
Rencana ingin menghabiskan waktu bersama teman, nyatanya Reyna malah asik berkeliling kota seorang diri.
Dengan banyaknya papper bag di tangan, Reyna melangkah sambil bersiul riang menuju rumah dengan tatapan tidak beralih dari belanjaannya.
" Perasaan tadi sedikit deh gue belanja. Kok sekarang jadi banyak ya? " Gumam Reyna terheran-heran.
" Gak apalah! Uang-uang gue, siapa yang mau marah coba? Boros juga wajar kok, kan cewek. Gak normal kalo cewek gak boros, " Ucap Reyna membela dirinya sendiri.
Sekepergiannya dari kantor David tadi pagi, awalnya Reyna hendak kembali ke rumah Nayara untuk menjemput. Tapi saat mobil mewahnya melewati toko-toko koleksi barang-barang remaja, Reyna pun tidak tahan untuk tidak mampir. Yang tadinya ingin menepi sesaat, eh.. Malah berkelanjutan sampai malam menjemput baru Reyna menghentikan aksi cuci matanya.
Reyna terus melangkah tanpa menyadari atmosfer di sekitar yang terasa begitu dingin dan mencengkram.
" Hello, keluarga-keluargaku. Angel datang!! " Teriak Reyna heboh.
Semua mata orang-orang yang terduduk di ruang keluarga menatap ke arahnya. Reyna yang di tatap dengan mata tidak bersahabat dibuat kebingungan, apalagi melihat lengkapnya keluarga mereka sekarang.
" Eh, kok? Ada apa? Serius amat mukanya, " Ucap Reyna melangkah ke arah mereka dan mendudukkan dirinya di samping Nayara.
" Nay, kenapa loe? " Reyna menyenggol lengan Nayara yang sejak tadi diam dengan kepala menunduk.
" Nay, "
Nayara mendongak, dia menggeleng sebagai jawaban.
Tidak puas dengan jawaban berupa gelengan kepala dari Nayara, lantas Reyna pun menatap keluarganya satu persatu.
Di sana ada kedua orangtuanya, orangtua Nayara, David, juga Morgan. Entah kemana Mikhayla dan Mikhael membawa Zaidan, Kia dan Aaron. Mungkin ini pertemuan khusus, makannya para anak-anak kecil tidak dibiarkan berkeliaran supaya tidak mengganggu.
" Dad, ada apa sih? " Tanya Reyna semakin merasa penasaran.
Bukannya menjawab, Marchel malah tetap bertatapan dengan Bram yang wajahnya merah padam.
Mengernyit, tidak sengaja tatapan Reyna tertuju pada cincin yang berada di jari manis tangan kiri Nayara.
" Woah.. Bagus banget cincin loe, Nay. Hebat. Cincin yang baru gue beli aja kalah sama punya loe, " Decak Reyna memegang tangan kiri Nayara.
" Dari mana, Nay? Baru beli ya? " Tanya Reyna.
" I-ini.. "
" Cincin pertunangan kami, " David melanjutkan perkataan Nayara yang menggantung.
Reyna tertohok. Refleks matanya menatap jari manis David yang ternyata terpasang cincin yang sama dengan desain yang berbeda.
" A-apa-apaan ini? N-nay, loe? "
Nayara kembali menunduk. Tangannya meremas ujung rok dengan mata terpejam kuat.
Reyna menggeleng. Tanpa menunggu lama Reyna bangkit dari duduknya dan membawa Nayara ke ruangan yang jauh dari ruang keluarga.
" Nay, jelasin sama gue! " Titah Reyna datar.
Nayara menutup wajahnya, tangisan yang sejak tadi dia tahan akhirnya pecah akibat ucapan Reyna.
" Hiks.. Hiks.. Aku, a-aku di paksa nikah sama Kakak kamu, hiks.. Angel, " Aku Nayara.
" Apa?! " Pekik Reyna. " L-loe, loe di paksa nikah?! "
Nayara mengangguk.
