
Mikhayla menatap Morgan dan Reyna secara bergantian. Memijit pelipis pusing dengan apa yang baru dilihat dan didengarnya.
Saat ini hanya ada dia, Mikhael, Reyna dan Morgan di sini. Zaidan dia suruh pergi ke rumah belakang dengan membawa Kia.
Pembahasan kali ini sangatlah serius. Apa yang dikatakan Morgan haruslah segera ditindak lanjuti. Karena Reyna dan Morgan sepupu, akan sangat sulit menyatukan mereka apalagi dengan rencana yang sudah dibuat keluarga untuk Reyna.
" Rain, " Panggil Mikhayla.
Reyna menelan salivanya gugup. Tangannya meeremas rok guna meredam rasa gugupnya. Dengan mengumpulkan keberania dia mendongak menatap Mikhael dan Mikhayla yang duduk di depannya.
" Y-ya? "
" Apa kamu juga.. Mencintai Morgan? "
Deg.
Genggaman Reyna pada rok spannya semakin mengencang. Dadanya naik turun dengan sorot mata gelisah dan hal itu tentu disadari Morgan yang duduk di sebelahnya.
" Mungkin untuk saat ini belum. Tapi Mommy tahu aku yang mencintai Nana, " Morgan menjawab dengan lantang.
" Jadi.. Morgan mohon do'a restunya, "
Plak!
Geplakan di bahu Morgan dapati dari tangan cantik Reyna. Gadis itu menatapnya seolah ingin memakannya hidup-hidup.
Di situasi tegang seperti ini bisa-bisanya Morgan mengeluarkan lelucon. Sungguh pria itu. Dan Reyna baru ingat, Morgan yang sekarang adalah Morgan yang remaja dulu. Sangat mesumm dan menyebalkan. Jadi hal seperti ini seharusnya tidak aneh lagi.
" Na, sakit tahu. Main pukul aja loe ih, jahat loe sama suami. "
" Mulut loe.. Morgan, " Geram Reyna menggertakkan giginya.
Morgan menggerutu sedengan mata menatap Reyna kesal.
Mikhael dan Mikhayla saling tatap, mereka yang melihat tingkah aneh Morgan berfikiran macam-macam termasuk menerka-nerka mungkinkah ingatan putra sulung mereka itu telah kembali?
" Mommy kamu serius Morgan. Kamu jangan main-main! " Seru Mikhael tegas.
" Hah.. Kapan Mor main-main sih, Dad? Perasaan daritadi serius deh. Serius Morgan sama Reyna, " Balas Morgan dengan ekspresi wajah lelah.
" Abang, " Panggil Mikhayla.
" Ya? "
" Ingatan kamu.. "
Senyuman Morgan mengembang, " Abang ingat segalanya, Mom. Abang ingat masa lalu bareng Reyna, David, Rey, Arzan, Erza, semuanya. Maaf, waktu hilang ingatan sikap Mor kayak gitu sama kalian. Maaf banget, "
Deg.
Mikhayla memundurkan punggungnya sampai menyandar di sandaran sofa. Ekspresi khawatir yang ditunjukkan dari wajahnya membuat Reyna menatap aneh.
Bukankah seharusnya Mikhayla senang jika putranya mendapatkan kembali ingatannya? Tapi kenapa ini?
Mikhael berdehem.
" Kapan? " Tanyanya pada Morgan.
" Waktu di luar negri, Dad. "
" Kamu berobat? " Tanya Mikhael lagi yang diangguki Morgan.
" Abang, " Mikhayla kembali menegakkan duduknya menatap serius pada putra dan keponakannya.
" Siapa lagi yang tahu tentang ini? " Tanya Mikhayla serius.
Morgan dan Reyna saling tatap dengan wajah bingung.
" Cuman Mor, Nana sama Arzan, " Jawab Morgan ragu-ragu
" Gak ada lagi? "
" Enggak. Mor kan baru pulang hari ini, Mom. Belum sempat mengabari Oma, Opa, Om dan mamah mertua. "
Helaan nafas lega terdengar jelas dari mulut Mikhayla.
" Kenapa, Mom? "
" Dengarkan Mommy baik-baik, "
Morgan dan Reyna menatap Mikhayla serius.
