
Satu bulan kemudian...
Satu bulan sudah Reyna melewati segalanya. Satu bulan sudah di bekerja di perusahaan Gavin dan satu bulan itu jugalah dia di campakkan atau anak Zaman sekarang sering menyebutnya dengan istilah ghosting oleh Morgan.
Ya, setelah pemaksaan satu bulan lalu dimana Morgan mengatakan kepemilikan akan dirinya di siang itu juga pria itu pergi tanpa kabar dan tanpa kembali kepadanya hingga sekarang.
Morgan hilang begitu saja. Morgan sekan membawanya terbang jauh dan dilepas begitu saja hingga Reyna dapat merasakan sakit yang orang bilang teramat sangat.
Angan-angan yang sempat hinggap dipikirannya kini pudar diiringi hilangnya Morgan juga kesibukannya akan tugas sebagai sekretaris.
Reyna tidak mau ambil pusing. Dia tidak akan menanyai Morgan lewat pesan yang bahkan tidak pernah dibaca lagi.
Hidupnya tidak hanya berputar pada Morgan. Ada mimpi yang harus dia raih dan harapan yang sepertinya mustahil ia gapai untuk sekarang.
Satu bulan ini Reyna hidup sangat baik. Dia menjalani kehidupan normal layaknya orang kebanyakan. Bekerja, belanja, mengunjungi tempat-tempat indah, menghabiskan waktu bersama teman dan keluarga, juga bersantai dan istirahat.
Jika dilihat dari luar memang kepergian Morgan seperti tidak berpengaruh untuknya. Tapi Reyna tahu sendiri bagaimana dirinya sangat mencemaskan pria itu. Apalagi saat Mikhayla bilang jika Morgan pergi ke luar negri untuk menyelesaikan masalah.
Sebenarnya apa masalah yang sedang dihadapai pria itu? Apa ini tentang perusahaan? Seperti tender, keuntungan dan kerugian? Atau ada hal lain yang lebih penting sehingga Morgan turun tangan sendiri?
Reyna menghembuskan nafasnya lelah. Morgan pergi tanpa pamit, dan menghilang tanpa jejak. Pria itu tidak mengatakan kepada siapapun kemana pastinya dia pergi. Bahkan ponsel dan semua media sosialnya pun tidak aktif.
Tidak hanya Morgan yang sulit dihubungi. Bahkan Arzan, teman sekaligus tangan kanan Morgan pun sama sulitnya tuk dihubungi. Mereka seperti sengaja memutus segala koneksi agar dia tidak bisa menghubungi.
" Gue bisa gila jika memikirkannya terus, " Gumam Reyna menggeleng pelan.
Reyna melanjutkan tugasnya yang sedang membuat kopi racikan sendiri untuk Pak CEO kesayangan. Sejak ada Reyna Gavin memang tidak ingin meminum teh atau kopi jika bukan buatan Reyna.
" Halo, Miss Angel. "
Reyna mengangguk singkat akan sapaan seorang karyawan yang juga hendak membuat kopi.
" Selesai. Saya duluan, mari. "
" Mari-mari Miss, "
Karyawan itu menatap kagum kepergian Reyna.
" Ck, bikin makin iri aja Miss Angel. Udah cantik, glamor, baik hati lagi. Gimana gak jadi inceran para CEO coba? " Decaknya kagum.
Seorang wanita yang baru saja datang dan mendengar ucapan karyawan barusan mengepalkan tangannya kuat.
" Sepertinya ini waktuku memberimu pelajaran, wanita penjilat. " Batinnya menyeringai.
🍃 🍃 🍂 🍃 🍃
Reyna mengetuk pintu ruangan Gavin dua kali. Setelah mendengar jawaban dia pun masuk dan meletakkan kopi pesana Pak CEO di atas meja.
" Kopinya, Bapak CEO. "
" Angel jangan mulai, "
Reyna terkekeh. Dia melangkah dan mendudukkan dirinya di atas sofa dengan sebelah kaki menumpang di kaki lainnya.
" Kak Gavin, "
" Hem, " Balas Gavin yang masih sibuk dengan laptopnya sesekali menyeruput kopi yang Reyna bawa.
" Gak sakit tu mata? " Tanya Reyna. " Perasaan sudah lebih dari tujuh jam kamu gak lepas dari gedjet, "
" Pekerjaan Saya banyak Angel, " Balas Gavin tanpa menatap Reyna.
" Terus kok aku gak dikasih kerjaan? "
" Kamu sedang beruntung saja tidak ada yang perlu dikerjakan, "
Reyna terkekeh. Dia bangkit dari duduknya.
" Kalo gitu aku keluar boleh gak? " Tanya Reyna meminta Izin.
