
Weekend telah berakhir. Kini saatnya semua murid masuk sekolah, hal yang paling di benci Reyna.
Di saat semua orang mulai berlalu-lalang memasuki sekolah, Reyna justru termenung di sebuah kolam kecil yang letaknya tidak jauh dari gerbang sekolahan.
Dengan rok pendek dan topi yang di pakai terbaliknya Reyna berjongkok sambil melempar-lemparkan kerikil kecil ke tengah kolam.
Pikirannya terlalu kalut. Jika saja kemarin dia tidak menurut, mungkin saja keputusan gila ini tidak Kakeknya buat.
Nikah muda? Oh ayolah! Sekarang Zaman modern, tapi kenapa pemikiran kuno masih melekat di otak si Alex?.
" Huh. Seharusnya kemarin gue lawan paksaan si Morgan. Kalo aja waktu itu gue kabur, gue gak akan di kasih pilihan kayak gini. Untung gue berangkat pagi, jadi gak di sidang dulu sama Opa, " Gerutu Reyna menekuk wajahnya.
Reyna terus termenung di sana tanpa niatan masuk ke halaman sekolah meskipun bel telah berbunyi.
Entahlah! Otaknya sedang tidak baik. Jika di pakai upacara dan belajar Matematika, mungkin bisa meledak.
Senin, Matematika? Bukan hal tabu lagi Reyna temui!.
Dredd...
Ponselnya bergetar menandakan ada pesan masuk. Reyna merogoknya di dalam tas dan langsung membukanya.
" Kak Gavin? " Gumamnya heran.
...Gavin Haydar...
...Online...
Angel?
^^^Ya?^^^
Kamu Sekolah? Kok gak masuk?
^^^...Eh?...^^^
^^^Kak Gavin di sini?^^^
^^^Kakak gak kuliah?^^^
^^^Ngapain ngintilin Angel?^^^
Mata-mata aku banyak, haha..
____-____
Reyna mengerutkan keningnya. Mata-mata?.
" Wah.. Bahaya. Jangan-jangan ada yang buntutin gue? " Heboh Reyna menatap kanan-kiri.
Namun di sekitarnya kosong. Tidak terdapat satu orangpun. Mungkin karena upacara sedang di mulai, jadi semua siswa telah berkumpul di lapangan.
Dred...
Pesan kembali Reyna terima. Namun kali ini bukan dari Gavin, melainkan Morgan.
...Pak Tua...
...Online...
Masuk atau gue seret?
_-____
" Eh Anj*r! " Pekik Reyna berdiri dengan kasar.
Reyna kembali mengarahkan pandangannya ke segala arah. Namun tetap, kosong. Yang mana membuatnya memicinkan mata curiga pada pesan dari Morgan.
...Pak Tua...
...Online...
^^^Gertak gue loe? Gak bakaln bisa!^^^
^^^Di sini gak ada siapa-siapa^^^
^^^Ngelihat gue dari mana loe?^^^
^^^Kolong langit?!^^^
Rooftop.
Gue tunggu loe di sana.
Ada yang mau gue omongin.
Sekarang!
__-__
Reyna mengusap dadanya melihat pesan-pesan dari Morgan. Dengan gerak cepat dia memalingkan kepalanya pada atap sekolah yang terlihat sangat jelas jika dari sini.
Deg.
Benar saja, Morgan berdiri bagaikan patung di pinggir tembok pembatas. Reyna menelan ludahnya susah payah, lalu menyengir seraya mengangguk-anggukan kepalanya pada Morgan.
" He.. Gue iyain aja deh. Setelah itu.. Kabur!! " Reyna berlari kencang dari sana. Untung saja mobilnya tidak dia parkirkan di jalan, jadi bisa dengan mudah menghindar dari Morgan.
Di atas, Morgan menatapnya tidak percaya.
" Beraninya dia kabur dari gue, " Geramnya.
____-_____
Di sinilah pelarian Reyna, apartement Gavin.
Jangan heran Reyna berada di sini! Karena akhir-akhir ini dia memang sering berkunjung ke apartement Gavin. Hanya berkunjung, tidak lebih.
" Nih minum dulu! " Gavin menyodorkan jus jeruk dan terduduk di depan Reyna. " Lagian ngapain bolos? Ketahuan Osis kan jadinya, ".
" Ah.. Bukan bolos, Kak. Angel tuh memang niatnya Sekolah. Tapi beban pikiran Angel bakalan lebih berat lagi kalo makan rumus! ".
Gavin terkekeh, " Makannya jangan banyak pikiran! Kamu masih muda pikirannya udah bejibun. Memang mikirin apa sih? ".
Reyna menundukkan keplanya, yang mana membuat Gavin was-was.
" Hey! "
Reyna mengangkat kepalanya, " Mau nikah sama aku gak? ".
Mata Gavin membola, " Ni-nikah? ".
__-______
Morgan mengepalkan tangannya. Senyuman miring terlihat di bibirnya membuat Vika and the geng menelan ludah.
" Ja*ang? Reyna? Loe siapa? Punya bukti apa? ".
Freya ikut tersenyum miring. Puas sekali dia melihat wajah pucat Vika dan ketiga dayangnya. Siapa suruh macam-macam dengan mereka! Apalagi Reyna, yang menjadi kesayangan Pak Tua Osis.
Jelas Freya tak terima! Apalagi Si Nara langsung mengeluarkan segala sumpah serapahnya untuk Reyna, meskipun orangnya tidak ada di sini.