" Jika kamu memang serius pada Rain, dan jika kalian memang ingin tetap bersama tanpa mau dipisahkan, rahasiakan kembalinya ingatan kamu. Cukup kita yang tahu. Ingat Morgan, kamu jangan memberitahu siapapun lagi termasuk orang-oranh di rumah utama. Mengerti? "
" Tapi kenapa Mom? Bukannya ini berita baik? " Tanya Morgan heran.
" Morgan menurutlah! " Tanpa sadar Mikhayla membentak.
" Abang tidak ingin dipisahkan dengan Rain bukan? Maka turuti perkataan Mommy! "
Reyna meletakkan telapak tangannya pada punggung tangan Morgan membuat pria itu menatapnya. Reyna mengangguk kecil berharap Morgan mengerti isyarat darinya.
Morgan kembali menatap ibunya.
" Okay. Tapi beri tahuu alasan yang bisa Morgan mengerti, " Ucap Morgan.
Mikhayla menarik nafasnya panjang.
" Opa kamu tidak akan merestui. Dia telah memilih oranglain untuk dijadikan menantunya. Calon suami Rain, "
Morgan sedikit tertohok dengan perkataan Mikhayla. Reyna juga sama terkejutmya dengan tangan tanpa sadar mencengkram tangan Morgan yang sedang dipegangnya.
" Tidak akan aku biarkan, " Decis Morgan marah.
" Makannya kamu menurut jika tidak ingin dipisahkan! " Ujar Mikhael.
" Sepandai-pandainya kita menyembunyikan bangkai, tetap baunya akan tercium juga. " Balas Morgan.
" Selama apapun kita mencoba menyembunyikannya, tetap Kakek sialan itu akan mengetahuinya. "
" Morgan! " Bentak Mikhael.
" Jaga ucapanmu! Seburuk apapun dia tetap Kakek kamu. Bersikap hormatlah kepadanya! Ingat, jangan membenci orangtua. "
" Terserah, "
Reyna menghembuskan nafas lelah. Dia mengusap punggung tangan Morgan bermaksud untuk membuatnya tenang.
Setelah dirasa Morgan tenang, Reyna memalingkan pandangannya pada Mikhayla lalu berucap:
" Kami akan menyembunyikannya. Angel berjanji, " Reyna berucap tanpa keraguan.
π π π π π
" Menurut loe apa yang sedang si Kakek peyot itu rencanakan? " Tanya Morgan pada Reyna yang berdiri di sampingnya.
Setelah perdebatan singkat dengan mengantongi restu bersyarat dari Mikhael dan Mikhayla, Reyna dan Morgan kini berada di balkon kamar Morgan.
Cuaca sedikit mendung, karena itulah mereka memilih menikmati semilar angin yang agak-agak dingin karena tidak adanya cahaya matahari.
" Gue gak tahu, " Balas Reyna sembari menatap indahnya taman bunga di bawah sana.
" Jangan mau, Na. "
Reyna melirik Morgan sekilas, " Apanya? "
" Jangan mau kalo mereka jodohin loe. Loe itu jodohnya cuman gue, "
" Gue gak bakalan mau kok, "
" Bagus, "
" Karena gue gak bakalan nikah, "
" Baβ Apa?! " Pekik Morgan menatap Reyna terkejut.
" Maksud loe apa dengan bilang gak bakalan nikah, Na? Loe gak ada niatan jadi perawan tua kan? " Tanya Morgan beruntun.
" Iya. Gue gak akan menikah, "
Morgan masih menatap Reyna dengan ekspresi terkejutnya.
" Na, "
" I'm not perfect, Morgan. "
" Gue gak peduli, " Geleng Morgan.
" Loe gak bakalan punya keturunan kalo pilih gue, "
Deg.
" Dan gue juga gak mau jika harus di madu hanya untuk mendapatkan keturunan, " Lanjut Reyna.
" Jadi.. Gue gak akan menikah dengan siapapun. Entah itu loe, atau oranglain. " Tambahnya.
Morgan membalik kasar tubuh Reyna membuat sang pemilik tersentak.
" Katakan yang sebenarnya, Reyna. Jangan buat gue semakin gak tahan, " Tegas Morgan memegang kasar kedua pundak Reyna.
