
Reyna mengetuk ruangan Gavin, kemudian masuk setelah mendapat jawaban dari dalam.
" Kak Gavin, kenapa? " Tanya Reyna saat matanya bertatapan dengan Gavin yang terduduk di atas sofa ditemani sebuah kaleng soda ditangannya.
Gavin menatap Reyna lama, membuat yang ditatap mengernyitkan alisnya bingung.
" Duduk sini! " Titah Gavin menepuk tempat kosong disisinya.
Reyna menurut. Dia mendaratkan bookongnya disamping Gavin dan menerima sodoran kaleng soda yang dibuka langsung oleh tunangannya itu.
" Bagaimana hubunganmu dengan Morgan, Angel? " Tanya Gavin sembari meneguk minumannya sekilas.
" Morgan? Biasa saja, tidak ada yang special. " Balas Reyna santai.
" Hem, " Angguk Gavin. " Lalu, apakah pria itu melakukan sesuatu untuk mengganggumu? Tidak mungkin Morgan menerima pertunangan kita begitu saja, bukan? "
Reyna menatap Gavin semakin bingung.
" Kakak kenapa sih? Sudah aku bilang hubungan aku dan Morgan telah berakhir, lagian kami juga tidak memiliki hubungan yang jelas sebelumnya. " Ucap Reyna sedikit kesal.
" Kok marah? Aku cuman tanya loh, Angel. "
" Ya tapi tanyanya gitu! Kamu seolah gak percaya sama aku, ngeraguin aku bahkan mungkin kamu juga fikir aku selingkuh gitu? " Semprot Reyna menatap Gavin semakin kesal.
" Buβbukan gitu, akuβ "
" Terserah deh! Males jadinya. Percuma aku ngomong juga kamu pasti gak bakalan percaya, " Potong Reyna.
" Aku mau pulang aja deh! Setelah ini juga gak ada kerjaan, kan? Bye! " Lanjut Reyna berdiri dari duduknya. Namun sebelum dia melangkah Gavin dengan cepat menariknya duduk kembali dan menggenggam tangan Reyna erat.
" Tunggu dulu, dengerin aku Angel. Aku gak bermaksud menuduhmu atau meragukan kesetiaanmu. Aku hanya khawatir saja, aku tahu kalian masih saling cinta maka dari itu aku harus siaga. Percayalah Angel, aku sungguh mencintaimu. Aku ingin memilikimu dan tidak ingin melepasmu setelah mendapatkanmu. Aku serius, " Jelas Gavin panjang lebar.
" Tapi Kakakβ "
" Iya, aku egois. Aku egois dengan tidak memikirkan perasaan kamu dan gak mau kamu terus cinta sama Morgan. Aku mau mulai sekarang kamu buka hati untuk aku. Bisa? "
Reyna menatap Gavin dengan bibir tertutup.
" Akan susah, tapi aku usahakan. " Balas Reyna tersenyum manis.
Gavin ikut tersenyum bahagia.
" Peluk? "
Reyna mengangguk. Dia jatuh ke dalam pelukan Gavin ketika pria itu merentangkan tangannya.
" Akan terasa sulit tapi.. Aku yakin bisa. Morgan hanya masa lalu yang seharusnya tidak menjadi sebuah kenangan. Dan ini, Kak Gavin adalah masa kini dan masa depanku. " Batin Reyna memejamkan mata dalam pelukan Gavin.
Sementara dibalik kaca, seseorang mengapalkan tangannya melihat dan mendengar obrolan mereka.
" Ms Angel, dia milikku. " Ucap orang itu dalam hati.
π π π π π
Ketika bulan sudah memancarkan sinarnya, Morgan bersama Arzan sedang dalam perjalanan menuju kediaman Alexander. Malam ini Kakek-kakek tua sialan itu mengundangnya bahkan Arzan untuk makan malam. Sepertinya keluarga besar yang tidak meretui hubungannya dengan Reyna itu akan merayakan pesta, bersenang-senang diatas penderitaannya.
" Besok loe ada meeting penting, 10. " Ucap Arzan mengingatkan.
Morgan dengan punggung menyender pada sandaran kursi dan mata yang tertutup hanya berdehem sebagai balasan.
" Besoknya juga meeting lagi, 7. "
" Hem, "
" Tapi lusa dikit sih, cuman 15. "
" Okay, "
" Okay doang? " Tanya Arzan dengan nada nyolot.
" Lalu? " Balas Morgan tenang.
" Loe, sebenernya setelah lusa loe mau ke mana sih? Sampe ambil cuti segala, mana panjang lagi 5 bulan. Gila kali, terus kantor siapa yang urus Morgan. " Geram Arzan.
