EPS 28 BAHAGIA SAAT MATI?
Dandung masih berdiri membeku di depan Simson. Entah apa yang ada di dalam pikirannya, dia juga tidak tahu. Yang jelas dia masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Edhik dibunuh dengan cara yang sangat sadis. Tapi anehnya, wajahnya terlihat bahagia saat pistol tua itu merenggut nyawanya. Senyumnya yang tulus begitu membekas dalam pikiran Dandung. What happened?
“Duduklah kembali Ndung!” perintah Simson, suaranya terdengar dingin dan berat.
Dandung seperti tergagap. Dia memandang wajah atasannya itu sekejap. Lalu duduk kembali perlahan. Mengambil nafas dalam-dalam, lalu membuangnya dalam alunan yang panjang. Kedua tangannya ditangkupkan di menutupi wajahnya. Mengusap-usap kulit wajahnya berkali-kali dengan cepat. Kemudian kedua tangannya merambat ke atas kepala, lalu meremas rambutnya dengan keras.
“Huh!” dia membuang nafas kasar.
Inginnya dia berteriak sekeras-kerasnya, tapi dia sedang berada di depan pak Simson. Atasan yang sudah dianggapnya seperti ayah kandungnya sendiri.
“Berteriaklah, kalau kau ingin berteriak,” kata Simson lagi, seolah bisa membaca kata hatinya.
Tapi Dandung tak melakukannya. Dia berusaha menahan rasa amarah yang perlahan merambat naik memenuhi isi kepalanya. Wajahnya mulai mengeras dan matanya terlihat sedikit memerah. Dalam hatinya dia berjanji tidak akan mengampuni orang yang telah membunuh sahabat baiknya itu.
“Kau adalah penegak hukum Dandung,” kata Simson lagi.
Kata-kata itu seperti menampar wajah Dandung. Seolah peramal, Simson selalu bisa membaca gejolak di hatinya dan meredamnya.
“Seorang penegak hukum selalu bertindak atas nama hukum dalam setiap aksinya. Tidak boleh menindak seseorang tanpa barang bukti yang jelas. Tidak boleh bertindak karena kemarahan, apalagi atas nama balas dendam,” sambung Simson.
Dandung terdiam. Mencoba meredam gejolak hati yang dibakar api kemarahan dan dendam. Menggantikannya dengan kesadaran bahwa tugas dan kewajibannya adalah mengungkap kejahatan berdasarkan fakta hukum, bukan asumsi dan opini.
“Aku membutuhkan pemikiranmu yang jernih, bukan emosimu,” uajr Simson. “Kalau hanya menuruti emosi, kita semua marah Dandung, bukan cuma kau.”
Perlahan Dandung menganggukkan kepalanya.
“Iya pak. Maafkan saya,” ucapnya lirih.
Tok! Tok! Tok!
Terdengar pintu di ketuk.
“Leman pak!” terdengar suara seseorang dari luar.
“Oh, pak Leman. Masuk pak!” sahut Simson.
Kriyet!
Suara pintu terbuka. Seorang caraka masuk ke dalam ruangan, membawa dua cangkir kopi susu. Asapnya yang masih mengepul, menebarkan bau harum aroma kopi di dalam ruangan. Dengan hati-hati pak Leman menaruh dua cangkir kopi itu di atas meja Simson.
“Minum kopimu Dandung, biar tenang pikiranmu,” kata Simson lagi.
Dandung mengambil cangkir kopi susu yang ada di depannya. Mencium asapnya sekejap lalu menyeruputnya sedikit demi sedikit. Rasa hangat langsung menjalari seluruh tubuhnya. Ah, benar kata pak Simson, pikirannya menjadi lebih tenang setelah minum kopi.
“Sekarang katakan apa kesimpulanmu tentang video tadi.”
Dandung terdiam. Rupanya dia masih syok dan belum memikirkan apa-apa.
“Mohon ijin melihat video itu sekali lagi Ndan!”
“Aku sudah mengirimkan videonya ke ponselmu.”
“Ada yang aneh Ndung?”
“Iya Ndan. Edhik sepertinya sangat mengenal sosok yang bernama Santoso ini. Terlihat dari raut wajahnya yang marah berubah menjadi ramah.”
Simson menganggukkan kepalanya.
“Apa dugaanmu?”
