Crazy Cousin

Crazy Cousin
Jalani Saja Dulu


Seperti yang dijanjikan, sepulang dari rapat yang juga melibatkan Reyna sebagai sekretaris kini Morgan dan dirinya berada dalam satu mobil yang sama menuju kediaman Alexander.


Gavin sempat tidak mengizinkan tadi, namun dengan banyaknya ide nakal Morgan membuat mau tak mau Gavin merelakan Reyna pulang bersamanya dengan setengah hati.


Di dalam mobil hanya ada keheningan. Morgan yang sibuk dengan I-pad nya dengan Reyna yang juga sama sibuknya dengan selembaran kegiatan Gavin untuk esok hari yang telah dirangkum oleh asisten pribadi sang CEO.


" Tunggu, maksudnya makan siang dengan klient apa? Makan sambil bisnis gitu? Bukannya itu jam istirahat? Masa masih harus kerja? " Gumam Reyna pada dirinya.


" Resiko menjadi sekretaris, "


Reyna melirik Morgan, " Jadi benar apa yang gue bilang? "


" Hem. Sekretaris tidak seperti karyawan pada umumnya, dia harus pergi ke manapun bos pergi termasuk merelakan waktu istirahatnya jika itu bersangkutan dengan keuntungan perusahaan. " Jawab Morgan.


" Di perusahaanku begitu, " Lanjutnya menatap Reyna sekilas.


Reyna mengangguk tanda mengerti.


" Kalo libur kalo libur? Dalam sebulan bisa berapa kali? " Tanyanya antusias.


" Baru bekerja sehari sudah membicarakan libur, " Cibir Morgan.


Reyna menggeram kesal. Dia memilih diam karena apa yang Morgan katakan ada benarnya juga. Reyna memang akan memanfaatkan liburnya itu untuk besok atau lusa karena dirinya ingin.


Ah.. Menjadi sekretaris tidaklah semudah yang dia bayangkan. Apalagi sekretarisnya Pak CEO pemilik perusahaan besar seperti punya Gavin.


Lantas, apa kabar dengan sekretaris Kakaknya dan sekretaris Morgan?


Huft.. Pasti melelahkan. Namun dengan gaji yang pastinya memuaskan.


" Bisa sakit gue lama-lama, "


" Bawa santai saja, " Lagi-lagi Morgan menyahut.


" Loe mau nginep? " Tanya Reyna membuka topik baru.


" Hem, "


" Tapi katanya Kia gak mau di tinggal. Kalo nanti nangis karena gak lihat loe di rumah gimana? "


" Ya tinggal susul ke rumah Opa, " Balas Morgan simple.


" Ck, gak gitu juga dodol! Ini udah malem, gak baik buat anak kecil berkendara di dinginnya angin malam. "


" Kia bukan bayi asal kamu lupa, "


" Terserah! "


" Nginepnya bukan di kamar Saya, "


Reyna menoleh, " Terus? "


" Ya kamar kamulah! Saya kan sering tidur di kamar kamu. Karena kamu tahu Saya sering menyelinap masuk dan keluar pagi buta, ya sekarang Saya masuknya barengan keluar pun akan santai. " Jelas Morgan kelewatan santai.


Pupil mata Reyna membesar, " Gila ya loe! " Pekiknya.


" Jangan gila, Morgan. Kalo orang rumah tahu gimana? Udah gue bilang berkali-kali, kita bukan lagi anak kecil yang gak masalah tidur bedua. Kita udah besar. Loe laki, dan gue cewek, gak baik tidur sama-sama. "


" Cuman tidur kok, gak mau nidurin kamu. "


" Morgan! " Pekik Reyna mendengar ucapan frontal dari Morgan.


" Ada yang mau Saya bilang, "


" Apa?! " Bentak Reyna kesal.


Morgan tampak berfikir, setelahnya dia menggeleng dan berkata:


" Nanti saja, "


" Dih, gak jelas. " Sungut Reyna melipat tangannya di dada dan memilih menatap samping.


๐Ÿƒ ๐Ÿƒ ๐Ÿ‚ ๐Ÿƒ ๐Ÿƒ


Beberapa menit berkendara di tambah lelahnya pekerjaan membuat Reyna langsung melempar tubuhnya ketika melihat ranjang.


Untuk Morgan sendiri dia masih berbincang dengan keluarganya di bawah. Tidak, keluarga pria itu juga maksudnya.


" Ah.. Lelahnya, " Desah Reyna membalik badan menjadi terlentang.


" Ini gue bisa gak sih sesuka hati? Secara kan, gue sekretaris kesayangan. " Gumam Reyna terkekeh kecil dengan tingkat ke percaya diriannya yang terlampau tinggi.


" Coba chat Kak Gavin, " Lanjutnya mengambil ponsel dan membuka room chatnya bersama Gavin.


...Pak CEO...


...( Online )...


