Crazy Cousin

Crazy Cousin
Lyora, siapa?


" Udah ih, "


" Nanggung, "


" Ini udah mau fajar, Kakk... "


" Sampai jam 8, "


Plak!


" Gila kamu, "


" Ayo, lagi. Aku—Eummn.. "


" Kak.. " Rengek Nayara. " Udah, udahan ih. Aku capek, babynya juga masih kecil nanti kepentok punya kamu, "


" Satu lagi, setelah itu udahan. "


" Kak!! "


David tetap melancarkan aksinya tanpa menghiraukan Nayara. Salah siapa jam 2 baru masuk kamar, dia ajak begadang kan semalaman.


" Uh.. "


Dengan nafas tersegal-segal Nayara terkikik geli mendengar suara berat David tepat disamping telinganya.


" Kamu kalo sampe puncak suka lucu. Keras banget de— "


" Jangan goda, suara kamu sexy kalo habis ritual. Mau, aku ulang lagi? "


" Sinting, "


" Dosa! "


" Kak berat.. Udah sana! "


David menggulingkan tubuhnya disamping Nayara. Beberapa menit diam dan mulai kembali memakai boxernya setelah itu memakaikan kemeja kebesaran miliknya ditubuh Nayara.


" Tidur, "


" Hem. Capek banget, "


" Pahala, "


" Hiper kamu, "


" Enak, "


" Ish, "


David terkekeh. Dia membalik tubuh Nayara yang semula memunggunginya dan merengkuh tubuh yang mulai berisi itu dengan lembut.


" Tidur, sayang. Kalo udah siang banget aku bangunin, "


" Hem. Angel sama— "


" Tamu tak diundang jangan dipikirin. Nanti juga mereka balik sendiri, "


" Masa gak salaman dulu sama aku? "


" Dikira mau sekolah, "


" Kak ih, nyebelin banget sih! "


" Tidur, sayang. Hem? "


" Iya, " Ucap Nayara tanpa perlawanan lagi. Digempur habis-habisan membuat tenaganya terkuras ditambah mata yang sudah tidak bisa diajak berkompromi. Maka dari itu tidak ada pilihan lain selain tidur. Masalah bangun nanti akan sesiang apa terserah saja tidak akan Nayara fikirkan.


Merasakan nafas istrinya mulai teratur David tersenyum tipis. Dikecupnya kening Nayara berulangkali dengan dekapan yang perlahan mulai mengerat.


" Makasih, sayang. Love you, "


_____-_____


Pada pagi harinya, di dapur masih dalam apartement milik David Reyna tampak sedang memasak ditemani Morgan. Ditelantarkan oleh Reyna skill memasak Morgan tampaknya mulai meningkat. Setengah tidak percaya Reyna.


" Kapan loe bisa masak? Lumayan, jadi berguna. "


" Salah loe milih si pebinor. Daripada berbuat gila ya gue belajar masak aja sama Mommy. No, dijadiin babu gue tepatnya. "


Reyna terkekeh, " Tapi lumayan, nanti kalo gue ogah masak ada loe yang jago masak. "


" Syukuran loe punya gue, "


" Najis, "


" Sedang apa? "


" Astaga! " Keduanya memekik kaget, menatap David dengan tatapan garang.


Sebelah alis David terangkat, " Apa? "


" Jangan ngagetin bisa gak Kak? "


David melangkah menuju meja makan dengan menghiraukan ucapan Reyna.


" Ayo, Kakak laper. "


" Dih, gue yang masak. " Sewot Morgan.


" Rumah siapa? Bahannya dari mana? "


" Sialan, "


" Jangan pelit, Kak. Gak baik. Gue bobol lagi blackcard loe nangis, " Ejek Reyna menyajikan makanan diatas meja.


" Jangan dong. Nanti ayang Kakak marah, "


" Jijik, "


Ketiganya kini sudah terduduk di kursi meja makan dengan Reyna dan Morgan yang menghadap David.


" Kak, Nayara mana? "


" Kakak ipar, " Ralat David.


" Ck, iya. Di mana Kakak ipar? " Ulang Reyna menekankan kalimat akhirnya.


" Tidur, "


" Jam segini? Gak biasanya, "


" Habis tempur tu kali, " Celetuk Morgan.


" Tahu aja, "


" Uhuk, serius? " David mengangguk.


" Jahat banget. Jangan keseringanlah, Kak. Naya baru masuk trimester pertama, rentan keguguran. Kalo kamu maksa dia buat gituan terus yang ada nyakitin bayinya, " Nasihat Reyna.


" Gitu ya? " Tanya David. " Terus dibulan ke berapa bisanya? "


" Lima bulan setelah melahirkan, "


" Gak denger, "


Reyna maupun Morgan mendengus malas.


" Terserahlah! "


" Kakak gak bego ya, Angel. Kemarin juga baru ke dokter, "


" Sayang. Padahal mau Angel bodohin orang bodohnya, " Sekarang giliran David yang mendengus.


" Na, gue mau sayurnya. "


" Ambil sendiri! "


" Ambilinlah, latihan calon istri. "


" Pala loe, "


" Cih, awas loe! Abis loe nanti sama gue, "


" Gak takut, "


" Wah nantangin tu anak, "


" Gue tuli, " Ucap Reyna acuh.


" Bahasa kalian! " Tegur David.


" Apa gitu? "


" Gak pantes, Angel. Ubah! Kamu juga Mor, bukannya mau segera nikahin Angel? Bagaimana mau benar jika cara bicara kamu saja masih begitu, " Jelasnya.


Morgan dan Reyna saling tatap, kompak mereka menghembuskan nafas kasar.


" Ya.. Gimana ya, udah terbiasa gue kalo sama dia. Beda kalo gue sama yang lain, " Keluh Morgan yang diangguki Reyna.


" Gak masalah kalo gak mau diubah. Nanti yakin deh, gak bakalan dapet restu Mommy. "


" Kak! "


" Heh David! "


Seru Reyna dan Morgan bersamaan.


" Makannya, ubah. Bisa? "


" Iya deh, Angel coba. "


" Gue juga eh, a-ku juga. "


David mengangguk, " Ayo makan, "


_-_____


Reyna menutup pintu mobil setelah keluar dari sana dengan ditemani Morgan dibelakangnya.


" Kok rumah rame banget, " Gumam Reyna menatap banyaknya mobil hitam dengan satu berwarna putih yang terparkir dihalaman.


" Ada tamu mungkin, " Sahut Morgan.


" Ya udah masuk, "


Morgan mengangguk. Keduanya melangkah memasuki kediaman Keluarga besar Alexander dengan Morgan yang merangkul Reyna.


" Hello, everybody! Angel comeback— Eh, " Reyna dan Morgan terdiam ditempat, menatap seluruh keluarga mereka yang berkumpul dengan dua orang asing diantaranya.


Morgan dan Reyna kompak saling lirik, lalu kembali menatap dua orang asing didepan mereka.


" Mom? " Morgan menatap Mikhayla meminta penjelasan.


" Ah.. Jadi mereka anak kalian itu, Bella, Key? " Tanya salah satu dari mereka.


" Iya, Mom. " Balas Bella sopan.


" Ini.. Apa sih? " Reyna mulai kepo sekaligus kebingungan, apalagi mendengar panggilan Ibunya pada Nenek itu.


" Ini Grandma Lyora, Ibu dari Mikhayla. "


" Apa?! "


_-_


TBC!