Crazy Cousin

Crazy Cousin
Selalu Bersama


Tiga jam mereka habiskan dalam perjalanan. Masih di kota yang sama namun kawasan yang berbeda, rombongan bus Senior High School sekolahan Reyna sampai di parkiran luas area bawah dari subjek yang akan mereka datangi.


Melihat para Siswa yang satu pesatu mulai keluar, Morgan memilih diam menjadi yang terakhir turun karena Reyna yang masih tidur nyenyak di pundaknya.


Ingin membangunkan, tapi kasihan. Gadis itu terlihat sangat kelelahan sekali.


David memakai jaketnya bersiap keluar. Tidak sengaja matanya melirik pada Reyna yang masih memejamkan mata. Kemudian tatapannya beralih pada Morgan.


" Gak di bangunin? " Tanyanya.


" Nanti aja, kasihan. "


" Hem. Gue duluan, " Morgan mengangguk.


" Eh Vid! " Panggil Morgan.


David menoleh.


" Jagain adik gue, " Lirik Morgan pada Zaidan. " Gak bisa diem tu anak, "


David mengangguk, " Ayo, " Ucapnya yang disambut gembira oleh Zaidan.


Itulah Zaidan. Memiliki sifat dingin namun selalu ramah pada orang yang dikenal baik olehnya. Sikap pada keluarganya saja yang kadang dingin tergantung mood hariannya.


Kini di dalam bus hanya ada mereka berdua. Morgan melirik jendela samping, di mana para Siswa mulai membeli tiket masuk dan berbondong-bondog menaiki bus mini maupun berjalan kaki sampai ke tebing.


Kembali pada keadaan. Karena melihat tempat yang mulai dipenuhi para wisata lain, dengan terpaksa Morgan membangunkan Reyna. Takut-takut nanti mereka berpisah dengan rombongan.


" Na, na, bangun na! Udah sampai, "


Merasakan goncangan lembut di bahu, Reyna mengeliat dan perlahan membuka mata.


" Eung.. Sampai ya? "


" Hem. Ayo turun! "


" Em, " Balas Reyna. Gadis itu menguap lebar sambil merentangkan kedua tangannya. Kemudian mengambil jaket dan berlalu turun dari bus bersama Morgan.


____-__


" Kita naik bus mini aja, supaya cepet. Loe tunggu di sini, gue beli tiket busnya sekalian, " Ucap Morgan.


Reyna mengangguk. Dia memasukkan kedua telapak tangannya ke dalam saku jaket yang dikenakannya. Cuaca di sini sangat dingin. Mungkin karena hari yang mulai menggelap.


" Jam 6. Orang gila mana yang mengatur waktu study tour? Harusnya ke sini dulu, baru ke pantai! Di pantai


enak, jam segini bisa lihat sunset. Lah di tebing? " Reyna berdecak sambil menggeleng. Harusnya dia saja yang mengatur jika pengaturnya tidak becus begini.


" Udah ada. Yuk! "


Reyna mengangguk. Beberapa saat mereka menunggu, bus mini itu pun datang juga. Bersama wisata lain Reyna dan Morgan menaikinya hingga penuh dan berangkat.


Mereka duduk bersampingan. Selama perjalanan, Reyna selalu menggosok tangannya. Melihatnya Morgan peka, tanpa banyak bicara Morgan menggenggam kedua tangan Reyna dan meniupnya sesekali.


" Masih dingin gak? "


Reyna menggeleng, " Hangat, " Ucapnya membuat Morgan tersenyum tipis.


___-____


" Woah.. Ternyata di sini seru juga yah! Gue kira sepi, taunya ngalahin pasar malam. " Ucap Reyna terkekeh.


Morgan mengangguk.


Di sekitar tebing, banyak penjual yang menjual berbagai macam makanan dan minuman. Bahkan tak jarang juga di antaranya menawarkan pakaian dan aksesoris bertuliskan nama tempat ini.


" Eh, di sana ada gelang! Beli yuk! " Sifat penyuka aksesoris pun bangkit dalam diri Reyna.


Melihat banyaknya gelang-gelang unik yang tentunya bagus membuat Reyna tertarik. Jujur saja, dia lebih menyukai gelang yang terbuat dari kain dan ukiran kayu daripada gelang yang selama ini selalu dipakainya.


" Wow.. Lucu banget. Astaga.. Jadi pengen borong semua kan guenya, " Gumam Reyna menatap binar gelang yang sedang di pegangnya.


" Satu aja cukup, Na. Buat kenang-kenangan. Emang loe mau pakai semua kalo diborong?! Ngabisin duit aja, "


Reyna hanya mendelik. Dia kembali tersenyum girang


dan memilih satu yang menurutnya paling cantik.


" Mbak, yang itu gelang couple. Bisa di namain juga kalau mau. Beruntung banget, hanya satu stok di toko Saya. Di toko lain keliling juga gak bakalan nemu, " Ucap si penjual.


