
Malam yang gelap disertai keheningan menemani Morgan yang terduduk sendirian di atas balkon apartement David.
Jam menunjukkan tengah malam lewat, namun sepertinya pria itu tidak ada niatan untuk terlelap.
Morgan menghembuskan nikotin yang dihisapnya di udara, dilanjut dengan meneguk sekaleng soda yang sejak tadi menemaninya.
Dalam fikiran Morgan, terisi beberapa pertanyaan seperti ' apakah kepergian Gavin adalah yang terbaik? ' Dan ' apakah keegoisannya yang kekeh ingin memiliki Reyna adalah hal yang tepat? '
Sepertinya tidak. Hatinya mulai goyah saat melihat betapa tidak relanya gadis itu saat ditinggal Gavin. Mungkinkah Reyna telah mencintai Gavin? Dan melupakannya?
" Bahkan dia tidak pernah melirikku, hah. " Decis Morgan lirih.
Dalam posisi duduk Morgan mendongak menatap langit malam. Sangat indah dengan adanya beribu-ribu bintang.
Fikirannya mendadak kosong. Semua rencana mengikat Reyna setelah mengusir Gavin seakan sirna begitu saja.
" Apa? Sekarang apa yang harus kulakukan? " Gumamnya lirih.
Di ambang pintu, dengan piama berwarna biru gelapnya Reyna menatap ke arah Morgan. Untuk sejenak gadis itu terdiam ditempat sebelum melangkah dan tanpa aba-aba masuk kedalam pelukan Morgan dengan posisi duduk dipangkuan.
Morgan terkejut, nafas tertahan dengan mata mengerjap. Takut jika hal ini hanyalah bayangan semata.
" N-na? "
" Hem? "
" Loe— "
" Diem, gue ngantuk. "
Morgan mengatupkan bibirnya. Tidak melakukan pergerakan sedikitpun selain mematung dengan mata menatap Reyna tidak percaya.
" Sorry, Morgan. "
" Hah? "
" Maaf karena sempet salah faham. Gue, waktu itu. " Aku Reyna semakin menyembunyikan wajahnya di dada bidang Morgan.
" Loe hangat, " Lanjutnya membuat Morgan tersadar dari lamunan.
" Kan gue pakek hoodie, "
" Hem, "
" Loe gak ada niatan peluk gue balik apa? " Ucap Reyna.
Morgan yang sepertinya masih menganggap semua ini hanya ilusinya mulai menyadari kenyataan. Tanpa banyak kata dia merengkuh tubuh kecil Reyna dan menghirup rakus aroma menenangkan yang berasal dari gadisnya itu.
Dalam pelukan Morgan Reyna tersenyum. Melupakan sejenak kepergian Gavin dalam fikirannya dan mulai meneguhkan hatinya yang perlahan menyadari siapa pemilik sebenarnya.
" Kenapa? Loe mau bujuk gue supaya lepasin loe? Jangan harap! " Ucapan tegas dari Morgan membuat Reyna mendelik.
" Idih, overthinking banget sih loe, " Sahut Reyna. " Lagian siapa juga yang mau bujuk loe? Gak gue banget bujuk-bujuk, " Sewotnya.
Morgan mengangkat kepalanya dari leher Reyna dan menunduk menatap gadis itu.
" Ya terus apa? Tumben-tumbenan loe kayak gini. Sehabis perginya si pebinor lagi, kan curiga. "
" Cih, pebinor apaan. "
" Apa loe? Gak terima? "
" Terserah! " Balas Reyna kembali membenamkan wajahnya.
" Langsung aja, Na. Tahu gak loe? Gue itu udah sering loe manis-manisin berujung dibuang. Gak bakalan mempan lagi gue yang beginian, "
" Kenapa sih loe gak percaya amat? Heran gue, "
" Ya loe sih, playgirl. Dasar tukang mempermainkan hati! "
" Gak ngaca loe? "
Morgan tamat.
" Jangan buat gue bingung, Reyna. Gue maunya loe maki-maki gue aja, salahin gue aja, karena memang guelah penyebab si Gavin balik ke asalnya. " Ucap Morgan setelah cukup lama diam.
