
Reyna melipat kedua tangannya di dada dengan wajah cemberut. Matanya menatap nyalang pada David yang malah asik dengan tumpukkan kertasnya.
" Abang! Gara-gara Abang, Naya jadi pulang. Padahal kita kan mau main bareng, " Reyna berteriak dengan cicitan di akhir kalimat.
" Hem, "
Jawaban yang hanya mendapat deheman itu sukses membuat Reyna semakin kesal saja.
" Najis loe, ih. Gue aduin Daddy baru tahu rasa loe, "
" Angel! "
Reyna bungkam.
David menghela nafasnya panjang. Dia menegakkan tubuhnya dan menatap Reyna lembut.
" Nayara pulang karena bosan menunggu kamu, Angel. Kalo memang ingin menghabiskan waktu bersama, datangin aja ke rumahnya! Kakak suruh sopir buat anterin dia tadi, " Jelas David lemah lembut.
Reyna tetap cemberut, bahkan dia membuang wajahnya dari David.
" Males Angel kalo Abang kayak gini. Tahan dulu kenapa sih? Cuma bilang ' Naya, sebaiknya kamu tunggu Angel di sini. ' Gitu. Apa susahnya sih? " Gerutu Reyna.
" Nayanya mau pulang, masa Kakak paksa? "
Yah.. Bagaimana tidak langsung pulang jika yang mempersilahkannya saja main nyosor-nyosor gak jelas.
" Ogah Angel kerja sama Abang. Mending Angel ambil alih perusahaan Daddy yang di luar negri aja, bye! " Reyna menyentakkan kakinya dan pergi meninggalkan ruangan David.
Brak!
David menahan nafas, dia menghembuskannya perlahan dan kembali sibuk pada pekerjaan setelah menggelengkan kepala melihat tingkah Reyna.
🍃 🍃 🍂 🍃 🍃
Nayara terisak-isak di balik selimut. Perkataan dan perbuatan David sukses membuatnya sedih sekaligus takut pada pria itu.
Sosok yang di masa lalu sangat menjaga dan menyayanginya kini tidak ada lagi. Yang ada hanya David yang pemaksa dan menyeramkan.
Nayara takut pada David yang sekarang.
" Hiks, ada apa dengan Kak David? Hiks, mengapa dia membuatku takut seperti ini? Hiks, dia tidak sungguh akan memaksaku menikah bukan? Hiks, "
Nayara terus menangis dengan selimut tebal menutupi seluruh tubuhnya.
Bayangan tentang David yang akan benar-benar memaksanya menikah sukses membuat tubuhnya gemetar.
Naya tidak bisa membayangkan, akan seperti apa dia jika berada di tangan David yang sekarang?
" Aku tidak mau, hiks.. Aku tidak mau terlibat dengan Kak David lagi, hiks.. Tidak, " Isak Nayara.
Tok.. Tok..
" Non Naya.. Non? " Panggil salah seorang Art.
Nayara membuka selimut, dia mengelap air matanya.
" Iya?! "
" Di panggil sama Tuan Besar, Non. Segera ke bawah ya! "
Nayara terheran-heran, " Ada apa? Tumben Daddy memanggil, " Gumam Nayara.
" Non? "
" Eh, iya Bi! "
Nayara turun dari atas ranjang dan segera bergabung bersama keluarganya di lantai bawah.
" Naya, sini duduk sayang! " Panggil Elly menepuk sofa di sebelahnya.
Nayara menurut, dia terduduk di samping Elly dan beralih menatap Bram ayahnya.
Melihat Bram yang bungkam dengan mata menatap kosong ke arah pandangnya, membuat tatapan Nayara teralihkan pada Elly yang malah tersenyum lembut.
" Kak Rey mana? " Bram malah bertanya keberadaan putra sulungnya.
" Kak Rey masih di kantor, Dad. Katanya lembut, tidak bisa pulang malam ini. " Jawab Nayara.
Bram mengangguk, " Ini akan jauh lebih baik, " Batinnya.
" Dad? " Tanya Nayara hati-hati.
" Naya, kamu kenal David bukan? "
Deg.
Perasaan Nayara mendadak tidak enak. Naya menegakkan tubuhnya dan menunggu perkataan Bram selanjutnya.
" Daddy ingin.. Kamu menikah dengannya, "
Jeledar!
Bagaikan di tibun bebatuan besar, jantung Nayara sesak dengan tubuh yang kaku tidak bisa di gerakkan. Berulangkali bibirnya hendak bersuara namun perkataan itu seakan menyangkut di tenggorokannya.
" Daddy ingin.. Kamu menikah dengannya dalam satu minggu ini, "
" A-apa? "
🍃 🍃 🍂 🍃 🍃
Morgan menatap arloji di tangannya dan berganti menatap kantor David yang berada tepat di depannya. Dia melakukan hal itu berulang kali, sepertinya Morgan sedang menunggu seseorang.
Tiba-tiba mobil lain berhenti tepat di depannya dengan si pengguna yang dengan santainya membuka jendela samping mobil.
" Sepupu, ngapain loe di situ? "
Mata Morgan membola, dia menatap heran pada keberadaan Reyna yang adalah orang yang sejak tadi ditunggunya.
" Re-reyna? Bagaimana bisa kamu.. "
" Bisa apa sih? Gak jelas banget. Gue duluan ya, sepupu. Seleb sibuk. Bye! " Tanpa mendengar respond Morgan, Reyna melesat begitu saja menggunakan mobil mewahnya.
" A-apa? Hey tunggu! Sial, " Maki Morgan menggertakkam giginya.
Dred.. Dred..
Ponsel Morgan berbunyi, segera dia ambil dan mengangkatnya.
" Halo? "
" Anda memiliki jadwal rapat penting siang Ini, Tuan. Tepat tiga puluh menit dari sekarang, "
Tut.
Morgan menggenggam erat ponselnya dengan mata menatap kepergian Reyna yang bahkan sudah tidak terlihat lagi.
" Aku harus mencaritahu siapa dia. Tidak mungkin Reyna hanya sepupu biasa. Masa laluku terikat padanya, itu pasti. " Ucap Morgan bertekad.
Morgan memasuki mobilnya, " Jalan! "
_-_
TBC!