Crazy Cousin

Crazy Cousin
Freya Kembali


Arzan menatap bos sekaligus temannya dengan tatapan prihatin. Bagaimana tidak, sejak pagi sampai sekarang Morgan terus saja terbengong di atas kursi kebesarannya tanpa melakukan apapun. Terhitung sudah tiga jam lebih Morgan berada diposisi itu.


Arzan tahu hal itu pasti karena pertunangan Reyna. Perlu diingat kembali, pengaruh Reyna dalam kehidupan sehari-hari Morgan sangatlah kuat.


" Gak akaran loe duduk terus, Mor? " Tanya Arzan menatap Morgan sinis. " Sejak tadi gue perhatiin loe bengong.. terus. Kenapa sih? Pasti karena Angel kan? Oh, jelas! "


Arzan menghela nafasnya pelan. Dia beranjak mendekati Morgan dan menarik kursi untuknya duduk disamping pria yang sedang dilanda kegalauan itu.


" Loe beneran cinta ya sama Angel? " Tanya Arzan menatap Morgan serius.


" Loe tergila-gila banget ya sama dia? " Lanjutnya.


" Pelet apa sih yang Angel pake buat ngendaliin loe? Penasaran gue, "


Morgan melirik Arzan tanpa minat, " Pelet cinta, " Balasnya asal membuat Arzan berdecis.


" Merinding gue dengernya, "


" Loe gak tahu seberapa besar gue cinta Nana, Zan. Gue bahkan lebih mencintai dia daripada diri gue sendiri, " Aku Morgan menatap depan.


" Nah, gak baik itu. Ada pepatah yang mengatakan, cintailah dirimu sendiri sebelum kau mencintai orang lain. Gitu, "


" Ha.. Tapi gue gak bisa. Gue tetep menomor satukan Nana, " Timpal Morgan.


Arzan melipat bibirnya ke dalam, " Sebegitu cintanya ya, loe sana Angel? "


" Hem, "


" Tapi apa balasan dia? Tunangan sama orang lain? Dan mengakhiri hubungan kalian secara sepihak? "


" Bukan gitu. Gue tahu Reyna punya alasan, itu yang harus gue tahu sekarang. Masalah Gavin, gue bisa atasi dia nanti. Karena dari dulu, sekarang hingga di masa depan pun Reyna tetep milik gue. " Ucap Morgan pasti.


Arzan mengangguk singkat, " Obsesi itu, "


" Gue gak peduli, "


" Mor, mau gue beri pepatah ala Arzan gak? " Tawar Arzan.


Morgan hanya menatapnya sekilas.


" Wanita itu menunggu datangnya pria yang benar-benar mencintainya. Sedangkan pria, dia berjuang mendapatkan hati wanita yang dicintainya. Kalo keduanya sama-sama mencintai, itu bonus. " Ujar Arzan dengan wajah tengilnya.


" Ngerti kan? "


Deg.


Tatapan kosong itu kembali terisi. Morgan menatap Arzan, senyuman miring terbit dibibirnya diiringi pandangan misterius yang tersorot dari matanya.


" Usaha, Mor. Usaha dan kejelasan yang wanita butuhkan. Mereka hanya tunangan, belum naik pelaminan. Selama janur kuning belum melengkung, loe wajib nikung. Wajib bro, wajib. " Ucap Arzan mengkompori.


Percayalah, meskipun sebutan dingin melekat pada dirinya, Arzan adalah teman baik yang bisa diandalkan antara teman-teman Morgan lainnya. Arzan tahu mana waktu yang tepat untuk bungkam dan mana waktu yang tepat untuk bertindak. Itu alasan Morgan memilih memperkerjakan Arzan dan membuang Erza pada Rey.


Morgan, Arzan, David, Rey dan Erza adalah squad pada masanya. Namun sekarang pertemanan itu terbagi 3, Morgan Arzan, Rey Erza, dan David yang waktu itu memilih sendiri karena keterpurukannya mengenai Nayara. Namun meskipun begitu, mereka tetap teman. Hanya ada tanda tanya untuk hubungan Rey dengan David.


Arzan tersenyum lebar, dia menepuk pundak Morgan berkali-kali.


" Semangat, bro! Jangan karena patah hati loe kayak mati. Cewek banyak, kalo hanya Angel yang loe mau ya kejar. Ini zamannya terobos aja, bro! Gak cepat loe terlambat, " Jelas Arzan membuat sebelah kening Morgan terangkat.


" Gak cepat loe terlambat, " Kata itu terngiang dalam kepala Morgan. Tanpa sadar lagi-lagi senyuman miring terbit diujung bibirnya.


