
Baru setengah jalan Reyna dan Gavin memakan makan siangnya, suara pekikan yang berasal dari para karyawan wanita membuat fokus keduanya teralihkan.
Di sana, tepat di lorong awal menuju kantin Morgan berjalan dengan penuh karisma tanpa menghiraukan para wanita-wanita pecinta pria tampan yang secara terang-terangan memekik bahkan menyebut-nyebut namanya.
Siapa yang tidak mengenal Morgan Eduardo di kalangan pengusaha? Bahkan para karyawannnya pun sudah di pastikan mengenal dirinya. Mimpi apa mereka semalam sampai dapat melihat wajah seorang Morgan secara langsung bahkan dari jarak sangat dekat seperti sekarang ini.
" Astaga, Lord Morgan! "
" Anjrit.. Perasaan semalam gue gak mimpi apa-apa deh, "
" Gila gila, unreal banget gantengnya. "
" Aaa.. Lord Morgan!! "
" Cool banget sumpah, pengen gue culik kalo bisa. "
" Ih.. Gantengnya, "
" Saya mau jadi yang ke—100 juga Lord! "
" Mulus bet, "
" Lord skincare nya apa?! "
" Hadep sini dong, nganggur nih kamera Saya. "
Reyna dan Gavin dibuat melongo di tempat. Bahkan mulut Reyna semakin terbuka lebar saat dengan santainya Morgan terduduk di antara mereka.
" Gimana kerjanya, sayang? "
" Woah!! " Heboh para karyawan saat mendengar panggilan sayang Morgan yang ditunjukan para Miss Reyna, Sekretaris baru bosnya.
" Demi apa demi apa? "
" Daebak, daebak!! "
" Jadi Lord Morgan yang pacarnya? Gue kira si Pak Bos, "
" Wih ini mah melebihi ekspetasi njir, "
" Sungguh terlalu. Gue dibuat nyadar akan kekentangan diri karena si Sekretaris baru, "
" Pesonanya gak main-main sih, "
" Jangan-jangan si Pak Bos Second lead, "
" Gak bolehlah jadi sad boy. Tenang Pak Bos aku masih padamu! "
" Huu!! "
Teriakan demi teriakan terdengar semakin ricuh di luasnya kantin perusahaan. Sementara Reyna dan Gavin memilih tidak menghiraukan omongan kosong mereka karena terlalu terkejut dengan kedatangan Morgan yang tiba-tiba, apalagi dengan kata sayang yang pria itu ucapkan pada Reyna.
" Cantik. Kok gak di lanjut makannya? "
Reyna tersentak dari lamunannya. Dia menatap Morgan layaknya orang ling-lung.
" Hah? "
Morgan terkekeh, tanpa sungkan dia mengangkat tangannya guna mengusap penuh sayang kepala Reyna.
" Di bilangin kerjanya di perusahaan Saya aja gak mau sih. Gimana kerjaannya? Capek ya pasti? Kasihan sayangnya aku, " Ucap Morgan dengan memperlihatkan senyuman manisnya membuat mereka yang melihat menjerit tak karuan.
Reyna dibuat speechless. Matanya setia membulat dengan mulut sedikit terbuka. Berbeda dengan Gavin yang menatap kehadiran Morgan tidak suka. Dia mencondongkan tubuhnya pada Morgan dan berkata pelan:
" Jangan panggil dia sayang! Ingat, kamu hanya sepupu, "
Morgan balik mendekatkan tubuhnya dengan seringaian licik terlihat jelas dari bibirnya.
" Apa reaksi Nana jika Saya berkata lantang tentang status kami? "
Gavin diam karena tahu alasan Reyna ingin bekerja di kantornya adalah tidak ingin diketahui warga perusahaan jika dirinya berasal dari keluarga konglomerat dan diperlakukan berbeda. Tentunya akan menimbulkan banyak penjilat.
" Untuk saat ini aku mengalah. Tapi lain kali tidak. Jaga ucapanmu! " Ancam Gavin menunjuk Morgan.
Morgan mengedikkan bahunya acuh. Pandangannya kembali terfokus pada Reyna yang masih dilanda keterkejutan.
" Pulangnya nanti sama Saya, ya? Kebetulan ada rapat di sini sebelum jam pulang jadi kita bisa saling tunggu. " Perintah Morgan.
Morgan bangkit dari duduknya, " Lanjut makannya, cantik! Makan yang banyak, Saya harus kembali karena masih ada beberapa berkas penting yang belum tertangani. Ingat, jangan dekat-dekat dengan lelaki manapun karena kamu punya Saya. Sampai nanti, sweetie. " Ucap Morgan kembali mengusap kepala Reyna sebelum melangkah keluar dari area kantin.
