Crazy Cousin

Crazy Cousin
Karena Cemburu


Malam harinya...


Reyna berjalan pelan di halaman taman yang berada pada bagian samping hotel tempat acara pernikahan David dan Nayara diadakan beberapa jam yang lalu.


Reyna tidak sendirian, tepat di sampingnya terdapat Gavin yang sejak tadi setia menemani setiap langkahnya.


Untuk pesta David dan Nayara sendiri memang telah usai bertepatan dengan keduanya keluar dari hotel. Perlu diingat, pesta ini hanya pesta kecil-kecilan yang bersifat rahasia dan hanya orang-orang tertentu yang bisa masuk ke dalamnya.


Untuk acara resepsi tidak diadakan sebagaimana rencana awal keluarga kedua belah pihak. Acara resepsi itu akan mereka adakan bertepatan dengan go public—nya hubungan resmi David dan Nayara. Yang pastinya setelah mereka mendapat restu dari Rey, Kakak Nayara.


Canggung. Itu yang keduanya rasakan. Mungkin hanya Reyna, berbeda dengan Gavin yang terlihat biasa saja. Malahan pria itu tidak melunturkan senyuman tipis di wajahnya.


" Duduk, Angel? "


" Ah, ya. " Reyna mengikuti Gavin dari belakang dan mendudukkan dirinya pada sebuah kursi kayu yang berhadapan langsung dengan kolam kecil.


" Apa kabar? " Gavin membuka suara, menghangatkan suasana yang semula hening.


" Baik. Kak Gavin sendiri? "


" Aku juga baik, "


Keduanya kembali saling diam. Bingung akan apa yang harus mereka ucapkan.


" Canggung ya? " Gavin terkekeh.


Reyna ikut terkekeh dengan kepala mengangguk kecil.


" Iya. Lama tidak berjumpa membuat kita agak.. Gimana gitu, "


" Jangan canggung, Angel. Apalagi padaku, "


Reyna meringis, " Akanku usahakan, "


" Maaf, "


" Maaf? " Beo Reyna.


" Maaf karena aku tidak sempat mengunjungimu saat di Singapura, " Jelas Gavin.


" Seharusnya aku ada di sana saat kamu terkena musibah. Harusnya aku bersamamu, mendukungmu dan memperhatikan kesehatanmu. Tapi ini? Untuk sekedar menjengukmu saja tidak aku lakukan, " Sesalnya.


Reyna tersenyum tipis mendengarnya.


" Tidak apa. Angel tahu kok, Kak Gavin sibuk. Pasti saat Angel celaka perusahaan Kak Gavin sedang dalam masa perkembangan. Jadi Angel maklumi, jangan merasa bersalah lagi. "


" Kamu pengertian rupanya, " Kata Gavin.


" Tapi tetap saja, Angel. Aku merasa gagal jadi teman yang baik. Enam tahun. Enam tahun kamu di sana dan aku tidak satu kali pun menampakkan wajahku dihadapanmu, "


" Sudahlah! Kan sebagai gantinya Kak Gavin ada di sini, menampakkan wajah di hadapanku. Jadi jangan menyesali apa yang telah berlalu, " Hibur Reyna.


" Terima kasih, dan maaf. "


" Lupakan, "


Reyna mengehela nafas. Dia menatap depan menikmati hembusan angin malam dan pemandangan yang ada.


Gavin menatap Reyna dari samping, " Kamu makin cantik saja, " Ucapnya spontan.


" Ya? Aha.. Kak Gavin membuatku malu, " Ucap Reyna meraba pipinya.


Gavin terkekeh, " Aku serius, "


" Hem. Tahu kok. Angel memang makin besar makin cantik. Tapi Kak Gavin juga makin tampan loh, serius. "


" Hah, dasar. "


" Ih.. Serius, "


" Iya, "


" By the way, gak canggung lagi nih? " Goda Gavin.


" Enggak. Kak Gavin masih sama, sama kayak Gavin yang Angel kenal dulu. "


" Memangnya kamu pikir aku bisa berubah gitu? "


" Iya. Angel kira Kak Gavin berubah karena lama gak ketemu Angel, "


" Berubah jadi apa? Superman? "


" Bukan ih! Maksudnya jadi jutek gitu. Kan sekarang Kak Gavin makin kaya, makin ganteng juga. Siapa tahu lupa diri kalo sama Angel, "


" Enggaklah dasar kamu! " Dengan gemas Gavin mengacak rambut Reyna.


" Ih.. Berantakan, "


" Ha ha.. Biarin, "


" Ck, menyebalkan. " Decak Reyna.


Gavin tertawa, tatapannya tetap tertuju pada Reyna yang sedang memperbaiki tatanan rambutnya.


" Masih berantakan gak? "


" Enggak. Udah cantik lagi, "


" Berarti tadi gak cantik? "


" Enggak, " Goda Gavin tersenyum jahil.


" Ya iyalah enggak! Orang Kak Gavin berantakin, " Kesal Reyna cemberut.


" Ha ha.. Maaf-maaf, "


" Oh iya. Kamu dapat salam dari Bunda. Maaf juga katanya gak bisa ikut ke Jakarta lihat kamu, " Ucap Gavin tiba-tiba.


