Crazy Cousin

Crazy Cousin
Sudahi


" A-apa.. Apa-apaan ini?!! "


Teriakan Morgan mengundang banyak perhatian. Seluruh kamera tersorot padanya jika saja Marchel dan Mikhael tidak ambil langkah cepat dengan memerintah bawahan mereka untuk mengamankan semua media yang ada.


" Morgan? " Gumam Mikhayla menatap putranya khawatir.


Bella yang tidak tahu apa-apa hanya terdiam bingung dengan Oma Lyandra dan Opa Alex menahan nafas melihat kehadiran Morgan.


" Ada apa ini, Kak David? " Tanya Nayara merapatkan tubuhnya pada David.


" Aku juga tidak tahu, " Balas David menggeleng. Tatapan David bertemu dengan wanita yang berada disamping Morgan.


" Apa karena dia? " Terka David dalam hati.


Rey menatap aneh ke arah Morgan yang seperti sedang dilanda marah tanpa sebab. Sedetik kemudian dia terkekeh sinis saat menyadari sesuatu.


" Selain aku, kau juga mengalami kesialan yang sama rupanya, dude. " Ucap Rey menyeringai.


Gavin melepaskan pelukannya dari Reyna. Dengan ekspresi ceria disertai tangan yang melambai Reyna mengapa:


" Oh, hai sepupu! "


Nafas Morgan memburu, tangannya terkepal kuat melihat Reyna yang dengan wajah tak berdosanya berkata seakan tidak terjadi sesuatu yang besar antara mereka.


" Reyna, " Ucap Morgan menggeram.


Wanita yang masih merangkul lengan Morgan sama dibuat bingungnya dengan reaksi pria itu.


" Kenapa? " Tanya wanita itu yang sama sekali tidak dihiraukan Morgan.


Morgan melepas kasar tangan wanita itu dari lengannya dan dengan langkah cepat dia menghampiri Reyna.


Semua orang dibuat berdebar takut dengan raut wajah Morgan yang seakan hendak menerkam siapa saja. Namun itu tidak berarti bagi Reyna yang saat ini santai-santai saja berada dibalik punggung Gavin setelah pria itu amankan.


" Berhenti, " Gavin menahan dada Morgan yang hendak mendekat.


Tatapan tajam milik Morgan bertemu dengan sorot mata tenang milik Gavin.


" Jangan membuat keributan di sini. Pesta pernikahan David jauh lebih penting daripada kemaraan tidak jelasmu, " Lanjut Gavin.


" Semua orang melihat, " Tambah Gavin berbisik tepat di telinga Morgan.


Morgan mengedarkan pandangannya dan benar saja semua mata tertuju padanya bahkan Marchel, Mikhael, Opa Alex dan Oma Lyandra menatapnya tajam.


Morgan menarik nafas kasar, dia kembali menatap Reyna dan tanpa kata menarik pergelangan tangan gadis itu membawanya pergi dari area pesta.


Gavin hendak menyusul namun pundaknya ditahan Marchel. Membuatnya memilih menurut saat melihat calon ayah mertuanya menggeleng.


" Ecel, ambil alih! " Titah Opa Alex memberikan mic pada Marchel dan beralu bersama Oma Lyandra dari sana.


Marchel menepuk-nepuk mic sebentar dengan pandangan mengedar.


" Saya mewakili seluruh keluarga meminta maaf akan ketidaknyamanan yang kalian rasakan. Untuk camera dan media lainnya akan kami kembalikan sepulang kalian dari acara kami. Selamat menikmati pestanya. Terima kasih, "


" Dad? "


Marchel menggeleng, dia menarik tubuh Bella perlahan dan pergi menyusul Opa Alex dan Oma Lyandra begitupula dengan Mikhael dan Mikhayla.


Sementara Gavin diam menatap mereka dengan hati sedikit kesal lantaran gadis yang baru saja menjadi tunangannya dibawa pergi pria lain.


" Sialan, " Maki Gavin.


" Gavin? " Olive, Ibu dari Gavin datang menghampiri.


" Kenapa? Ada apa ini? "


Gavin mengedikkan bahunya tidak tahu.


" Kalian baru sampai bukan? Sebaiknya makan dan istirahat. Ayo! " Ucap Gavin membawa keluarganya ke ruangan berbeda.


Sebelum benar-benar pergi dari sana tatapan Gavin sempat jatuh pada wanita yang datang bersama Morgan barusan.


" Siapa dia? " Ucap Gavin dalam hati.


Nayara masih memegang lengan David dengan tubuh yang dirapatkan.


" Kak David.. "


Tatapan David lantas terfokus pada istrinya, " Kenapa? Kamu mau apa? "


" Mau bakso, " Pinta Nayara malu-malu.


David sedikit kebingungan, " Bakso? " Ulangnya memastikan.