" Wah.. Serius? Langka banget kayak yang milihnya. Ya sudah Mbak, Saya ambil yang pasangannya juga! "


Si penjual mengangguk.


" Mau di beri nama atau tulisan nggak, Mbak? Tidak lama kok, "


" Di belakangnya atau di depan? " Tanya Reyna.


" Tergantung Mbak nya, "


" Di belakang aja deh! "


" Baik. Mau nama, Mbak? "


" Iya. Dua-duanya tulis nama— "


" Morgan, Reyna. " Potong Morgan.


" Ya? " Bingung si penjual.


" Mor, loe kok— "


" Untuk gelang cewek tulisnya Morgan, dan yang cowok Reyna. " Lagi-lagi Morgan memotong ucapan Reyna. " Itu di belakang ya! Di depannya ' MORE ', pakai huruf kapital. " Jelasnya.


Penjual itu menatap Reyna.


" I-iya. Turutin aja, Mbak. "


Si penjual mengangguk dan mulai menulis seperti permintaan Morgan.


____-_______


Kini Morgan dan Reyna sudah menyatu dengan rombongan. Hari semakin gelap, namun banyaknya orang dan pencahayaan yang ada tidak membuat area tebing tampak menakutkan.


Saat mereka berjalan berdampingan, dengan segaja Morgan meraih tangan kiri Reyna dan menggenggamnya erat. Tentu hal itu membuat Reyna terkejut.


" Eh, "


" Lihat deh gelangnya! " Seru Morgan. " Kalo kita deketan, bintang dan hatinya akan nyala. Kalo jauhan, gak bakalan nyala. Gelang ini memang istimewa, Na. Jangan hilangin ya! " Pinta Morgan menatap Reyna.


Reyna hanya mendengar tak mendengar saja. Karena fokusnya tetap pada dua gelang kayu yang sama-sama menyala di sela tautan tangan mereka.


" Terus genggam tangan gue, Na. Jangan lepasin! Gue juga bakalan terus menggenggamnya bahkan jika loe gak suka, "


Reyna menatap Morgan, dia tersenyum dan mengangguk. Morgan balik tersenyum dan mereka pun berjalan mengikuti rombongan dengan berpegangan tangan.


Tidak jauh di belakang mereka, seseorang mengepalkan tangannya kuat. Sorot mata marahnya sangat terlihat jelas, dengan buku-buku jari yang memutih saking kuatnya dia mengepal.


" Makin lama makin dekat. Dan semakin gue biarin loe semakin melunjak. Gak, enggak. Cukup di sini, Reyna Angelica. Akan gue akhiri semuanya di sini. Di. Si. Ni, ".


___-______


" Di sini dingin ya, Kak David? " Tanya Nayara berbasa-basi.


" Hem, " Balas David tanpa menoleh.


Nayara tersenyum canggung. Kenyamanan yang biasanya dia dapatkan jika bersama David kini tidak bisa lagi dia rasakan.


Tapi tidak apa. Mungkin itu lebih baik agar mereka tidak saling menyakiti lagi.


Nayara menggosok tangannya dan melirik kanan-kiri. Tiba-tiba tatapannya tertuju pada penjual yang menjual makanan asing. Terlihat nikmat, dan minat mencicipi pun timbul di benaknya.


" K-Kak David duluan aja! A-aku ke sana dulu, " Izin Nayara. Dia berbalik kaku dan sedikit berlari menuju si penjual.


" Pak, Saya mau tiga! " Pesan Nayara.


" Campur Neng? "


" Eum.. Gak usah pakai rumput laut! Yang satu kejunya sedikit, dan gak pakai saus kecap semua. "


" Baik Neng. Saya buatkan, "


Nayara mengangguk dan menatap binar pada pesanannya yang sedang di buat. Untung sepi pembeli, jadi dia tidak perlu mengantri.


Dari kejauhan David menatap Nayara. Senyuman kecil terbit di ujung bibirnya saat melihat gadis yang sedang berceloteh dan menunggu dengan tidak sabaran.


Gadis itu.. Gadisnya. Aranya, Miliknya. Dari awal dan sampai kapanpun tidak pernah David lepaskan.


" Tunggu waktunya tiba, My Ara. Saat itu gak ada alasan lagi buat loe ninggalin gue, " Ucap David membatin.


____-______


" Heh sepupu, gue laper! " Reyna mengeluh.


Saat ini mereka sedang berada di ujung tebing. Terduduk di kursi panjang yang terbuat dari kayu.


" Tunggu di sini! Gue beli makanan dulu, "


Reyna mengangguk. Morgan bangkit dan meninggalkan Reyna untuk membeli makanan.


