Crazy Cousin

Crazy Cousin
Keputusan Sepihak


" Ayo.. Kita jalani saja dulu, "


Deg.


Perkataan Morgan sukses membuat Reyna menatapnya terkejut. Dengan satu kali gerakan dia mendorong Morgan hingga pria itu terjerambab di atas lantai dengan dirinya langsung beranjak meninggalkan ranjang.


" Saya tahu kamu juga ingin! "


Reyna yang baru melangkahkan kakinya beberapa langkah mendadak berhenti namun tidak membalikkan tubuh.


" Kamu juga suka Saya, Reyna. Saya tahu kamu cinta, "


Tangan Reyna mengepal dengan nafas tidak teratur. Memejamkan mata diiringi menghela dan menghembuskan nafas pelan, Reyna membalikkan badannya.


" Kata siapa? " Tanya Reyna menatap Morgan. " Kata siapa gue suka loe? "


" Jangan munafik, " Decis Morgan.


Lagi-lagi Reyna menghembuskan nafas pelan sebelum menjawab.


" Gue akui gue pernah suka sama loe, Morgan. Tapi itu dulu, itu dulu sebelum loe hilang ingatan dan menjadi liar. "


" Jadi keliaran Saya yang membuat kamu tidak suka? " Morgan menggeram.


" Loe salah, " Ucap Reyna. " Loe salah jika menganggap itu alasan satu-satunya, "


" Gue mengerti zaman. Di zaman sekarang bukan lagi hal tabu bagi pria memainkan hati wanita bahkan tubuhnya, gue tahu mesti tidak sudi mengikutinya. "


" Itu sudah menjadi masa lalu Reyna. Sudah Saya katakan sejak ada kamu rasanya Saya tidak lagi berselera selain padamu. Saya mau kamu, tubuh juga hatimu. " Ucap Morgan menekankan dengan geraman yang masih terdengar jelas.


" Tapi Morgan, bukan itu alasan gue memilih lupain loe. Ada hal lain yang lebih penting dari masa lalu loe, " Balas Reyna lirih.


" Apa? Apa alasan kamu sampai menutup hati? Mungkin Saya tidak mengingat kenangan lama kita, Saya juga tidak mengetahui kesalahan apa yang dulu Saya perbuat sehingga kamu menjauh dari Saya. "


" Tapi Reyna, percayalah. Hanya kamu yang bisa membuat Saya uring-uringan tidak jelas. Hanya kamu yang bisa membuat jantung Saya berdebar setiap kali berada di dekatmu dan, hanya dengan kehadiranmu Saya bisa beristirahat di setiap malamnya. Hanya kamu, " Ungkap Morgan tulus.


" Apa itu masih tidak cukup untuk membuktikan jika Saya, memang benar-benar mencintaimu Reyna? "


Reyna mengatupkan bibirnya dengan pandangan yang tidak lepas dari Morgan.


" Na, "


" Gue gak bisa, " Geleng Reyna. " Gue gak bisa Morgan, gue gak bisa! " Teriaknya.


Morgan memejamkan matanya, dia kembali menatap Reyna sedikit tenang.


" Beri Saya alasan yang jelas, "


" Gak. Gak ada. Gue gak bisa, "


" Beri Saya alasan kenapa kamu tidak menerima Saya Reyna! " Bentak Morgan pada akhirnya.


Habis sudah kesabaran Morgan dalam menghadapi Reyna. Dia akan jujur pada perasaan, Morgan akan jujur pada dirinya ketimbang bimbang karena ingatannya yang tidak turut kembali.


Morgan senang saat Reyna mengakui pernah menyukainya walaupun dulu. Itu berarti dugaannya selama ini memang benar, mereka memiliki masa lalu special melebihi hubungan saudara sepupu.


Dan Morgan juga yakin, cinta itu masih ada dalam hati Reyna meskipun sedikit. Jika perempuan itu berniat menghilangkannya, maka itu percuma. Karena setelah ini Morgan tidak akan mengalah, cinta itu akan dia buat semakin besar sampai Reyna sendiri yang mengakuinya.


" Gue gak bisa, " Kata Reyna lirih sembari menundukkan kepalanya.


" Gue gak bisa Morgan. Hiks, gue gak bisa. "


Melihat gadisnya menangis membuat Morgan mengesampingkan rasa kesalnya dan beralih membawa Reyna kedalam dekapannya.


" Gue gak bisa Morgan, hiks. Gak bisa, "


Morgan mengusap kepala Reyna dalam diam.


" Hiks.. Hiks.. "


" Stt.. Sudah-sudah. Lupakan ucapanku, lupakan saja. "


Reyna mencengkram piama bagian dada Morgan dengan isakan semakin terdengar jelas. Membuat hati Morgan berdenyut sakit saat mendengarnya.


Saat isakan Reyna tidak lagi terdengar setelah sekian lama, Morgan menunduk dan menemukan gadisnya ternyata tidur.


Senyuman terbit di ujung bibirnya walaupun kecil. Mengecup kening Reyna penuh sayang dan merebahkan tubuh langsing gadisnya di atas ranjang dengan dirinya yang ikut berbaring menyelusupkan kepala Reyna di dada.


" Ini memang terdengar sedikit gila. Tapi Reyna, kamu punya Saya. "


🍃 🍃 🍂 🍃 🍃


Reyna mengerjapkan matanya. Tidurnya merasa terganggu karena sebuah tangan yang terus menelusuri setiap inci dari wajahnya serta menyelipkan helayan rambut yang menghalangi wajahnya.


