DIBALIK EMOTICON CINTA 1515 (END OF LOVE STORIES)

DIBALIK EMOTICON CINTA 1515 (END OF LOVE STORIES)
EPS 49 JANJI YANG (TAK) TERLUPAKAN


EPS 49 JANJI YANG (TAK) TERLUPAKAN


Malam semakin larut. Bulan purnama sedang mencapai puncaknya, memancarkan cahaya paling terang di malam yang gelap. Bulan adalah satelit alami bumi satu-satunya dan merupakan bulan kelima dalam tata surya. Bulan berada pada rotasi singkron dengan bumi sehingga selalu memperlihatkan sisi yang sama pada bumi. Setelah matahari, bulan adalah benda langit paling terang. Satu-satunya benda langit yang pernah di darati manusia.



Dua hati yang sedang dilanda cinta, Dandung dan Frida duduk di dalam gazebo besar di belakang rumah untuk menikmati purnama. Selalu ada kerinduan yang tertumpah saat melihat wajah bulan. Pandangan mereka sama sekali tak beralih. Mereka terus memandang bulan sambil berharap ada sesuatu yang dapat memecahkan masalah yang sedang mereka hadapi.


Tapi bulan tak pernah berubah. Dari waktu ke waktu wajahnya tetap sama. Begitu cantik dan menenangkan. Seolah tidak ada kesedihan yang diembannya. Lalu mendadak cahayanya menjadi temaram. Semakin lama semakin gelap, seiring warna bulan yang menjadi merah. Bahkan kemudian berubah menjadi semerah darah!


“Apa?”


Suara Frida dan Dandung seperti tercekat. Mata mereka tak lepas dari fenomena aneh itu. Ada nuansa mistis yang membuat bulu kuduk mereka merinding. Suasana tegang langsung terasa menyergap. Membuat hati dan tubuh mereka sedikit bergetar. Tanpa sadar tangan kekar Dandung merengkuh tubuh Frida dalam pelukannya.


“Astaghfirullah…” gumam Frida seketika.


Dandung memandangnya sekilas.


“Apa kau melihatnya juga Free?” tanya Dandung.


Frida hanya menganggukkan kepalanya. Hatinya terus saja mengucapkan dzikir.


“Laa illaha illa anta subhanaka inni kuntu minadzolimiin.”


Lalu seperti gugusan awan yang tertiup angin, perlahan kabut misterius itu menghilang pergi. Wajah bulan perlahan kembali seperti semula. Sinarnya yang terang kembali menyinari wajah bumi. Meninggalkan jejak tanya dan rasa penasaran di hati Dandung, Frida dan para pengawal yang ada di sekelilingnya.


“Haidar, tingkatkan kewaspadaan!” teriak Dandung begitu dia mulai bias memguasai dirinya kembali.


Iptu Haidar langsung mengkonfirmasi anak buahnya untuk meningkatkan kewaspadaan. Ternyata bukan hanya Dandung dan Frida yang menyaksikan fenomena yang hanya terjadi seumur hidup mereka. Tapi semua anggota pasukan pengawal juga menyaksikan perubahan warna bulan itu, walaupun hanya berlangsung sekejap.


“Apa ini pengaruh hipnotis, Free?” tanya Dandung.


Frida menggelengkan kepalanya.


“Aku tidak tahu pasti, mas. Tapi menurutku ini bukan pengaruh hipnotis, karena pikiran kita semua masih sadar dan bisa berkomunikasi satu sama lain,” sahut Frida.


Dandung mengernyitkan keningnya sambil berpikir keras. Kalau itu bukan hipnotis, lalu kekuatan apa yang menyerang bulan. Semenjak mengenal Ken Darsih dan merasakan kejadian-kejadian mistis dalam hidupnya, pola pikir Dandung jadi berubah. Dulu dia adalah orang yang paling tidak percaya dengan dunia supranatural, tapi kini sebaliknya. Terlampau banyak peristiwa yang tidak bisa dipahami dengan nalarnya.


“Ken Darsih,” desisnya tanpa sadar.


Mendadak raut mukanya berubah. Tiba-tiba dia teringat gadis setengah siluman itu. Wajahnya perlahan berubah tegang kembali. Dia ingat sekarang, malam ini adalah purnama terakhir Ken Darsih menjalankan pertapaannya. Dan dia ingat dengan janjinya untuk menjemput gadis itu dari dasar sendang Kumitir. Apakah semua fenomena alam tadi terkait erat dengan gadis itu?


“Ada apa mas? Kenapa kau diam terpaku dan wajahmu begitu tegang? Apa kau melihat sesuatu yang aneh?” tanya Frida dengan wajah khawatir.


