Crazy Cousin

Crazy Cousin
Memaksa Mengingat


Morgan membuka matanya. Senyuman tidak bisa dia tahan untuk tak merekah melihat keadaan yang berbanding terbalik. Jika sebelum tidur dia yang memeluk Reyna erat, maka lihatlah sekarang. Gadis itu yang memeluknya erat bahkan menelusupkan kepalanya di dada bidangnya.


Morgan menatap setiap inci dari wajah Reyna. Jidat pari purna, mata dengan bulu mata lentik, hidung mancung kecil, bibir tipis dengan polesan lipstik berwarna pink gelap, juga rahang agak bulat membuat tatanan wajah Reyna terlihat sangat sempurna.


" Cantik, " Gumam Morgan sangat pelan.


" Eung, "


Mata itu kembali tertutup cepat. Beberapa saat setelahnya, Morgan membuka sedikit sebelah matanya guna mengintip dan mendapatkan Reyna yang tengah termenung dengan wajah bingung.


" Gue kok di sini ya? " Gumam Reyna menggaruk dagunya.


Reyna melirik Morgan, buru-buru Morgan menutup matanya kembali pura-pura tidur.


" Ini si sepupu ngapain ikutan di sini? Annjir, gue di mana?! " Pekik Reyna terbangun kasar saat menyadari jika ini bukan ruangannya.


Reyna menggaruk kepala, dia menguap dan merenggangkan otot lengannya santai saat nyawanya telah kembali sepenuhnya.


Kening Morgan mengerut saat tidak mendengar pekikan heboh dari Reyna lagi. Lagi-lagi matanya terbuka sedikit dan tanpa di duga dirinya langsung mendapat pukulan dari tangan cantik Reyna.


Plak!


" Bangun loe! Pura-pura tidur segala kayak kucing. Bagun gak?! "


" Eung.. Apa, Na? " Lenguh Morgan pura-pura.


" Nana Nana, loe kira gue banana? Sana bangun! Mandi, terus anterin gue pulang. Di sini ada kamar mandinya kan pasti? " Tanya Reyna mengedarkan pandangan.


" Hem, " Jawab Morgan ikut mendudukkan dirinya.


Beberapa saat mereka diam, mungkin efek dari tidur singkat mereka yang terbangun saat hari mulai beranjak malam.


" Jam berapa? " Tanya Reyna.


Morgan melirik jam di pergelangan tangannya, " Delapan lewat, "


Reyna mengangguk. Dia mengucek matanya dan kembali menatap Morgan yang sedang menatapnya intens.


" Apa? "


Morgan menggeleng.


" Kamu gak terkejut? " Tanya Morgan.


Kening Reyna berkerut, " Terkejut? Kenapa? Loe kagetin gue gitu? Perasaan enggak tuh, "


" Saya.. Tidur di samping kamu, "


Reyna berdecak malas, " Kayak baru sekali aja. Perasaan di rumah Opa loe sering asal masuk kamar gue. Mana peluknya erat lagi, terus paginya udah ngilang aja kayak hantu. " Dumel Reyna.


Mata Morgan membulat, " Kamu— "


" Apa? Kaget loe gue tahu?! " Semprot Reyna melotot.


" Gue tahu dari awal kok, sepupu. Dan perlu loe tahu juga ya, gue gak suka cara loe yang asal masuk kamar orang. Apalagi gue. Meskipun kita sepupu, tetap batasan antara pria dan wanita itu ada. Apalagi loe sama gue udah sama-sama dewasa, bukan anak kecil yang gak masalah kalo tidur berdua. " Jelas Reyna.


Morgan diam. Dia masih tidak menyangka jika aksinya setiap malam disadari Reyna. Yah.. Setelah malam di mana dia menarik Reyna untuk tidur bersama, setiap malam setelah malam itu Morgan sering mengendap-endap memasuki kamar Reyna.


Perlu diingat, aroma tubuh Reyna adalah penenang dan pelepas penatnya. Satu malam saja tidak memeluk gadis itu, rasanya tidur Morgan menjadi sangat tidak nyenyak.


" Maaf, " Akhirnya hanya kata itu yang terucap dari mulut Morgan.


" Hem. Gak apa-apa. Asal janji aja kalo— "


" Maaf, tidak bisa menghentikannya. " Potong Morgan membuat Reyna cengo.


" Hah? Maksudnya? "


Morgan menggeleng, " Tidak. Kamu masuk kamar mandi duluan! Saya telpon Arzan agar membelikan pakaianmu, " Titah Morgan melangkah pergi meninggalkan Reyna yang masih diam menatapnya bingung.


" Maksudnya apa coba? " Gumam Reyna.


