EPS 37 PENDEKAR PEDANG
Berbeda dengan suasana di luar yang ramai, ruangan kasting itu begitu dingin dan lengang. Hanya ada lima orang, tiga laki-laki dan dua perempuan, yang duduk terdiam diatas kursi dan meja yang ditata sejajar. Di depan mereka terbentang sebuah karpet berwarna merah, tempat orang-orang yang ditemukan pencari bakat untuk mempertunjukkan kelebihannya. Lalu di belakang mereka terdapat sebuah ruang kaca yang gelap dan tebal. Di atas sebuah pintu tertulis kata Manajer.
Begitu masuk ke dalam ruangan, sosok Ren langsung menyedot perhataian. Perawakannya yang tinggi dan wajahnya yang begitu cantik walau dipoles dengan make up yang sederhana. Melangkah dengan tenang, bahkan terkesan malu-malu dibelakang Song yang terlihat begitu enerjik, Ren langsung memancing rasa penasaran para pemandu bakat. Bahkan Manajer Seon Jun yang masih duduk mengamati dari ruang kaca, langsung fokus melihat gerak-geriknya.
“Hm, menarik,” gumamnya. “Kecantikannya begitu alami, khas gadis Korea.”
Wajah Ren yang sedikit melow, sangat di sukai para penggemar film Drama Korea. Rambutnya hitam dan tebal, terkulai lembut sampai ke pinggang. Gerik-geriknya begitu mempesona, langkahnya begitu ringan seperti batang bunga lili yang melenggok terbawa angin senja.
Lalu salah pemandu bakat berdiri, membungkuk memberi salam, sebelum meminta Song dan Ren berdiri di depan mereka. Setengah berlari Song berdiri di tengah karpet merah, diikuti Ren yang melangkah tenang di belakangnya. Lalu keduanya mengatupkan kedua telapak tangannya dan membungkukkan tubuhnya. Sebagai bentuk rasa hormat.
“Silahkan perkenalkan diri kalian,” ujar pemandu bakat tadi.
Song maju selangkah di depan Ren. Kemudia menperkenalkan dirinya.
“Perkenalkan namaku Song Bada, aku adalah seorang manajer. Dan ini sahabatku Ryung Nae atau Ren seorang artis beladiri akrobatik,” kata Song penuh percaya diri.
“Baik. Kalau begitu silahkan tunjukkan bakatmu,“ ujar orang itu lagi sambil menatap Ren.
Song mengangguk, lalu mengundurkan diri. Tangan kanannya menggamit tubuh Ren, memberi tanda agar sahabatnya itu bersiap untuk menunjukkan bakatnya.
“Lakukan dengan tenang Ren,” bisiknya.
Ren menganggukkan kepalanya. Lalu dia berdiri tegak di tengah hamparan karpet merah itu. Matanya di pejamkan, dan bibir indahnya terkatup rapat. Rupanya dia sedang memusatkan pikirannya, sesuai perintah Song. Orang-orang yang sedang menonton pertunjukkannya terdiam membeku, wajah mereka masih menyiratkan rasa penasaran.
Ren mengambil nafas dalam-dalam, dengan matanya terpejam, mencoba menghilangkan rasa gugup yang masih menggelayut di hatinya. Diawali dengan teriakan kecil, tubuh Ren berlari cepat ke depan, lalu melompat dan bersalto diudara. Bayangannya berkelebat secepat angin. Orang-orang bahkan tidak bisa melihat gerakannya.
“Woa..” tanpa sadar para pemandu bakat itu berdecak kagum.
Ternyata Ren benar-benar menguasai ilmu beladiri yang cukup dalam. Bibir manajer Seon Jun yang sejak awal terpesona dengan Ren bahkan sampai melongo, mengagumi gerakannya yang begitu cepat, seperti kasat mata. Lalu tubuh tinggi ramping itu bersalto dan berputar di udara. Gerakannya begitu serasi dan indah di pandang mata.
Begitu kedua kakinya mendarat di tanah, gadis itu mengeluarkan pedangnya, pemberian kakek Kim Mon Soo. Pedang di tangan Ren disapukan ke kanan dan kekiri, keatas dan ke bawah. Menyapu, menangkis dan menusuk. Suara kibasan pedang yang membelah dinding udara terdengar jelas di telinga.