" Dengan sikap loe yang sok baik kayak gini, sok imut kayak gini yang gue tahu akhirnya pasti ada maunya, gue bakalan tetep meleleh pasti. Kali ini sebisa mungkin gue akan tetep buat loe di sisi gue, Na. Bahkan kalo perlu gue iket sekalian! "
" Ih, jahat. "
" Ngomong! "
" Loe kira mulut gue ngapain kalo bukan ngomong?! Ngeselin banget ih, "
Morgan menatapnya datar, " Na, "
Reyna kembali menunduk, tangannya membentuk pola-pola abstrak diatas hoodie hitam Morgan.
" Karena Nayara, " Morgan diam mendengarkan. " Gue tadi dimarahin sama dia, diceramahin juga. " Akunya.
" Apa katanya? "
" Ih belum selesai! "
" Oke, "
" Terus, dipikir-pikir apa yang Nayara bilang ada benernya juga. "
" Apa? "
" Gue gak tahu isi hati gue sendiri, " Aku Reyna jujur. " Gue bingung. Di satu sisi jujur, gue cinta sama loe. Tapi disisi lain gue juga nyaman sama Kak Gavin. Apa gue poligami aja ya? "
" Heh! "
" Itu kenyataannya, Morgan. Gue sedih saat dia pergi, gue gak rela. "
" Terus? Loe mau kejar dia ke sana gitu? " Semprot Morgan.
" Ya gak gitu juga, "
" Coba ceritain, semua percakapan loe sama istri David tadi. Semuanya. Jangan ada yang kelewat, "
" Tadi itu— "
...Sebelum Menemui Morgan......
Nayara duduk dipinggir ranjang, tepat menghadap Reyna yang masih menangis ditengahnya.
" Kenapa, Angel? "
" Hiks.. Gak rela gue. Hiks.. Kak Gavin— "
" Kenapa harus sedih? Kenapa gak ikhlasin aja? Kamu tahu bukan, jika perpisahan kalian itu ada benarnya? Hati kamu bukan milik Kak Gavin, Angel. " Potong Nayara.
Reyna diam sesaat, " Sok tahu loe! " Semprotnya.
" Gue itu.. "
" Apa? Gak bisa bilang, 'kan? " Nayara menghela nafas pelan. " Dengar, Angel. Jangan memperumit keadaan dengan terus mempermasalahkan kepergian Kak Gavin yang bahkan sebelumnya sudah kamu setujui. "
" Angel, hidup ini masih terus berjalan dengan atau tanpa adanya Kak Gavin di hidup kamu. "
" Kamu pernah dengar kalimat ini, bukan? Bahwa untuk mendapatkan sesuatu terkadang kita harus kehilangan hal yang sebelumnya kita punya. "
" Jadi Angel, relakan Kak Gavin. Biarkan dia mencari cintanya sendiri karena pria pun akan merasa lelah jika terus mengejar kamu, yang bahkan hatinya tidak pernah dia miliki. "
" Tapi loe juga pernah dengar ini kan, Naya? Jika seorang perempuan lebih baik bersama dengan orang yang mencintainya ketimbang orang yang dicintainya? " Sahut Reyna.
" Kalian saling suka kalau kamu lupa, "
" G-gue,— "
" Sama halnya seperti Kak Gavin, Kak Morgan pun bisa lelah. " Potong Nayara. " Jangan sampai ketika dia menyerah, kamu baru menyadari semuanya. "
Reyna menundukkan pandangan, air mata setia membahasi pipinya dengan tangan yang tanpa sadar meremas sprai erat-erat.
" Gua harus gimana? Hiks.. Gue bingung, hiks.. Gue masih kepikiran Morgan, hiks.. Tapi gue nyaman sama Gavin. Hiks.. gimana? "
" Jangan plin-plan! Saranku, biarkan yang telah berlalu dan sambut yang akan datang bahkan sejak dulu hadir namun tidak kamu hiraukan keberadaannya. " Ungkap Nayara.
