DIBALIK EMOTICON CINTA 1515 (END OF LOVE STORIES)

DIBALIK EMOTICON CINTA 1515 (END OF LOVE STORIES)
EPS 12 POLITIK DEVIDE ET IMPERA


EPS 12 POLITIK DEVIDE ET IMPERA


Keluarga yang baik dimulai dengan cinta, dibangun dengan kasih sayang dan dipelihara dengan kesetiaan. Hanya keraguan dan keengganan untuk mengakui kesalahan yang seringkali membuat sebuah keluarga menjadi jauh terpisah dalam ruang dan waktu. Mereka bahkan menafikkan kerinduan yang menggumpal hanya karena bayang ketakutan utuk memulai pertemuan. Seperti bulan dan matahari yang selalu muncul pasa saat yang berbeda, walaupun mereka sebenarnya ingin muncul bersama.


Pagi itu langit biru terlihat cerah, tanpa ada awan yang menutupi sinar matahari. Pesawat jet pribadi milik Weizmo Cazorla mengapung tenang di angkasa raya. Dengan kecepatan super, pesawat dengan kecepatan melebihi kecepatan suara itu melesat membelah angkasa yang luas terbentang.


Di dalam pesawat yang sudah didesain ulang seperti ruang keluarga itu, Marcon Allpanigard, CEO muda pemilik Mexican Medcom Vision, perusahaan besar yang bergerak di bidang media telekomunikasi yang menguasai wilayah Amerika Utara dan Amerika Selatan. masih asyik ngobrol dengan Papanya, pemilik perusahaan tambang Cazorla Mining and Timber.


“Sebelum menemui Papa dan Mama, kamu tadi sudah pamit sama kakekmu kan?” tanya Weizmo Cazorla.


“Sudah Pa,” jawab Marcon.


Weizmo tersenyum.


“Apa yang dikatakan kakekmu?”


“Nggak banyak Pa. Pesan supaya aku berhati-hati dalam menjalankan bisnis keluarga. Dia tidak ingin aku mengambil langkah yang gegabah terkait informasi gunung Emas di Indonesia.”


“Apa kakekmu merasa keberatan kau meminta bantuanku?”


Marcon menggeleng ragu.


“Suara kakek sepertinya mencemaskan langkah-langkahku, tapi dia tidak mau melarangku. Mungkin karena dia ingin menjaga perasaan Mama.”


Weizmo Cazorla memandang putera satu-satunya itu. Sosok anak muda ambisius yang lebih suka mengelola perusahaan milik kakeknya, daripada menerima tawaran Papanya sendiri untuk mengelola bisnis tambang milik keluarga Cazorla. Namun sekarang dia memerlukan bantuan Papanya yang sudah lama terjun di bisnis tambang dan perkayuan terkait temuan citra satelit tentang gunung emas di bukit Kethileng.


“Menjaga perasaan Mama?” tanya Weizmo heran.


“Iya Pa. Katanya aku harus selalu menjaga Mama supaya tetap bahagia.”


“Oh ya? Baik sekali kakekmu itu ya?”


Marcon memandang wajah Papanya.


“Papa belum pernah bertemu kakek ya?” ucapnya setengah berbisik, takut kedengaran Mamanya, Elleanor yang sudah terlelap.


Weizmo menggelengkan kepalanya.


“Marcon boleh tahu nggak Pa?”


“Apa?”


“Sebenarnya antara Mama dan Kakek ada masalah apa, kok Mama sepertinya enggan menemui kakek. Padahal Mama kan puteri satu-satunya.”


Weizmo menghela nafas. Harusnya ayah mertuanya yang menjelaskan ini.


“Ceritanya panjang Marcon. Papa juga tidak terlalu paham. Kan Papa menikah dengan Mama juga tanpa sepengetahuan Kakekmu,” kilah Weizmo.


Sebenarnya dia enggan menceriterakan masalah antara isteri dan ayah mertuanya itu. Weizmo lalu teringat kisah cintanya dengan Elleanore, mahasiswi terbaik Oxford University. Kebetulan dia juga kuliah di tempat yang sama dan mereka saling jatuh cinta.


‘Setelah menyelesaikan pendidikannya dengan nilai yang sangat baik, Kakekmu meminta Mamamu pulang untuk mengelola bisnis media milik keluarga Allpanigard. Tapi Mamamu keberatan dengan rencana Kakek karena dia ingin membangun usaha disini. Kakekmu sempat marah dan mengancam akan mencoretnya dari daftar ahli waris keluarga. Tapi mamamu yang juga keras kepala, tidak menggubrisnya.”


“Terus mama membangun perusahaan sendiri?” tanya Marcon.