Pedang yag terbuat dari perak asli itu begitu indah dan memantulkan cahaya. Sinar yang ditimbulkan karena pantulan sinar lampu yang mengenai pedang itu begitu menyilaukan, memancar kesana kemari seperti sebaran pita putih yang membentuk lingkaran-lingkaran bayangan.
Heya! heya! heya!
Kaki Ren berputar di udara kemudian tubuhnya meliuk sambil melontarkan tinju yang panjang (Chang Quan) ke depan. Kepalan tangannya menabrak dinding udara dan kecepatannya menimbulkan suara gesekan angin yang mengalir cepat. Pedangnya di tangan kanannya melakukan sapuan. Berputar cepat diatas kepala dan punggungnya, melindungi tubuhnya dari serangan musuh di atasnya
“Wuass!... wuss! dab!”
Setelah itu Ren menghentikan gerakannya. Tubuhnya diam membeku di tengah hamparan karpet merah itu. Menyatukan seluruh hati dan pikirannya, berkonsentrasi penuh untuk melakukan serangan yang terakhir. Serangan mematikan yang dapat melumpuhkan, bahkan mematikan tanpa musuhnya terasa tersakiti. Laly mendadak Song berbicara dari pinggir tepi ruangan.
“Ren adalah seorang pendekar pedang profesional. Dia telah menunjukkan bakatnya di berbagai tempat di kota ini. Dan di banyak tempat itu, penonton selalu menyukainya, mengagumi keindahannya yang sempurna,” ujar Song mengakhiri kalimatnya. “Pendekar pedang selalu mengedepankan keindahan dalam setiap gerakannya. Karena hakikat dari permainan pedang adalah keharmonisan antara hati dan pikiran, jiwa dan raga.”
Ren berdiri tegak, mengatur nafasnya perlahan. Kemudian dia mulai bergerak kembali. Di awali dengan pukulan tangan kedepan, badan sedikit membungkuk lalu dengan cepat tubuhnya berputar sambil meluncurkan pukulan, tangkisan dan tendangan. Seluruh tubuhnya bergerak dalam suatu kombinasi yang serasi, tepat dan begitu indah untuk dilihat.
Pada gerakan kedua dia mualai memainkan pedangnya. Dengan sapuan yang pelan tapi bertenaga, pedang itu bergerak ke setiap arah. Lalu berputar melingkari tubuh indahnya. Semakin lama gerakannya semakin cepat. Menciptakan hempasan angin yang dapat dirasakan oleh orang-orang yang sedang terpukau melihatnya.
Heya!
Wush!
Lalu dalam sekejap, tubuhnya di selubungi larikan sinar pedangnya yang menyilaukan. Tiba-tiba Song melemparkan tongkat kayu yang ada di sampingnya. Begitu mendekati tubuh Ren, kilatan pedang itu langsung menyelubungi tongkat itu. Lalu Ren menarik dan mengangkat pedangnya ke udara. Tongkat itu sepertinya masih utuh saat di udara, tapi begitu jatuh ke tanah langsung terpotong menjadi beberapa bagian.
Prak! Prol!
Beberapa saat suasana menjadi hening. Para pemandu bakat menatap Ren dengan pandangan tak percaya. Gadis itu menurunkan pedangnya. Kulit wajahnya yang bening tampak memerah karena kelelahan. Lalu dia berlari dan berdiri ke tengah karpet merah sambil membungkuk memberi hormat.
Plok! Plok! Plok!
Dari dalam ruang kaca, manajer Seon Jun, menepuk kedua tangannya berulang kali, disusul tepuk tangan para pemandu bakat lainnya. Bahkan mereka bersorak seperti mengalami euphoria. Ruang kasting yang biasanya lengang kali ini telihat ramai dan menyenangkan. Wajah-wajah mereka terlihat gembira dan bahagia. Seperti seorang yang tersesat di padang gurun, tiba-tiba menemukan sumber air yang telah lama hilang. Begitu nikmat dan menyegarkan.
Manajer Seon Jun pun memujinya di dalam hati, dari balik ruang kaca yang gelap dan tersembunyi.
“Kau benar-benar paket lengkap di dunia industry perfilman. Cantik, bertubuh ideal, berkepribadian baik, senyum menawan, ramah, dan permainan pedangmu begitu sempurna. It’s amazing! Congratulation Ren!”
Hari itu juga, Manajer Seon Jun langsung membuat surat rekomendasi kepada Presiden Direktur NJ Entertainment agar segera membuat perjanjian kontrak kerja dengan Ryung Nae sebagai calon permata baru dunia perfilman Korea Selatan.