DIBALIK EMOTICON CINTA 1515 (END OF LOVE STORIES)

DIBALIK EMOTICON CINTA 1515 (END OF LOVE STORIES)
EPS 116 INTEROGASI MODEL BARU


EPS 116 INTEROGASI MODEL BARU


Malam itu bulan menghilang. Hanya ada bintang-bintang yang bersinar terang menghiasi angkasa. Ketiadaan cahaya bulan membuat kerlip bintang semakin kentara. Menghangatkan hati di dalam dingin yang membekukan. Karena gelap tak lagi membuat tidur kita menjadi nyenyak. Karena sepi tak lagi membuat pikiran kita menjadi sunyi. Karena kosong tak lagi membuat jiwa kita menjadi hampa.



Serena Kamil, pegawai sipil bagian administrasi di Mabes Polri berdiri terdiam di ruang tamu yang luas. Dia sama sekali tidak mengerti, mengapa dirinya di bawa ke tempat ini. Sebuah villa besar dan supermewah di daerah puncak. Pasti bukan sembarang orang yang menjadi pemiliknya. Biasanya pemilik vila-vila mewah di daerah puncak adalah lawyers, pejabat, konglomerat, petinggi aparat hukum serta para politisi. Yang jelas bukan pengusaha kelas teri.



Tadi malam dia baru saja di gelandang oleh satuan reserse mabes Polri karena keterlibatannya dalam kasus hipnotis. Janda muda itu diduga telah membocorkan data-data dan identitas anggota kepolisian kepada para penjahat itu, termasuk nomor-nomor ponsel mereka. Inilah mengapa aparat kepolisian yang menjadi sasaran dendam para penjahat itu dapat dengan leluasa mereka hubungi, kemudian dipengaruhi, lalu dibunuh secara keji.



“Tapi kenapa aku dibawa kesini? Bukannya diinterogasi? Mungkinkah ini standar operasional prosedur pemeriksaan terbaru?” batinnya.


Sebagai orang yang sudah lama bekerja di institusi penegak hukum, dia mengetahui sedkit banyak tentang SOP kepolisian. Karena itulah timbul banyak pertanyaan di dalam hatinya, untuk apa dia dibawa ke villa ini. Apakah dia akan dipaksa melayani beberapa oknum polisi sebagai kompensasi kasus hukum yang menjeratnya? Kalau itu yang terjadi, aku akan melakukan perlawanan, batinnya. Bagaimanapun harga diri berada di atas segalanya.



“Byur!”


Tiba-tiba terdengar suara kecipak air dari arah kolam renang. Wajah perempuan cantik bertubuh sintal itu langsung terkesiap kaget. Siapa yang sedang berenang di malam sedingin ini? Serena melemparkan pandangannya keluar. dari sudut sempit jendela ruang tamu, dia dapat melihat gelombang air di permukaan kolam renang. Tapi dia tidak bisa melihat orang yang tengah menyelam di dalamnya.



“Dari tadi aku tidak melihat siapapun, lalu siapa yang sedang berenang di tengah malam begini?” batinnya.



Bagaimanapun hatinya merasa sedikit lega, berarti dia tidak sendirian di sini. Sekarang dia bisa mencoba bersikap tenang. Dengan santai dia duduk di atas sofa besar di tengah ruangan. Sambil menyandarkan kepalanya. dia memejamkan matanya. Menghela nafas dalam-dalam, lalu mengeluarkannya dalam alunan yang panjang. Heh, rasanya dia bisa istirahat sejenak, setelah perasaannya dihimpit ketakutan sejak kemarin saat dia digelandang dari rumahnya.



“Selamat malam Serena,” tanya seseorang di belakangnya.



Lagi-lagi Serena terkejut. Dia menoleh ke belakang, dan wajahnya langsung memucat. Matanya membulat sempurna dan bibirnya bergetar hebat. Untung dia sudah duduk, coba kalau masih berdiri pasti dia terloncat begitu melihat sosok di depannya. Seorang laki-laki bertubuh gempal, tidak terlalu tinggi tapi juga tidak pendek, memandangnya dengan tatapan sayu. Bibirnya tersenyum lebar, walau ada darah yang mengalir membasahi sebagian wajahnya.



“Brip..bripka Edhik?” desisnya hampir tak terdengar. “Ke..kenapa kau di…di sini? Kau sudah ma…mati kan?”


Ya, dia mengenali wajah itu. Wajah polisi pertama yang dia bocorkan identitasnya kepada orang luar, walaupun itu kekasihnya sendiri.