“Ken Darsih, Free,” desisnya lirih, hampir tak terdengar.


Frida mengernyitkan keningnya.


“Apa? Apa yang kau katakana mas? Ken Darsih? Itu nama orang?” tanya Frida lagi.


Ups! Keceplosan! Pikir Dandung sambil menepuk jidatnya. Dia baru ingat kalau dia belum pernah bercerita kepada siapapun tentang keberadaan Ken Darsih. Bahkan kepada kekasihnya sendiri. Ditatapnya wajah Frida yang juga sedang menatapnya penuh tanya.


‘Apa aku harus menceriterakannya sekarang? Ah, aku rasa waktunya tidak tepat,’ batinnya dengan wajah bimbang. Sementara Frida masih diam menunggu jawabannya.


Frida mengangkat kedua alis matanya.


“Dukun yang sangat sakti?”


Dandung mengangguk cepat.


“I..iya, dukun yang sangat sakti. Maksudku dia orang yang memiliki kekuatan supranatural yang luar biasa, gitu.”


Frida masih menatapnya. Jelas sekali wajah Dandung tak pandai berbohong.


“Sudah, lupakan saja Free. Kita masih bisa mengatasinya kok, kan ada Haidar beserta anak buahnya,” kilahnya.


Frida menganggukkan kepalanya. Walaupun dalam hatinya dia tersenyum lebar. Dia mengenal Dandung luar dalam, bahkan masa lalunya yang penuh kisah asmara dengan banyak wanita. Mungkin Ken Darsih adalah salah satu gadis yang pernah menjalin hubungan dengannya. Tapi Frida tak perduli. Sejak awal dia hanya mencintai Dandung dengan tulus, tanpa banyak menuntut kepada Kapten tampan itu.


Dandung kembali memeluk tubuh Frida. Merengkuh kepalanya di atas dadanya yang bidang. Namun wajahnya masih berkabut. Dia belum bisa mengusir rasa gelisah di dalam hatinya. Pikirannya di penuhi perasaan tanggung jawab akan janjinya kepada Ken Darsih. Namun dia juga tidak mungkin meninggalkan Frida dalam keadaan seperti ini.


‘Apa yang harus aku lakukan?’ pikirnya.


Huft!


Tanpa sadar dia menghempaskan nafas kasar. Dan suara dengusannya itu terdengar oleh Frida. Tapi gadis itu tak bereaksi. Dia juga tidak mau berspekulasi. Apapun yang akan dilakukan Dandung, dia akan mempercayainya. Keyakinannya akan cinta pemuda itu begitu melekat di dalam relung hatinya.


“Aku percaya kepadamu mas,” bisik Frida,


Dandung mempererat pelukannya. Dicium ujung kepala Polwan tercantik itu dengan penuh kasih sayang.


“Terimakasih Free atas kepercayaanmu. Itu sangat berarti bagiku. Yakinlah, apapun yang aku lakukan, aku akan selalu bersamamu,” balas Dandung.


Frida semakin dalam menyandarkan kepalanya. Di hirupnya aroma wangi dada bidang Dandung sepenuh perasaannya. Dia tidak akan pernah memikirkan masalah kesetiaan kekasihnya. Dari awal dia sudah menyediakan dirinya sebagai rumah bagi pemuda yang suka berpetualang itu, sebagai tempat untuk kembali saat dia merasa lelah. Dan itu sudah membuatnya bahagia.


***


Dandung membulatkan keputusannya. Dia tidak akan pergi menjemput Ken Darsih malam ini. Tapi akan menjaga Frida sampai mejelang subuh. Karena menurut catatan kepolisian, pembunuhan yang dilakukan oleh pelaku hipnotis itu, semuanya dilakukan di waktu malam. Artinya dia tidak melakukan aksinya di siang hari.



“Haidar, besok aku akan pergi meninggalkan rumah untuk suatu kepentingan. Aku titipkan penjagaan Frida kepada pasukanmu. Jaga dia dengan nyawamu duapuluh empat jam. Dan jangan pernah dia lepas dari pengawasanmu,” perintah Dandung keda Iptu Haidar.



Komandan kompi pasukan khusus yang usianya lima tahun di atas Dandung itu menganggukkan kepalanya.



“Siap Ndan!”



Dandung menepuk-nepuk bahu Haidar, tapi pandangannya dilempar jauh ke depan. Seolah tatapannya sedang menembus keangkeran hutan Kecipir dan sendang Kumitir yang ada di dalamnya.


'Mungkin aku sedikit terlambat Ken, tapi aku tidak akan pernah melupakan janjiku'