Sontak hal itu menjadi kerumunan para siswa. Mereka di perhatikan semua orang dan saat si Pak Tua Morgan datang, kalimat ' Jaalang ' keluar dari bibir membleh Nara.
" Frey, hentikan Kak Morgan! " Ujar Nayara menarik-narik lengan Freya.
" Ogah. Lagian mesti di beri pelajaran tuh si lo*te! " Ucap Freya keras-keras. " Seenaknya aja sebut temen gue jal*ng, " Lanjutnya menggerutu.
" Gu-gue lihat dengan mata kepala gue sendiri! " Nara kembali nyolot.
" Lagian loe juga siapa, Pak Ketos? Gue gak ada masalah sama loe yah, dan loe seharusnya gak ikut masalah gue! ".
" Jelas. Reyna adalah gue. Siapapun yang berurusan sama dia, berurusan sama gue juga. "
" Anj*yy!! " Sorak Para siswa heboh.
" Melehoy adek Ngab! "
" Ponsel gue mana? Ponsel-ponsel! ".
" Wah.. Langka ini, ".
" Tobat loe Mor?! ".
" Cih, palingan cuma pelarian. Morgan kan playboy, ".
Cibiran, sorakan, dan godaan-godaan para murid Morgan terima.
Namun dia tak gentar. Terus menatap Nara tajam dengan rahang yang mengeras.
" Gue lihat dia masuk apartement tunangan gue! Puas loe?! " Teriak Nara membuat suasana kembali menegang.
Jantung Morgan berdetak kencang. Begitu pula dengan Freya yang kini melangkah mundur.
" K-Kak, Gavin? " Gumam Freya lirih.
Morgan yang berdiri tidak jauh di hadapan Freya mendengarnya. Tangannya semakin mengepal sampai urat-uratnya terlihat jelas.
Selain Rey, Morgan adalah pria kedua yang membuat Nayara takut. Meskipun kemarahannya tertuju untuk Nara, tetap saja dia ikut takut.
" F-Frey... K-ke kelas yuk! " Ajak Nayara gagap.
Freya mengerjapkan matanya. Dia menghela nafas panjang dan tersenyum pada Nayara.
" Yaudah, ayo! ".
Meskipun incarannya telah pergi, Nara masih belum berani berkutik. Tatapan Morgan begitu mengintimidasinya.
Morgan itu pria humoris dan mesum. Namun jika sudah menunjukkan kemarahannya seperti ini, terlihat sangat menyeramkan!.
" Gavin Haydar. Dia? ".
Nara mengangguk cepat, " Lantai 3 kamar 306, ".
Morgan menggigit pipi dalamnya sambil mengangguk pelan. Dia pergi meninggalkan kerumunan tanpa menghiraukan Erza dan Arzan yang berteriak memanggil namanya.
Yang menjadi tujuannya hanya satu. Apartement.
____-_____
...Ay...
...Online ...
^^^P^^^
^^^Cantik, Sweetie, honey, baby, kamu di mana?^^^
^^^Ara?^^^
^^^Ay kok gue di kacangin sih?^^^
^^^Oh hellow!!^^^
^^^Nayara!!!^^^
____-_____
David dibuat dongkol oleh Nayara. Pesannya yang beruntuy sama sekali tidak gadisnya hiraukan. Padahal dia On loh?.
" Ck, an*ing! ".
" Istigfar setan! Loe maki anak panti loh, " Seru Erza melempar botol kosong pada David.
" Gue kesel. Si Ara gak bales chat gue, ".
" Belajar kali, ".
" Enggak Erza. Satu sekolah jamkos ini. Emang loe gak denger pengumuman tadi? ".
" Kesumpat earphone gue, " Cengir Erza.
" Selalu, " Timpal Arzan dengan nada dibuat-buat.
" Oh iya. Si Morgan mau ke mana yah? Sampe bolos gini. Padahal dia Osis loh. Kalo Pak Botak panggil, habislah dia! ".
" Urusan mendesak kali, " Jawab Arzan.
" Apaan. Panggilan alam maksud loe? Atau panggilan setan? " Celetuk Erza mendapat jitakan hangat dari Arzan.
" Sembarangan. Temen loe masih perjaka loh, kayak gue. Kalo loe gak menjamin, " Ucap Arzan dibalas makian bertubi dari Erza.
David tak menghiraukan keributan keduanya. Dia tetap setia menatap layar ponselnya yang tak kunjung mendapat balasan juga.
Boro-boro balasan, ceklis dua biru pun tidak.
" Ck. Online loe buat siapa sih Ay? Percuma banget, ngabisin kuota. Mana dari gue lagi itu, " Gerutu David.
" Si Enengnya denger nangis loh, Ngab. " Celetuk Erza yang tak di hiraukan David.
" Ribet amat. Kan kelas 11 masih satu lantai sama kita. Temuin aja sana! ".
Ide Arzan boleh juga. David bangkit dan menciumi rambut Arzan, membuat si empuk terkejut sekaligus merinding.
" Makasih Ar, makasih. Duh.. Anak kambing gue, ".
" David!! " Kesal Arzan mendorong David.
" Ide loe gue terima. He he.. Bye guys! Gue mau bercintah dulu. Bye bye!! " Lanjut David bergegas pergi.
Erza dan Arzan saling tatap.
" Eoh! ".
_-_
TBC!