
Reyna menyimpan wadah besar yang berisi ikan di dalam wastafel. Dia melipat kedua lengan bajunya dan mengambil ikat rambut untuk mengikat rambut panjangnya supaya tidak mengganggu aktivitasnya saat membersihkan ikan-ikan besar ini.
Ketika sudah siap, Reyna mulai mengambil ancang-ancang untuk membelah perut ikan itu satu persatu dan mengambil habis isi dalam perutnya.
Baru satu ikan dia ambil untuk dibelah perutnya, kedatangan Morgan dengan tangan bertengger manis di tembok wastafle tepat disamping pinggang rampingnya sukses membuat Reyna terkejut sampai pisau ditangannya hampir dia jatuhkan.
" Sialan. Loe ngagetin gue tahu gak? " Maki Reyna.
Morgan terkekeh melihat wajah marah sekaligus terkejut Reyna.
" Loe nya aja baperan, "
" Cih, terserah! " Balas Reyna acuh dengan tangan mulai membelah perut ikan-ikan yang akan dibersihkannya.
" Lagi apa Na? " Tanya Morgan mengangkat wajahnya mengintip apa yang sedang Reyna lakukan.
" Buta loe? "
" Dih, slow dong. Sensi amat, "
Reyna memilih mengacuhkan perkataan Morgan dan sibuk pada apa yang sedang dia lakukan.
Morgan menatap Reyna dari samping dalam diam. Bibirnya melengkung kecil membentuk senyuman melihat wajah cantik gadisnya yang dilihat dari samping. Oh, gadisnya?
" Cantik banget sih, pacar gue. " Ucap Morgan tidak tahu malu. " Na, cantik banget sih loe. " Lanjut Morgan saat tidak merasa adanya jawaban dari Reyna.
" Na ih! " Kesal Morgan mencolek lengan Reyna.
Reyna melirik Morgan kesal, " Bisa diem gak sih loe? Dari pada ngoceh gak jelas mending bantuin gue sini! "
Morgan meliuk-liukkan bahunya manja, " Ogah, " Balasnya membuat Reyna mendelik.
" Ya udah pergi! Loe ganggu, gue gak suka. "
" Tapi gue suka, "
" Bodo, "
Morgan terkekeh. Dia kembali menatap Reyna dari samping dengan tatapan dalam.
" Na, "
" Reyna, "
" Hem? "
" Gue.. Kita kabur aja yuk! "
Tangan Reyna yang sedang memotong-motong ikan sontak berhenti. Dia menatap Morgan dengan tatapan tidak percaya.
" Gila ya loe? "
Morgan menghembuskan nafasnya pelan dengan perasaan kesal.
" Terus gue harus gimana, Na? Gue tahu loe marah sama gue, kesel sama gue karena bawa loe ke dalam hubungan gak jelas ini. Tapi gue— "
" Gue gak marah kok, karena hubungan kita juga gak pernah ada kan? "
" Na! "
" Udahlah Morgan! Jangan memperumit keadaan, " Potong Reyna.
" Loe tahu gue udah tunangan. Ini, ini adalah masa depan gue. Dan ini juga adalah jawaban dari ajakan gila loe ke gue tadi. Jadi Morgan maaf, gue gak bisa. Gue udah tunangan. " Lanjutnya mengangkat tangan kiri yang terdapat cincin di jari manisnya.
Morgan menggeleng dengan kedua mata yang mulai berair.
" Loe yang buat gue kayak gini Reyna. Jangan salahin gue, " Ucap Morgan pergi meninggalkan Reyna yang telah dibuat kesal olehnya.
Reyna menatap kepergian Morgan dengan perasaan dongkol.
" Bukannya bantuin malah ngebacot gak jelas. Setelah itu pergi lagi. Sial gue punya sepupu kayak dia, " Geleng Reyna kembali menyelesaikan pekerjaannya yang belum selesai dengan gerakan kasar.
🍃 🍃 🍂 🍃 🍃
Di taman belakang, Morgan terduduk di atas batu yang lumayan besar dengan sebatang rokok menyala di tangannya. Rokok itu keluar masuk dalam bibir Morgan diselingi asap yang terus menerus keluar dari bibir dan kedua lubang hidung Morgan.
