
Reyna merebahkan tubuhnya di atas ranjang dengan posisi tengkurap. Tangannya memeluk bantal dengan kepala tenggelam di dalamnya.
Hari ini adalah hari yang paling melelahkan. Di mulai dari bangun kesiangan, macet di jalanan, mengetahui jika ingatan Morgan telah kembali, ajakan Morgan untuk menikah, dan kesadaran akan kekurangannya sebagai wanita yang membuat segalanya berantakan.
Reyna memejamkan matanya dengan tangan mencengkram erat. Ingin menangis namun air mata tak turut datang juga. Mungkin karena sakit yang dia rasa teramat sangat membuat batinnya lelah dan air mata yang sepertinya sudah menyerah.
" Untuk yang terbaik, Angel. " Gumam Reyna sebelum terbang ke alam mimpi.
🍃 🍃 🍂 🍃 🍃
David duduk di atas sofa yang berada di kamarnya dengan tangan mengepal. Matanya terpejam dengan gemuruh amarah terlihat jelas dari cara dia menghembuskan nafas.
" Rey, " Gumam David menggertakkan gigi. " Sepertinya aku harus segera mengambil tindakan cepat, "
" Jangan gegabah, " Marchel menimpali.
Sejak tadi Ayah tiga anak itu memang berada di kamar putra sulungnya. Dia tahu Nayara ditarik kembali oleh keluarganya karena kedatangan Rey yang mendadak. Membuat David yang hendak kembali ke apartementnya memilih tinggal di kediaman Alexander.
" Bagaimana jika pria itu sudah tahu namun pura-pura tidak tahu? " Tanya David.
" Kau meragukan Daddymu? "
David diam.
" Berapa waktu yang kau berikan untuk istrimu? "
" Tiga hari, " Jawab David.
" Hanya tiga hari? "
" Aku tidak ingin berpisah lama darinya, "
" Bagaimana jika Nayara membutuhkan waktu lebih? Memberitahu orang keras kepala seperti Rey mengenai hubungan kalian bukanlah perkara yang mudah, "
" Lebih baik ketimbang membuat Rey semakin semena-mena, "
" Apa maksudmu? "
" Pria itu masih mencintai istriku, "
" Apa?! " Pekik Marchel tertahan.
" R-rey, mencintai adik kandungnya sendiri? " Ucap Marchel tidak habis fikir.
" Aku ingin Daddy membantu. Jika dalam waktu tiga hari istriku tidak berani berkata juga, kita yang akan mengatakannya. Dan pastikan dia tidak bisa membawa istriku menjauh dariku setelah mengetahui kenyataannya, " Tekan David.
Marchel memijit pelipisnya.
" Tidak semudah itu, Boy! Kau jangan meremehkan kemampuan Daddy, namun jangan juga memerintah seenaknya. "
" Aku tidak peduli, "
" Hishh.. Anak itu, "
David mengarahkan tatapannya pada dinding di depan. Dia bukan orang sabaran, bukan juga orang yang takut berperang. David bersumpah, jika dalam tiga hari Nayara tidak berani berkata juga, maka dia sendiri yang akan datang memberitahu Rey dan mengajak istrinya pulang.
" Aku bersumpah, " Batin David bertekad.
Tok.. Tok..
Suara ketukan pintu membuat fokus David dan Marchel teralihkan.
" Masuk! " Ucap David.
Seorang pembantu wanita paruh baya datang menghadap.
" Tuan, ada Den Morgan di bawah. " Ucapnya pada Marchel.
" Lalu? "
" Beliau ingin berbicara pada Anda, "
Marchel mengerutkan keningnya bingung lalu mengangguk.
" Saya segera ke sana, "
Pembantu itu mengangguk. Dia sedikit membungkukkan tubuhnya sebelum beranjak pergi dari sana.
" Ada apa dengan sepupumu? "
David mengedikkan bahunya tidak tahu.
" Daddy ke bawah, " Kata Marchel sebelum beranjak pergi.
" Hem, " Balas David.
Di bawah sana, Marchel dapat melihat Morgan yang terduduk di ruang keluarga seorang diri. Karena saat ini di rumah hanya ada dia, David dan Reyna yang baru pulang. Istrinya menjemput Aaron ke sekolah dengan kedua orangtuanya yang berkunjung ke rumah Bella.
" Om, "
" Ada apa? " Tanya Marchel setelah duduk di hadapan Morgan.
