EPS 62 TENDA BIRU
Lee Min Ho masuk ke dalam tenda besar berwarna biru dimana Ren sedang beristirahat saat jeda syuting. Dengan santainya laki-laki paling tampan di Korea itu mengambil tempat duduk persis di depan Ren. Walaupun baru beberapa kali melakukan adegan bersama, namun mereka sudah terlihat akrab. Tubuh Song langsung terpaku begitu melihat Lee Min Ho, bahkan tak terasa air liurnya ikut mengalir. Ingin berteriak, namun tidak mampu besuara.
“Kau bermain bagus sekali hari ini Ren,” puji Min Ho. “Apalagi saat tubuhmu turun dari atap rumah tanpa alat bantu, begitu ringan dan ehm..sempurna!”
“Ah, aku merasa biasa saja. Itu semua kan karena aku rajin berlatih.”
Min Ho mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Latihan apa yang paling berpengaruh terhadap kemampuan ringan tubuh itu Ren?”
“Banyak, tapi aku lebih suka melatih pernafasanku.”
Lee Min Ho membulatkan matanya.
“Oh ya? Apa kau mau melatihku?”
Ren menatap Lee Min Ho yang mengerjap-ngerjapkan matanya dengan wajah memohon.
“Please….”
Ren malah tertawa. Rasanya lucu saja melihat wajah Min Ho yang memelas begitu. Walaupun ingin membantu, namun Ren terpaksa menggelengkan kepalanya.
“Aku tidak mau.”
Wajah Min Ho terkesiap, ada semburat kekecewaan terpancar dari wajah tampannya.
“Kenapa?”
“Karena aku bukan seorang guru. Untuk mempelajari ilmu semacam ini, kau membutuhkan seorang guru yang tahu cara membuatmu menguasai ilmu ini.”
“Kau kan bisa menjadi guruku, Ren. Please.”
Ren tertawa lagi. Setiap bibir Min Ho mengucapkan kata ‘please’, terdengar lucu di telinga Ren.
“Tidak bisa Min Ho. Kalau aku yang mengajarimu, tidak akan pernah berhasil.”
“Hm, mengapa kau begitu pesimis?”
Ren menggelengkan kepalanya.
“Bukan karena pesimis. Tapi aku mepunyai alasan lainnya."
Dahi Min Ho langsung mengkerut.
“Alasan lainya? Apa itu?”
“Kau sudah terlalu tua untuk mempelajari ilmu ini dari awal.”
“Apa? Aku terlalu tua?” tanya Min Ho seperti tak percaya.
Betapa paniknya dia mendengar kata-kata Ren. Sebagai ikon laki-laki flamboyan yang digandrungi banyak wanita, tentu saja Lee Min Ho agak sedikit alergi dengan kata’tua’.
“Usiaku baru 23 tahun Ren. Bagaimana kau menyebutku sebagai lelaki tua?” protesnya.
“Kakek Kim mulai melatih pernafasanku saat aku berusia sepuluh tahun. Tiap hari aku harus bangun pagi-pagi sekali, lalu berendam di dalam sungai Yalu. Menghirup udara sebanyak-banyaknya, lalu menahan tubuh di bawah permukaan air selama mungkin dan sekuat paru-paruku,” ujar Ren menerangkan.
Min Ho berdiri tegak. Lalu meregangkan tubunya lebar-lebar sambil menghirup udara hingga memenuhi paru-parunya. Beberapa saat dia berusaha menahan nafasnya. Perlahan kedua pipinya mulai menggelembung. Rupanya ada desakan zat asam arang yang ingin segera keluar dari dalam tubuhnya. Pipinya terlihat menggelembung, otot lehernya terlihat semua. Melihat pemandangan itu, Song tidak kuat lagi menahan hatinya.
“Uuuuhh..ganteng bangettt!!” teriak Song.
Lalu tanpa terkendali tubuhnya langsung ‘terbang’ menubruk tubuh Lee Min Ho.
“I Love Youuuuu!” teriakannya yang sempat tersumbat, sudah lancar kembali.
Lee Min Ho yang tidak siap, langsung terjengkang ke belakang. Lalu tanpa memedulikan apa yang telah terjadi, Song langsung menciumi setiap bagian tubuh Lee Min Ho tanpa ampun. Tentu saja Min Ho jadi merasa rikuh, karena ada Ren di depannya. Dia takut gadis yang sedang ditaksirnya itu akan cemburu dan marah kepadanya.
“Song!” teriak Ren. “Apa yang kau lakukan?”
Beberapa bodyguard yang menyebar dilokasi langsung mengamankan junjungan mereka. Rupanya para bodyguard itu sudah terbiasa menghadapi para sasaeng. Mereka sejak awal sudah menduga kalau Song adalah fans ultra Lee Min Ho dengan melihat gerak-geriknya. Makanya begitu Song menubruk tubuh Lee Min Ho, mereka pun langsung meringkusnya.