^^^Permisi, Pak.^^^


Ya?


^^^Sombong amat si Bapakโ€”nya :)^^^


Kamu juga sok formal;<


^^^Sorry, he he..^^^


Ada apa kamu?


^^^Eum.. Libur kapan libur?๐Ÿ˜€^^^


Baru mulai udah nyerah๐Ÿ˜


^^^Ihh.. Serius aku tanya...^^^


^^^Lah?^^^


Udah sampai rumah?


^^^Udah baru tadi^^^


^^^Kalo kamu?^^^


Sama, baru juga sampai


Makan udah?


^^^Belum, males capek mau tidur^^^


^^^CEOโ€”nya jahat jadiin babu mulu akunya^^^


^^^Hiks^^^


Gaji babu CEO besar loh๐Ÿ˜‚


^^^Gaji Selebgram juga besar๐Ÿ˜œ^^^


Selebgram ya kamu? Kok gak terkenal


^^^Kak Gavin!!^^^


Ha ha..


^^^Aku mandi dulu ya^^^


Iya. Langsung tidur jangan keluyuran


^^^Siapa yang sering ngajak keluyuran coba?^^^


Ya kalo dulu aku


Entah sekarang


^^^Gak ada kok^^^


^^^Aku mandi ya, kamu juga^^^


^^^jangan lupa mandi dulu sebelum tidur^^^


Iya. Bye cantik


^^^Bye juga CEO ganteng^^^


Reyna menutup ponselnya. Dia tertawa pelan karena percakapannya dengan si Bos barusan.


" Kalo room chat ini ke sebar, auto di cap sekretaris penggodaa gue. Ha ha.. "


Mengabaikan rasa lelahnya, Reyna bangkit dari atas ranjang dan beralih menuju kamar mandi.


Beberapa menit di kamar mandi, Reyna keluar dengan memakai piama berwarna maroon di tubuhnya.


" Morgan? "


Sudah tidak kaget lagi Reyna dengan kehadiran pria yang terduduk di atas ranjangnya dengan mulut menyengir.


" Ck, susah banget loe di bilangin. " Kata Reyna berjalan menuju meja rias.


" Gimana kalo ketahuan, Morgan? Loe mau jelasin apa? " Tanya Reyna mulai memakai skincare rutinnya.


" Gak kelihatan kok, " Balas Morgan bersantai-santai di ranjang Reyna dengan pakaian malamnya.


" Kalo Mommy atau yang lain tiba-tiba ke kamar gue gimana? "


" Ya Saya ngumpet, "


" Kata gue juga tiba-tiba, Morgan. Gimana kalo tiba-tiba datang, lihat posisi loe yang peluk gue di atas ranjang? " Tanya Reyna menatap Morgan serius dari pantulan cermin.


" Pintu kamar Saya di kunci, kamar kamu juga langsung Saya kunci. Tuh, " Tunjuk Morgan dengan dagunya.


Reyna mengikuti arah pamdang Morgan, seketika helaan nafas terdengar lirih dari mulutnya. Reyna bangkit dan berdiri dengan berkacak pinggang di hadapan Morgan.


" Gue gak mau ambil resiko. Sepintar-pintarnya kita menyembunyikan bangkai, tetap baunya akan tercium juga. Begitupula dengan kelakuan gak wajar loe ke gue, "


Reyna bernafas sebelum lanjut berbicara.


" Kita gak seharusnya kayak gini Morgan. Loe jangan egois, jangan mementingkan keinginan terlarang loe dengan menyeret gue. Gue gak mau. Gue gak mau membuat Opa, Oma, Mommy, Daddy, Kak David, dan keluarga lainnya sedih saat tahu kita main belakang. Loe juga coba fikirin keluarga loe saat mereka tahu, "


Wajah Morgan mendatar saat mendengar penuntunan Reyna dan itu membuat Reyna sedikit takut dibuatnya. Dan ketakutannya terbukti saat Morgan manarik tangannya dan mengungkung Reyna dibawah kendalinya dalam sekejap mata.


" Mo-morgan, " Ucap Reyna terbata.


Morgan menghembuskan nafasnya berat tepat di depan wajah Reyna. Tangannya terangkat membelai setiap inci wajah cantik sepupunya membuat Reyna refleks memejamkan mata dengan nafas tidak beratur.


" Setiap yang namanya cinta pasti ada perjuangan. Begitu juga dengan kita, "


" Saya menginginkanmu. Itu yang ingin Saya katakan di mobil tadi. Bukan hanya menginginkan tubuhmu, tapi semua yang ada dalam dirimu termasuk hatimu, "


Morgan menghentikan gerakan tangannya beralih menatap Reyna lekat.


" Na, " Panggilnya dengan suara serak.


Meskipun takut Reyna tetap membuka matanya dengan perlahan.


" Ayo.. Kita jalani saja dulu, "


_-_


TBC!