" Kenapa? Kenapa bisa? Bukannya loe sama Kak David udah selesai? Kenapa sekarang kalian— " Reyna tidak melanjutkan perkataannya. Dia mengusap rambut ke belakang dan kembali menatap Nayara serius.
" Bilang sama gue, Nay. Kenapa loe sama dia tunangan mendadak dan kenapa Daddy gue sama Daddy loe setuju aja dengan pernikahan paksa ini! "
Nayara mengusap air matanya kasar. Dia menatap Reyna dan mulai menceritakan kebenarannya.
" Siang itu..
...Kilas balik.....
" Da-dady, Daddy paksa Naya buat nikah? Sa-sama Kak David? " Ucap Nayara tidak percaya, bahkan matanya hampir berkaca-kaca.
" Ya, " Jawab Bram dingin.
" Ta-tapi kenapa? Naya, Nayara gak ada hubungan apa-apa sama Kak David, Daddy. Kenapa kita harus menikah? Ba-bahkan, bahkan Naya gak kenal Kak David yang sekarang. Hiks, Naya gak mau. " Tolak Nayara dengan air mata yang lolos dari kedua matanya.
Bram mengepalkan tangan, " Maaf, sayang. Ini permintaan Om kamu, " Lirih Bram.
" O-om? Om Marchel? " Tebak Nayara.
Bram mengangguk. Dia berdiri dan duduk di samping Nayara. Menggenggam kedua tangan putrinya dan menatapnya lembut.
" Ini permintaannya, Naya. Daddy tidak bisa menolak, karena kami mempunyai hutang budi kepadanya. " Kata Bram.
" Dulu, kami bisa menemukanmu karena bantuan Marchel. Jika bukan karenanya, kami mungkin tidak akan pernah menemukanmu, Naya. Dan sebagai balasan, Marchel tidak meminta apapun waktu itu. Tapi.. Tapi sekarang dia menagih imbalannya. Dia.. Dia ingin kau di miliki putranya, David. Nayara, "
Nayara membanting tubuhnya pada Elly dan memeluknya erat. Dia bahkan enggan menatap Bram yang telah memberikan penjelasan.
Nayara menangis meraung-raung dalam pelukan Elly. Dan Elly yang tidak tahan melihat kondisi putrinya lantas menatap Bram dengan mata berkaca-kaca.
" Dad, memang gak ada cara lain untuk membalasnya?Jangan nikahkan Naya, Dad. Dia tidak mencintai David. Tolong, tolong cari jalan lain. Tolong Dad.. Tolong. Aku tidak ingin putriku menderita dengan pernikahan ini, " Pinta Elly menatap Bram penuh harap.
Bram mengacak rambutnya frustasi. Menolak keinginan seorang Marchel sama saja dengan mengajaknya perang.
" Aku tidak tahu, aku tidak memiliki cara lain. " Lirih Bram menutup wajah dengan tangan.
" Begitu, hiks. Dan setelah bicara baik-baik pun Om Marchel tetap pada keinginannya menjodohkan kami, hiks. Bahkan kami sudah bertukar cincin, dan pernikahannya satu minggu lagi. Hiks. Bagaimana ini Angel? Hiks.. Bagaimana? Aku tidak ingin menikah dengan orang yang bukan pikihanku, hiks. Aku tidak mau, " Ucap Nayara setelah mengakhiri ceritanya.
Reyna memeluk Nayara dan mengusap punggung temannya yang terisak-isak.
" Tenang, Naya. Gue bantu loe kok. Gue akan bantu loe, sebisa gue. " Ucap Reyna berusaha menenangkan Nayara.
" Hiks... Ini semua karena Kak David! Hiks.. Aku yakin, dia yang meminta hal ini pada Om Marchel. Hiks, aku yakin itu. " Kata Nayara disela tangisnya.
Reyna melepaskan pelukan, dia sedikit menjauhkan badan dari Nayara yang mulai berhenti menangis.
" Loe balik ke mereka, gue mau ngomomg sama Bang David. " Nayara mengangguk. Kemudian pergi menuju ruang keluarga.
Setelah kepergian Nayara, dengan langkah lebar Reyna berjalan menuju kamar David yang pasti terisi pemiliknya.
