
Di sinilah akhirnya mereka, menghimpit tubuh kecil Reyna antara tubuh gagah Morgan dan Gavin dengan sopir yang menyetir di depan.
Antara mereka tidak ada yang mau mengalah. Karena lelah dan suntuk menyaksikan pertengkaran yang tiada akhir, inisiatif Reyna menyetujui ajakan Morgan pulang bersama namun dengan mengajak Gavin yang juga kekeh ingin mengantarnya pulang.
Reyna menghela nafas, menoleh pada Gavin dan Morgan yang berada di sebelah kanan dan kirinya dengan kompak memasang wajah datar.
Reyna mengembungkan pipinya, dia bersender pada senderan jok dengan tubuh yang agak di perosotkan ke bawah.
" Paling gak suka gue, hening kayak gini. " Gumam Reyna memejamkan matanya sekilas.
Gavin dan Morgan jelas mendengar. Ingin menimpali namun jika salah satu dari mereka bersuara jelas akan menimbulkan perdebatan panjang yang akan membuat Reyna sakit kepala.
" Angel, " Panggil Gavin.
" Hem, " Jawab Reyna tanpa merubah posisinya.
" Tadi ada balon berbentuk, "
" Stop!! " Teriak Reyna membuat sopir Morgan meninjak rem mendadak.
" Reyna, bahaya! " Bentak Morgan yang juga sama terkejutnya dengan mereka.
Morgan menatap Gavin tajam seakan menyalahkan.
" Ya.. Kan gue mau balon, " Ujar Reyna polos.
" Kak Gavin, buka dulu pintunya. Aku mau beli balon bentar, " Pinta Reyna.
Tak menghiraukan tatapan tajam Morgan yang mengisyaratkan untuk tidak menuruti, Gavin menggeser tubuhnya memberi Reyna jalan dan membuka pintu dengan segera.
" Bentar-bentar, " Kata Reyna berusaha menyelipkan tubuhnya antara kaki-kaki Gavin.
Setelah sampai di luar, Reyna membungkuk menatap Morgan dan Gavin yang masih berada di dalam mobil.
" Tunggu bentar ya, gue mau balon dulu. Kalo ditinggal juga gak apa-apa, di sini banyak yang mau jadiin gue sugar baby. "
" Nana! "
" Becanda. Bye! " Reyna ngacir menuju penjual balon yang diminatinya.
Di dalam mobil, suasana kembali hening. Baik Morgan maupun Gavin sama-sama diam dengan tatapan lurus ke depan.
" Tidak tahu situasi, " Decis Morgan.
Gavin yang mengerti arah perkataan Morgan lantas menjawab:
" Aku lebih suka Angel bahagia ketimbang melarangnya iniโitu, " Balasnya membuat Morgan tersenyum mengejek.
" Melarang tidak masalah jika itu demi kebaikannya. Dan bahagia juga jika tidak seharusnya untuk apa? Bisa menjadi racun, " Ucap Morgan penuh makna.
" Cih, posesif. "
" Hai, inces comeback. "
Tanpa permisi Reyna menerobos masuk dengan empat balon besar di pegangannya membuat Gavin sedikit kewalahan.
" Angel, kebiasaan. Kata aku juga kalo mau beli balon jangan yang udah diisi udara, kamu isi sendiri di rumah kan bisa. Ini balonnya, astaga. " Tegur Gavin dengan wajah kesal karena balon berbentuk unicorn itu terus menyentuh wajahnya.
" He he.. Ya maaf. Kan lupa, " Cengir Reyna.
Morgan menatap mereka malas. Sangat tidak mengenakan melihat keakraban antara sepupunya dan orang luar itu.
" Jalan! " Titahnya pada si sopir.
Selama di perjalanan Reyna sibuk mengoceh dengan tubuh bergerak-gerak membuat keempat balon itu terhuyung ke kanan-kiri. Berkali-kali juga Gavin menegur karena lagi dan lagi balon-balon itu menyentuh wajahnya dan membuatnya merasa terganggu.
Tidak hanya Gavin, di sini Morgan pun ikut menjadi korban. Karena tubuhnya dan Gavin yang besar dengan Reyna yang membawa empat balon sekaligus membuat mereka serasa sulit bernafas. Dirinya dibuat terpojok bahkan satu kaki Morgan di angkat dan ditumpangkan ke kaki satunya lagi guna memperluas tempat duduk dan tentu itu atas perintah Reyna.