" Pikirkan Angel. Jika Kak Morgan menyerah, kamu sendiri yang resah. Kamu sudah kehilangan kenyamananmu, dan kini kamu juga bisa kehilangan cintamu. "
" Jika kamu terus-menerus menyayangkan hilangnya rasa nyamanmu tanpa menghiraukan cintamu, kamu juga akan kehilangannya. Setelah itu, kamu tidak dapat apa-apa. "
" Hanya kekosongan dan kesakitan saat kedua rasa itu menemukan rasa yang tepat yang tidak bisa kamu berikan sebelumnya. "
" Jangan, " Ucap Reyna tanpa sadar.
Pikirannya kalut, ucapan Nayara membuatnya mendadak takut hati Morgan berpindah. Padahal saat bersama Gavin, itulah yang Reyna inginkan. Membuat Morgan melupakannya dan mencari cintanya. Tapi kini, kenapa dia merasa tidak rela? Mungkin Reyna tidak sadar, jika sejak bersama Gavin pun dia tidak pernah rela membiarkan Morgan dengan yang lain.
" Di-di mana Morgan? Gue harus ketemu dia, gue— "
" Cari dong! Kok tanya aku? Ya mana aku tahu, " Jawab Nayara menyebalkan.
" Shh syalan, "
" Hey! "
Dengan cepat Reyna beranjak mengelilingi apartement untuk menemui Morgan.
____-_______
" Nayara dewasa, ya? " Kata Morgan setengah menyindir.
" Kan udah nikah, "
" Hilih, "
" Apa? Bener, kan? "
" Kalo gak ada yang nyadarin, sampai kapanpun loe tetep bego. Plin-plan dasar pemain hati! "
" Apasih? Perasaan loe daritadi sebut gue pemain hati mulu. Gue itu pemain fikiran! Buktinya, loe sama Kak Gavin ada gue mulu diotaknya. "
" Gembel, "
" Gombal! " Ralat Reyna.
" Tapi gak bikin baper, "
" Peduli Saya? "
" Ck, "
Keduanya diam. Kembali saling merengkuh dengan dagu Morgan menempel di kepala Reyna.
" Gue udah tentuin tanggal pernikahan kita, "
Deg.
" L-loh, kok? "
" Jangan anggap perkataan gue tadi main-main, Reyna! Gue serius, kali ini gue gak akan lepasin loe lagi. "
" Tapi gue jiwa bebas, gue juga punya.. "
" Nanti kita konsultasi sama dokternya. Penyakit loe tergolong ringan kok, yang penting berobat. "
" Tapi— "
" Rahim gak semudah itu hancur, Reyna. Loe gak cacat sebagai cewek, loe masih bisa punya anak. Nanti sama gue buatnya, "
Plak!
" Otak loe yah! " Amuk Reyna menggeplak dada liat Morgan cukup keras.
" Ya kan bener. Emang loe mau bikin sama siapa kalo bukan sama gue? "
" Sama Kak Gavin aja, "
" Heh! "
" Kapan? " Tanya Reyna.
" Satu minggu dari sekarang, "
" Kok cepet? " Protes Reyna. " Gue mau pesta mewah ya, Morgan. Gue gak mau nikah biasa-biasa aja, loe kira nikahan janda! "
" Berarti loe mau nikah sama gue? Ciee... "
" Emang gue bisa nolak? "
" Enggak, "
" Bentar-bentar gue mau ubah posisi, "
" Kenapa? "
" Takut loe tegang, punya loe kan baperan. " Celetuk Reyna.
" Jangan mancing, "
" Gak kok ih, " Dengan segera Reyna mengubah posisi menjadi duduk di antara kedua kaki Morgan yang terbuka dengan pria itu yang kembali memeluknya dari belakang.
" Dingin? "
" Gak. Gue kan masuk ke hoodie loe, "
" Oh iya, "
" Morgan? "
" Hem, "
" Loe masih cinta kan sama gue? " Tanya Reyna, terselip sedikit keraguan dari nada bicaranya.
" Selalu, "
" Terus gue mau tanya, tapi loe jawab yang jujur. "
" Apa? "
" Perempuan yang loe bawa saat acara resepsi Kak David, siapa? "
" Temen gue sewaktu kuliah, "
" Itu alasan gue nerima pertunangan Kak Gavin, " Ucap Reyna.
" Maksudnya? "
" Loe bohong sama gue, " Kata Reyna kesal.
