EPS 61 GEOM-EUN DALAMJWI
Malam semakin larut, dingin dan sepi. Hanya suara binatang malam yang terdengar disana–sini. Di rumah Seonjang Jung penjagaan semakin di perketat. Banyaknya peristiwa perampokan yang dialami para bangsawan dan kaki tangan Jepang membuat mereka waspada. Pengawal dan para pendekar bayaran tampak sigap mengamati keadaan sekitar. Mereka tidak mau kecolongan. Seonjang Jung adalah petinggi pribumi yang diangkat oleh Penjajah Jepang.
Black Mask melayang turun dari atap. Kakinya lembut menginjak tanah. Tanpa menimbulkan suara, dua orang penjaga di depan pintu kamar Seonjang dibuat pingsan hanya dengan satu pukulan. Pintu kamar di buka, dengan cepat pula dia menyergap Seonjang Jung sebelum dia sempat terbangun. Ditotoknya syaraf di belakang kepala juragan pribumi itu hingga dia tidak bisa bergerak.
“Tunjukkan dimana kau menyimpan harta bendamu. Kalau tidak seluruh keluargamu akan kumusnahkan”, kata Black Mask sambil meletakkan pedangnya di leher isteri muda Seonjang Jung.
Perempuan muda nan polos itu ketakutan. Diambilnya kotak perhiasan di bawah tempat tidurnya.
“Ini ambillah, tapi jangan bunuh kami,” mulutnya gemetar.
Black Mask langsung menyambarnya. Lalu dengan sekali hentakan, tubuhnya kembali melayang ke atap dan hilang di kegelapan malam. Isteri Seonjang Jung langsung berteriak minta tolong. Para pengawal dan pendekar bayaranpun berusaha mengejar. Tapi terlambat. Blak Mask sudah terlalu jauh untuk di kejar.
***
Sosok Black Mask terus berlari di kegelapan malam. Tubuhnya ringan melayang diantara pepohonan. Walaupun sudah cukup jauh dia masih berlari. Dia merasa ada yang mengikutinya. Dan kali ini bukan orang sembarangan. Buktinya dia mampu mengimbangi kecepatan larinya. Akhirnya dia berbalik, menunggu. Begitu si pengejar muncul, dia langsung menyerangnya. Dengan kecepatan tinggi dia mengirimkan tendangan bayangan, tapi orang itu dapat berkelit.
“Tunggu Black Mask! Jangan menyerangku dulu! Kita adalah teman!” kata si pengejar sambil terus berkelit.
Tapi pendekar yang selalu memakai topeng hitam itu tidak perduli. Dia terus menyerang dengan jurus-jurus andalannya. Si pengejar cukup kerepotan juga menghadapi serangan itu.
“Dengar Eun So! Namaku Park Min alias Pendekar Kelabang! Aku murid Kim Sau Jad!!”.
Begitu mendengar nama Kim Sau Jad, Black Mask menghentikan serangannya.
“Darimana kau tahu kalau namaku adalah Eun So?.
“Guruku yang memberitahu. Guru bercerita kalau kau selalu menentang penjajah Jepang. Dia juga menitipkan surat untukmu.” Park Min menyerahkan surat itu.
Eun So membacanya. Lalu tersenyum. Dibukanya kerudung yang menutupi kepala dan wajahnya. Ternyata dia seorang perempuan.
“Namaku Roi Jah, orang lebih mengenalku sebagai Black Mask. Gurumu meminta kita untuk berjuang bersama melawan Kaisar Sung yang menjadi boneka Jepang.”
“Lalu apa rencanamu?” tanya Park Min.
“Kita akan menyerang markas tentara Jepang. Kita usir mereka dari bumi Korea.”
Keduanya lalu membuat rencana untuk menyerang markas Jepang di Busan. Dibantu teman-temannya, mereka membuat kekacauan dimana-mana. Menyerang pos-pos pasukan Jepang, merampok pasokan makanan untuk mereka, menyergap patroli dan membakar kendaraan mereka. Sementara Black Mask terus merampok para bangsawan dan kaki tangan Jepang dan membagikannya kepada rakyat miskin.
***
Kapten Shinji Mura sangat gusar. Komandan pasukan Jepang di tanah Korea itu betul-betul kehabisan akal. Berbagai cara sudah dilakukan untuk menangkap Park Min dan Black Mask. Tapi tidak pernah ada hasilnya.