Pekikan kembali terdengar di setiap langkah Morgan yang mana kembali membuat Reyna terkejut bukan main.
" Di sini gue apa dia yang selebgram? " Gumam Reyna tanpa sadar.
" Angel? "
" Ya? " Panggilan Gavin menyadarkan akan keterkejutannya barusan.
" Kak Gavin, kenapa Morgan bisa ke sini? Gak-gak, maksudnya kenapa dia bisa keluar masuk di perusahaan ini dengan mudah? " Tanya Reyna kepo.
Gavin menghela nafas, " Perusahaan kami baru saja akan bekerja sama dalam sebuah projek. Rapatnya sore nanti, tepat sebelum pulang dan sepertinya tandatangan kontrak pun akan dilaksanakan saat itu juga. " Jelas Gavin.
" Oh.. Letak perusahaannya juga gak jauh dari sini kan kalo kata Oma? "
" Hem, " Balas Gavin malas.
" Lanjutkan makanmu! "
" Ah, iya. "
Gavin terdiam dengan tangan mengepal. Kesal sekali dia saat melihat kehadiran Morgan apalagi saat melihat tatapan Reyna yang seakan terpesona saat itu.
Refleks Gavin menatap Reyna yang tengah makan. Seketika amarahnya lenyap di gantikan dengan senyuman kecil melihat Reyna yang makan seperti tidak memiliki beban.
Salut Gavin akan Reyna yang lebih mengutamakan perut ketimbang keadaan yang sedang dia hadapi. Mungkin motto gadis itu adalah ' Makanlah! Karena membasmi hama juga butuh tenaga, '.
" Pelan-pelan makannya, "
Reyna mendongak, " He he.. Iya, " Cengirnya.
Gavin menggeleng. Dia memilih menatap Reyna sampai gadis itu selesai makan ketimbang kembali memakan makanannya karena merasa hilang selera karena kehadiran Morgan walaupun sekejap.
" Morgan sialan, "
🍃 🍃 🍂 🍃 🍃
Di dalam mobil Morgan tampak uring-uringan. Sedari tadi dia terus mengubah posisinya mencari kenyamanan yang bahkan malah membuatnya semakin resah saja.
" Diem gak loe?! " Bentak Arzan yang memang menemani kemanapun Morgan pergi.
Bukan sekali saja Morgan bersikap layaknya orang cacingan, beberapa saat lalu sebelum mereka memutuskan mengunjungi kantor Gavin pun prilaku bosnya sudah seperti ini. Membuatnya kesal saja!
" Gavin sialan. Ngapain dia ngajak Nana makan? Berdua lagi. Cih, modus. " Ucap Morgan mendelik.
" Ngapain juga si Reyna terima ajakannya? Bukannya dia tahu Saya akan menyusulnya ke sana? Dia tahu bukan letak perusahaan kami tidak berjauhan? Tahu bukan Saya pasti akan mengajaknya makan siang? Lalu kenapa? Arghk!! " Geram Morgan tidak jelas.
Arzan menghela nafas melihat teman sekaligus bosnya yang sedang dirasuki setan pencemburu.
" Anda tidak memberitahu Nona jika lupa, " Ucap Arzan formal dengan nada geram.
Morgan terdiam, " Benarkan? " Beonya. Dengan gerakan cepat Morgan membuka ponselnya, " Oh iya, Saya lupa mengabari Nana jika akan mengajaknya makan siang bersama. " Lanjutnya sedikit menyengir menertawai kebodohannya sendiri.
Lagi-lagi Arzan hanya mampu menghela nafas. Morgan Morgan, walaupum hilang ingatan kebiasaan pria itu masih ada sampai sekarang. Pencemburu dan gampang menyimpulkan sesuatu. Oh ya satu lagi, pelupa.
" Jadi Saya mesti bagaimana? " Tanyanya menatap Arzan.
" Ya diam, apa lagi? Atau perlu Anda Saya larikan agar di periksa tekanan darahnya? " Ucap Arzan ngawur.
Morgan berdecak, " Sembarangan kamu! "
Dengan inisiatif Morgan membuka room chatnya dengan Reyna dan mengetik sesuatu.
Lengkungan indah terbit di kedua ujung bibirnya. Morgan kembali menyimpan ponselnya pada saku jas sembari menghela nafas dengan tatapan tertuju pada jendela yang menampilkan jalanan di luar sana.
" Reyna, ".
_-_
TBC!
Krik.. Krik..