Morgan menikmati malam yang sepi dengan kedinginan yang ada juga banyaknya bintang yang menghiasi langit gelap di atas sana. Sejak dulu jika ada masalah selain alkohol dan wanita, kesendirianlah yang selalu Morgan cari sebagai penenang.
Dulu mungkin masalahnya hanya ada pada para pesaing di perusahaan atau kekesalannya karena hilang ingatan yang mengakibatkan dirinya kurang dekat dan kurang percaya pada keluarga. Tapi sekarang, karena Reyna, karena seorang wanita.
Jika ini terjadi pada Morgan si pemain wanita dulu, mungkin sudah dia celakai bahkan tinggalkan Reyna. Tapi sekarang situasinya berbeda, Morgan yang ini adalah Morgan si nakal dan bucinnya Reyna dulu. Morgan tidak bisa jika harus meninggalkan Reyna bahkan merelakan gadis itu dengan pria lain.
Ketika asik melamun, tepukan di bahu membuatnya sadar.
" Mor, "
" Rey, "
Rey berjongkok di sisi Morgan.
" Di sini tenang ya? " Tanya Rey berbasa-basi.
" Hem. Sangat tenang sebelum loe datang, "
Rey terkekeh, " Sialan loe. Pengganggu dong gue, " Makinya.
" Nyadar juga loe, "
Rey diam. Dia memperhatikan Morgan lama.
" Kenapa? " Tanya Morgan yang merasa diperhatikan.
" Mau sebeejat apapun loe tetep temen gue, Mor. Nasib loe lebih baik dari gue. Kejar, gue gak mau kisah percintaan loe berakhir merelakan kayak gue. Karena meskipun cinta, gue gak bisa memiliki. Selain dosa, gue juga bisa menyakiti orangtua. " Ucap Rey.
" Berusaha, kawan! Kalo gak bisa, mungkin memaksa juga bisa. " Tambahnya tersenyum penuh makna.
" Yo, gue cabut ke dalam! Loe juga buruan, acaranya mau mulai. " Ucap Rey bangkit dari jongkoknya dan menepuk pundak Morgan beberapa kali sebelum pergi dari sana.
Morgan terkekeh sinis mengingat penuntunan dari Rey barusan.
" Tanpa loe suruh juga gue gak beego, Rey. Karena bagi gue, mencintai itu memiliki. Dan untuk Gavin, dia harus mengikhlaskan Reyna jika benar cinta. "
Morgan mematikan rokok ditangannya dan menyugar rambutnya ke belakang.
" Egois ya? Tapi itulah gue. Gimana dong? "
Morgan menyeringai, dia merogok ponsel dalam saku jasnya dan menekan satu nomor.
" Ya, Tuan? "
" Pajukan! Satu hari sebelumnya, malam nanti. Saya ingin malam nanti semuanya sudah siap sesuai rencana, "
" Baik, Tuan. "
Morgan mematikan sambungan telepon mereka. Dia kembali menyimpan ponselnya dan mulai berjalan masuk dengan bersiul ria seakan tidak terjadi sesuatu.
🍃 🍃 🍂 🍃 🍃
Di malam yang semakin larut, keluarga besar Alexander tampak sedang asik bakar-bakar dengan posisi duduk melingar. Di sepanjang meja yang melingkar itu tertata banyak makanan mulai dari steak, ayam bakar, ikan bakar, bumbu-bumbu penyedap, buah-buahan serta banyaknya kaleng soda baik yang masih isi maupun yang telah kosong.
Opa Alex dan Oma Lyandra tampak romantis dengan saling menyuapi di usia mereka yang tidak lagi muda. Tidak mau kalah, Mikhayla dan Mikhael serta Marchel dan Bella pun turut melakukan hal sama tanpa memperdulikan anak-anak mereka yang bertengkar memperebutkan paha ayam.
" Ihh.. Aaron, ini kan punya Kakak kia. " Kesal Kia menarik paha ayam yang kedua sisinya dipegang olehnya dan si kecil Aaron.
" Gak! Ini punya Aalon! " Balas Aaron nyolot.
" Tapi Kia yang duluan ambil, " Ucap Kia.
" Tapi Aalon mau paha, " Balas Aaron tidak mau kalah.
