DIBALIK EMOTICON CINTA 1515 (END OF LOVE STORIES)

DIBALIK EMOTICON CINTA 1515 (END OF LOVE STORIES)
EPS 93 PENYEMBUHAN TAK SEMPURNA


EPS 93 PENYEMBUHAN TAK SEMPURNA


Andika menghentikan ceritanya sesaat. Wajah Pranaja sedikit menyeringai. Hati pemuda tangguh itu merasa bergidik ngeri. Rupanya dia sedang membayangkan kepala Andika yang pernah remuk, tapi di sembuhkan kembali oleh Miryam dengan kekuatan Tirtanala. Itulah mengapa hubungan Andika dan Miryam begitu dekat, seperti ada ikatan batin diantara mereka. Rupanya mereka pernah saling berhutang nyawa satu sama lain.



“Lalu apa yang terjadi Andika?” Pranaja jadi penasaran.


“Penyembuhan yang dilakukan Miryam belum selesai, tak sempurna, karena kedatangan Abah ke tempat itu. Hanya Abah Badrussalam yang paling di takuti Miryam. Makanya dia langsung pergi begitu melihat kedatangan Abah,” sahut Andika.



Pranaja tercenung sambil menatap wajah sahabatnya. Ah, memang di atas langit masih ada langit. Miryam yang menguasai berbagai kekuatan tingkat dewa, bahkan takut kepada Kyai Badrussalam yang berpenampilan sederhana. Bahkan kyai itu bisa menebak kekuatan yang dimilikinya, meskipun dia belum pernah menunjukkannya.



“Secara fisik, Miryam berhasil mengembalikan tubuhku kembali utuh seperti semula, tapi ada sebagian jantungku yang masih mengalami kerusakan sehingga tidak bisa berfungsi dengan normal,” sambung Andika. “Mataku juga mengalami kerusakan parah, dan belum sempat disembuhkan dengan kekuatan Tirtanala.”


“Karena itulah dokter mengeluarkan jantung dan matamu dan menukarnya dengan jantung Santika?” tanya Pranaja.


Andika menganggukkan kepalanya.


“Kok bisa?” tanya Pranaja lagi.


Wajahnya menunjukkan ketidak mengertian. Bagaimana tiba-tiba ada jantung Santika yang tersedia di saat kritis seperti itu? Dan bagaimana dengan eyang Miryam? Bagaimana mungkin dia mengizinkan dokter mengambil jantung Santika, lalu memindahkannya begitu saja ke dalam tubuh Andika.


“Sabar Pranaja. Aku akan menceritakan semuanya perlahan-lahan, supaya kau paham,” sahut Andika sambil tersenyum.


Pranaja menepuk kepalanya sambil meringis, lalu terdiam, menunggu kata-kata Andika selanjutnya.



“Saat kami mengangkat tubuh Miryam dan Santika dari bawah pohon Cinta, aku memeriksa tanda-tanda vital di tubuh mereka. Secara medis, Santika sudah mati karena nafas, nadi, suhu, dan kelembaban tubuhnya tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Sedangkan Miryam, saat aku memeriksa tubuhnya, walaupun detak jantungnya masih bergerak, tapi aku merasakan denyut nadinya walaupun sangat lemah,” kata Andika.



“Dan kau berkesimpulan kalau Miryam masih bisa dihidupkan?”


“Ya,” Andika menganggukkan kepalanya.


“Lalu kami memisahkan tubuh keduanya. Jasad Santika di bawa ke ruang pendingin di rumah sakit milik ayahku. Sedangkan Miryam dibawa ke laboratorium rahasia di sebuah pulau kecil milik ayahku. Aku berusaha mengaktifkan kembali detak jantungnya. Dan akhirnya berhasil, Miryam hidup kembali setelah terkubur selama limaratus tahun.”



Pranaja mengangguk-anggukkan kepalanya. Sekarang dia mulai nyambung dengan cerita Andika.


“Dan begitu eyang sadar, dia pasti mencari jasad suaminya kemana-mana,” tebak Pranaja.


Andika menganggukkan kepalanya.


“Ya, intinya begitu walaupun kisahnya cukup panjang juga.”



“Dan saat Miryam sedang mencari Santika, dia melihat kecelakaan dahsyat yang membust kepalamu sempat remuk itu?”


Andika mengangguk lagi.


“Ya intinya begitu, walaupun tidak persis banget.”


“Apa maksudmu Andika?”


“Miryam sebenarnya sedang mencari aku untuk menanyakan keberadaan Santika. Dan dia bisa mencium keberadaanku di jalan tol. Makanya dia ada di sana.”



“Owh begitu. Oke, lanjutkan brother.”


Andika terkekeh melihat ulah sahabatnya.


“Makanya jangan suka memotong cerita orang.”


