
Reyna menatap gedung pencakar langit di depannya dengan mulut menganga. Bagaimana tidak, perusahaan Mikhael begitu pangling di mata Reyna. Maklum, Reyna baru datang di Jakarta dan perusahaan ini pun mengalami beberapa kali renovasi setelah di pegang Morgan. Jadi agak berbeda dengan perusahaan lama.
" Tunggu apa? Ayo masuk! "
Reyns menoleh, dia mengangguk dan berjalan di samping Morgan yang memasang wajah penuh karismatiknya saat mulai melangkah masuk.
Semua karyawan dan para staf di sana mulai berbisik saat melihat sang CEO tampan mereka membawa gadis cantik ke perusahaan. Apalagi mereka berjalan bersampingan, berbeda rasanya dengan orang-orang bahkan para wanita panggilan Morgan yang selalu di bentak jika berjalan bersampingan dengannya. Morgan di depan, dan mereka harus membuntutinya dari belakang. Itulah kewajiban yang diwajibkan oleh seorang Morgan.
Tapi ini? Sepertinya ada pengecualian untuk Reyna, karena dia istimewa.
Reyna berjalan sembari menampilkan wajah angkuhnya saat sebagian dari mereka menatapnya sinis secara terang-terangan. Dia malah dengan sengaja merapatkan tubuhnya pada Morgan dan merangkul lengan Morgan.
Makin membola saja mata mereka. Berbeda dengan Morgan yang hanya melirik Reyna sekilas kemudian memilih membiarkannya saja.
Sesampainya di ruangan pribadinya, Morgan langsung duduk di singgasananya dengan Reyna yang berkeliaran meneliti setiap sudut ruangan.
" Wah, barang antik. Gue lempar pecah gak ya? " Monolog Reyna meraba salah satu patung kecil berwarna silver yang berada tepat di depannya.
" Coba aja, "
Reyna menatap Morgan, dia menyengir dan kembali melirik-lirik setiap barang yang ada di sana.
" Heh, Sepupu! Di sini ada kamar gak? " Tanya Reyna tiba-tiba.
" Buat apa? Kamu.. Ingin making love dengan Saya? " Goda Morgan menatap Reyna mesum.
Reyna berdecak, tanpa ragu dia melempar apa yang dipegangnya pada Morgan.
" Dasar otak selaangkangan! Loe kira gue cewek apaan?! " Sentak Reyna.
" Siapa tahu kamu ingin mengetahui seberapa perkasanya Saya, " Jawab Morgan acuh.
Reyna tersenyum miris, rupanya rumor itu benar. Ah.. Sekarang bukan rumor lagi, tetapi fakta. Fakta bahwa pria yang menjabat sebagai sepupunya ini adalah pemain wanita.
Percaya tidak percaya, tapi kenyataan terpapang nyata dihadapannya. Morgan sendiri yang mengakuinya.
" Berapa wanita yang udah loe coba, Morgan? "
Morgan menatap Reyna dengan alis yang diangkat satu.
" Satu? Lima? Sepuluh? Atau.. Tidak terhitung? "
Untuk sejenak Morgan tertegun saat menatap raut wajah kecewa Reyna. Entah kenapa perasaannya mendadak tidak enak dan hatinya pun turut sesak. Namun dengan cepat Morgan menepis semuanya dengan mengalihkan pandangan dari Reyna.
" Yang terakhir, "
" Ah.. Tidak terhitung ya? " Reyna mengangguk kecil.
" Berenggsek juga loe, " Gumam Reyna yang dapat di dengar oleh Morgan.
" Saya menyewa, bukan memaksa. Kebutuhan biologi tidak dapat pria hindari, termasuk Saya. " Bantah Morgan tidak terima dengan penilaian Reyna kepadanya.
" Kalo gak tahan nikah kan bisa, sepupu? Halal, "
" Belum ada yang cocok, "
" Ah.. Kecocokan, " Lagi-lagi Reyna mengangguk.
" Berarti loe kurang iman, "
Morgan diam enggan membalas.
" Sepupu, kamu udah dewasa. Sudah saatnya berhenti pada naafsu gila itu. Kamu punya Kia, dia perempuan. Bagaimana jika— "
" Kurang ajar. Maksud loe Kakak gue gak normal gitu?! " Semprot Reyna melotot.