“Setahuku Edhik tidak punya banyak teman. Satu-satunya orang yang bernama Santoso yang dia kenal baik adalah Dokter Santoso, dari bagian forensik.”
“Dokter Santoso? Kau juga mengenalnya dengan baik kan?”
Dandung menganggukkan kepalanya.
“Baik, kalau begitu aku akan menghubungi bagian forensik. Untuk meminta agar dokter Santoso datang kesini,” ujar Simson.
“Tidak perlu Ndan. Baru saja dokter Santoso menemuiku membawa berkas-berkas forensik tentang uji balistik peluru-pelru yang digunakan dalam kasus pembunuhan Bripka Edhik,” kata Dandung.
Simson terlihat kaget mendengar kata-kata Dandung.
“Apa? cepat kita periksa berkas-berkas itu lagi Dandung. Aku juga ingin melihatnya.”
Dandung berdiri tegak. Memberi hormat, lalu berbalik dan bergerak dengan sigap kembali ke dalam ruangannya. Beberapa saat kemudian dia sudah kembali ke ruang AKBP Simson Hutapea sambil membawa berkas-berkas yang tadi diberikan oleh Dokter Santoso dari bagian forensik.
“Ini berkas-berkasnya Ndan.”
Simson langsung menerima berkas-berkas itu dari tangan Dandung. Diperiksanya satu per satu berkas itu dengan cepat. Lembar demi lembar dia lihat sekilas. Hingga pada dua lembar terakhir dia menghentikan gerakannya. Wajahnya terlihat tegang, lalu di tunjukkannya kedua berkas forensik itu kepada Dandung. Bukan lagi gambar-gambar peluru, tetapi gambar-gambar Dandung dan Frida yang sudah ditandai silang dengan spidol berwarna merah, semerah darah!
“Rupanya dia juga mengincarmu Dandung!”
***
Dan kebekuan malam menjelang dini hari itu dipecahkan oleh sirine mobil polisi yang menyusuri setiap sudut kota. AKBP Simson dan AKP Dandung sudah mendapatkan informasi kalau Dokter Santoso bersama dua polisi pengawalnya tidak berada di rumah sakit POLRI. Bahkan keberadaannya tidak di ketahui.
Simson langsung memeritahkan semua unit patroli untuk melakukan pengejaran. Beberapa unit pasukan reserse, penembak jitu bahkan pasukan khusus juga di turunkan. Suasana kota menjadi sedikit tegang. Orang-orang yang masih begadang di jalanan segera menyembunyikan diriya begitu mendengar sirine polisi.
“Ada apa ini? Sepertinya akan ada peristiwa besar malam ini?” tanya seseorang.
“Biasanya penggerebekan sindikat narkoba atau pembunuhan orang-orang terkenal,” jawab temannya.
Menjelang Subuh, Dandung mendapatkan laporan, kalau kendaraan Dokter Santoso dan kedua polisi yang mengawalnya di temukan di kawasan Banjir Kanal Timur. Dandung segera memacu mobilnya ke tempat kejadian perkara. Sirine mobil dan lampu sirinenya yang bersinar menyilaukan membuat mobil-mobil yang ada didepannya langsung menyingkir. Memberi jalam kepada si kapten muda untuk secepatnya sampai di TKP.
Kanal Banjir Jakarta adalah saluran air kolektor sebagai salah satu cara penanggulangan banjir Jakarta. Tujuannya adalah utuk mengendalikan aliran air dari hulu sungai dengan mengatur volume air yang masuk ke kota Jakarta dan akan membuat beban sungai di utara saluran kolektif lebih terkendali. Kanal tersebut menjadi sistem makro drainase kota yang berfungsi untuk mengurangi genangan air di dalam kota dengan mengalirkannya langsung ke laut.
Begitu turun dari mobil, Dandung langsung di sambut seorang perwira pertama, Ipda Erwin. Dia melaporkan kalau dokter Santoso dan kedua polisi yang mengawalnya di temukan tewas mengambang dibawah jembatan.
“Apakah ada tanda-tanda penganiayaan?”
“Tidak ada Ndan. Tidak ada luka pukul, luka lebam, luka tusuk, luka robek atau luka-luka lainnya. Bahkan wajah mereka terlihat bahagia.”
“Apa! Bagaimana kau mempunyai kesimpulan begitu?”
“Ada senyum yang terbentuk di sudut bibir mereka.”
Deg!