Crazy Cousin

Crazy Cousin
David otak Mesum


Reyna menurunkan jendela mobil Morgan dan membiarkan angin pagi menerpa wajah licinnya. Morgan melirik ke samping dan kembali fokus mengemudi saat melihat wajah damai Reyna.


Jika di tanya kenapa mereka bisa sampai satu mobil, maka jawabannya adalah Mobil Reyna yang mogok di tengah jalan. Sialan memang.


" Kak, mobilnya gimana? " Tanya Aaron lucu.


" Biarin aja. Rongsokan tu mobil, " Jawab Reyna acuh.


Perlu kalian ketahui, Reyna itu orangnya tidak mau ribet. Jika satu barangnya rusak, maka akan dia buang tanpa peduli sayang atau tidaknya. Simple.


" Aunty aunty, Kia juga mau panggil Kakak! " Seru Kia yang berada di samping Aaron.


" Iya, bo— "


" Gak boleh! " Bentak Aaron menatap Kia penuh permusuhan.


" Yang boleh panggil Kak Nana Kakak cuma Aaron! " Ucapnya galak.


" Tapi kan, sebutan aunty buat Mamanya kamu. Kalo Kakak kamu, masa aku panggil aunyu juga sih. " Kia murung.


Aaron memalingkan wajahnya tanda tidak peduli. Sementara di depan, Reyna terkekeh melihat pertengkaran mereka dengan Morgan yang hanya menggeleng kepala.


" Lagian, panggil sepupu Aunty. " Ceplos Morgan.


Reyna melirik Morgan sekilas, " Dari Aaron bisa bicara dia emang gak suka ada yang manggil aku Kakak selain dia. Itupun termasuk sama Kia, " Jelas Reyna.


" Jadi? "


" Ya Kia gak boleh panggil aku Kakak. Tapi aunty, " Ucap Reyna.


" Kok gitu? "


" Gimana lagi? Aaron keras kepalanya nurun dari Daddy, " Balas Reyna acuh.


Morgan memilih diam dan sedikit menambah kecepatan laju mobilnya. Beberapa saat kemudian, mereka pun turun dari mobil sesampainya di halaman sekolah.


" Aaron, Kia, jangan nakal ya! "


" Iya Kak, "


" Iya Aunty, "


Aaron dan Kia menyalami keduanya, tidak lupa dengan kecupan di pipi dan pergi setelah bel sekolah berbunyi.


" Cute banget sih adik-adik gue, " Gumam Reyna menatap dua makhluk kecil tengah berlari dengan kaki kecilnya.


" Mau di antar ke mana? " Tanya Morgan.


Reyna menoleh, " Gue mau beli motor, " Kata Reyna. " Eum, maksudnya aku mau beli motor. Kamu anterin aku ke sana, " Ralat Reyna saat mendapat pelototan dari Morgan.


" Hem, "


Reyna membuka pintu mobil Morgan dan hendak kembami masuk. Tapi suara pria itu membuat aksinya terhenti.


" Balapan? "


Deg.


Reyna sedikit terkejut. Bagaimana bisa pria itu tahu jika dia akan menggunakan motor yang akan dibelinya untuk balapan? Tapi tunggu, yang menjadi pertanyaannya adalah.. Kenapa Morgan bisa berfikiran begitu?


Reyna terkekeh, " Meskipun hilang ingatan, tahu juga kamu aku suka balapan. " Ucapnya.


Morgan menghembuskan nafas, " Masun! Aku antar kamu— "


" Loh loh, itu bukannya mobil Kak David? " Tunjuk Reyna.


Morgan mengikuti arah tunjuk Reyna. Dan benar saja, barusan yang melewati mereka adalah mobil David. Morgan tahu dari plat nomornya.


" Yuk yuk, ikutin yuk! " Dengan hebohnya Reyna masuk ke dalam mobil yang jelas membuat Morgan panik dan terburu-buru juga.


Jadilah mereka membuntuti mobil David dari jarak yang lumayan jauh.


" Ck, cepetin dikit napa. " Kesal Reyna.


" Pengendara tidak hanya kita, Reyna. "


Reyna berdecis.


" Wait wait, toko pakaian pengantin? " Beo Reyna saat melihat mobil David berhenti di salah satu toko pakaian pengantin. Dapat Reyna lihat juga David dan Nayara yang melangkah masuk setelah menuruni mobil.


Tatapan Reyna mendapar, " Coba aja nikah. Palingam gak bakalan jadi karena gue gagalin, " Gumamnya menyeringai ke arah mereka.


" Di sana ada barang yang kamu cari. Mau pesan di sini? " Tawat Morgan tiba-tiba.


Reyna melirik sekilas, " Hem, pesenin aja. Suruh antar ke rumah, " Jawab Reyna.