" Ke mana? "
" Ya keluar aja gitu. Suntuk di sini terus, "
" Hem. Ponsel kamu selalu aktifkan, agar nanti ada apa-apa aku tidak kesulitan. "
" Perasaan ponsel Angel selalu aktif kok, "
" Iya-iya. Udah sana! "
" Okay! Bye Bapak CEO! "
" Angel! "
Di tengah perjalanan menuju lantai bawah Reyna memutuskan berbelok ke toilet untuk menyelesaikan urusan pribadinya. Masuk ke dalam salah satu bilik, Reyna keluar setelah selesai akan urusannya itu.
" Jadi ini, sekretaris kesayangan Tuan Gavin? "
Reyna menatap tiga wanita yang menghadang jalannya. Posisi mereka saat ini adalah di kamar mandi, tepat di depan bilik toilet yang Reyna masuki tadi.
" Ada urusan dengan Saya? " Tanya Reyna.
" Gak usah sok formal. Gue gak suka loe sok baik, " Ucap salah satunya dengan nada keras.
Kening Reyna berkerut, " Ada urusan apa kalian dengan Saya? Apa Saya mengenal kalian? "
" Cih, " Decis yang tadi membuang muka. " Jauhi Pak Gavin, " Lanjutnya menekankan.
Reyna diam.
" Jauhi Gavin, "
Reyna tetap diam menatap mereka satu persatu.
" Jauhi Gavin gue bilang! " Teriaknya yang kelewatan marah melihat kebungkaman Reyna.
" Siapa loe nyuruh-nyuruh gue? "
Deg.
Ketiganya sedikit tersentak dengan perkataan Reyna. Mereka fikir Reyna adalah tipe orang yang mudah di sudutkan dan tidak pandai melawan, tapi ini?
Reyna menatap tiga orang yang sedang membulatkan mata dengan malas. Oh ayolah! Seorang Reyna, Reyna Angelica mudah ditindas? Cih, mimpi!
Sejak dulu Reyna adalah Reyna. Gadis kaya yang berteman dengan pergaulan bebas. Dia sering berada dalam situasi seperti ini saat masa sekolah dan dunia malamnya bersama Gavin dulu.
Dan dengan bodohnya para mental tempe ini ingin menyudutkannya? Jangan harap.
" Kenapa diem loe? Loe ada masalah apa sama gue, hah?! "
Ketiganya semakin dibuat kaget.
Reyna melipat baju lengan panjangnya sampai siku, berkacak pinggang sembari menatap mereka.
" Loe suruh gue jauhin Gavin? Suka loe sama Gavin? "
" Iya! " Teriak yang tadi menatap Reyna tajam.
" Pak Gavin milik gue, jadi loe yang hanya sekretaris jangan keganjenan! "
" Cih, mimpi loe? " Sindir Reyna pedas. " Mau ya Gavin sama loe? Modelan kayak gini kalo mau sih.. Rendah juga seleranya, " Lanjutnya menatap dari atas sampai bawah diakhiri seringaian menyebalkan.
" Loe! "
" Apa?! " Bentak balik Reyna pasang badan.
Reyna maju membuat ketiganya mundur.
" Siapkan dulu mental kalian sebelum berurusan sama gue. Jangan berani ngatur-ngantur hidup gue apalagi nyuruh-nyuruh gue. Gue orangnya bebas, kalian akan menyesal jika membuat gue marah. Jadi.. Anggap gue gak ada dan bersikaplah layaknya karyawan pada umumnya, " Tekan Reyna menatap ketiganya tajam dan pergi dari sana.
Tiga perempuan yang tadinya hendak memberi sekretaris itu pelajaran sontak bernafas lega. Mereka menyentuh dada masing-masing dengan ekspresi yang terkejut bukan main.
" Gila, gue kira kucing ternyata macan. "
" Gue kira dapat disudutkan ternyata malah membuat kita tersudutkan, "
" Ck, nyerah gue sama Pak Gavin kalo saingannya kayak gini. "
Di balik tembok seseorang mendengar percakapan mereka bahkan sejak ada Reyna. Matanya mengkilap marah dengan tangan senantiasa terkepal emosi.
" Sepertinya dia bukan orang sembarangan, " Gumamnya sebelum pergi dari sana.
🍃 🍃 🍂 🍃 🍃
Di Negara lain, terlihat di sebuah ruangan seorang pria berbaring dengan didampingi psikiater yang tengah melakukan hipnotis.
Psikiater itu terus mengungkapkan kalimat-kalimat yang sebagiannya berisi pertanyaan membuat si pria tampak gelisah dengan mata terpejamnya.
Psikiater itu terus mengarahkan semakin membuat pria itu gelisah. Tidak kuat merasakan adrenalin yang seakan menghantamnya, dengan kasar mata yang semula terpejam itu terbuka lebar dengan teriakan menyaring mengisi kekosongan ruangan.
" Reyna!! "
_-_
TBC!