
Nayara memainkan kuku-kuku jarinya gugup. Tatapannya tidak menentu dengan berkali-kali menelan salivanya sendiri.
Saat ini, seluruh keluarga berkumpul di depan rumah menjemput kepulangan Rey yang mendadak. Beruntung Nayara datang lebih awal karena Bram menelponnya.
" Mom, " Panggil Nayara pelan.
" Tenang, " Ucap Elly mengusap kepalan tangan putrinya lembut.
Dari kejauhan terlihat mobil mewah melaju menuju mereka.
Cekik..
Mobil itu berhenti tepat di halaman rumah. Rey keluar dari dalamnya tanpa Erza yang memilih menggunakan mobil pribadinya untuk pulang.
Bram menahan nafas lalu menghembuskannya perlahan. Berusaha tersenyum meskipun kegugupan melanda, Bram melangkah menyambut Rey dengan pelukan singkat.
" Welcome back, boy. "
Rey mengangguk singkat. Tatapannya beralih pada si adik kecil yang masih setia menunduk.
" Aduh.. Putraku, " Kata Elly memeluk Rey dan menepuk-nepuk pundak putranya lama.
" Apa kabar sayang? " Tanya Elly seraya melepaskan pelukannya.
" Baik, Mom. Setibanya di sini jauh lebih baik, " Jawab Rey dengan pandangan kembali terarah Nayara.
" N-naya, " Elly mengkode lewat tatapannya.
Nayara mendongak kasar, dia menatap Rey dan mengangguk kecil dengan ringisan terdengar dari mulutnya saat melihat raut biasa Rey.
" K-kak Rey, "
" Sini peluk! " Titah Rey merentangkan tangan.
Nayara mendekat dan memeluk tubuh Rey. Saat hendak melepaskan, Rey menahan tubuhnya sehingga pelukan itu berlangsung cukup lama.
" K-kak, "
" Ya? "
" Naya sesak, "
" Oh, maaf. " Rey melepaskan pelukannya, dia menatap Nayara dengan senyuman dibibirnya.
" Ma-mari masuk! " Ujar Elly.
Keduanya mengangguk. Mereka berempat pun melangkah memasuki rumah.
Sesampainya di dalam rumah, Elly menyuruh Nayara naik ke kamarnya dengan Bram dan Rey mengobrol di ruang keluarga sementara dirinya membuat teh dan kopi untuk putra dan suaminya di dapur.
" Bagaimana keadaan di sana? " Tanya Bram membuka pembicaraan.
" Baik. Semua bisa ku atasi, "
" Secepat itu? "
" Memangnya berapa lama Daddy ingin aku di sana? "
Jawaban Rey membuat Bram sedikit gelagapan.
" Ti-tidak-tidak. Maksud Daddy, kau mengatasinya sangat cepat. Iya. Bukankah itu persoalan serius? Dady hanya terkejut saja saat Erza mengabari kau sampai di bandara, " Dusta Bram.
Rey mengangguk mengerti.
" Otakku terlalu cerdas mungkin, "
" Tentu. Daddynya saja pintar, "
Rey menatap Bram malas.
" Dari mana Nayara? "
Kedatangan Elly membuat Bram bernafas lega. Dia memang tidak mungkin menghindari pertanyaan Rey, namun dengan hadirnya sang istri dengan membawa nampan berisi segelas teh dan kopi bisa memberinya waktu untuk memikirkan kebohongan apalagi yang akan dia katakan pada putranya yang pintar ini.
" Di minum, Rey. "
" Terima kasih, Mom. "
Elly mengangguk. Dia mengambil tempat di sebelah Bram dan mendudukkan diri di sana.
" Jadi? " Tanya Rey.
Bram mengambil kopinya dan menyeruput sekilas.
" Naya? Memang bisa dari mana lagi dia? Tentu dari rumah Angel, " Jawab Bram santai.
" Menemui Angel? Di sana ada David juga bukan? "
" Itu juga rumahnya, "
" Jangan izinkan lagi Naya ke sana! "
Bram menghela nafas, " Sudahlah boy! Kenapa kau posesif sekali pada adikmu itu? Tidakkah kau mengerti keinginan Nayara? Dia ingin bebas, bebas melakukan apapun termasuk memiliki pacar. Kakak kok kayak pacar saja, " Cibir Bram kembali menyeruput kopinya.
" Bukan begitu, Rey tidak menuntut banyak pada Nayara. Bukan maksud menjauhkannya dari David, tapi David menang bukan pria yang tepat untuk Naya. Masalah memiliki pacar, memang seharusnya tidak dulu bukan? Naya masih kecil, akan berdampak buruk jika dia berpacaran. Apalagi jika pacarnya mengenal pergaulan bebas, " Ucap Rey mengungkapkan pemikirannya.
" Kecil apanya. Dia sudah pantas menikah loh, Kak. " Sambung Elly.
" Mommy tidak akan mengerti, "
" Kamu yang tidak mengerti! " Semprot Bram. " Sudah, berhenti berdebat. Sekarang lebih baik kamu masuk ke kamarmu! Mandi setelah itu istirahat. Kamu pasti lelah Boy, "
Rey mengangguk tanpa membantah. Memang itu yang dia butuhkan sekarang.
" Rey ke atas, "
" Hem, "
" Iya, "
Sepeninggalan Rey, Elly menatap suaminya resah.
" Bagaimana ini, Dad? Mau sampai kapan kita menyembunyikannya dari Rey? "
Bram memeluk istrinya dengan sebelah tangan lalu mengusap-usap lengan Elly lembut.