“Kau juga masih ingat dengan kami Serena?” mendadak terdengar lagi suara dari samping kanannya.


Tiga orang laki-laki berdiri membeku dalam tatapan yang tajam. Wajah-wajah mereka begitu mengerikan, penuh luka dan darah. Dua orang memakai seragam polisi, dan satu orang memakai baju putih. Dan Serena sangat mengenal laki-laki itu. Dokter Santoso, dari bagian Forensik Mabes Polri. Dua petugas dibelakangnya pasti para pengawalnya. Mereka juga meninggal karena pengaruh hipnotis.



“Dok..dokter Santoso?” gumam Serena.


“Kami juga datang Serena,” kata suara lainnya dari sebelah kiri.



Serena langsung mengalihkan pandangannya. Seorang laki-laki tua, memakai baju koki dan dua orang polisi muda, juga menatapnya tajam. Wajah-wajah mereka sungguh mengerikan, ada lubang yang menganga dari ujung dada sampai ke ujung kepalanya.



“Si..siapa kau? A..aku tidak mengenalmu?”


Dalam keadaan takut setengah mati, Serena masih sempat bertanya. Seandainya dia bisa memilih, ingin rasanya dia pingsan saat itu juga. Tapi entah kenapa, kesadarannya masih utuh.


“Aku Bripda Vino.”


“Dan aku Abripda Herwan.”



“Hah? Mau apa kalian semua?” teriaknya.


Di puncak rasa takutnya, tubuh Serena bergetar hebat. Bulir-bulir keringat sebesar biji jagung, terus menetes dari tubuhnya. Di dera rasa bersalah, takut, sedih, membuatnya hanya berdiri menggigil tidak tahu harus berbuat apa. Dan air matanya mulai menetes, menimbun amarah kepada dirinya atas segala luka yang harus diderita banyak orang karena kecerobohannya.



“Tidak! Tidak! Maafkan aku! Maafkan aku!” teriaknya di tengah-tengah bayangan mayat-mayat hidup yang berdiri mengepungnya.



“Byak!”



Terdengar bunyi kecipak air. Sesosok tubuh laki-laki tinggi menjulang, dengan otot-otot yang terbentuk sempurna, muncul dari dalam air kolam. Dengan hanya memakai celana renang, laki-laki muda itu masuk ke dalam ruangan. Ditatapnya wajah Serena dengan tajam. Dan gadis itu tak bisa lagi menahan kesadarannya. Sosok polisi paling tampan dan paling kaya se-Indonesia, berdiri gagah dengan senyum manis di bibirnya.


“Mas..eh, pak Dandung..kau juga ikut mati karenaku?”



Bug!



Belum lagi Dandung menjawab pertanyaan itu, tubuh Serena sudah jatuh terpuruk ke lantai kehilangan kesadarannya.


***


Pagi yang cerah. Matahari baru saja terlihat di garis cakrawala. Sinarnya menerobos masuk melalui celah kain gorden ke dalam kamar besar itu. Serena membuka matanya, berpikir sejenak sebelum bangkit duduk sambil memegang kepalanya. Bola matanya yang bulat berputar mengamati setiap sudut ruangan.



“Dimana aku?” batinnya.


Hekh…


Terdengar suara helaan nafas dari sampingnya. Dia menoleh dan langsung terloncat dari tempat tidurnya. Seorang laki-laki tampan, tidur dengan tenangnya. Tubuhnya bagian atas polos, tanpa sehelai benangpun menutupinya. Mempertontonkan otot-otot perutnya yang mirip roti sobek. Ada senyum tipis tersungging di bibir Serena. Lalu dengan tangan gemetar dia membuka selimut yang menutupi bagian bawahnya. Hanya memakai celana renang.



“Pak Dandung?” batinnya.



Beberapa saat dia hanya terdiam, seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Jadi semalaman dia tidur bersama Dandung? Laki-laki yang menjadi idaman seluruh perempuan di Polda Metro? Mengapa dia tidak tahu? Lalu apa saja yang telah mereka lakukan? batinnya. Tanpa sadar tangannya masuk kedalam CD dan meraba bagian sensitifnya. Tidak basah, juga tidak terasa sakit. Tapi…



“Kau sudah bangun Serena?”



Janda muda hot itu terkejut bukan kepalang. Seketika itu juga dia menarik tangannya ke atas dengan cepat. Wajahnya langsung berubah menjadi merah, kuning, hijau, di langit yang biru.



“Ups!”