
Benar yang dikatakan banyak orang, semua pekerjaan tidak ada yang tidak melelahkan.
Itu yang Reyna rasakan di hari pertamanya bekerja. Di suguhkan dengan ruangan yang berantakan juga banyaknya kertas penting dan kertas sampah yang menyatu membuatnya harus bolak-balik bertanya pada Gavin.
Selama berbenah tak henti-hentinya Reyna menggerutu sekedar menyumpah—serapahi mantan sekretaris Gavin yang kelewatan jorok dalam mengurus ruangan.
Bahkan Reyna sempat berfikir, apakah yang menjadi mantan sekretaris Gavin dulu sungguh seorang perempuan?
" Wanita jadi-jadian kali dia, " Ucap Reyna mencibir.
" Ah.. " Desah Reyna berdiri membusungkan dada dengan tangan disimpan di kedua pinggang.
" Lelah hayati, " Keluhnya mendrama.
Reyna menyeka keringat yang meluncur dari dahi, tubuhnya kembali membungkuk melanjutkan pekerjaan yang belum terselesaikan.
" Perlu bantuan? " Terlihat Gavin menyender di ambang pintu.
Reyna menatapnya sinis, " Kenapa tidak sejak tadi Anda ke mari sih, Pak CEO? " Sindirnya.
" Ayo sini! Angkat kardus ini dan simpan di pojok ruangan, " Titah Reyna kembali menegakkan tubuhnya.
" Hanya kamu sekretaris yang berani memerintah bosnya, " Sindir Gavin namun tak urung menuruti perintah Reyna.
" Sudah. Apa lagi? "
Reyna menatap banyaknya tumpukan berkas yang belum dia selesaikan.
" Hah.. Auto mengundurkan diri sekarang gue, " Desahnya lelah.
" Eh, jangan dong. Masa baru pertama kerja udah mau keluar aja, "
" Kerja jadi sekretaris serasa jadi babu ya? Di suruh beres-beres, " Ceplos Reyna memandang Gavin tanpa sungkan.
Gavin terkekeh, " Sudah biarkan saja dulu, nanti aku suruh asisten yang membenahinya. Ayo, sebaiknya kita makan! Ini sudah waktunya makan siang, " Ajak Gavin menarik tangan Reyna.
" Eh tunggu, "
Reyna melepaskan tangannya dari genggaman Gavin dan beralih membawa paper bag yang diberikan Bella pagi tadi.
" Ini aja, " Tunjuk Reyna.
Alis Gavin terangkat satu, " Itu apa? "
" Mommy buatin aku bekal karena takut makan yang aneh-aneh. Buat kamu juga ada kok, " Ungkap Reyna.
" Buat aku? " Tunjuk Gavin pada dirinya sendiri.
" Iya, "
Gavin mengangguk, " Ayo makan bersama! Mau di kantin apa di sini saja? "
" Kantin aja deh. Karena terburu-buru aku lupa nyiapin minumnya, jadi nanti di sana sekalian beli, "
" Okay. Ayo! "
Dengan senang hati Reyna membuntuti Gavin.
🍃 🍃 🍂 🍃 🍃
Sesampainya di kantin perusahaan yang sangat ramai Reyna dan Gavin berkali-kali melemparkan senyum pada beberapa pekerja yang menyapa mereka. Gavin memang di kenal sebagai bos yang ramah dan baik, namun akan terasa menyeramkan jika dia marah dan ada karyawan wanita yang secara terang-terangan menyodorkan diri padanya.
Memilih salah satu meja untuk dijadikan tempat makan mereka, Reyna ditinggal duduk sendiri karena Gavin memesan minuman untuk mereka berdua.
Sembari menunggu Gavin, Reyna mulai membuka paper bag itu dan menyajikan berbagai makanan sehat yang Bella siapkan untuk mereka santap.
" Angel, "
" Terima kasih, " Ucap Gavin pada pegawai itu.
" Buat makanlah, " Gavin menjawab peryanyaan Reyna beberapa saat yang lalu.
" Ya kan di wadahnya langsung juga bisa, Pak CEO. Suka banget nambah kerjaan orang, " Kata Reyna berakhir mencibir.
" Sudah jangan bawel. Mana makannya? Ayo, aku sudah lapar! "
Reyna mendecis, dia tersenyum dan mulai menyajikan makanannya pada piring Gavin juga dirinya.
" Selamat makan, Pak CEO. "
" Terima kasih, sekretaris cantik. "
Keduanya terkekeh sebelum mulai menyantap makanan masing-masing.
Karena mereka yang terlalu sibuk pada dunia mereka sendiri sampai-sampai Reyna maupun Gavin tidak menyadari jika kini keduanya menjadi pusat perhatian banyak karyawan.
Tidak hanya memandang mereka berbinar dengan mengatakan serasi, banyak juga yang menatap mereka tidak suka dengan bisikan mencibir.
" Siapa? "
" Itu sekretaris baru Pak Gavin kalo gak salah, "
" Cantik ya? "
" Iya. Ganjen juga, "
" Baru sehari kerja udah bisa ngejerat CEO aja. Manjur juga ramuannya, "
" Harus berguru gue sama dia, "
" Percuma cantik kalo dilakuin buat ngegoda orang. Apalagi ini bos sendiri, ih jijik. "
" Kelihatannya dari awal mereka udah deket deh. Gue tahu karena pernah lihat mereka keliling perusahaan, bahkan sampai lihat sunset bareng. "
" Teman maksud loe? "
" Mungkin, "
" Atau jangan-jangan emang pacarnya kali, "
" Pacaran sama cewek modelan begitu pasti banyak maunya, "
" Kasihan Pak Gavin, "
" Heh, kalian jangan asal menyimpulkan! Siapa tahu kan, mereka hanya teman dan si Pak Bos menawari wanita itu kerjaan karena pengangguran. "
" Cantik sih, gue akui. Banget malahan, "
" Tapi kalo di lihat-lihat cocok juga mereka, "
" Cih, cocok apanya. "
Begitulah sekiranya bisikan-bisikan dari para penggemar Gavin di kantor. Dan sayangnya Reyna maupun Gavin sendiri tidak mendengar dan sibuk makan sesekali berbincang diakhiri tawa dari keduanya.
Banyak yang memandang kebersamaan mereka tidak suka, tentunya karena di sini banyak penggemar seorang Gavin, CEO tampan baik hati.
Bahkan mereka yang pernah diperlakukan baik oleh Gavin pun menjadi salah faham dan semakin sebal melihat kebersamaan Bos kesayangannya dengan si sekretaris baru.
" Perlu gue kasih pelajaran biar tahu diri, " Ucap seseorang memandang mereka marah.
_-_
TBC!