Hingga kesabaran Morgan habis saat balon berbentuk pria bibir monyong dengan mata terpejam menempel tepat di bibirnya, seakan Morgan dan pria itu tengah berciuman.
Dor!
" Ah! " Gavin dan Reyna memekik bersama. Reyna langsung menatap pelakunya dengan ekspresi wajah kesal.
" Morgan, kaget. "
" Angel, balonnya.. "
" Aahhh Morgan sialan! Loe letusin balon gue, " Amuk Reyna mengangkat satu balonnya yang menjadi korban.
" Loe matiin balon gue, Morgan. Ganti. Ganti pokoknya ganti!! "
Sibuk memarahi Morgan sampai tidak sadar dua balon lainnya kini sudah ada di tangan Gavin.
" Ganti. Balon gue harus loeโ Eh eh, itu mau di kemanain? " Tanya Reyna menatap panik pada Gavin yang telah membuka jendela dengan kedua balonnya yang seperti hendak di terbangkan.
Oh tidak!
" Kak Gavin jangan, jangan oke? Jangan. Itu satunya udah Morgan letusin, masa kamu mau langsung dua terbangin? "
" Ganggu, " Kata Morgan singkat.
Reyna menoleh, " Loeโ Aaaa Kak Gavin!! " Reyna berteriak melengking saat balon itu bebas di atas sana.
Reyna yang masih tidak rela lantas mencondongkan badannya pada jendela dan menatap nanar pada dua balonnya yang menjadi korban Gavin.
" Hiks.. Balon, " Tangis Reyna tanpa air mata.
Gavin menatap Reyna tanpa rasa bersalah. Salah sendiri balon itu mengganggunya terus. Morgan saja yang terganggu sekali langsung ambil tindakan, masa Gavin yang sejak tadi dileecehkan balon-balon itu diam saja?
Satu balon cukup bukan menemani Reyna untuk mengenang masa kecilnya?
Di depannya Reyna masih setia menatap balon terbang yang bahkan sudah tidak terlihat ke mana arahnya terbang.
" Padahal balonnya baruโ Aah! " Reyna kembali memekik saat tubuhnya di tarik sehingga posisi duduknya kembali normal.
" Jangan asal tindih, bahaya. " Ucap Morgan kesal.
Perlu kalian ketahui, Morgan sedikit panas saat melihat tubuh Reyna yang setengah meninndih Gavin. Tidak, tubuh Reyna memang meniindih paha Gavin karena posisiya berada di sisi jendela.
Gavin mengulum senyumannya, senang melihat Morgan terbakar api cemburu dengan dirinya yang diuntungkan.
" Ck, padahal belinya empat. Masa pulang tinggal satu, " Gerutu Reyna.
" Ganggu Angel, "
" Kamu terbangin dua! " Semprotnya pada Gavin yang malah dihadiahi kekehan.
" Jangan kekanakan. Balon untuk bocah Tk, "
Reyna menatap Morgan kesal, " Tk matamu! "
๐ ๐ ๐ ๐ ๐
Bella beranjak dari duduknya saat suara bel rumah berbunyi. Dia membuka pintu menampilkan anak gadisnya bersama dua pria yang dirinya kenal.
" Angel, Morgan, Gavin. "
" Malam, tante. "
" Malam juga Nak Gavin. Makasih banget loh udah mau repot-repot nganterin Angel, " Ucap Bella tersenyum ramah.
" Iya tan. Eum.. Gak ngerepotin sih, seneng malahan. "
" Oh iya, Morgan. Kok kalian bisa barengan? Bukannya Angel lagi ada di perusahaan Gavin? " Tanya Bella heran.
" Hah? Kan Mommy yang nyuruh sepupu jemput aku, " Ucap Reyna dengan kerutan terlihat jelas di dahinya.
" Mommy? Enggak kok. Mommy gak nyuruh Morgan jemput kamu. Kan kamu udah izin, nak Gavin juga dikasih kepercayaan sama Opa. Jadi Mommy gak khawatir kamu gak pulang sekalipun, " Ujar Bella.
Saat itu juga Gavin dan Reyna saling tatap dengan Morgan yang setia menampilkan wajah tak berdosanya.
" Morgan!! " Teriak keduanya emosi.
_-_
TBC!