Crazy Cousin

Crazy Cousin
Berjuang Bersama


" Apa?! " Opa Alex berbalik kasar menghadap seorang pria yang menjabat sebagai tangan kanannya.


" Ingatan Morgan kembali?! " Tanyanya dengan nada bicara yang sama tingginya.


" Benar, Tuan. "


Opa Alex menarik nafas dalam, " Panggil Gavin ke mari! "


Sang tangan kanan itu membungkuk singkat sebelum pergi meninggalkan ruangan.


Brak!


Opa Alex menggebrak meja emosi.


" Hanya Tuhan yang tahu apa rencana anak gila si Mikhael itu, " Ucapnya tegas.


🍃 🍃 🍂 🍃 🍃


Mikhael menyeruput kopinya dengan khidmat. Dia tidak merasa terintimidasi ataupun peduli dengan tatapan Marchel yang seperti hendak memakannya bulat-bulat.


" Jadi, apa yang membuatmu datang ke rumahku Kakak ipar? " Tanya Mikhael menatap Marchel dengan raut wajah tenang.


" Morgan, "


Mikhael mengangkat kedua alis dan mengedipkan mata.


" Putramu datang mengancamku, Ael. Sebenarnya ada apa dengan dia? Apa ingatannya telah pulih? Kenapa kau sampai kecolongan tentang ini? " Tanya Marchel beruntun.


" Ha.. Aku juga tidak tahu, " Helaan nafas kasar terdengar dari mulut Mikhael.


" Kau tahu Morgan sudah dewasa, dia sukses dan sedikit liar. Akan sangat sulit jika menjinakkannya. Aku saja sering dibuat speechless oleh perkataannya, " Ucap Mikhael diakhiri kalimat cicitan.


" Omong-omong, apa yang putraku katakan padamu Kakak ipar? " Tanya Mikhael menatap Marchel penasaran.


" Dia berkata menginginkan putriku, "


" Sudahku duga! " Seru Mikhael menepuk pahanya sendiri.


" Memangnya apa yang kau duga? "


" Putraku itu tidak suka berbasa-basi, pada kami saja dia langsung mengatakannya. " Balas Mikhael.


" Menginginkan Angel? "


" Iya, "


" Dan bodohnya kau mengiyakan begitu saja? " Geram Marchel.


" Ck, apalagi yang bisa aku lakukan Kakak ipar? Sudahku katakan bukan, putraku itu sungguh hebat. Dia bisa membalas semua perkataanku jika menurutnya kurang tepat. Dia juga sama kerasnya sepertiku, selalu mendapatkan apa yang diinginkan. Apalagi putrimu pun sepertinya sama menginginkan putraku, "


Mikhael menarik nafas sejenak, " Jadi Kakak ipar, lebih baik kau pertimbangkan segala ucapannya. Aku yakin, selain memintanya baik-baik, dia juga sempat menghinamu karena aku sudah menduga kau akan mebolaknya. Benar bukan? "


Marchel berdehem, " Tidak, "


" Aku tidak percaya, " Ucap Mikhael menatap Marchel dengan mata memicin.


" Jadi jadi, apa yang harus ku lakukan? "


" Kenapa bertanya padaku? Aku juga tidak tahu, "


Marchel memutar bola matanya malas.


" Masalahnya ada pada ayahmu, " Ucap Mikhael membuat Marchel kembali menatapnya.


" Keputusannya tidak akan berubah. Dia yang menjadi asal-usul keturunanku memiliki sifat keras kepala, " Kata Marchel saat faham dengan tatapan Mikhael.


" Dan kau akan diam saja? "


"Aku tidak tahu, "


Keduanya diam, sibuk pada pemikiran mereka masing-masing.


" Aku tahu, "


Marchel menatap Mikhael.


" Bagaimana jika kita nikahkan saja mereka? Tanpa sepengetahuan Daddy, " Usul Mikhael tersenyum lebar.


" Kau gila? Ingin mati ya?! "


Mikhael berdecak, " Tidak ada cara lain, Kakak ipar. Selain itu apa kau punya cara lain? Kau mau anakmu memiliki anak haram karena ketidaksabaran putraku? "


Mendadak Marchel merasakan pening di kepalanya.


" Pasti ada cara lain, "


" Apa? "


" Diamlah! Aku sedang memikirkannya, "


Mikhael berdecak.


" Kita bujuk Daddy, " Mikhayla turun dari arah tangga setelah menidurkan Kia.


" Key? "


" Mereka saling mencintai, Kak. Aku tidak tega jika memisahkannya hanya karena Daddy, " Ucap Mikhayla sembari duduk disamping suaminya.


" Jadi bagaimana?


" Tidak akan berhasil. Sekarang saja pasti Kakek tua itu tahu mengenai ingatan Morgan yang telah kembali, " Geleng Marchel.


" Sebenarnya apa yang menjadi alasan Daddy terus berusaha memisahkan mereka?! " Ucap Mikhael frustasi.


" Aku juga tidak tahu, " Balas Mikhayla.


Marchel terdiam dengan tangan saling bertautan di depan bibirnya.


" Jika Angel juga mempunyai rasa yang sama pada Morgan, aku akan mengusahakannya. Masalah Daddy biarlah itu menjadi urusan nanti, "


Perkataan Marchel menarik perhatian Mikhael dan Mikhayla.


" Jadi? "


" Mari satukan mereka! "


🍃 🍃 🍂 🍃 🍃


Mata indah itu mengerjap, dengan gerakan perlahan kelopak matanya terbuka membuat si pemilik meskipun rabun-rabun mulai bisa melihat objek didepannya.


