EPS 149 CINTA PASTI KEMBALI
Batu hitam, bertuliskan namamu. Teronggok di atas gundukan tanah merah. Disini akan aku tumpahkan segala rasa. Cinta, kesedihan dan kerinduan. Aku genggam lalu aku taburkan kembang. Bersujud dan berdoa, Tuhanlah di sisimu. Syurgalah di tanganmu. Kematian hanyalah tidur panjang, maka mimpi indahlah engkau…sayang.
Usai sudah pertempuran itu. Tidak ada yang merasa menang. Semua dikalahkan oleh ego dan kesalahan mereka sendiri. Ketika semua pemimpin telah berguguran, hanya ada kepala yang tertunduk penuh penyesalan. Jiwa-jiwa kosong yang hanya bisa melihat tanpa tahu harus berbuat apa. Mereka duduk bersimpuh, mengelilingi pohon cinta sambil meratapi kematian Pramono yang tewas mengenaskan. Tubuhnya menempel pada pohon keramat itu, penuh diselubungi es yang membekukan.
“Ayah!” teriakan itu mengguntur, membelah angkasa.
Seorang gadis, memakai celana pendek, berkaos pendek dan memakai rompi kulit buaya, berlari kencang melintasi tanah kosong Megapolitan. Membelah area berkabut itu menuju ke pohon cinta, sambil memanggil-manggil nama ayahnya. Berita kematian ayahnya yang tiba-tiba sangat mengguncang jiwanya. Dia terus berlari, tak perduli beberapa pengawalnya berusaha mengejarnya.
“Ayah!” teriaknya lagi.
Di depan pohon cinta, gadis itu berhenti sejenak. Memandang wajah ayahnya yang diselubungi es dengan pandangan tak percaya. Lalu tiba-tiba dia menghambur kembali, hendak memeluk ayahnya. Beberapa pasukan pengawal yang sudah waspada langsung memegangi tubuhnya. Mereka mencegah gadis itu mendekati pohon cinta karena sangat berbahaya. Rasa dingin pohon itu yang berasal dari kekuatan Tirtanala akan membunuhnya.
“Ayah!!” teriakannya semakin keras.
Gadis itu meronta-ronta. Entah mendapat kekuatan darimana, dia berhasil melepaskan diri dari pegangan para pengawalnya. Lalu dia melompat, melewati tali pembatas yang mengelilingi pohon keramat itu, dan berlari cepat dengan tangan terbentang. Sesaat lagi dia akan berhasil memeluk tubuh ayahnya, tiba-tiba seseorang berkelebat cepat. Tubuhnya yang tinggi menjulang dan berbadan gempal menyelinap diantara tubuh Pramono dan puterinya.
“Hentikan Ana!” teriaknya.
Kedua tangan Ana hanya berhasil memeluk tubuh sosok misterius itu. Ana langsung menengadahkan wajahnya. Walaupun penampilannya berbeda, namun dia masih mengenali pemuda yang sedang dipeluknya.
“Pranaja?”
Ditatapnya wajah tampan dan imut itu. Namun, lama kelamaan wajah itu semakin memudar, lalu hilang berganti warna gelap. Ya, Anastasia Pramono jatuh pingsan dalam pelukan Rich Pranaja. Tubuhnya tak kuasa lagi menahan berbagai tekanan dan peristiwa yang mengguncang jiwanya.
***
Suasana bahagia sedang menyelimuti pesantren Ksatriyan Santri. Sepulangnya dari bukit Kethileng, Kyai Badrussalam menyambut kedatangan sahabat kecilnya. Subrata. Dia datang bersama Marcon Allpanigard, Susan See dan satu lagi yang paling mengejutkan, Fitri Ray, tunangan Andika juga ikut datang.
“Assalamu’alaikum! Sahabatku kangmas Badrussalam,” ujar Subrata.
“Wa’alaikum salam! Selamat datang Subrata.”
Mereka lalu duduk berbincang bersama Panembahan Mbah Iro, Eyang Penatus dan Raden Mas Parto. Subrata menyampaikan maksud hatinya untuk memperkenalkan dua orang CEO baru perusahaan miliknya kepada Andika. Kyai Badrussalam menyuruh seorang santri untuk memanggil Andika yang sedang sibuk di kliniknya.
“Mohon maaf Abah, biar aku saja yang memanggil mas Andika,” ujar Fitri.
Gadis itu segera berdiri. Dipandu oleh santri tersebut, dia di tunjukkan klinik tempat Andika bekerja melayani kesehatan para santri. Bangunannya tidak begitu besar, tapi peralatannya sangat lengkap. melebihi rumah sakit besar.
“Selamat pagi pak dokter,” sapa Fitri.
Andika terkesiap kaget melihat gadis yang baru datang.
“Fitri? Apakah itu kau?” ujarnya seperti tak percaya.
Fitri tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Andika memeluk gadis keturunan Tionghoa itu erat-erat. Menunjukkan kalau dia sangat merindukannya. Ah, sayang sekali. Fitri tak lagi merasakan getaran jantung yang sama seperti Andika dulu.