" Ini tentang Reyna, "
" Angel? " Beo Marchel. " Kenapa dengan Angel? "
" Apa yang terjadi kepadanya sebenarnya? "
Marchel semakin dibuat bingung.
" Kau ini bicara apa? "
" Reyna bilang.. Dia tidak bisa mengandung, "
Deg.
" Apakah itu benar? " Lanjut Morgan bertanya.
" Ya. Angel memang tidak bisa punya anak, " Jawab Marchel setelah mengetahui maksud ucapan Morgan.
Kini giliran Morgan yang dibuat terkejut.
" Ba-bagaimana bisa? "
" Karena sebuah kejadian di masa lalu, rahim Angel terluka dan dokter bilang dia tidak bisa punya anak dulu. "
" Dulu? "
" Angel salah mengartikan. Karena terlalu terkejut dia menyangka jika dirinya memang tidak bisa mengandung. Namun setelah diselidiki lebih lanjut, untuk saat itu memang Angel tidak bisa dulu mengandung karena rahimnya mengalami sedikit masakah akibat kejadian itu. Tapi untuk sekarang, mungkin putriku bisa mengandung jika mengikuti beberapa tes dan terapi. " Jelas Marchel.
Raut bahagia tidak bisa Morgan sembunyikan. Ketakutannya dan trauma pernikahan yang Reyna rasakan rupanya hanya kesalahfahaman semata.
Bukan Morgan tidak menerima keadaan Reyna, hanya saja semua harus terbukti jelas. Walaupun nanti Reyna benar-benar tidak bisa mengandung, bukan masalah bagi Morgan. Kehadiran wanita itu saja sudah lebih dari cukup untuknya. Dan mengenai masalah anak, mereka bisa mengadopsinya bukan?
" Tapi.. Kenapa kau mendadak menanyai itu, Morgan? Kenapa juga Angel memberitahumu tentang sesuatu yang dia sembunyikan dan anggap tidak penting? " Tanya Marchel memicinkan mata.
Morgan membenahi duduknya dan menatap Marchel dengan pandangan serius.
" Sebenarnya Saya.. Menginginkan Reyna, " Ucap Morgan tanpa keraguan.
Deg.
Marchel hampir bangkit dari duduknya. Matanya melebar dengan pandangan mendadak tajam pada iris tenang Morgan.
" Jaga kata-katamu, Morgan. Kau bisa membuat oranglain salahfaham! "
" Saya serius Om. Saya menginginkan Reyna, Saya ingin dia menjadi wanita satu-satunya yang menemani masa tua Saya kelak. "
" Kalian, sepupu. " Tekan Marchel masih belum mengalihkan pandangannya dari Morgan.
" Saya tahu. Tapi Saya ingin Reyna, " Balas Morgan. " Pernikahan antar saudara sepupu masih diperbolehkan dalam Agama kita bukan? Mungkin kami masih memiliki ikatan darah, tapi itu sah sah saja selama bukan saudara kandung. " Lanjutnya.
" Kalian tidak mempunyai ikatan darah asal kau tahu. Tapi masalahnya.. " Marchel membatin.
" Om? "
" Tidak bisa! " Tegas Marchel. " Om tidak bisa menyerahkan putri kesayangan Om pada pria sepertimu, " Lanjut Marchel menatap Morgan jijik.
Morgan mengepalkan tangannya saat tahu maksud dari perkataan Marchel.
" Saya tahu Saya baajingan tidak tahu malu yang menginginkan gadis suci seperti Reyna. Tapi Saya mohon Om, Saya benar-benar menginginkan Reyna dan Reyna pun sama mencintai Saya. Hanya saja, masalahnya yang dia anggap kekurangan menjadi penghalang dia menerima Saya. "
" Reyna berkata, Saya harus bahagia meskipun tanpa dia. Tapi dia lupa Om, bahwa kebahagiaan Saya adalah dia. Saya hanya menginginkan dia, hanya Reyna. "
Marchel semakin menatap Morgan tajam.
" Berani sekali kamu, "
" Saya mohon, "
" Tidak akan! " Bentak Marchel berdiri dari duduknya.
" Om! "
" Saya tidak akan pernah menyerahkan Angel kepada kamu meskipun kau memohon-mohon sekalipun, Morgan. " Ucap Marchel final.
Morgan menghela nafas sabar.
" Sepertinya cara baik-baik tidak cocok untuk orang seperti Anda, " Kata Morgan menatap Marchel tanpa gentar.
" Apa maksudmu?! " Bentak Marchel.
