
Dua Part diulang karena kesalahan waktu terbit. Agar bacaannya nyambung, langsung baca Part ke 3 aja ya.. Maaf atas ketidaknyamannannya...
________-_______________
Hari yang telah lama Morgan tunggu akhirnya tiba juga. Hari di mana dirinya akan mengikat wanita yang selama ini dicintainya dengan ikatan suci pernikahan.
Di sebuah gedung luas nan tinggi dengan didekorasi semewah mungkin, Reyna Angelica dan Morgan Eduardo resmi menjadi pasangan suami istri. Kedua pasutri baru itu terlihat sibuk menyalami para tamu undangan yang jumlahnya tak terhingga.
Di pojok sana, Bella dan Marchel menatap penuh haru putri tunggal mereka. Reyna tampak cantik, seperti ratu satu hari. Tidak terasa putri cerewet dan nakal mereka dengan kekeras kepalaan tiada tara itu akhirnya menikah juga. Dan yang lebih membuat tidak mereka kira hingga saat ini, putri mereka menikah dengan seorang Morgan Eduardo sang rival abadi Reyna sejak kecil.
Masih ingat mereka wajah jahil Morgan yang suka mencari perhatian dan raut jutek Reyna seakan jijik pada setiap lontaran kalimat yang keluar dari mulut si Playboy insyap itu.
" Putri kita sudah dewasa," ucap Bella menyandarkan kepalanya pada dada keras berbalut tuxedo suaminya.
Marchel memeluk bahu istrinya dengan sebelah tangan, " Ya, kau benar. Rasanya baru kemarin aku menggendongnya ketika dia baru lahir ke dunia, " balasnya tersenyum haru.
" Aku bahagia, namun juga khawatir." Marchel menatap sang istri.
" Bahagia karena Angel menikah dengan pria yang sangat menyayanginya, dan sedih bila ditahun-tahun berikut hubungan mereka hancur hanya karena perihal anak."
" Kau fikir Angel mandul?"
" Tidak tidak, bukan itu maksudku!" elak Bella cepat. " Aku hanya... "
" Aku mengerti, My Belle. Kau tenang saja, Morgan dan seluruh keluarga kita tahu persoalan Angel. Dan Morgan pun tidak akan diam saja melihat Angel yang tidak mau diajak berobat sedari dulu," sahut Marchel.
" Aku yakin, dengan bujukan Morgan putri kita akan mau melaksanakan pengobatan."
Bella menghela nafas, " Semoga saja,"
Marchel mengecup puncak kepala istrinya dengan senyuman terpasang di wajah tampan penuh wibawa.
" Sudahi segala pemikiran burukmu, My Belle. Ini hari bahagianya putrimu, apakah kau akan mengisinya dengan kesedihan saja? "
Bella menatap Marchel, tersenyum begitu cerah membuat gigi rapi dan mata cantiknya yang menyipit indah membuat Marchel tidak tahan rasanya.
" Ahh.. Jangan membuatku berbuat ulah di sini dengan keindahan mu itu, My Belle. Jelas kau tidak menginginkannya bukan?" goda Marchel.
Bella mencebik kesal, " Kau ini. Ingat umur!"
" Aku masih mudah,"
" Ya ya, suamiku memang anak ABG."ejek Bella berlalu meninggalkan Marchel yang terkekeh ditempat.
" Hemm bagiku kau juga masih rasa perawan, My Belle. "gumam Marchel mengusap dagunya dengan pandangan nakal.
Dilain tempat, terlihat Nayara yang cemberut dengan suaminya yang setia memasang badan dengan wajah datarnya di salah satu tempat khusus keluarga mempelai.
Nayara kesal pada suaminya, bagaimana tidak kesal? Di saat baru saja melangkahkana kaki memasuki area pesta, David sudah memepetinya dan menariknya menjauh dari kerumunan dan berakhirlah mereka di sini.
Nayara kan ingin mengucapkan selamat pada Angel temannya, juga ingin bergabung bersama keluarga mereka yang lainnya. Apalagi hari ini kedua keluarga besar mereka tengah bersatu. Atau mungkin tiga? Ya, tiga. Karena keluarga Tante Della kembaran Bella ikut hadir memeriahkan pernikahan putri tunggal keluarga Marchel.