" Bunda Olive? " Tebak Reyna diangguki Gavin.


Olive adalah nama Ibu Gavin. Beliau adalah sosok yang baik dan selalu menyambut ramah setiap kali Reyna diajak Gavin ke rumahnya.


" Ah.. Sampaikan salam balikku. Bagaimana kesehatan bunda, Kak Gavin? Bukannya terakhir kali.. " Reyna menggantung perkataannya.


" Jauh lebih baik, " Balas Gavin tersenyum. " Nanti-nanti ikutlah bersamaku ke rumah. Seperti biasa, " Lanjutnya menaik-turunkan alis menggoda Reyna.


Reyna tertawa, " Tentu. Kita atur saja jadwalnya. Karena setelah aku masuk, dijamin jadwalmu sibuk, Tuan CEO. " Balas Reyna membuat Gavin ikut tertawa.


" Hem, "


" Sudah punya pacar? " Tanya Reyna.


Gavin menatap Reyna dalam, " Belum. Mau daftar kamu? "


Reyna berfikir sejenak, " Enggak ah! " Balasnya.


" Loh, kenapa? Kalo kamu daftar gak ada istilah seleksi calon istri, langsung aku halalin! "


" Dih, gombal. "


" Serius, "


" Bodo ah! "


" Jadi? "


" Jadi apa? "


" Mau gak, daftar calon istri? "


" Enggak, " Geleng Reyna.


" Yah, sayang. Padahal aku mau, "


" Mau apa? "


" Jadiin kamu istri, "


" Ih, merinding. Makin dewasa makin jago gombal. Lama-lama Kak Gavin aku cap buaya darat, "


Gavin tertawa mendengar jawaban Reyna.


" Kamu sendiri? Punya pacar? Tunangan? Suami? Atau orang yang kamu suka? "


Reyna menarik nafas panjang dengan pandangan tertuju ke depan sana.


" Gak ada, " Jawabnya.


" Kenapa? "


" Ya karena gak mau, "


" Untuk saat ini belum ada. Gitu maksudnya? "


" Bukan. Angel memang gak mau, "


" Gak mau punya pacar gitu? "


" Hem, "


" Terus nanti nikahnya gimana? Masa sama orang gak di kenal, kan gak lucu. "


" Angel gak mau nikah, "


Saat itu juga nafas Gavin terhenti. Dia menatap Reyna dengan pandangan tidak percaya.


" Kenapa? Jangan ngadi-ngadi, Angel. Gak lucu kalo perempuan secantik kamu jadi perawan tua, "


" Angel gak mau jadi aib keluarga kalo nanti nikah, "


" Maksudnya? "


" Angel mungkin wanita, tapi gak bisa menjadi seorang ibu. Bukankah memiliki keturunan salah satu alasan dari pernikahan? " Tanyanya menatap Gavin.


" I-iya, tapi— kok kamu bicaranya gitu? Angel, kamu kenapa? "


Reyna menggeleng, " Aku gak apa-apa, "


" Bohong! Perkataanmu— "


" Kantor Kak Gavin di mana sih? " Tanya Reyna mengalihkan pembicaraan. " Kok kata Oma deket sama kantornya Morgan, "


Untuk sesaat Gavin terdiam. Antara sibuk pada pemikirannya dan pertanyaan Reyna barusan.


" Besok aku jemput gimana? Kita keliling perusahaan. Sekaligus memperkenalkan kamu sebagai calon sekretaris baru, " Usul Gavin.


" Eum.. Boleh. Gak ada jadwal juga Angel besok, "


" Jadi aku jemput ya besok? "


" Iya, "


Keduanya sibuk menghabiskan waktu dengan mengobrol bersama tanpa sadar jika sejak tadi Morgan memperhatikan interaksi mereka melalu kamar yang dia sewa di lantai atas.


" Salah sendiri di pendam, "


Perkataan Mikhayla terngiang di telinganya. Morgan mengepalkan tangan, dia berbalik dan pergi dengan membanting pintu.


🍃 🍃 🍂 🍃 🍃


Reyna berbalik menghadap Gavin yang mengantarnya sampai depan pintu kamar yang disewa atas namanya.


Seluruh keluarga memang memutuskan untuk menginap di hotel karena jarak antara hotel dengan kediaman mereka yang cukup jauh. Pengecualian untuk David yang membawa Nayara ke apartementnya. Apartement David memang dekat dari hotel.


" Makasih. Padahal Angel bisa sendiri kok, ngapain di antar sampai sini segala. "


" Tidak masalah. Masuk sana! Tidur yang nyenyak, besok aku jemput sekalian beliin baju buat kamu. Bye, " Gavin mengusap kepala Reyna singkat sebelum pergi dari sana.


Reyna mesem-mesem sendiri menatap kepergian Gavin. Baru saja dia berbalik hendak memasukan pin pada pintu hotel, sebuah tangan menarik dan membawanya pada kamar yang berada tepat di sebelah kamarnya.


Reyna bersandar di belakang pintu yang tertutup dengan kedua tangan di cekal oleh si penarik.


Dengan nafas tersegal-segal Reyna mengangkat kepalanya, " Morgan? "


Morgan menghimpit tubuh Reyna, dia menatap wanita itu dalam.


" Tidur bersamaku, "


_-_


TBC!