" Kita tunggu waktu yang tepat, "
___-___
Di dalam kamarnya, Nayara membuka ponsel dengan segera. Begitu sosial medianya aktif, langsung nama ' Hubby ' tertera di layar utamanya.
Tut.
" Halo? "
" Bagaimana? "
Nayara menggigit pipi dalamnya.
" Sayang? "
" Kak Rey benar-benar pulang, Kak David. " Ucap Nayara pelan.
Tidak mendapat balasan dari David membuat Nayara resah. Dia tentu merasakan apa yang menjadi beban fikiran David. Suaminya itu pasti khawatir mereka akan dipisahkan oleh Rey.
" Aku akan ke sana, "
" Sayang, "
" Ku mohon, "
" Tiga hari. Jika dalam waktu tiga hari kau tidak juga kembali padaku, maka aku yang akan menjemputmu. "
" Tapi Kak David akuβ "
Tut.. Tut..
" Halo? Halo Kak David? Halo? Kak David! "
Nayara melempar ponselnya tanpa sadar. Dia menyugar rambut ke belakang disambung dengan menggigit jari jempolnya resah.
" Bagaimana ini? Aku harus bagaimana? " Gumam Nayara.
π π π π π
Zaidan menatap Kakak dan Kakak sepupunya malas. Sejak tadi dua orang itu terus saja menempel bagaikan cicak dan dinding membuatnya yang tidak memiliki pasangan merasa kegerahan.
" Heh bocil, pulang sana! " Usir Morgan dalam posisi memeluk Reyna di atas kursi dengan kaki dinaikan.
" Gue udah pulang, "
" Ini rumah gue! " Morgan nyolot.
" Rumah gue juga, " Balas Zaidan tetap sabar.
" Loe kok jawab-jawab sih? Gue bilang pergi ya pergi! "
" Gak mau, "
" Zaidan! "
" Apa? "
" Loe lama-lama gue botakin yah! "
Zaidan menghembuskan nafasnya sabar.
" Kenapa sih loe bang? Perasaan gak gini sebelumnya. Kok loe jadi nyebelin kayak waktu SMA sih? "
" Saya memang seperti ini, "
Tawa Reyna pecah mendengar jawaban Morgan. Tanpa sadar tangan kanannya melayang dan mendarat tepat di bahu Morgan membuat pelukan pria itu terlepas dengan duduk berjarak.
" Ngelawak loe. Gelik gue denger loe kalo ngomong Saya-Saya an, Morgan. Stop it! "
" Kenapa sih Kak? Perasaan bang Morgan memang gitu bicaranya, " Heran Zaidan pada Reyna.
" Perasaan loe doang itu, " Morgan menimpali.
Reyna menghentikan tawanya. Dia beralih menatap adik Morgan yang sedang mencibik karena kelakuan Kakaknya.
" Ingatan Kakak loe kembali, Dek. " Ucap Reyna memberitahu.
" Wah, masa? "
" Bodo! "
" Kok nyolot sih? "
" Terserah gue lah! " Ucap Morgan santai.
Zaidan kembali menatap Reyna seakan meminta penjelasan.
" Beneran, Zaidan. Morgan mengingat semuanya sekarang. Rupanya dia ngilang satu bulan itu untuk memulihkan ingatannya, "
Zaidan mengerutkan keningnya.
" Tapi kok bukannya makin waras malah makin gila? "
" Sembarangan loe! " Amuk Morgan.
" Sini Na, peluk lagi peluk! " Ucap Morgan menarik Reyna dan kembali memeluknya layaknya boneka.
" Morgan ih! "
" Ih.. Kangen tahu.. Gue kangen.. " Rengek Morgan menggoyang-goyangkan tubuh mereka.
" Dasar lebay! Morgan lepasin!! "
" Gak mau.. "
" Morgan! " Amuk Reyna.
Morgan melepaskan pelukannya. Kini dia berganti menyilakan kakinya dan menarik Reyna menghadap dirinya sepenuhnya.
" Mau apa mau apa? Mau apa lagi loe? " Tanya Reyna menatap waspada pada Morgan yang mulai menangkup kedua pipinya.
" Mau ini, "
Cup.
Cup.
Cup.
Cup.
Cup.
Morgan menciumi seluruh permukaan wajah Reyna yang berakhir mencuri kecupan di bibir sekilas.
" Rindu banget gue nya, cantik. "
Deg.
Zaidan hampir bangkit dari duduknya saat menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri kegilaan Morgan.
Jika ciuman di kening dan di pipi mungkin tidak aneh pada saudara sepupu bahkan saudara kandung. Tapi ini? Di bibir?!
" B-bang, loe? "
" Gue kangen banget Na, kangen banget sumpah. " Aku Morgan kembali membawa Reyna ke dalam pelukannya.
" Kangen guenya, " Gumam Morgan menyimpan dagu di kepala Reyna dengan sesekali mengecup ubun-ubun gadisnya.
" Gue juga. Gue juga kangen Morgan yang ini, bukan yang lupa ingatan. " Balas Reyna membuat Morgan tersenyum lebar.
Zaidan menggeleng tidak percaya mendengar perkataan Reyna yang sama gilanya. Matanya tetap melotot dengan debaran jantung tidak karuan.
" Ini gila. Ini gila! Bangβ "
" Morgan, Rain, kalian? "
Suara Mikhayla membuat pelukan mereka terlepas. Reyna menahan nafas melihat Mikhael dan Mikhayla yang menatap mereka terkejut sementara Morgan biasa-biasa saja. Dan dengan mudahnya Morgan mengatakan hal yang membuat mereka melotot bahkan termasuk Reyna.
" Aku mau Nana, Mom. "
_-_
TBC!