" Tidak jadi? "


" Males, "


" Mau ikut ke kantor Saya? Sekalian lihat-lihat, siapa tahu kamu suka dan mau bekerja di sana, " Tawar Morgan setelah beberapa mereka saling diam.


" Boleh deh, yuk! "


Mobil itu pun melesat menuju kantor Morgan.


🍃 🍃 🍂 🍃 🍃


Nayara bergerak tak nyaman karena gaun pengantin yang menurutnya agak terbuka. Dan yang paling utama adalah tatapan David yang sejak tadi menatapnya tanpa berkedip.


" Wah.. Indah. Yang pakianya cantik, sempurna deh menurut Saya. " Decak desaigner pria menatap kagum Nayara.


Nayara tersenyum canggung, " Ma-makasih, "


" Mr. Alexander. Bagaimana? Yang ini? Atau.. "


" Ganti! " Titah David tegas.


Nayara mengangguk membenarkan perintah David.


" I-iya. Yang ini terlalu terbuka, " Ungkap Nayara menyentuh lengannya yang terekspor.


" Coba yang itu, " David menunjuk salah satu gaun dengan tangan yang tertutup namun punggung yang terbuka membentuk huruf V.


Nayara mengangguk setuju. Tanpa perlu di perintah dua kali dia langsung kembali masuk ke ruang ganti dan mengganti pakaiannya.


Bosan menunggu Nayara, David menyambar sebuah majalah dan melihat-lihat isinya.


Mata David melotot melihat salah satu potret model dengan pakian dalam yang sangat sempurna menurutnya. Tiba-tiba ide gila muncul di kepalanya, David tersenyum mesum.


" Kau, kemari! "


" Ya, Tuan. Ada yang bisa Saya bantu? "


" Stok barangnya banyak? " David menunjuk apa yang diminatinya.


" Banyak, Tuan. Baru lounching minggu ini, "


" Saya pesan semua. Ukurannya tidak tahu, berikan semua ukuran dengan warna yang berbera! "


Pelayan itu melotot. Namun menyadari jika pria di hadapannya bukan orang sembarangan, cepat-cepat dia mengangguk dan undur diri untuk menyiapkan pesanan David.


Selang beberapa saat, tirai kembali terbuka dengan menampilkan Nayara yang terlihat sangat anggun dengan gaun pilihan David.


Lekuk tubuh Nayara terlihat sangat jelas, dan gaun itu sangat pas di tubuh Nayara. Seakan gaun tersebut memang di buat khusus untuk Nayara. Tanpa Nayara ketahui, gaun itu memang di rancang sendiri oleh David bersama beberapa desaigner terkenal hanya untuk Nayara.


" So beautiful, " Decak desaigner pria menatap Nayara terkagum-kagum.


Lagi-lagi Nayara tersenyum kaku. Untuk beberapa saat tatapannya bertemu dengan iris hitam Davis yang lagi-lagi menatapnya tanpa berkedip.


" Wow, " David berkata tanpa suara dengan menggigit bibir bawahnya.


Nayara bergidik, buru-buru dia memalingkan wajahnya enggan menatap David yang malah membuat bulu kuduknya berdiri.


" Nona, bisa selfi dulu? Mari, selfi bersama Saya! " Ujar desaigner itu bersiap mengarahkan kamera ke arah Nayara.


" Jangan berani, "


Suara berat nan dingin membuat desaigner itu berdecak dan menatap Davis malas. Perlu kalian ketahui, dia itu salah satu kenalan David dan sangat mengenal seorang David Alexander seperti apa.


" Nona, mungkin di pernikahanmu saja. Pawangmu menyeramkan, " Candanya pada Nayara.


Nayara tertawa kecil, lucu sekali pria ini.


" Bungkus yang itu, " Putus David.


" Hokey! "


" Honey, ayo ganti bajumu! " Desaigner itu mengiring Nayara ke dalam tanpa menghiraukan tatapan memangsa David.


Setelah membayar pakian yang mereka inginkan, Nayara beserta David keluar dari toko dan memasuki mobil.


Di dalam mobil, David melempar papper bag di tangannya ke pangkuan Nayara. Nayara jelas terkejut, namun yang membuatnya lebih terkejut adalah isi dari salah satu papper bag yang berada di pangkuannya.


" I-ini.. "


" Aku mungkin akan sering merobeknya. Jadi sebelum kehabisan, aku berinisiatif untuk menambah stok pakian dalamnu. " Ucap David dengan entengnya.


Wajah Nayara memanas, dia marah sekaligus malu.


" Tidak berotak, " Decis Nayara.


David menatapnya tajam, " Ulang, "


Nayara menunduk, " Maaf, "


Memilih mengabaikan Nayara, David melajukan mobilnya melesat memotong jalanan kota.


_-_


TBC!