" Lah bodo! Gak penting amat gue mikirin si Morgan, " Ujarnya bangkit dari ranjang dan beranjak menuju kamar mandi setelah mengambil baju handuk yang tersedia di sofa.


Di luar ruangan, Morgan menyesap sebatang rokok dengan pandangan yang terlempar pada indahnya kota malam dilihat dari gedung pencakar langit yang ditempatinya kini.


Fikiran Morgan mengelana. Memikirkan dan berusaha keras mengingat masa-masa yang hilang dari ingatannya bersama Reyna. Morgan hanya ingin tahu, apa dulu hubungan mereka waras sebagai saudara atau justru gila dengan saling mencintai. Karena perlu dia akui, keberadaan Reyna mengubah segalanya, terutama hatinya.


Hanya dengan menatap mata indah itu, jantungnya berdetak kencang dengan sebuah rasa menggerumuh yang tidak bisa dia jelaskan dengan kata-kata seperti apa jelasnya.


Morgan yakin ada sesuatu yang terjadi antaranya dengan Reyna. Jika tidak, kenapa rasa itu seakan menuntutnya untuk mendapatkan Reyna yang notabennya adalah sepupu?


Morgan semakin berusaha keras mengingat masa lalu. Sekuat dia mengingat, maka sekuat itu juga dampak rasa sakit yang didapatnya.


" Arghkk!! " Erangan Morgan semakin terdengar nyaring di ruangan sunyi itu.


Reyna tidak mungkin akan mendengar karena ruangan pribadi Morgan kedap suara.


" Aaa!! " Teriak Morgan dengan tubuh ambruk di atas lantai.


" Kalian tidak bisa menikahkannya! Reyna masih kecil, masa depannya masih panjang. Kenapa kalian bodoh? Menikah bukanlah jalan akhir agar Reyna tidak liar. Dengan menikah muda justru malah semakin mempertaruhkan masa depannya! "


" Bagaimana jika rasa bosan ada setelah menikah? Haruskah mereka bercerai? Karena rasa bosan itu? Jangan berfikiran sesempit ini! Kalian lebih tua dariku, dan kalian tidak memahami apa yang ada dalam pikiranku? Menikah bukan main-main! "


" Gue baru sadar, akhir-akhir ini sikap loe beda, Morgan. "


" Beda gimana? "


" Ya beda, gak semenjengkelkan dan semesum minggu lalu. "


" Jadi loe mau gue mesumin? ".


" Ck, sinting loe! ".


" Mau tahu alasannya gak? ".


" Apa? ".


" Elu! "


" Pengakuan loe buat hubungan kita renggang, Morgan. Andai saja waktu itu loe simpan sendiri perasaan loe, mungkin gue gak akan jaga jarak dari loe. "


" Pengecut dong gue, ".


" Arghkk!! " Sakit yang Morgan rasakan kian bertambah, bayangan hitam putih disertai percakapan Morgan dapat dalam ingatannya meskipun tidak terlalu jelas.


" Arghkk!! "


Dred.. Dredd..


Sambil menahan rasa sakit, Morgan merogok ponselnya dan mengangkat panggilan yang ternyata dari Mikhayla dengan sebelah tangan dan sebelahnya lagi masih memegangi kepalanya dengan rasa sakit yang sama.


" Halo Mom? "


" Bang, kamu di kantor bareng Rain kan? Mommy telponin dari tadi, "


" I'm sorry, Mom. Kita ketiduran. Morgan capek, "


" Oh.. Gitu ya. Ya udah kalian pulang sekarang, Mommy juga masih nginep di rumah Opa. Kamu bawa Rain pulang ya? "


" I-yah, Mom. "


" Abang kok suaranya kayak meringis gitu? Kenapa? Abang sakit ya?! "


" E-enggak kok, Mom. Mor capek aja, baru bangun juga. "


" Beneran gak apa-apa? "


" Iya, "


" Ya udah, Mom tutup telponnya. Jangan kemaleman pulangnya, segera! "


" Iya, "


" Bye, Abang. We love you, "


" Love you too, Mommy. "


Morgan menyimpan setengah membanting ponselnya ke lantai. Dengan posisi masih duduk di atas lantai dengan keringat yang bercucuran di dahi, Morgan mengusap wajahnya tak kala rasa sakit itu perlahan membaik dan berangsur hilang.


" Apa yang terjadi? Apa yang ku lihat tadi? Apa? "


Morgan kembali mengusap wajahnya dengan nafas memburu.


" Loe kenapa? "


Morgan berbalik menatap Reyna yang berdiri menatapnya bingung. Untuk beberapa saat iris hitam mereka saling memenjara satu sama lain.


Sampai akhirnya pengakuan salah satu dari mereka membuat yang satunya lagi membulatkan mata.


" Ingatan gue balik, Na. "


_-_


TBC!