Pranaja meringis lagi sambil menepuk kepalanya.


“Iya deh, maaf. Oke, aku akan diam saja mendengarkan kelanjutan kisahmu. Hehe..”


***


Mengetahui kecelakaan yang dialami puteranya, Subrata dan Vania langsung pulang ke Indonesia. Dia meminta tubuh Andika dipindahkan ke Subrata’s Hospital yang peralatannya lebih modern. Dia juga mendatangkan rombongan ahli-ahli kedokteran dari Amerika, Jepang, dan Jerman. Mereka adalah dokter spesialis dari berbagai bidang, spesialis penyakit dalam, spesialis syaraf, spesialis mata, spesialis bedah dan psikiater.



Dokter-dokter itu segera melakukan pemeriksaan intesif. Begitu datang mereka melakukan observasi dan menyimpulkan diagnosa dengan cepat dan akurat. Seluruh tubuh Andika diperiksa dengan peralatan paling modern dan ditangani dari berbagai sudut ilmu kedokteran.


Namun rasa heran dan takjub menyelimuti hati mereka. Mengalami kecelakaan sehebat itu, tapi putra Subrata itu tidak mengalami luka sedikitpun. Seluruh tubuh Andika normal, semua tanda vitalnya bekerja. Nafas, denyut nadi, suhu tubuh semua semua baik-baik saja, kecuali syaraf mata dan detak jantung yang tidak normal akibat adanya kerusakan pada beberapa bagiannya.


“Matanya tidak mungkin sembuh karena syarafnya sudah mati akibat benturan,” kata Gerd Johnson, dokter spesialis mata dari Amerika.


“Andika tidak mungkin hidup dengan jantung normal, kecuali dia mendapatkan donor untuk di cangkok,” ujar profesor Nikimura, spesialis jantung dari Jepang. “Dan ini harus segera dilakukan. Hari ini juga.”



Pencangkokan jantung? Subrata berpikir cepat. Dia langsung teringat dengan jasad Santika yang berada di ruangan pendingin rumah sakit yang sama. Dia tahu kalau jantung Santika masih sangat baik kondisinya walaupun orangnya sudah meninggal.



“Keluarkan tubuh Santika, bawa ke hadapan profesor Nikimura,” kata Subrata kepada Pramono.



Pramono segera melaksanakan perintah itu. Beberapa perawat langsung mengeluarkan jasad Santika dan membawanya ke depan profesor Nikimura. Ahli jantung dari Jepang itu segera bertindak cepat. Bersama dengan dokter lainnya dia segera mengambil jantung dan mata Santika dari kotak mayat. Setelah memeriksa kondisinya, mereka sempat menggeleng-gelengkan kepalanya.


“What? Kondisinya masih sangat bagus. Dan jantung ini masih berdenyut? Walaupun lemah, aku masih bisa merasakannya,” ujar professor Nikimura dalam hatinya.


Dengan hati-hati dia menaruh organ penting itu dalam sebuah kotak khusus yang disambungkan dengan beberapa kabel. Mereka menyalurkan gelombang listrik dan gelombang elektromagnetik. Lalu menyutikkan sel induk yang berasal dari tubuh Andika ke dalam otot jantung yang sedikit rusak. Sel tersebut akan tumbuh dan merangsang pembentukan jaringan baru yang sehat.


Tak lama kemudian jantung Santika nampak berdegup. Mula-mula terdengar lemah, tapi lama kelamaan semakin cepat dan mendekati ritme detak jantung yang normal.


“Dug!...Dug!…Dug!..Dugdug!Dugdug!,,,Dugdug!


Wajah profesor Nikimura dan dokter ahli lainya terlihat lega. Kini, jantung dan mata Santika siap dicangkokkan ke dalam tubuh Andika. Mereka menyimpan jantung Santika di ruangan khusus untuk menstabilkan detak jantungnya. Setelah itu mereka juga mengambil biji mata Santika, lalu ditutup kembali dengan sangat rapi. Tanpa luka sedikitpun.


“Simpan kembali jasad Santika di dalam ruangan pendingin, mungkin suatu saat dibutuhkan kembali,” perintah Subrata.


Setelah menunggu duapuluh jam, operasi pencangkokkan jantung segera di lakukan Tubuh Andika dimasukkan ke dalam ruang khusus untuk dibedah dan menerima jantung dan mata Santika di dalam dirinya.. Selama lebih dari lima jam tubuh Andika masuk ke dalam ruang operasi. Di bawah dokter-dokter terbaik di dunia, operasi berjalan dengan lancar. Tinggal menunggu proses penyembuhan dan adaptasi.


Ya, secara medis operasi itu berhasil, hanya saja mereka tidak memperhitungkan bagaimana mata dan jantung Santika kemudian bereaksi keras saat melihat Miryam, sang kekasih hati.