Setelah itu mereka mengikat kaki dan tangan Song dan menutup mulutnya dengan selembar kain. Lalu dibaringkan di sudut tenda biru. Song terus berteriak-teriak memanggil nama artis pujaannya itu tapi suaranya tidak keluar. Ren hanya tersenyum simpul melihat kelakuan sahabat nya itu. Tapi dia memakluminya.
“Hmpffft..hmpfft…!”
Min Ho menganggukkan kepalanya. Lalu pergi meninggalkan tenda biru sambil memberikan senyum lesung piptnya buat Ren. Tapi gadis itu tak menanggapinya. Sepeninggalnya, Ren menghampiri Song dan melepaskan semua tali yang mengikat tubuhnya.
“Eh, Ren! Kenapa kau tidak mau menjadi gurunya?” tanya Song.
“Aku kan memang bukan guru,” kilah Ren.
“Tapi kan kau bisa pura-pura mengajarinya tekhnik pernafasan.”
Ren menggelengkan kepalanya.
“Kenapa kita harus berpura-pura, Song?”
“Biar aku jadi lebih sering bertemu dengannya.”
Ren mendorong jidat Song ke belakang.
“Dasar Sasaeng!”
***
Pagi hari yang telah direncanakan, markas Jepang diserang oleh Park Min dan kawan-kawannya. Pertempuran berlangsung seru. Dalam sekejap, pasukan Jepang yang tidak siap berhasil dikalahkan. Seonjang Moon tewas terkena sabetan pedang pendengar perempuan bertopeng hitam. Kapten Shinji Mura hampir saja tertangkap oleh Park Min, tetapi sebuah sapuan angin membuatnya terpental.
“Brakkk!!”, tubuhnya menghantam dinding batu. Park Min segera bangkit.Dia terperanjat. Ada sosok tinggi besar berkulit hitam legam berdiri di depannya.
“Siapa kau?”tanya Park Min.
“Aku Bae Sung, atau Iron Man. Musuh bebuyutan gurumu Kim Sau Jad!”
Manusia yang tubuhnya sekeras baja itu langsung menerjang. Dengan gesit Park Min balas menyerang. Pukulan tangannya berhasil mengenai tubuh besar musuhnya.
‘Tang!!’
Dia kaget. Tangannya seperti membentur tembok baja yang sangat kuat. Kembali dia melancarkan serangan.
“Tang! Tang! Tang!”
Berkali-kali pukulannya mengenai tubuh Iron Man, tapi musuhnya itu tak nampak kesakitan sama sekali. Suatu saat pukulan tangan manusia besi berhasil mengenai dadanya. Park Min langsung terpental jauh.
Brug!
Hehhh…dadanya seperti remuk. Nampak darah keluar dari mulutnya.
“Hahaha... menyerahlah anak muda. Suruh gurumu menghadapiku”.
Susah payah Park Min bangkit. Mendadak ada suara bisikan di telinganya.
“Muridku, seluruh tubuh Bae Sung kebal, kecuali mata dan telapak kakinya. Kau jangan tertipu. Kedua matanya sudah buta karena pukulanku.”
“Terima kasih guru,” bisik Park Min.
Dia lalu berputar mengelilingi tubuh Bae Sung dengan cepat sekali. Kedua pedangnya di bentur-benturkan sehingga menimbulkan banyak suara di sekeliling tubuh musuhnya. Bae Sung yang buta menjadi bingung, dia tidak tahu dimana letak musuhnya. Tubuhnya lalu meloncat tinggi, bermaksud keluar dari kepungan suara itu.
Inilah kesempatan yang di tunggu-tunggu. Park Min menyerang musuhnya dengan pukulan Penghancur Syaraf.
Heyaa!
Bug!
Pukulan itu tepat mengenai kedua telapak kaki Bae Sung, salah satu titik kelemahannya. Kekuatan pukulan itu masuk kedalam jaringan darahnya. Tubuh Bae Sung langsung meluncur jatuh ke bumi.
“Bumm!!’
Bae Sung berusaha bangkit, tetapi tubuhnya sama sekali tidak bisa digerakkan. Seluruh jaringan tubuhnya seketika lumpuh terkena pukulan Park Min.
Kapten Shinji Mura yang melihat hal itu segera berlari dengan pasukannya. Tetapi dihadang olek Black Mak. Mereka terlibat pertempuran satu lawan satu. Namun pada akhirnya sang kapten tewas karena Black Mask berhasil membelokkan samurai milik Shinji Mura, sehingga berbalik mengenai tubuhnya dan tewas.
“Cut!” ujar sang sutradara.
Ren bernafas lega. Gadis itu segera melepas topeng hitamnya, dan tersenyum melihat tubuh Park Min yang diperankan oleh Min Ho masih terkapar di tanah karena cedera engkel. Rupanya dia salah mendarat saat meloncat ke udara tadi.
Hem...