Crazy Cousin

Crazy Cousin
Debu-debu Keraguan


Nayara mengepalkan tangannya tidak tahan dihadapkan situasi seperti ini. Dia merasa tertekan dan dibuat banyak fikiran oleh David yang terus menyuruhnya untuk memberitahu Rey juga Rey yang tidak juga merespond baik akan apa yang dia katakan.


Batas waktunya adalah hari ini, bisa tidak bisa Nayara tetap harus memberitahu Rey akan pernikahannya yang telah terjadi tanpa sepengetahuan Rey.


" Kamu dengar aku, Naya? " Suara David yang keluar dari benda persegi itu mengagetkan Nayara yang sedang melamun.


" Sayang? "


" Ah, ya? "


" Katakan sekarang! Ingat, besok pagi kau harus sudah menyelesaikan urusan Rey. Aku akan segera menjemputmu nanti, "


Nayara menggigit pipi dalamnya.


" Kak David.. Apa tidakโ€” "


" Mau seperti apapun kau bertanya jawabannya tetap sama. Aku tekankan sekali lagi, suamimu ini bukan orang sabar Nayara. " Geram David.


Nayara meneguk salivanya susah payah, " Akanku usahakan, "


" Apanya yang diusahakan? "


Nayara membalik badannya terkejut. Terlihat di ambang pintu Rey berdiri dengan tatapan biasa membawa segelas susu putih di tangannya.


" K-kak Rey? "


" Apa yang ingin kau usahakan, Nayara? Kau terlilit hutang? " Tanya Rey menyimpan bawaannya di atas nakas.


" Ah.. Ti-tidak, ha ha.. Hutang apanya, " Tawa Nayara canggung.


" Lalu? "


Nayara melamun dengan Rey yang setia menatapnya.


" Ada apa? " Tanya Rey mendekat dan terduduk tepat di hadapan Nayara.


" Sebenarnya... Ada yang ingin ku katakan dari jauh-jauh hari kepadamu, Kak Rey. " Ucap Nayara tanpa berani menatap Rey.


Rey menatap Nayara penuh selidik, " Apa itu? "


" Aku... "


" Tatap Kakak! "


Lagi-lagi Nayara dibuat menelan salivanya sendiri. Memantapkan hati dan mentalnya, Nayara mendongakkan kepala menatap Rey.


" Aku sudah menikah sejak Kakak pergi ke luar negri. Dan suamiku.. Adalah Kak David, "


๐Ÿƒ ๐Ÿƒ ๐Ÿ‚ ๐Ÿƒ ๐Ÿƒ


Reyna menyandarkan kepalanya di bahu Morgan dengan jemari tangan yang asik memainkan tangan besar milik Morgan.


Masih malas kembali ke rumah karena kesal dengan perjodohan yang dibuat Kakeknya, Reyna meminta Morgan agar mampir di salah satu cafe yang letaknya di pusat kota dengan pemandangan yang mengenakan dimalam hari.


" Mor, "


" Ayang! " Koreksi Morgan.


" Sedikit gelik gue, " Kekeh Reyna.


" Cih. Gak tahu aja kalo panggilan itu tuh manis, " Ucap Morgan sinis. " Waktu loe panggil-panggil gue ayang sambil nangis aja bawaannya gue bahagia loh, Na. Jadi sekarang panggil lagi ayo! " Titahnya setengah memaksa.


" Jarang alay gue, sekalinya alay pake banget. Ha ha.. "


Morgan ikut terkekeh. Tangannya terangkat mengelus sayang pucuk kepala Reyna.


" Ada saatnya loe diharuskan dewasa dan ada waktunya loe membutuhkan bermanja, Nana. Dan itu cuman sama gue aja, " Ucap Morgan.


" Loe gak tahu seseneng apa gue waktu loe panggil ayang. Memang sih, terdengar menggelikan dan sedikit risih ditelinga orang. Tapi jujur aja, gue lebih suka itu daripada loe panggil gue dengan nama. "


Reyna tersenyum.


" Mor, "


" Nyenyel banget jadi cewek, "


" Belum terbiasa ih! "


" Ya biasain, "


" Gue kedengeran alay banget loh ayang, " Rengek Reyna.


" Tuh kan, suka gue dengernya. "


" Ck, suka di elo gak suka di gue. "


" Biarin dong. Harus nurut sama calon suami! "


" Calon suami gue kan Kak Gavin, "


" Reyna! "


Reyna melotot saat menyadari ucapannya.


" So-sorry, gue kelepasan ayang. Beneran ayang kelepasan, maaf ayang maaf. " Kata Reyna cepat-cepat memegang-megang jemari Morgan.


" Loe suka ya, sama Gavin? " Tanya Morgan dengan raut wajah tidak bersahabat.


" Iya, "


" Maksudnya sebagai temen. Iya, suka cuman temen. " Ralat Reyna cepat. " Loe kan tahu gue sama Kak Gavin temenan udah dari kecil. Ya pasti rasa suka ada, tapi suka sama cinta itu beda. Suka itu dia, kalo cinta elo. Ngerti kan? " Cerocosnya.


" Kalo sama gue? " Tanya Morgan lagi.


" Cintaaa.... "


Morgan tersenyum kecil, dia memeluk Reyna menggunakan sebelah tangannya dengan kepala dia simpan di atas kepala gadisnya.


" Seharusnya hubungan kita gak serumit ini ya, Na? " Kata Morgan menatap jauh di depan sana.