Reyna terdiam menatap wajah damai Morgan yang masih terlekap. Tersenyum kecil saat menyadari dia tidak terkejut sama sekali dengan kehadiran Morgan di sini.


" Meskipun udah gue beritahu, loe tetep nyeyel ya Mor? " Ucap Reyna pelan.


" Lo.. " Reyna mengangkat tangan kanannya meraba permukaan wajah Morgan pelan.


" Gue juga, "


Hap.


Jari Reyna yang semula bermain di wajah Morgan tertangkap oleh pria itu. Perlahan raut terkejutpun berubah menjadi senyuman yang Reyna perlihatkan.


" Gue kira loe masih tidur, " Ucap Reyna menarik kembali tangannya.


" Ada kucing nakal yang gangguin tidur gue, "


Reyna tertawa pelan yang diakhiri decisan.


" Oh, udah malem ternyata. " Kata Morgan setelah melirik jendela sekilas.


" Hem. Berarti gue tidur dari sore dan baru kebangun malem. Gila, padahal gak baik tidur sore, " Ucap Reyna.


" Gak apa-apa. Ah... Yang penting tidurnya sama gue, " Kata Morgan menarik Reyna dan memeluknya erat.


" Diem Na! Udah malem, mending kita tidur lagi. "


" Tidur pala loe! Gue baru bangun disuruh tidur lagi. Sana ah! Lepas.... " Reyna berontak dalam dekapan Morgan.


" Ogah, "


" Morgan! "


" Males Nana, "


" Ish, " Kesal Reyna memukul dada Morgan.


" Kalo ada yang lihat gimana? " Tanya Reyna mendongak menatap Morgan yang matanya kembali tertutup.


" Kita ada di kamar, "


" Ya maksud gue kalo Mommy atau siapa kek, tiba-tiba masuk dan lihat posisi kita gimana? "


" Pintunya gue kunci sebelum masuk, "


Reyna menghela nafas, " Loe kok malah makin nyebelin ya Mor? Perasaan waktu hilang ingatan meskipun nyebelin gak senyebelin sekarang deh, " Ungkap Reyna.


" Gelik gue, "


Reyna terkekeh mendengarnya.


" Sama sih. Gue juga gelik kalo ingat loe yang waktu hilang ingatan. Gak ada Morgan yang tengil, messum dan cerewet. Adanya cuman Morgan yang sok datar dengan bahasa andalannya, ' Saya ', " Ejek Reyna cekikikan.


" Durahaka loe sama calon suami, "


" Matamu! "


" Diam ah Na! Ayo tidur lagi, tidur. Kalo enggak gue yang nidurin loe, "


" Ayo tidurin! "


" Jangan mancing, Reyna. Gue puasa sebelum halalin loe, "


" Apasih? Maksud gue tidurin pakek lagu Nina Bobo gitu. Lo sih, fikirannya yang bulat-bulat mulu. " Sewot Reyna.


" Loe juga punya yang bulat, "


" Morgan! "


" Off ah, baperan loe. "


" Aanjing, "


" Reyna Angelica! "


" Kelepasan Morgan, "


Morgan diam.


" Morgan, "


" Hem, "


" Sebenernya loe itu serius gak sih sama gue? " Tanya Reyna setia menatap Morgan yang tetap memejamkan mata.


" Kalo gue main-main gak akan berjuang sampai sejauh ini, "


" Ahh.. Kok baper ya? "


Morgan mendengus.


" Tapi kok, gue rasa gak akan berhasil ya? Perjuangan loe akan sia-sia doang kayaknya, " Terka Reyna.


" Setidaknya gue mencoba. Karena usaha tidak akan membohongi hasil, "


" Gue cuman kasihan sama loe, " Lirih Reyna menunduk.


" Why? "


" Jikalau nanti keadaan tidak sesuai harapan, "


" Maka kita akan mewujudkannya bersama, " Ucap Morgan membuka mata menatap Reyna dengan semangat yang membara.


" Tapi.. "


Morgan mengeratkan pelukannya dan semakin membawa Reyna tenggelam ke dalam dada bidangnya.


" Jangan khawatirin apapun, Reyna. Cukup loe terima gue dan temani gue disetiap langkah yang gue ambil, biar sisanya gue yang atur sendiri! " Ujar Morgan menaruh dagunya di ujung kepala Reyna.


Reyna menggerak-gerakkan hidungnya pada kaus santai yang Morgan pakai.


" Iya. Gue pasti stay di jalan loe kok, "


Senyuman Morgan mengembang. Ini yang dia inginkan, sikap patuh dan tidak membohongi hati sendiri ini yang sejak lama dia harapkan dari Reyna.


Dan kini, gadis itu tidak lagi munafik dengan mementingkan ego akan kekurangannya yang tidak seberapa di mata Morgan. Karena nyatanya, Reyna itu sempurna. Reyna sempurna di mata Morgan.


Masalah anak tidak akan Morgan pedulikan sampai kapapun, dia akan pegang ucapan itu. Selama yang menemani hari-harinya adalah Reyna, anak atau apapun itu tidaklah penting baginya. Mungkin jika Tuhan mempercayai nanti juga mereka akan memiliki keturunan.


Karena bagi Morgan Reynalah prioritasnya, Reynalah sumber kebahagiaannya. Tidak ada yang lain, termasuk permasalahan anak.


Morgan kembali mengeratkan pelukannya pada Reyna. Ciuman di kening dan kepala Morgan berikan secara bertubi-tubi pada Reyna membuat gadis itu tersenyum malu dalam dekapannya.


" Only you, and always you. Reyna Angelica, " Bisik Morgan lembut.


_-_


TBC!