" Kita sama, Om. Sama-sama terjun dalam dunia gelap. Meskipun setelah menikah Om tidak lagi terlibat, Om juga sama saja seperti Saya. "
" Kamu— "
" Maaf jika harus mengingatkan. Namun baajingan, tidak akan menyebut orang lain baajingan jika dia pernah menjadi seorang baajingan. "
" Morgan! "
" Om jangan munafik. Sama seperti Om yang berhenti setelah menemukan Aunty Bella, Saya juga berhenti setelah hadirnya Reyna. " Ungkap Morgan jujur.
" Tidak percaya? Om bisa mengutus orang untuk mengawasi Saya, "
" Jadi Om, Om tahu sabarnya orang itu ada batasnya. Dan Saya berkata kurang sopan juga karena muak dengan apa yang Om katakan. Saya tidak akan menyangkal karena apa yang Om katakan memang ada benarnya. Tapi.. Karena kita sama sebaiknya itu bukan masalah, "
" Beraninya kau! "
" Saya sudah meminta Reyna baik-baik, namun itu tidak disambut baik oleh Om. Jika Saya harus meminta Reyna secara kasar, Saya bisa melakukannya. Om tahu, Saya bisa berbuat nekat. Saya bisa melakukan hal, yang membuat kalian akan meminta Saya bertanggung jawab untuk Reyna. "
" Keterlaluan! "
" Fikirkan baik-baik ucapan Saya, Om. Jika Om kuat, Saya bisa lebih kuat. Dan jika Om gila, Saya juga bisa menjadi lebih gila jika itu menyangkut Reyna. "
" Saya permisi, "
" Morgan!! " Amuk Marchel yang tidak dihiraukan oleh Morgan.
Morgan melangkah menuju kamar Reyna tanpa memperdulikan Marchel yang mengamuk di bawah sana.
Sekarang tidak ada lagi keraguan dibenaknya. Morgan akan mendapatkan Reyna apapun dan bagaimanapun caranya. Dia mungkin tidak sempurna, Reyna juga. Tapi ketidak sempurnaan itu tidak akan membuatnya mundur dari keinginannya.Justru ketidak sempurnaan merekalah yang akan membantu bersatunya Morgan dan Reyna.
Kekurangan ada untuk disempurnakan. Morgan kurang sempurna, dan Reyna yang akan menjadi penyempurnanya. Begitupun sebaliknya.
Di bawah sana, Marchel mengamuk. Dia menendang apapun yang dapat ditendangnya dengan rambut acak-acakan karena jambakan tangannya sendiri.
" Morgan, " Marchel menyebut nama Morgan dengan nafas memburu.
Berusaha menenangkan emosinya, Marchel kembali mendudukkan diri di atas sofa dengan otak berfikir keras akan apa yang selanjutnya dia lakukan juga ancaman Morgan yang sepertinya tidak terlihat main-main.
" Bukan itu yang membuatku menolakmu, Morgan. Ada hal lain yang akan menghalangimu meskipun aku menerimamu, " Gumam Marchel.
🍃 🍃 🍂 🍃 🍃
Morgan membuka pintu kamar Reyna yang tidak terkunci. Hal pertama yang bisa dilihatnya begitu menginjakkan kaki ke dalam adalah Reyna yang tertidur dengan posisi tengkurap menghadapnya.
Senyuman tipis hadir diujung bibir Morgan. Dia mendekat dan ikut naik ke atas ranjang membenahi posisi tidur Reyna.
" Eung, " Reyna melenguh saat tubuhnya dibalik Morgan. Usapan di ubun-ubun membuat Reyna kembali terlelap tanpa terganggu.
Morgan mengambil selimut dan menutupi tubuhnya dan tubuh Reyna sebatas pinggang. Setelah dirasa posisi mereka nyaman, Morgan pun ikut berbaring dengan membawa kepala Reyna menelusup di dadanya.
Cup.
Kecupan hangat penuh sayang Morgan berikan di kening Reyna. Bibirnya mendekat ke telinga kiri Reyna dan membisikan sesuatu:
" Mereka menyembunyikan sesuatu, Na. Gue yakin akarnya ada di si Kakek sialan itu. "
" Tapi loe gak usah khawatir. Selama loe dan gue mempunyai keinginan yang sama, kita berdua bisa melawannya bersama-sama. "
Morgan mulai memejamkan mata dengan mendekap tubuh Reyna erat. Tak lama dia pun pergi menyusul Reyna ke alam mimpi.
_-_
TBC!