* Nyai. Situasinya sekarang semakin berbahaya. Miryam di kelilingi manusia-manusia pilih tanding yang sangat tangguh. Kita harus mencari cara untuk memisahkan mereka dari perempuan itu,” kata Nagaraja.



Ken Darsih diam terpaku menatap permukaan sendang Kumitir. Dengan kesaktiannya Nagaraja mampu merubah permukaan sendang menjadi seperti layar monitor. Wajah-wajah Kyai Badrussalam, Rich Pranaja, Miryam, Panembahan Mbah Iro dan tokoh-tokoh sakti lain yang sekarang sedang berkumpul di pesantren Ksatriyan Santri terpampang jelas di sana.



“Diantara mereka, siapa yang paling tangguh, Nagaraja?”


“Tentu saja Kyai Badrussalam. Tapi yang wajib kau waspadai adalah Pranaja. Dia menguasai berbagai macam ilmu tingkat tinggi yang mampu menghancurkan apa saja, termasuk pasukan kita.”


Ken Darsih memandang lekat wajah pemuda bertubuh gempal itu. Rasanya tak percaya kalau pemuda berwajah imut itu memiliki ilmu kanuragan tingkat tinggi.



“Apa kelemahannya?”


Nagaraja melirik Dandung sekilas.


“Dia masih muda, jiwanya belum mapan. Gampang tergoda dengan kecantikan perempuan, walaupun perilakunya sangat terjaga. Kirimkan Dewi Nawang Wulan untuk menggodanya, aku yakin dia akan masuk ke dalam perangkapnya.”


Ken Darsih tersenyum tipis, mendengar kata-kata sang Raja segala siluman Naga itu.



“Kau benar Nagaraja. Dia juga pernah aku tangkap ketika mengintip Ken Darsih saat sedang bertapa di dasar sendang Kumitir,” ujar Dandung yang masih mengenali wajah ‘bocah’ nakal itu.


Ken Darsih nampak terkesiap, wajahnya langsung memerah karena malu.


“Mak..sud..mu pemuda itu melihat tubuhku yang telanjang di dasar sendang?”



Dandung menganggukkan kepalanya.


“Menurutku dia pemuda yang biasa saja. Bahkan aku berhasil melumpuhkannya dengan tongkat listrik yang biasa digunakan polisi,” sambung Dandung.


Nagaraja terkejut mendengar kata-kata perwira polisi itu. Tubuhnya bergerak mundur satu langkah. Dalam pikirannya, Dandung pasti memiliki tongkat mustika sakti yang sangat kuat sehingga mampu melumpuhkan pemuda setangguh Pranaja.



“Apa kau membawa tongkat saktimu itu kisanak? Bolehkah aku melihatnya?” ujar Nagaraja.


“Apa? Tongkat sakti?” Dandung mengernyitkan keningnya.



Dia tahu kalau Nagaraja telah salah memahami tongkat listrik yang biasa digunakan polisi untuk melumpuhkan para pelanggar hokum yang berusaha melakukan perlawanan saat akan di tangkap. Namun dia juga enggan menjelaskanya, karena dia tahu itu tindakan yang sia-sia. Jadi dia lebih suka mengambil sikap diam, daripada menjelaskan.



‘Nagaraja, sekolah dasar saja tidak tamat. Percuma juga aku menjelaskan alat-alat elektronik ini kepadanya,’ batin pemuda itu.




“Apa kau takut Nagaraja? Senjata ini sama sekali tak bisa membunuh. Kau bahkan aku ijinkan untuk memegangnya,” ujar Dandung sambil tersenyum geli.


Wajah Nagaraja masih terlihat tegang.


“Tidak! Aku tidak mau memegangnya. Lemparkan saja kepadaku.”


“Baiklah.”



Dandung melemparkan tongkat listrik yang sudah on itu ke udara. Dengan sigap lidah Nagaraja menjulur untuk menagkapnya. Dan sesuai yang kalian bayangkan, siluman naga itu salah menangkap ujungnya. Listrik dengan kekuatan 200 volt langsung menyetrum tubuhnya.


Drrtt..Drrtt..Drrtt..


Tongkat itu mengeluarkan setrum listrik tingkat tinggi. Nagaraja kaget bukan kepalang. Tubuhnya yang begitu panjang, seketika terlempar ke tanah dengan keras. Merobohkan pepohonan besar dan membuat bumi bergetar hebat.


Bum!


Krash! Kraak! Brakk!


Tubuh raksasanya bergulingan kesana kemari dan kelojotan tak terkendali. Seluruh tubuhnya dari ujung kepala sampai ujung kaki mengalami kaku dan kejang-kejang. Kedua manik matanya menjadi juling, dan mulutnya melongo dengan postur tak seimbang kanan dan kirinya. Dalam keadaan begitu dia hilang kesadarannya dan otomatis tidak mampu mengeluarkan kemampuannya. Bahkan untuk bersuara pun dia tak mampu.


“Aarrgghh!” teriaknya.


Wajah Nagaraja berubah menjadi lucu dan menggelikan. Sosok monster yang mengerikan itu sekarang terbujur kaku dengan surai-surainya yang berdiri tegak. Bahkan lidahnya yang hitam terjulur keluar dengan kaku juga.


“Apa yang kau lakukan Dandung?” tanya Ken Darsih.


Gadis setengah siluman naga itu terlihat panik. Tapi dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Ken Darsih tidak mungkin menyerang Dandung walaupun pemuda itu telah melumpuhkan Nagaraja.


“Tenang saja Ken. Dia akan baik-baik saja. ‘Tongkat Mustika’ ini tidak akan membunuhnya,” sahut Dandung sambil tersenyum. “Tunggu saja.”


Ken Darsih hanya diam menatap pemuda yang sudah terlanjur mengisi hatinya itu. Lalu dia mengalihkan pandangannya kepada Nagaraja. Dia hanya bisa menuruti kata-kata Dandung untuk menunggu kepulihan sang Raja naga.


“Hrrggh..hrrrgggh..’


Terdengar geraman Nagaraja lirih dengan nafas yang memburu. Namun perlahan terdengar desah nafasnya semakin teratur dan tubuhnya yang mulai bergerak-gerak lagi. Seluruh surai dan lidahnya yang tadinya terjulur kaku, sekarang sudah jatuh lemas lagi. Dan benar kata Dandung, kesadaran Nagaraja benar-benar pulih beberapa saat kemudian. Namun dia masih terbaring lemah dan terasa sakit semua. Ken Darsih segera memeluknya.


“Bagaimana keadaanmu Nagaraja.”


“Rasanya lolos semua tulang-tulangku,” sahut Nagaraja.


Dandung berjalan beberapa langkah ke depan, lalu mengambil tongkat listriknya dan disimpan kembali di balik bajunya. Nagaraja hanya melihatnya. Lalu diam-diam dia berbisik di telinga Ken Darsih yang masih memeluk erat tubuhnya.


“Nyai, apa kau berniat melibatkan pemuda itu untuk melawan Miryam?”


Ken Darsih melepaskan pelukannya, lalu menatap wajah Nagaraja.


“Tidak Nagaraja, Ini tidak ada sangkut pautnya. Yang jelas aku tidak ingin membahayakan keselamatannya.”


“Tapi kemampuannya bisa memudahkan jalan kita untuk membalas dendam atas kematian adikku Nyai Nagabadra.”



Nagaraja menatap wajah Ken Darsih dalam-dalam. Berusaha meyakinkan gadis itu untuk merubah keputusannya.



“Tidak!”


Tegas Ken Darsih sambil menggelengkan kepalanya.