" Bocah, jangan berantem! Kia, sini sama Aunty aja! Biar Kia mam disuapi Aunty yah? Mau? " Tawar Reyna membuat Kia langsung melepaskan pegangannya dari paha ayam tadi tanpa ragu.
" Mau!! "
Aaron dengan kaki kecilnya berlari menuju Reyna dan duduk di atas pangkuan Kakaknya mendahului Kia.
" Mana mana, Aalon mau mam. Aaaaa... " Ucap Aaron membuka mulutnya lebar-lebar tanpa merasa bersalah.
" Heh, kan Kakak gak tawarin kamu! Kakak bicara sama Kia loh tadi, " Protes Reyna.
" Kakak Kakaknya siapa? Aalon adiknya siapa? "
" Fine, "
" Yey! " Sorak Aaron menjulurkan lidahnya pada Kia yang matanya mulai berkaca-kaca.
" T-tapi tapi, — "
" Dek, sama Abang aja sini! " Panggil Morgan tidak tega melihat adik bungsunya.
" Gak apa-apa, Kia biar sama Abang aja. Ayo Kia, " Zaidan mengambil alih dengan menggendong si bungsu cantik.
Semuanya kembali terkendali. Aaron tampak bahagia disuapi Reyna dan sesekali tertawa karena Gavin yang berada di samping Reyna terus menjahilinya dengan menggelitiki perutnya.
Kia juga tampak bahagia karena dia juga disuapi sang Kakak kedua, Zaidan. Jangan lupa dengan Morgan yang berada di samping Zaidan sehingga Kia juga sesekali meminta disuapi oleh Kakak pertamanya itu. Sudah seperti Tuan Putri saja Kia yang dijaga dua pangeran tampan sekaligus.
Sedangkan Rey, Arzan dan Erza yang memang ikut bersama Rey terlihat menikmati dengan tenang.
Diam-diam Opa Alex melihat mereka dengan tatapan bahagia. Lalu tatapannya terkunci pada pandangan yang menurutnya paling indah.
" Angel, Nak Gavin. Kalian sudah seperti keluarga kecil bahagia, "
Celetukan Opa Alex mengundang banyak mata menatap kebersamaan Reyna dan Gavin, termasuk Morgan.
" Benar, kalian sudah cocok berumah tangga. " Tambah Bella membuat Gavin dan Reyna saling tatap dan sama-sama malu dibuatnya.
" Sepertinya kita harus segera menentukan tanggal baiknya, Dad. " Sambung Mikhael sengaja memanas-manasi Morgan.
Tangan Morgan terkepal dengan mata menatap ayahnya tidak suka. Lalu tatapannya kembali pada Reyna yang sibuk menyuapi Aaron sesekali tertawa saat Gavin angkat suara.
" Memang keluarga bahagia. Tapi kau tidak tahu saja Kakek sialan. Dengan siapa Reynaku akan bahagia, tentu bersamaku. " Ucap Morgan dalam hati dengan perasaan puas.
Mereka melanjutkan pesta makan-makannya sampai selesai. Hingga satu persatu dari mereka pamit pulang setelah membereskan tempat termasuk Morgan.
Seperti yang dijanjikan sebelumnya, setelah pulang dari pesta Morgan meminta Arzan menemuinya di taman belakang. Dan kini keduanya sudah berada di sana.
" Saya mau kau mencari informasi mengenai nomor ini. Secepatnya, " Ucap Morgan menyodorkan selembar kertas pada Arzan.
Arzan menerimanya. Jika Morgan sudah berbicara formal seperti ini berarti keadaan sedang serius. Arzan menatap Morgan yang sedang menampilkan wajah datarnya.
" Baik. Akan segera Saya kerjakan, Pak. "
Morgan mengangguk puas, " Bagus. Saya harap besok pagi semua informasi yang Saya minta sudah tersedia di meja kerja Saya, " Ucapnya.
" Tentu. Hasilnya tidak akan mengecewakan, Pak. "
Morgan mengangguk sekilas. Dia menepuk pundak Arzan beberapa kali dan melangkahkan kaki dari sana.
Arzan menatap beberapa angka yang ada dalam kertas ditangannya itu.
" Bukankah ini plat nomor mobil yang mengikuti tadi? " Gumam Arzan.
_-_
TBC!