Brak.
David dan Morgan yang baru saja mendudukkan diri di sofa lantas menatap terkejut pada kedatangan Reyna.
Dengan emosi yang memuncak, tanpa basa-basi Reyna menarik kerah kemeja David dan melayangkan satu tamparan di pipinya.
Plak.
Morgan terkejut, matanya membulat menatap David yang di tampar Reyna. Sementara David, dia hanya mengusap pipinya yang terasa panas dan menatap Reyna biasa.
Karena sejak awal dia sudah memprediksi jika Reyna akan berontak pada keputusannya.
" Loe apa-apan sih, Kak? Dengan loe paksa Nayara, hatinya juga bakalan loe dapatkan, gitu? Kalo masih cinta ya kerjar baik-baik! Bukannya dengan paksaan. Loe kira Nayara gak menderita karena perbuatan loe yang gak tahu tidak ini? Sadar, Kak! Loe paksa dia! Loe gak cinta dia, loe hanya terobsesi sama Nayara! " Bentak Reyna menujuk-nunjuk David.
" Sekarang hentikan ini. Loe nyakitin Nayara, Kak. Dia gak mau nikah sama loe, dan loe jangan paksa dia dong! Loe kira loe siapa? Mau ngancam dia? Ngambil dengan alasan balas budi? Hah, begoo. Loe kira semua janji bisa di tepati? Jika janji aja bisa di ingkari, maka balas budi pun bisa di hilangkan. " Ucap Reyna tekekeh sambil menatap David remeh.
" Kakak cinta Naya, Angel. " Kata David pelan.
" Tapi cinta gak harus egois kayak gini! " Teriak Reyna.
" Yang Kakak rasakan bukan cinta, itu obsesi, Kakak egois! Orang yang benar mencintai gak akan membuat cintanya menderita! Tapi Kakak bikin Nayara sakit hati! Kakak egois! Terobsesi! Cinta yang Kakak rasakan gila!! Ini gak wajar! "
Teriakan penuh emosi yang keluar dari mulut tipis Reyna menggelegar di seluruh ruangan. Morgan hanya menyaksikan, dengan David yang berubah menatap adiknya datar.
Sepertinya dia harus menjelaskan fakta yang diketahuinya kepada Reyna.
" Kamu kira Daddy dapatin Mommy dengan cinta? " Tanya David.
" Jangan mengalihkan pembicaraan, " Decis Reyna.
" Enggak, Angel. Daddy juga dapetin Mommy dengan rasa yang kamu bilang obsesi. Tapi.. Kamu lihat bagaimana mereka sekarang? Mereka bahagia, mereka hidup damai sampai tua. Tidak ada salahnya Kakak mengikuti langkah Daddy, bukan? "
Plak!
Lagi-lagi tangan Reyna mendarat di pipi mulus David.
" Loe gila, loe gak waras. Gue saranin loe lurusin otak loe, Kak. Loe mulai salah jalan, " Kata Reyna pelan.
" Mungkin mau gue jelasin sepanjang dan dengan cara apapun, loe tetep gak bakalan sadar. Tapi loe ingat ini baik-baik, David. Gue gak akan biarin loe, nikahin Nayara sampai kapanpun. Ingat itu baik-baik, " Ancam Reyna menunjuk Nayara.
David sedikir menegang, dia resah. Karena tahu jika ancaman adiknya itu tidaklah main-main.
" Angel— "
Tanpa mendengar apa yang ingin dikatakan David, Reyna berbalik dan melangkah pergi dari sana.
Brak!
David menatap pintu yang kembali tertutup. Dia duduk seraya mengusap wajahnya kasar.
" Ini gak benar, Vid. " Kata Morgan.
" Loe akan merasakannya saat hati loe terkunci hanya untuk satu orang, Morgan. Dan cara gila ini akan loe ambil saat cinta loe tak terbalaskan, " Ucap David tanpa menatap Morgan.
Gluk.
Morgan meneguk salivanya susah payah.
" Patah hatinya seorang pria benar-benar mengerikan, " Batin Morgan.
_-_
TBC!