Weizmo menggelengkan kepalanya.


“Tidak. Dia malah mengajak Papa untuk menikah tanpa sepengetahuan kakekmu. Aku sih setuju aja. Nah sejak hari pernikahan itulah kami memulai usaha baru.”


“Cazorla Golden Mining and Timber?”


Weizmo menganggukkan kepalanya.


“Dan sejak saat itu Kakek dan Mama tidak pernah bertegur sapa?”


Weizmo menganggukkan kepalanya kembali.


Marcon terhenyak. Sebab Kakeknya juga sering melakukan hal yang sama.


“Kakek juga sering melakukannya Pa. Dia selalu mendoakan Mama, dan menceritakan kebaikan-kebaikan Mama kepadaku. Dia ingin aku menjadi anak yang selalu menghormati Mama, menyayangi dan selalu menjaganya.”


Setelah lulus kuliah dan memutuskan untuk terjun ke dunia bisnis, Marcon memang memilih tinggal bersama kakeknya. Alasannya dia tertarik dengan dunia digital dan ingin membesarkan perusahaan media milik keluarga Allpanigard. Dengan ambisi dan kecerdasannya dia berhasil menarik keyakinan Kakeknya. Hingga dia mendapat kepercayaan menjadi CEO di perusahaan milik kakeknya itu.


“Kakek selalu berharap Mamalah yang seharusnya menjadi CEO disana. Tapi dia melihat karakterku sangat mirip dengan Mama yang selalu semangat dan pantang menyerah.”


Hm, kata-kata Marcon begitu menyentuh hati. Weizmo memandang tubuh isterinya yang sudah tertidur dengan mata berkaca-kaca. Teringat dengan perjuangan mereka membangun bisnis keluarga dari nol hingga sebesar sekarang. Dia tidak ingin mengatakan yang salah dan yang benar, tapi yang jelas ada rasa sayang yang begitu dalam antara Elleanor dan Ayah mertuanya, Santos Allpanigard.


“Papa pernah membujuk Mama untuk pulang ke rumah kakek nggak?”


“Iya. Papa selalu mengingatkannya. Tapi Mamamu terlalu takut untuk bertemu kakekmu. Mungkin karena dia merasa bersalah telah menyakiti hati kakekmu.”


Hmm... Marcon termenung. Kenapa cinta tidak cukup untuk menyatukan dia hati yang saling merindu? Adakah kekuatan yang bias menghalangi kekuatan cinta?


“Marcon,” tanya Weizmo pelan.


Marcon mengalihkan pandangannya ke arah Papanya.


“Ada apa Pa?”


“Mengapa kau tertarik dengan gunung emas yang ada di Indonesia itu?”


Marcon terlihat tersenyum aneh.


“Siapa yang tidak tertarik dengan Gunung Emas senilai tujuh milyar dolar ayah?” sahutnya.


“Jangan mengelak anakku. Kau tahu arah pertanyaanku kan?”


Marcon terdiam. Nampak wajahnya tidak seyakin sebelumnya.


“Gunung Emas yang kau ambil gambarnya dengan Citra Satelit milik kakekmu itu berada di wilayah Megapolitan. Bisnis Properti raksasa milik Subrata’s Holding Company. Kau sadar kan sedang berhadapan dengan siapa?”


Marcon menganggukkan kepalanya perlahan.


“Ya Papa. Aku akan berhadapan dengan Subrata yang di klaim sebagai orang kaya nomor empat di dunia. Berbagai bisnisnya begitu agresif dijalankan hampir di setiap Negara di dunia.”


“Dia juga dilindungi oleh Pramono, raja dunia hitam yang menjadi tangan kanan Surata,” sahut Weizmo. “Apakah kau siap menghadapi mereka?”


Marcon menganggukkan kepalanya. Lalu berkata penuh keangkuhan.


“Aku bahkan sudah mempunyai rencana untuk menghancurkan mereka.”


Weizmo mengernyitkan keningnya.


“Bagaimana caranya?”


Marcon tersenyum penuh percaya diri. Dan wajahnya terlihat begitu licik.


“Dengan politik Devide Et Impera.”


“Memecah belah maksudmu?”


Marcon menganggukkan kepalanya cepat-cepat.


“Siapa yang akan kau adu?”


“Subrata dengan Pramono. Setelah keduanya hancur, aku akan muncul untuk menyelamatkan Megapolitan.”


Marcon berkata penuh percaya diri. Sementara Weizmo meandangnya dengan tatapan mata yang cemas dan penuh rasa khawatir. Dia mengenal dengan baik sosok Pramono dan Subrata. Yang sudah matang dalam pertarungan di balik pertarungan bisnis dunia.