" Maybe, "
" Wah, gue aduin nih! "
" Kamarnya ada di balik lemari. Kamu geser saja, tidur di sana jika mau. " Ucap Morgan mengalihkan pembicaraan.
" Tapi sekarang tidak lagi, " Ucap Morgan membuat langkah Reyna terhenti.
Reyna melirik Morgan tanpa membalik tubuhnya, " Itu bagus, " Ucapnya dan melanjutkan langkahnya yang terhenti.
Dengan gerakan perlahan Reyna menggeser lemari buku yang di tunjuk oleh Morgan dan tampaklah kamar luas yang begitu elegan dan memanjakan mata.
" Wow, " Decak Reyna terkagum-kagum. Kakinya mulai melangkah masuk hingga tubuhnya tenggelam di balik lemari yang kembali tertutup.
Morgan yang sejak tadi memperhatikan setiap gerak gerik Reyna tersenyum tipis. Dia kembali sibuk dengan pekerjaannya setelah memasang kacamata terlebih dahulu.
Di dalam kamar pribadi Morgan, Reyna merebahkan dirinya di kasur berukuran sedang dengan kaki yang menggelantung di ujung ranjang.
Mata indah yang tadinya sempat tertutup perlahan terbuka. Reyna menatap lama pada dinding langit-langit dengan fikiran yang melayang entah ke mana.
" Kebutuhan biologi, " Gumam Reyna.
Reyna kembali menutup matanya sembari mendeesah berat.
" Semuanya berlalu, Angel. Semuanya sudah berlalu, " Gumamnya lagi sebelum akhirnya dengkuran halus terdengar dari mulutnya yang terbuka kecil.
🍃 🍃 🍂 🍃 🍃
Nayara menatap tangannya yang di genggam David. Kemudian tatapannya naik ke wajah tampan yang menampilkan aura dinginnya.
Nayara menatap lama wajah David. Dalam hati dia berusaha menerima segalanya. Wajah ini, sikap ini, dan sifat-sifat lain dari David yang pastinya akan mengejutkan dirinya nanti. Nayara harus kuat dan sabar dalam menghadapi semuanya, jika tak ingin rumah tangganya hancur di tengah jalan.
Jujur saja, di hatinya sudah tidak ada lagi nama David. Kisah mereka telah berakhir dengan terpasangnya mendali di leher mereka dulu. Tapi kini, rupanya semuanya diharuskan berlanjut. Takdir memaksa mereka untuk melanjutkan kisah yang telah usang iti. Dan Nayara akan berusaha kembali mencintai David karena nantinya pria itu akan menjadi suaminya, hidup bersamanya dan menjadi tempat pencurahan keluh-kesahnya saat menghadapi perkara rumah tangga yang akan mereka lewati nanti.
" Tampan bukan? "
Celetukan David membuat Nayara tersadar. Seperti biasa, pipinya memerah dengan wajah yang salah tingkah.
David menyunggingkan senyuman tipisnya, dia kembali berjalan dengan mengeratkan genggamannya pada tangan Nayara.
Beberapa menit berkeliling, akhirnya mereka sampai di toko pakian yang komplit dengan perhiasan, tas, sepatu, dan kebutuhan lainnya yang mencakup parfum dan skincare.
Nayara menatap barang-barang mewah itu dengan wajah yang berbinar. Ayolah, meskipun dia lugu dan tidak selalu membuang-buang uang untuk hal tidak berguna, tetap jiwa kewanitaannya berkoar melihat mengkilapnya barang-barang yang terpapang jelas di hadapannya.
" Aku mau itu! " Tunjuk Nayara tanpa ragu.
David mengangguk. Dia mengkode pegawai di sana untuk mengambilkan semua yang gadisnya inginkan.
Dengan antusias Nayara mengikuti pegawai itu dan melihat-lihat barang yang diinginkannya.
Melihat wajah binar Nayara membuat hati David menghangat. Senyuman tipis kembali dia tampakkan dengan mata yang tidak lepas dari segala gerak-gerik gadisnya.
" Pegang sumpahku, Nayara. Apapun yang terjadi, tidak akan ada kata perpisahan setelah kata ' Sah ' terucap. " Batin David menatap hangat ke arah Nayara.
_-_
TBC!