“Tak mungkin melawan mereka dengan kekuatan senjata, Tuan,” kata Seongjan Moon, kaki tangan kepercayaannya.
“Hmm…apa maksudmu. Kamu punya ide?” tanya Kapten Shinji Mura.
“Kita harus melawan mereka dengan sesama mereka”.
“Maksudmu kita minta bantuan pendekar di Jepang untuk menangkap keduanya?” Shinji Mura penasaran.
“Betul sekali Tuan. Adakan sayembara diantara para pendekar. Siapa yang dapat menangkap Park Min dan Roy Jung akan mendapat satu guci emas.”
Shinji Mura mengangguk-angguk. Lalu tertawa lebar.
“Hahaha…pintar sekali kau Bos,” katanya,” Segera sebarkan sayembara itu…”
“Tapi ada satu permintaan dariku tuan. Jika Park in dan Roi Jah tertangkap, aku minta kau mengangkatku menjadi Keala Polisi” sambung Sheongjan Moon.
Shinji Mura tertawa lebih lebar. Tapi dia menyetujui permintaan itu.Tiba-tiba ….
CUT!
“Oke Bagus semua. Cukup untuk pengambilan gambar untuk saat ini. Sekarang waktunya istirahat!” teriak sesorang.
Teriak seorang sutradara film yang sedang menjadi sutradara dari film perdana Ryung Nae alias Ren.
\*\*\*
Ren berjalan menuju tenda besar di belakang lokasi syuting. Seorang krew film memberikan handuk kecil untuk mengelap keringatnya yang bercucuran. Adegan pertarungan yang cukup menguras tenaganya. Apalagi saat harus mengulang-ulang adegan, karena lawan mainnya sering salah menerjemahkan perintah sang sutradara. Untunglah dia memiliki dasar tenaga dalam yang bagus, sehingga tidak terlalu kelelahan.
Terlihat Song berjalan menghampirinya. Dia membawakan Ren kuliner khas Korea Utara, Pyongyang Naengmyeon atau sering disebut juga Pyeongyang Cold Noodle. Semacam mie Makanan ini merupakan sajian klasik khas Negara Komunis yang merupakan musuh terbesar sekaligus tetangga Korea Selatan tersebut.
Bahan dasar mienya adalah gandum hitam disebut soba, sehingga warna mienya juga tampak hitam. Mie disajikan dalam air kaldu yang dingin dan tampak bening. Agar semakin lengkap, biasanya ditambah saus pedas, telur, dan beberapa potong daging. Selain itu juga ditambahkan bunga kol, timun, lobak, ayam, mustard, kecap, dan cuka. Untuk menambah rasa manis, bias ditambahkan kecap manis.
Makanan mie khas Korea Utara cocok dikonsumsi bersama teh Daechu. teh yang dibuat dari olahan buah Jojoba, buah yang juga dijuluki kurma khas Korea. Teh ini memiliki kandungan zat besi yang tinggi. Rasanya yang segar juga bisa menguragi rasa penat dan capai setelah bekerja seharian. Ren langsung menghabiskan makanannya dan meminum tehnya. Heh, rasanya badannya terasa segar dan tenaganya pulih kembali.
“Terimakasih Song,” ujarnya.
Song hanya tersenyum sambil memandangi wajah Song. Wajah cantik yang begitu tenang dan teduh, bagaikan lapisan salju di puncak gunung yang putih dan menenangkan. Dia saja yang sama-sama perempuan suka sekali memandang wajah cantik Ren, apalagi kaum laki-laki ya? Tentu super suka.
“Hai Ren!” sapa seseoang dari luar tenda.
“Hai, Min Ho! Masuklah,” jawabnya.
Ren mempersilahkan lawan mainnya dalam film perdananya untuk masuk. Lee Min Ho masuk, lalu mengambil tempat duduk persis di depan Ren. Air liur Song langsung mengalir, namun tidak mampu besuara. Walaupun baru beberapa kali take bareng, tapi terlihat Ren dan Min Ho sudah begitu akrab.
“Kau bermain bagus sekali hari ini Ren,” puji Min Ho. “Apalagi saat tubuhmu turiun dari atap rumah tanpa alat bantu, begitu ringan dan ehm..sempurna!”
“Ah, aku merasa biasa saja. Itu kan kan karena aku rajin melatih pernafasanku.”
“Oh ya? Apa kau mau melatihku?”
Ren menatap Lee Min Ho yang mengerjap-ngerjapkan matanya dengan wajah memohon.
“Please….”