" Harusnya hubungan kita langsung di kasih lampu ijo, kan sama-sama dari keluarga yang sama dengan kebiasaan yang sama pula. Tapi ini? Hah, si Alex itu. " Dengus Morgan.


" Seburuk apapun Opa Alex, dia tetap Kakek kita. Entah mengapa gue yakin, kalo dibalik perjodohan ini pasti ada kebaikan untuk gue yang dia sembunyikan. " Ucap Reyna yang masih dalam pelukan Morgan.


" Maksud loe? "


" Gue gak tahu itu apa, tapi gue yakin hal itu ada. "


Reyna mendongak, " Morgan. Loe gak curiga gituh, kenapa Opa Alex secara terang-terangan langsung menjodohkan gue bersamaan dengan kembalinya ingatan elo? Kenapa? "


" Karena dia tahu dan gak suka hubungan kita, Maybe! "


" Bisa jadi. Tapi feeling gue mengatakan ada hal lain yang lebih besar dibaliknya. Dan sialnya gue sendiri gak tahu itu apa, "


" Freya, "


Deg.


Raut wajah itu berubah seketika. Bukan menegang ataupun takut, ekspresi wajah Reyna tanpak datar dan dingin. Sangat jauh dari raut wajahnya saat berceloteh tadi.


" Untuk apa loe sebut nama dia? "


" Masalah kita belum selesai sama dia asal loe tahu, Nana. Semenjak kita jatuh dan koma, Freya gak ditemukan. Dia menghilang bagaikan di telan bumi! Bahkan dia gak balik ke keluarganya di luar negri, "


" Hem. Gue juga sedikit kecewa saat tahu keluarga kita memilih menyembunyikan hal ini ketimbang melaporkannya pada polisi. Dengan status dia yang buronan akan jauh lebih mudah menemukannya bukan? "


Morgan mengatupkan bibirnya, dia bungkam.


" Cih, kadang gue muak dengan orang rumah. "


" Apa ini ada hubungannya ya? "


" Ha.. Gue gak tahu, " Jawab Reyna menghela nafas. " Gue gak tahu, dan gak mau pikirin juga. " Lanjutnya menatap atas.


" Semenjak kejadian di masa lalu gue jadi gak peduli akan apa yang akan terjadi di masa depan. Gue gak peduli, gue gak akan melakukan apapun selain menerima. Hidup itu melelahkan asal loe tahu, Morgan. "


" Sejujurnya, gue ngejalanin hubungan abu-abu ini juga setengah hati. Bukan berarti gue gak cinta sama loe, tapi gue selalu mikir akan kesakitan yang ada di dalamnya. Itu yang membuat gue setengah hati, "


" Di kasih loe yang sedikit liar membuat gue banyak fikiran. Gimana kalo nantinya ada cewek yang ngaku-ngaku hamil anak loe waktu kita sudah menikah? Loe tentu tahu gue akan mundur meskipun posisinya adalah istri sah. Gue gak mau kesakitan akan hal seperti itu benar terjadi dalam hidup gue. Karena gue gak sanggup, " Curhat Reyna.


" Untuk itu gue berani jamin. Gak akan ada dan gak akan terjadi, Na. Gue bersumpah. Loe bisa penggal kepala gue jikapun nanti itu terjadi, " Balas Morgan tanpa ragu.


" Dih, gak guna. " Decis Reyna.


" Na, "


" Selain hal itu, gak adanya restu dari Opa membuat gue semakin yakin kalo kita mustahil bersama. Loe bener Mor, gak seharusnya perjalanan kita serumit ini. Tapi apa lagi? Semuanya kehendak takdir, "


" Ayo rubah sama-saโ€” "


" Yakinkan gue Morgan, "


" Apalagi yang mesti gue yakinin sama loe sih, Na? Loe masih gak percaya sama gue? " Tanya Morgan frustasi.


" Gue gak mau mempersulit diri. Gue gak mau membohongi keluarga terlalu lama. Jika loe, benar-benar serius sama gue, hadap Kakek! Bilang kalo kita mempunyai hubungan khusus dan bilang kalo loe mau nikahin gue! " Tantang Reyna tidak main-main.


" Gak semudah itu Na, arghk! " Geram Morgan mengacak rambut.


Reyna menormalkan tubuhnya dengan wajah yang sedikit mendongak.


" Loe gak serius rupanya, " Gumam Reyna.


" Na! "


" Loe gak lakik, Morgan. Sepertinya gue salah pilih nerimaโ€” "


" Reyna! "


" Baru saja tadi kita mesra-mesraan, Na. Loe jangan buat gue kesel napa? Gue tahu loe frustasi dengan keadaan ini, sama gue juga. Tapi apalagi Na? Apalagi yang bisa kita lakuin selain nunggu perintah ayah loe? Gak ada, " Ungkap Morgan lirih.


" Gue juga cepek. Capek banget. Rasanya pengen gue bawa aja loe kabur dan nikahin loe tanpa peduli restu si Alex. Sumpah na, gue juga lelah. Atau gue lakuin itu aja kali ya Na? "


" Gila, "


" Jangan buat hubungan kita menjadi renggang hanya karena ini ya, Na? Gue mohon, gue gak akan kuat. Hem? " Pinta Morgan menggenggam kedua tangan Reyna.


Reyna menatap Morgan dengan sedikit senyuman di bibirnya.


" Gue harap loe gak kayak lelaki kebanyakan, Morgan. ' Batin Reyna.


_-_


TBC!


Aishh gila, frustasi gue.