Menyadari raut tidak enak diwajah istrinya, David bertanya: " Kenapa?"
Nayara mendelik, " Masih tanya lagi, gak nyadar diri banget."
" Sayang, "panggil David tidak menyukai cara Nayara berbicara kepadanya.
" Ya habisnya Kakak nyebelin! Masa aku gak boleh ngucapin selamat sama mereka? Aku juga mau nyapa keluarga lainnya loh Kak. Ih, kamu malah paksa aku ke sini. Tau ah, sebel banget sama kamu."
" Sapa keluarga, atau lepas rindu bareng Kakak tercinata?"
" Ya termasuk. Aku juga kan rindu Kak Rey dia— Eh. Jadi karena itu kamu larang aku ke sana?!" pekik Nayara tidak habis fikir.
David mengalihkan pandangannya ke depan tanpa menjawab.
" Kak? Astaga, " Nayara menjilat bibirnya yang mendadak kering. " Aku sama Kak Rey adik Kakak, Kak David. Adik kandung. Kamu masih mikir yang enggak-enggak aja ya, sama aku? Kamu pikir aku itu kamu, yang suka selingkuh?"
" Nayara!"
" Kesana ya.. Ke sana. Gak enak loh, masa gak nyapa dulu. Ucapin selamat kek, yang disana adik kamu kalau kamu lupa." pinta Nayara setengah merengek.
Tidak ada balasan dari David, membuat Nayara kembali bersuara.
" Kak. Ya? Ya? Yaudah kalo gaka mau aku juga bisa sendiri kok," ucap Nayara berdiri dari duduknya.
Nayara menoleh saat merasakan sebelah tangannya digenggam lembut oleh seseorang.
" Janji dulu, gak boleh pelukan sama si Rey?"
" Ipar kamu loh itu,"
" Janji gak? Kalo enggak udah gak usah. Pulang sekalian, "
" Ya tapi aku rindu Kak Rey, aku— "
" Fiks pulang,"
" Iya iya ya, ihh iya janji gak peluk."
" Yaudah ayo," ajak David menggenggam lembut telapak tangan istrinya.
Nayara mengelus perut buncitnya berharap anak mereka nanti tidak menuruni sifat David yang kelewatan setan.
Di altar, Reyna tak hentinya tersenyum dan mengucap terima kasih pada para tamu undangan yang hadir di acara besarnya. Meskipun sebenarnya dia malas menjadi pajangan hidup seperti sekarang namun apa boleh buat?
" Kapan habisnya anjir," gumam Reyna.
" Akhirnya," ucap Morgan tanpa sadar.
Reyna menoleh, " Apa?"
" Akhinya kamu jadi milikku, sayang. Milikku sepenuhnya," lanjut Morgan tanpa ragu.
Reyna tersenyum tipis, " Terima kasih, "
Kening Morgan berkerut, " Untuk?"
" Karena telah menunggu dan setia menginginkanku. Meskipun kamu sempat melupakanku, namun dalam ketidakingatanmu itu kau tetap mencintaiku. Dalam hati kecilmu,"
Tak tahan, Morgan menarik Reyna kedalam pelukannya. Dipeluknya erat sang istri dengan hidung menghirup rakus aroma menenangkan yang berasal dari Reyna juga menikmati perasaan nyaman yang hinggap merasakan detak jantung keduanya yang tidak beraturan.
" Kuakui aku bukan pria baik, Nana. Namun untukmu, aku akan berusaha menjadi yang terbaik. Tidak berjanji, namun akanku buktikan kesungguhanmu dihari-hari bahkan tahun-tahun berikutnya kehidupan indah kita."
Reyna tersenyum sembari memejamkan mata dalam pelukan hangat suaminya.
" Aku tidak sabar menunggu,"
" Ekhem, " deheman kuat membuat pelukan keduanya terlepas dengan kasar. Di depan mereka tampak David menatap datar dengan Nayara yang mengulum senyumannya.
" Aduh, ganggu kayaknya."
" Jangan asal peluk, kalian—"
" Udah sah!" sewot Morgan.