" Eung, "


" Sudah bangun? "


Dengan kasar Reyna menoleh ke atas, dapat dilihatnya Morgan dengan rambut acak-acakan khas bangun tidur yang sialnya malah terlihat sangat tampan dan sexy di mata Reyna.


" Mo-morgan? Loe? "


" Tangan Saya pegal Na, " Adu Morgan sedikit menggerakkan tangannya yang masih tertindih Reyna.


Mengetahuinya dengan cepat Reyna bangkit mengubah posisi menjadi duduk di samping Morgan yang masih berbaring dengan setengah badan menyandar pada sandaran ranjang.


" Auch, " Ringis Morgan merenggangkan tangan kanannya yang sejak semalam dijadikan bantal oleh Reyna.


" So-sorry. Loe sih, ngapain tidur di kamar gue? Kan tahu gue tidurnya urakan, " Cicit Reyna di akhir kalimat.


Morgan malah tersenyum.


" Tidak apa-apa. Saya justru senang, "


" Terserah! "


" Na, "


" Hem, " Balas Reyna masih di posisi yang sama dengan mata bertatapan langsung dengan iris hitam Morgan.


" Ucapan Saya semalam, jangan di pikirkan. " Katanya.


" Oke, " Balas Reyna setelah berfikir sejenak.


" Namun jangan juga dianggap omong kosong, "


" Hah? " Beo Reyna.


Bukannya pria itu menyuruhnya tuk jangan dipikirkan? Berarti sama saja dengan jangan dianggap serius bukan?


" Apa yang Saya ucapkan semalam adalah kebenaran. Dan Saya, ingin kamu menjadi milik Saya. Hanya, milik, Saya. " Tekan Morgan menatap Reyna dengan tatapan tidak ingin dibantah.


Reyna terdiam dengan fikiran berkelana.


" Morgan, " Panggil Reyna setelah lama diam.


Morgan menanti kelanjutan ucapan Reyna.


" Kenapa harus gue? " Tanya Reyna menatap Morgan sendu. " Kenapa harus gue yang loe tempatkan di posisi ini? Kenapa gak perempuan lain saja? "


" Karena kamu yang Saya inginkan, "


" Apa yang membuat loe menginginkan gue? "


" Semua, "


" Masih banyak perempuan di luar sana yang lebih sempurna dari gue. Dari seluruh yang gue miliki. Kenapa gak mereka saja? Gue yakin, tanpa loe paksa kayak gini pun dengan senang hati mereka akan menerima. " Ucap Reyna.


" Yang lebih sempurna di mata Saya hanyalah kamu, " Tunjuk Morgan.


" Bullshit! "


" Itu faktanya, "


Reyna menghela nafas, " Gue akui gue cantik. Tapi loe tahu? Banyak yang lebih cantik dari gue, "


" Kamu yang paling cantik, "


" Banyak juga yang lebih menggoda dari gue, "


" Saya tidak peduli, "


" Mor please, " Lirih Reyna. " Udah gue bilang gue gak bisa. Please, please jangan tempatin gue di posisi kayak gini. Gue gak mau, loe gak boleh paksa gue. "


" Saya bisa, "


Reyna menatap Morgan lelah.


" Jangan, jangan lagi. "


" Lagi? Berarti dulu pun Saya yang memaksakan hubungan ini, right? " Tanya Morgan menyeringai.


Reyna menggigit pipi dalamnya merutuki kebodohan.


" Jika dulu saja saat Saya paksa bisa mendapatkan hati kamu, kenapa sekarang tidak? "


" Morgan! "


Morgan menegakkan tubuhnya dan memegang kedua pundak Reyna. Posisi mereka saat ini sangatlah dekat.


" Turuti perkataan Saya. Sekelam apapun masalalunya, sekuat apapun alasannya, seberat apapun kendalanya dan seharus apapun konsekuensi yang akan dihadapi kedepannya, kita lalui bersama. Kita selesaikan bersama dan kita akan bahagia bersama, "


" Kau, dan aku, kita. Mengerti? " Ucap Morgan menatap mata indah Reyna dalam-dalam.


Reyna bungkam. Fikirannya masih diselimuti akan alasan terkuat dirinya tidak menerima pengakuan Morgan serta respond keluarga besarnya saat mengetahui hubungan mereka nanti.


" Mengerti? " Tekan Morgan tanpa sadar mencengkram bahu Reyna.


Reyna tersentak, menatap iris hitam yang sedikit berarir dengan ekspresi kesakitan.


" Mo-morgan. L-loe, loe sakitin gue. "


" Mengerti?! "


" Gue— "


" Reyna mengerti?! "


" Morgan sakit, "


" Reyna! "


" Iya! " Sahut Reyna tanpa sadar.


Reyna mengatakannya karena terlanjur sakit akibat cengkraman Morgan yang kian menguat.


Brugh.


Saat itu juga kepalanya terbenam dalam dada bidang Morgan. Pria dengan senyuman puas di bibirnya itu mengusap bahkan mengecup pucuk kepala Reyna dengan rasa yang mendalam.


" Sadar atau tidak, kata iya yang terlontar dari mulutmu menjadi pertanda terbukanya sebuah pintu kebersamaan tanpa ujung. Sekarang kamu milik Saya, Reyna. Milik Morgan Eduardo, "


_-_


TBC!