Nayara mengangguk antusias, " Tapi pengen yang pedes, yang ekstra pedas. "


" Gak, "


" Nanti besok saja, ya? Sekarang sudah malam, " Bujuk David.


" Maunya juga sekarang, " Ketus Nayara.


" Yang pedas gak baik loh buat dede bayinya, sayang. "


Nayara tersipu mendengar kata terakhir yang terucap dari mulut David. Apalagi dengan nada lembut membuat hatinya semakin tidak kuat saja.


" Cie.. Malu, "


" Ish, " Kesalnya menepuk lengan David yang malah cekikikan.


" Tapi, ada apa dengan Angel dan Kak Morgan barusan ya? " Tanya Nayara penasaran.


" Mungkin mereka ada urusan, " Balas David acuh.


" Urusan? " Ulang Nayara. " Mungkinkah Kak Morgan marah karena Angel bertunangan mendadak? Dengan Kak Gavin? " Lanjutnya masih penasaran.


" Ck, jangan repot urusin hidup orang! Lebih baik kau fikirkan bagaimana membuatku puas sebelum dokter menyusuhku berpuasa, "


Nayara mendelik, " Dasar, "


Dari kejauhan sepasang mata menatap mereka sendu.


" Kenapa harus secepat ini? " Gumamnya meringis pedih.


🍃 🍃 🍂 🍃 🍃


Reyna menghempas tangan Morgan yang sejak tadi mencengkram pergelangan tangannya dengan kasar.


" Jangan kasar bisa? "


" Apa tadi? "


Reyna mendengus, " Apa lagi? "


" Reyna! " Bentak Morgan.


Reyna melipat bibirnya ke dalam, dia mendongak menatap Morgan dengan tatapan sayu.


" Kita sudahi saja, ya? Loe dengan dunia loe, dan gue sama dunia gue. Karena sadar atau tidak, kita tidak saling membutuhkan. "


" Apa maksud loe? " Tekan Morgan geram.


" Morgan, mari berhubungan secara sehat! Bukan lagi diam-diam, tapi terbuka layaknya sepupu pada umumnya. "


" Reyna! "


" Gue terima lamaran Kak Gavin, "


" Loe gila! " Teriak Morgan. Habis sudah kesabaran Morgan dalam menghadapi Reyna.


" Gue capek, bukan gila. Gue gak mau digantung terus, loe kira gue jemuran?! " Bentak Reyna.


" Semakin dewasa gue semakin sadar, yang gue butuhkan itu kepastian, bukan janji atau omong belaka. Jadi Morgan, semoga loe mendapatkan yang lebih dari gue. "


" Enggak! " Tolak Morgan mencengkram kuat bahu Reyna menatapnya dengan mata melotot.


" Yang gue mau cuman loe, loe Reyna Angelica. Hanya loe, " Tekan Morgan disertai wajah resahnya.


" Tapi gue capek. Gue gak mau hubungan gak jelas apalagi gak sehat kayak gini, "


" Gue suruh loe sabar, Reyna. Gue suruh loe sabar sampai— "


" Sampai loe menemukan pengganti gue, gitu? Loe mau gue berbuat bodoh dengan menunggu loe yang gak pasti dan menolak Kak Gavin yang jelas-jelas lamar gue. Setelah itu, loe nemuin cewek lain dan gue hanya bisa nangis dipojokan meratapi kebodohan. Gitu kan mau loe? "


" Gue— "


" Tapi itu gak akan terjadi, Morgan! Dari awal gue sadar kalo hubungan kita ini gak bener, ini toxic. Tolong hargai keputusan gue. Gue, mau kita hentikan hubungan gak jelas ini dan loe, jangan ganggu gue lagi. "


Cengkraman tangan Morgan dibahu Reyna melemas dan lepas dalam hitungan detik. Matanya menyorotkan rasa sakit dan kecewa terhadap keputusan yang Reyna ambil.


Reyna menatap Morgan sekilas, setelah itu pergi meninggalkannya begitu saja.


" Mungkin ini takdir yang ditulis Tuhan untuk kita, Morgan. Loe kenangan indah yang gak mungkin bisa gue lupakan. Dan loe, juga kenangan pahit yang selalu gue ingat sebagai penguat. Terima kasih dan sampai jumpa, Morgan Eduardo. " Ucap Reyna dalam hati disetiap langkahnya dalam meninggalkan Morgan.


Morgan merenung ditempatnya. Tatapannya terlihat kosong dan dalam hitungan detik tubuhnya merosot ambruk di atas lantai.


" Gak bisa. Loe gak bisa nyakitin gue kayak gini, Reyna. Gak bisa, " Geleng Morgan dengan air mata jatuh membasahi pipinya.


Titik terendah bagi seorang pria adalah disakiti wanita yang benar-benar dicintainya. Namun mereka tidak sadar, sakit hatinya pria sangatlah berbahaya.


_-_


TBC!