" Gue.. Gagal jadi perempuan. Gue.. Gak bisa punya anak, Morgan. "
Mata Morgan memerah dengan sedikit berkaca-kaca. Bibirnya berulangkali dia lipat dan terbuka seakan ragu-ragu untuk berbicara.
Melihat kebungkaman Morgan membuat Reyna terkekeh miris. Anak memang salah satu alasan kita menikah bukan? Dan tanpa anak pernikahan itu akan terasa hampa walaupun hidup dengan pasangan yang kita cinta.
Bukan salah Morgan jika kini fikirannya ragu untuk melanjutkan atau tidak.
" Udah, Mogan. " Reyna menyingkirkan kedua tangan Morgan pelan.
" Loe gak usah khawatir gue akan menikah dengan pria pilihan Opa, karena itu tidak akan pernah terjadi. Dan gue juga lega bisa jujur sama loe perihal ini. Lebih baik jujur sekarang daripada nanti loe menyesal setelah banyak berjuang, bukan? "
" Dengar Morgan, " Reyna sedikit berjinjit guna menangkup wajah Morgan.
" Loe adik sepupu gue, dan gue Kakak sepupu loe meskipun usia loe lebih tua dari gue. Mommy loe adik Daddy gue, dan mereka mempunyai orangtua yang sama yaitu Opa Alex dan Oma Lyandra. Jika loe kekeh ingin melanjutkan hubungan ini bahkan setelah tahu kekurangan gue, loe akan menyesalinya. Selain telah mengecewakan mereka, loe juga gak bakalan bahagia. "
" Jadi Morgan, mari akhiri. Gue akhiri kisah singkat kita dengan kata maaf. Maaf karena dengan tidak tahu dirinya gue mencintai loe dan berharap lebih, "
" Maaf, " Ucap Reyna sebelum melangkah pergi meninggalkan Morgan.
Kekurangan menyadarkannya di waktu yang tepat.
Ini bukan salah Reyna yang mencintai Morgan, bukan juga salah Morgan yang kembali jatuh cinta pada Reyna.
Yang salah adalah keadaan. Jika saja keadaan tidak seperti ini, akan lebih baik mereka tidak dipertemukan saja setelah kecelakaan itu. Atau.. dipertemukan setelah Morgan memiliki istri. Itu akan jauh lebih baik.
Memutuskan untuk berhenti di sini adalah keputusan yang tepat. Baik Reyna maupun Morgan tidak akan menderita jika dipersatukan dalam ikatan pernikahan.
Mungkin sekarang anak memang belum dipermasalahkan. Tapi nanti, tentu itu akan menjadi masalah.
Mikhael dan Mikhayla butuh cucu, begitu juga dengan Morgan yang memerlukan keturunan. Sementara dirinya? Reyna yang akan tersudutkan karena tidak bisa memilki anak.
Maka dari itu Reyna memilih sakit sekarang ketimbang sakit di masa depan. Sakit hatinya di masa kini mungkin akan cukup lama, namun seiring berjalannya waktu rasa itu akan menghilang juga.
Sementara jika Reyna melanjutkan, sakit itu akan dia temui di masa depan bahkan lebih dengan adanya kritikan serta desakan banyak orang belum lagi jika Morgan memutuskan mendua.
Akan lebih sakit nanti bukan?
Reyna tersenyum di setiap langkahnya sembari membatin:
" Bukan karena sikap beejat loe yang membuat gue menjauh. Tapi karena kekurangan gue. Morgan, loe gak akan bahagia jika pilih gue. Kepergian gue demi kebahagiaan loe, Morgan. Gue yakin loe bisa bahagia, bahagia meskipun tanpa gue. "
...__________-___________...
...P E R F E C T I O N ...
...You Are Perfect In My Eyes...
_-_
TBC!
Tahan tahan.. Jangan esmosi. Memang seperti ini alurnya.
Di cerita PERFECTION bukan hanya Morgan yang kurang sempurna, tapi Reyna juga.
Jadi mereka ada untuk saling menyempurnakan, bukan menyalahkan akan apa yang kurang sempurna dari diri masing-masing.
Salam hangat, Author jarang senyumπ