" Pertanyaan itu udah yang kesekian kalinya, Arzan. " Ucap Morgan membuka mata. " Dan jawabannya sama. Gue mau refreshing, mumet otak gue stay di sini terus. "
" Refreshing ke mana loe? Bilang aja mau lari dari kenyataan, "
" Itu tahu, " Jawab Morgan acuh sambil kembali menyenderkan tubuhnya disandaran jok.
Diam-diam Morgan menyeringai, " Loe tahu bisa bahaya. Jadi ada baiknya gue gak libatin loe, Arzan. " Ucap Morgan dalam hati.
Saat Morgan hendak memejamkan mata bermaksud ingin bersantai, matanya tidak sengaja melirik kaca spion depan dan menemukan hal yang menurutnya janggal.
Mata Morgan memicin, dia menatap setiap gerak gerik mobil di belakang mereka yang seperti sedang mengikuti mereka. Mata tajamnya berusaha menembus kaca depan hitam pekat milik mobil itu supaya bisa melihat si pengemudi.
" Cowok. Dan pakaiannya... "
" Arzan, setelah pesta tunggu gue di taman. " Ucap Morgan tiba-tiba.
" Hah? Oh, okay. "
Morgan membenahi duduknya, " Tambah sedikit kecepatannya! "
Sopir menatap Morgan lewat kaca spion, " Baik, Tuan. "
Mobil itu pun semakin cepat menuju kediaman Alexander dan dapat Morgan lihat mobil yang dibelakangnya pun turut menambah kecepatan bahkan ikut menyalip mobil-mobil sebelumnya.
π π π π π
Seperti yang Morgan duga, Opa Alex si tua bangka itu mengadakan pesta lumayan besar di gazebo luas dekat kolam renang samping rumah.
Hiasan di sana cukup mewah dengan banyaknya lampu klelap-klelip serta meja-meja bulan kecil yang di atasnya sudah tersedia dua jus dan dua soda. Dalam acara yang melibatkan para wanita keluarga Alexander memang tidak pernah mengikut sertakan alkohol atau hal berbahaya lainnya. Cukup makanan dan minuman yang ringan-ringan saja.
" Morgan, sudah datang? " Mikhayla dengan alat pembalik steak datang menyambut.
" Mom, "
" Boy, bantu daddy! " Panggil Mikhael yang sedang menyiapkan kursi-kursi bersama Marchel dan Rey.
" No, bantu Oma sini! " Sahut Lyandra yang sedang mengupas buah dengan Bella.
" Ayo main sama Adek aja, " Ucap Kia menarik tangan Kakaknya.
Arzan menyapa Opa Alex terlebih dahulu sebelum ikut bergabung bersama Marchel, Rey dan Mikhael yang tampak kewalahan memyiapkan kursi-kursi.
Sementara Morgan mengikuti langkah adiknya menuju tempat di mana di dalamnya terdapat Reyna dan Aaron. Di atas rumput yang hanya beralaskan permadani plastik Reyna tampak duduk menyamping bersama Aaron dengan banyaknya mainan yang mengelilingi mereka.
" Hai, Kakak jelek. " Sapa Aaron tanpa rasa takut. Tentu saja, karena ada Reyna.
" Hai, Aalon lebih jelek. " Sapa balik Morgan dengan suara menirukan nada bicara bocah kecil itu.
" Ish, " Kesal Aaron melipat kedua tangannya di dada.
Morgan melirik Reyna yang pura-pura sibuk seperti tidak peduli akan kehadiran dirinya. Baru saja Morgan duduk di permadani plastik itu, Gavin datang dengan sepiring cemilan ditangannya.
" Ini dia makanannya, " Seru Gavin ceria.
" Yey!! " Sorak Aaron dan Kia senang.
" Makasih Kakak ganteng yang lebih ganteng dari Kak Morgan jelek, " Celetuk Aaron.
" Heh bocah! "
Gavin tertawa, " Sama-sama, "
" Terima kasih Om tampan, " Ucap Kia.
" Masama cantik, " Balas Gavin menjawil dagu Kia gemas yang langsung disentak oleh Morgan.
" Kuman tangan loe, "
Dengan lugunya Gavin mentap tangannya lalu kembali menatap Morgan seraya berkata, " Bersih kok, "
" Angel, cuci dulu ikannya nanti busuk! " Teriak Oma Lyandra.
" Ah, baik Oma! " Balas Reyna.
Reyna menatap Gavin dan Morgan sekilas sebelum berdiri dari duduknya dan melangkah memasuki rumah yang langsung diikuti Morgan.
Ketika Gavin hendak pergi juga, Kia dan Aaron menarik-narik tangannya mengajak bermain sehingga Gavin hanya bisa menatap kepergian Reyna dam Morgsn dalam diam.
_-_
TBC!