***
Sementara Miryam dan Ken Darsih serta Arya Janu seperti sedang menikmati bulan madu. Setelah sekian lama terpisah, kini mereka menemukan kembali cinta yang selama ini hilang. Ken Darsih yang sudah memilih takdirnya menjadi manusia biasa, sudah tidak memiliki kekuatan siluman lagi. Sekarang dia adalah gadis cantik yang lembut dan menawan.
“Ibu, siapa laki-laki yang ada di dalam kotak kaca ini?”
“Dia adalah ayahnya Arya Janu, suami ibu. Berarti dia ayahmu juga. Panggil dia ayah.”
Ken Darsih mengamati Wajah Santika dalam-dalam. Sepertinya dia mengenalinya di masa yang lalu. Sayang Miryam sudang menghilangkan ingatannya akan masa lalunya.
“Ayah,” bisiknya sambil menunduk dan mencium tangannya.
Miryam tersenyum. Matanya nampak berkaca-kaca. Seandainya Santika masih hidup, pasti dia akan terkejut melihat Ken Darsih yang sangat mirip dengan dirinya.
Tok! Tok! Tok!
“Pranaja?”
Pranaja menganggukkan kepalanya.
“Salam eyang Miryam. Maafkan aku telah mengganggu kalian.”
Miryam menggelengkan kepalanya.
“Tidak apa-apa. Masuklah, dan baringkan tubuh gadis itu di atas tempat tidur Ken Darsih.”
Pranaja meletakkan tubuh Ana di atas tempat tidur yang terletak di sudut ruangan. Setelah menyelimutinya dia lalu menghadap ke arah Miryam kembali. Hatinya diliputi rasa heran, karena melihat Ken Darsih ada di dalam kamar ‘eyang cantiknya’ itu. Ken Darsih juga menatap wajah Pranaja dengan penuh tanda tanya karena merasa mengenalnya.
“Maafkan aku eyang. Tapi mengapa Ken Darsih ada di sini?” tanya Pranaja.
Miryam tersenyum tipis.
“Kau juga mengenalnya Pranaja?”
“Ya. Dia adalah penghuni hutan Kecipir di atas bukit Kethileng. Aku juga sedang memburunya. Gadis ini adalah manusia setengah sil… ups!”
Belum lagi Pranaja selesai bicara, Miryam langsung menutup bibirnya.
“Dia adalah puteriku. Kau pasti salah orang,” ujar Miryam sambil mengedipkan mata.
Pranaja langsung tanggap.
“Oh, ya. Tentu saja aku salah orang,” katanya.
Miryam mengalihkan pandangannya pada Ana.
“Siapa gadis itu? Pacarmu? Habis kau apakan dia? Kenapa dia sampai pingsan?”
“Waduh eyang, kalau bertanya satu-satu dong,” sahut Pranaja. “Namanya Ana, temanku, ayahnya baru saja meninggal menempel di pohon Cinta. Makanya dia pingsan.”
Mendengar nama pohon Cinta, wajah Miryam langsung berubah. Nampak kesedihan menyelubungi wajah cantiknya. Pranaja menjadi tak enak hati.
“Maafkan aku eyang. Aku tidak bermaksud membuatmu bersedih. Katakan padaku, apa yang bisa membuatmu bahagia. Pasti aku kabulkan.”
Miryam malah tertawa. Lalu menggelengkan kepalanya.
“Tidak. Aku sudah cukup bahagia, aku hanya perlu menghilangkan kesedihan-kesedihanku saja.”
Pranaja tersenyum lega. Dia sangat takut eyang canyiknya akan terus bersedih. Dipandanginya wajah cantik mempesona itu dalam-dalam. Ah, eyang tak pantas bersedih.
“Katakan padaku eyang. apa keinginan eyang yang belum terpenuhi.”
Miryam membalas senyuman Pranaja.
“Aku ingin suamiku hidup kembali.”
Pranaja terkesiap.
“Suamimu?” lalu dia melirik kotak kaca dimana tubuh Santika bersemayam. “Apakah dia suamimu? Maksudku setelah eyang berpisah dengan Panembahan Somawangi?”
Miryam menganggukkan kepalanya.
“Ya dialah laki-laki yang selama hidup aku cintai. Tapi sayang takdir memisahkan kami.”
Pranaja melihat mata eyang cantiknya yang berkaca-kaca. Miryam mengusapnya. lalu bibirnya berusaha tersenyum meledek Pranaja.
“Hayo, katanya kau akan mengabulkan semua keinginnanku? Apa kau bisa menghidupkan kakang Santikaku?”
Pranaja terdiam sejenak, memandang wajah Miryam dalam-dalam. Diluar dugaan perempuan itu, Pranaja dengan tegas menganggukkan kepalanya.
“Ya, Eyang. Aku sanggup menghidupkan kembali eyang Santikamu.”
Miryam tertegun, dia sama sekali tak menemukan keraguan di wajah pemuda itu. Perlahan matanya membulat sempurna. Benarkah? Pranaja sanggup menghidupkan kembali kakang Santika? Di luar angin berkesiur lembut, menerbangkan anak-anak rambut Miryam kesana kemari. seolah menggambarkan kegelisahan hati akan kekejaman takdir yang tak juga menemukan ujungnya.