Nayara memeluk sahabat baiknya erat yang dibalas tak kalah erat oleh Reyna.
" Selamat menempuh hidup baru, Angel. Dunia pernikahan memang tidak semulus yang dikira tapi juga tidak seburuk yang difikirkan. Selama rasa dan tujuan kalian masih sama, dengan seIzin Tuhan semuanya dapat berjalan lancar. Hanya perlu kesabaran dan kesadaran diri akan pasangan masing-masing, juga seringnya mengalah dan menumpahkan segala rasa keluh-kesahmu pada pasangan."
" Terima kasih, Naya. Gue tahu pernikahan ini bukan akhir dari bahagia yang sebenarnya. Apalagi mengingat yang gue nikahin pria bentukan Morgan. Tapi dengan perasaan yang kami punya, juga tujuan sama yaitu menjalin rumah tangga bahagia, kita bisa melalui semua rintangan di depan. Kita pasti bisa, "
Nayara tersenyum hangat, " Do'a dan harap kami selalu bersamamu, Angel. "
" Eummm sobat guee.." Reyna kembali memeluk Nayara dengan Nayara yang ikut memeluk balik sahabatnya.
David dan Morgan yang sejak tadi menyimak akhirnya saling menghadap. David mengulurkan tangan yang dengan segera dibalas oleh Morgan.
" Selamat,"
" Ya,"
" Nayara!" Nayara menoleh, tersenyum girang melihat Rey yang menatap penuh kerinduan tidak jauh dari tempat mereka berdiri.
" Kak Rey!"
David menggeram dengan tangan mengepal di udara karena tak sempat menahan kepergian istrinya yang begitu cepat. Melihat Nayara dan Rey berpelukan membuat sesuatu mendidih dalam tubuhnya. Dia tidak terima, jelas. Meskipun Rey dan istrinya adik Kakak, namun fakta bahwa mereka pernah bersama tidak mudah David lupakan.
" Dasar aneh. Masa pelukan sama Kakak sendiri gak boleh? Heh David, loe gak inget kelakuan loe yang selingkuh sama si Clarissa sok cantik itu?! Baru pelukan sama Kakak bera jenis aja udah kelabakan, apalagi kalo pelukan— "
" Sayang," Morgan membungkan cepat mulut istrinya yang asal ceplos. Tidak tahukah Reyna bahwa raut wajah David sekarang sudah seperti hendak menelan mangsa hidup-hidup?
" Aaa ayang, " rengek Reyna ketika Morgan melepaskan telapak tangan dari mulut istrinya.
Tak tahan dengan gejolak yang semakin meningkat, dengan langkah lebar David mendekati mereka dan menarik tangan istrinya lembut.
" Pulang, "
" Eh tapi— ihh Kak David," kesal Nayara mengikuti langkah lebar David dengan sedikit terburu-buru.
Reyna terkikik melihat wajah tidak bersahabat Kakaknya.
" Syukurin loe David! Gue harap sih si Rey sama Naya beneran balikan, "
" Na!" tegur Morgan.
" Kesel sih. Susah lupa aku, kalo sama pengkhianat kayak David."
" Kakak kamu, sayang." ucap Morgan lembut.
" Gak punya Kakak. Si David kan anak pungut,"
" Tahu dari mana?"
" Ya tahulah! Kan aku lihat pas Mommy sama Daddy pungut dia waktu bayi, "
Morgan bungkam dengan kepala menggeleng. Tidak habis fikir dengan cara berfikir istrinya itu. Waktu bayi katanya? Bukankah jika David bayi Reyna belum ada? Secara dia— ah sudahlah!
Jauh dari tempat pelaminan, seluruh keluarga menyaksikan perdebatan Reyna dan Morgan. Juga ikut merasakan besarnya kasih sayang keduanya lewat sikap Morgan yang tak hentinya perhatian juga memberikan banyak kecupan pada kening Reyna yang dibalas pejaman mata oleh yang dikecup.
" Aku senang melihatnya,"
" Aku juga,"
" Kenapa dia belum datang?"
" Tidakkah kau lacak posisinya?"
" Hem. Dua jam dari sekarang tempat ini akan dikepung, "
_-_
END