" Tanpa loe suruh gue udah ngerencanain sesuatu, Arzan. Sesuatu, yang akan memaksa Reyna pilih gue bersama restu yang mungkin terpaksa. " Batin Morgan tersenyum licik.


🍃 🍃 🍂 🍃 🍃


Reyna melirik jam yang melingkar manis dipergelangan tangan kirinya. Senyuman terbit saat menyadari jam makan siang telah tiba. Dengan segera Reyna membenahi meja kerjanya dan keluar menuju kantin.


Kening Reyna berkerut dengan mata meneliti orang-orang yang dilewatinya. Mereka semua tampak menunduk dan segan menatapnya, itu yang membuat Reyna kebingungan.


" Sebegitu nyereminnya ya muka gue? " Gumam Reyna pada dirinya sendiri.


Reyna menggeleng acuh. Lanjut berjalan tanpa memperdulikan sekitar adalah pilihannya.


Setelah membawa pesanannya, Reyna memilih salah satu meja kosong dan terduduk di salahsatu kursinya. Melipat kedua lengan baju setelah itu sibuk menyantap makanannya dengan tenang.


" Jadi selama ini kita dibohongi? "


" Bukan, kitanya saja yang gak tahu. "


" Kaget loh gue, sumpah kaget banget waktu tahu itu Ms Angel. "


" Sama. Apalagi gue sama temen se-devisi hadir dipestanya, "


" Mereka tunangan beneran kan? Gak cuman settingan? "


" Enggaklah beego! Loe gak lihat di vidio? Tatapan Pak Gavin dalem banget ke Ms Angel, "


" Hem.. Bener juga sih. Dari awal gue udah menduga kalo mereka ada something, "


" Cocok gak menurut kalian? Kalo menurut gue sih cocok ya, "


" Ya iyalah! Yang satu ganteng yang satu cantik. Beh, mau sesempurna apa nanti anaknya. "


" Tapi.. Di pestanya ada wrong loh, "


" Apa-apa? "


" Gue juga gak tahu sih, tapi intinya ada masalah gitu katanya. Karena waktu masalah itu terjadi sayangnya gue sama yang lain udah pergi, jadi gak tahu. Dan rumornya semua gedjet disita pemilik pesta. "


" Biar gak kepublik kali, masalahnya. "


" Hem. Namanya juga keluarga ternama, pasti ditutup-tutupilah! "


" Ribet banget jadi orang kaya, "


" Makannya loe harus bersyukur sama hidup miskin loe! "


" Ya gue mah bersyukur aja. Mau dienggak-enggak juga gak bakalan bikin gue kaya mendadak kan? "


" Sinting loe, ha ha.. "


Telinga tajam Reyna dapat menangkap percakapan beberapa karyawan dibelakang mejanya. Kerutan dikening dan senyuman kecil menunjukkan jika dia sadar akan sikap aneh para karyawan barusan.


" Yah, gagal deh gue nyamarnya. " Ucap Reyna kecewa.


" Padahal.. Gue gak mau dikenal sebagai salah satu dari big family Alexander. But, it's okay. Gak ada pilihan, " Lanjutnya kembali makan.


" Ms. Angel, "


" Ya? " Reyna menatap salah satu pegawai yang memanggil namanya.


" Itu.. Anda dipanggil Pak Gavin, "


" Kak Gavin? Kenapa gak telepon aja? " Gumam Reyna.


" Okay. Nanti Saya ke sana, "


Karyawan itu membungkuk hormat dan pergi dari sana.


Reyna meneguk segelas air putih sebelum pergi menuju ruangan Gavin.


🍃 🍃 🍂 🍃 🍃


Seorang wanita keluar dari apartement dengan laptop dan lembaran-lembaran ditangannya. Memakai pakaian yang lumayan ketat dengan heels dan kaca mata membuat siapa saja yang melihat akan langsung tahu jika dia adalah seorang dosen.


Dosen wanita itu berjalan menuju lift dan menekan tombol 1. Sembari menunggu, dia melirik kanan-kiri dan keluar setelah lift berbunyi.


Kembali melangkah menuju parkiran, dia membuka pintu mobil dan masuk ke dalamnya sambil menyimpan barang-barang bawaannya di jok samping.


Tanpa menunggu lama, dosen wanita itu menyalakan mobilnya dan melesat menuju kampus tempatnya mencari nafkah selama ini.


Mobil mewah berwarna hitam baru saja terparkir diparkiran khusus. Pemiliknya keluar dengan membawa barang-barang yang dibawanya dan melangkah memasuki luasnya area Universitas.


Ditengah jalannya, seseorang berteriak memanggil namanya:


" Ms Frey! "


Dosen wanita itu berbalik, " Ya? "


_-_


TBC!