Di sana cukup sepi. Karena kebanyakan orang sibuk membuat Vlog dan berselfi ria. Banyak juga di antaranya yang seperti Nayara, mencoba banyaknya makanan yang beraneka rasa dan bentuk. Sampai-sampai David kewalahan menemaninya.


" Huftt.. Adam banget di sini. Meskipun dingin, tapi kehangatan tercipta dari banyaknya pengunjung. " Gumam Reyna.


Reyna berdiri, dia melangkah menuju ujung dan menatap jurang yang cukup curam di bawah sana. Bahkan dia tidak dapat melihat apapun karena kegelapan yang memenuhi.


" Kalo gue jatuh, bakalan selamat gak ya? " Gumam Reyna menatap bawah.


" Mau di coba, Angel? "


Reyna berbalik saat mendengar suara yang terdengar sangat familiar di telinganya.


" Ya— "


Bles!


" Aaa.. " Mata Reyna memerah, dia meraba perut yang didalamnya terdapat ujung pisau.


Seseorang menusuknya!.


" Uhuk, " Darah segar keluar dari mulut akibat tusukan yang semakin dalam di perutnya.


" Mati, Angel. Loe harus mati! "


Dengan gerakan pelan penuh kesakitan Reyna mendongak menatap si pelaku. Di balik hoodie hitam dengan penutup kepala yang dikenakan, wajah jahat penuh seringaian Freya dapat Reyna tatap.


" Cukup gue berpura-pura selama ini. Cukup gue buat hati gue sendiri menderita melihat kebersamaan kalian. Cukup, "


Mata Reyna memerah dan mulai berkaca-kaca. Dia menatap tidak percaya pada orang yang berdiri dengan tatapan penuh kebencian terhadapnya.


" L-loe? Kena-pa, Freya? L-loe, punya masalah apa sama gue? " Tanya Reyna terbata.


" Masalah gue sama keluarga loe, Mr. Marchel Alexander yang terhormat tepatnya. Tanya dia kenapa gue bisa sedendam ini sama Ayah loe! Dan karena loe juga bikin gue muak, mungkin dengan matinya loe gue dapat keuntungan banyak. " Ucap Freya berapi-api.


" Loe mati, Daddy loe sedih. Dendam gue tercapai. Dan pria yang gue suka juga gak bakalan lagi bisa deketin loe yang tinggal badan, " Lanjutnya menyeringai.


Reyna menggeleng lemah. " L-loe, "


Brak.


Makanan yang dibawanya jatuh begitu saja. Matanya melotot tak percaya dengan kejadian yang dilihatnya di depan mata.


" Reyna! " Teriak Morgan keras hingga mengundang tatapan banyak orang yang sebelumnya tidak sadar.


" Ya Allah Angel, " Nayara ambruk melihat tangan temannya yang berlumuran darah.


David menangkap Nayara dengan mata menatap marah pada orang berhoodie yang sedang menusuk adiknya.


" Tu-tunggu di sini, " Pinta David dengan nada gemetar.


Deg.


Terlambat!


Freya melepaskan tusukannya dan mendorong tubuh lemas penuh darah Reyna ke bawah tebing. Mata Morgan melotot, lutut David yang bahkan belum melangkah pun lemas melihatnya.


" Reyna!! " Teriak Morgan kuat-kuat.


Merasa menjadi perhatian, dengan gesit Freya berlari dan menghindari orang-orang yang hendak menangkapnya. Bahkan dengan gila dia menyodorkan pisau penuh darahnya pada mereka yang berani mendekat.


Air mata David turun melihat tubuh adiknya melayang ke bawah. Dengan Nayara yang sudah menangis sejadi-jadi melihat temannya tertusuk tepat di depan mata.


" Selama ini gue hidup dengan loe, dan mati juga rela nyusul loe. Jika takdir melarang, kita gak bakalan mati meskipun mustahil hidup. Bagi gue, Loe segalanya, Reyna Angelica. " Tanpa berfikir panjang Morgan berlari dan ikut menjatuhkan diri menyusul Reyna.


" Kakak!! "


" Morgan!! "


" Morgan jangan!! "


" Mor!! "


Pekikan Zaidan, Rey, Erza dan Arzan tidak membuat niatnya terurungkan.


Di bawah, Reyna merentangkan tangannya menatap seseorang yang ikut melayangkan tubuh demi menyelamatkannya.


Air matanya jatuh. Pertemanan yang selama ini tidak dia sangka-sangka akan berakhir setragis ini. Kematiannya di depan mata, namun dengan bodohnya pria itu malah ikut menyusulnya menghadapi maut.


Mustahil selamat. Mereka jatuh, terjatuh ke dalam jurang yang entah ada apa di dalamnya.


Dengan pandangan yang mulai memburam, Reyna menatap wajah penuh air mata Morgan yang jaraknya semakin dekat dengan dirinya.


" Morgan, di sini dingin. "


Byur!!


_-_


TBC!