" Bohong? Kapan gue bohong? Perasaan selama ini loe yang sering bohongin gue, gantungin perasaan gue. "
" Loe bohong! Waktu gue telpon tanya loe dimana, loe jawab ditempat lain. Padahal gue lihat jelas loe diluar hotel lagi pelukan sama dia, " Reyna meluapkan kekesalan perpendamnya selama ini.
" Oh.. Yang itu, "
" Apa? Mau ngelak loe? "
" Gak kok. Kan bener, "
" Tuh kan! "
" Harusnya loe bilang hal ini sejak awal, Na. Jadi loe gak perlu mendrama sampai tunangan sama si pebinor, "
" Loe yang salah kok malah nyalahin gue? Ya harusnya loe yang jujur dong, bukan gue yang bilang masalahnya apa. Loe baajingan tahu gak? "
" Ck, denger dulu. "
" Ogahlah! "
" Mau tahu gak kenyataannya? "
" Males gue, "
" Loe— Hah... Oke. Kalo loe kira gue suka sama dia, jawabannya iya. Tapi dulu, itupun cuman sekilas dan gue anggap rasa penasaran doang. Dan yang sebenernya tu perempuan cinta itu abang loe, David. Bukan gue, " Jelas Morgan sesabar mungkin.
" Tahu kok, "
" Hah? " Morgan cengo.
" Tadi pagi Nayara sempet telpon, katanya cewek yang loe bawa itu dateng ke sini dengan sifat gak tahu malu gitu. Sambil nangis-nangis lagi pengen jadi istri keduanya si David, "
" Terus David? "
" Ya gak sudilah! Meskipun mau juga dia gak bakalan bisa. Dan jika tetap ingin dia akan kehilangan Nayara. Dan gue penyebabnya! "
" Bentar-bentar. Kalo loe udah tahu, kenapa loe masih tanya gue?! " Habis sudah kesabaran Morgan. Reyna ini, kenapa makin menyebalkan?
" Gak tahu. Pengen aja, "
" Pengen?! " Pekik Morgan. " Na, sumpah, loe narik gue buat tubruk loe gila! "
" Ih apaan, jauh-jauh sana! "
Morgan semakin merengkuh Reyna dengan menggoyangkan badan mereka.
" Nakal banget calon istri, "
" Dengkulmu, "
" Berarti sekarang baikkan yah? Iya dong, udah mau nikah masa masih plinplan. Malu sama anak SMA yang mulai serius-serius, "
" Hem. Tapi maaf, kalo gue gak sepenuhnya bisa lupain Kak Gavin. Bukan karena apa, gue sadar jika gue memiliki rasa ke dia kayak rasa gue ke Kak David. Gue nyaman sama dia, gue anggap dia Kakak. Dan bodohnya gue baru sadar sekarang, "
" Gak boleh! Perlu diingat, Reyna Angelica. Gue itu tipe cowok cemburuan, " Bisik Morgan tepat disamping telinga Reyna membuat perempuan itu merinding seketika.
" Apa yang menjadi milik gue, harus selalu tentang gue. Gak ada yang namanya mikirin cowok lain, apalagi Gavin. Jika loe tetep mikirin dia, gue kasih loe obat penghilang ingatan. Mau? "
" Serem banget loe, ih. "
" Loe pikir gue bercanda? "
" Tahu kok, serius. "
" Jadi lakuin, hem? "
" Morgan ngerti, gue butuh waktu. Please, " Mohon Reyna menoleh menatap Morgan sendu.
Morgan semakin merengkuh tubuh Reyna membuat kepala itu kembali menghadap depan.
" Gue bantu. Tapi gak lama-lama. Kalo kelamaan, gue tutup seluruh akses keluar loe sekaligus internet. Biar loe gak bisa ketemu dan menghubungi siapapun. Hanya terkurung dirumah kita dan melayani gue yang bisa loe lakuin, "
Gluk.
Selamat datang dikegilaan Morgan, Reyna.
Penuh intrik, taktik, dan keseraman lainnya yang akan kau rasakan jika hidup bersama orang yang menginginkanmu secara berlebihan.
Sepertinya ini tidak akan toxic, namun terkesan Over.
...Over, Lovers....
_-_
TBC!