Crazy Cousin

Crazy Cousin
Selesai Di Sini


Morgan diam dengan mimik wajah datarnya. Sedangkan Reyna yang terduduk tepat di depan Morgan tampak cemas dengan tangan yang saling membelit di bawah sana.


Tadi Reyna meminta izin pada Morgan dengan mengatakan jika sore ini dia akan keluar bersama Gavin. Di tanya mau ke mana dia menjawab jalan biasa. Namun sekarang Morgan malah diam tanpa melarang ataupun mengizinkannya pergi.


Reyna was-was, takut-takut Morgan melarangnya. Namun jika dilarang dia diam saja maka salah besar! Siapa Morgan yang berani mengatur hidupnya?


" Pulangnya jam berapa? " Tanya Morgan setelah lama bungkam.


" Eum.. Katanya agak maleman. Dia mau pergi ke kota kelahirannya, jadi hitung-hitung perpisahan. " Jelas Reyna.


Semoga Morgan mengerti saja. Dan pertumpahan darah pun tidak diharuskan terjadi.


" Ya udah, "


" Hah? " Otak cerdas Reyna loading dibuatnya.


" Ya udah iya. Loe minta izin kan? Iya, gue izinin. Asal jangan lewat tengah malem pulangnya, " Jelas Morgan.


" Serius?! " Pekik Reyna berdiri kasar.


" Hem, " Jawab Morgan mengangguk satu kali.


Mata Reyna membola antusias. Saking senangnya dia sampai tidak sadar berlari dan memeluk Morgan erat. Jangan lupa dengan dirinya yang dengan lancang duduk di atas pangkuan Morgan.


" Yey!! Makasih Sepupu!! Ahh sayang deh gue, "


" I-iya, "


" Serius deh Mor, makasih banget. Gue kira loe gak bakalan ngizinin tadi. Soalnya kan kalo menyangkut Kak Gavin, loe sensi mulu bawaannya. " Ungkap Reyna dengan tangan masih mengalung di leher Morgan sambil menatap wajahnya dari jarak agak jauhan dengan wajah Morgan.


" Ekhm. N-na, posisi loe bikin gue tegang. " Ucap Morgan susah payah.


" Apa? " Tanya Reyna polos.


Morgan dengan kaku menatap ke bawah. Saat itulah Reyna sadar. Dia meloncat dari atas pangkuan Morgan dengan wajah memerah.


" So-sorry. Kelewatan sengeng gue, jadi gak sadar. He he.. "


Morgan menatap miliknya yang bereaksi sejak tadi.


" Kenapa bangun? Gimana cara gue nidurinnya? Tidur lagi ya, Sob! Udara dingin. Gak baik, " Gumam Morgan.


Entah semerah apa wajah Reyna. Apalagi melihat tatapan Morgan yang tidak beralih dari sellangkangannya sendiri.


" K-kok bangun? Gila ih. M-masa di tinndih dikit langsung bangun. Me-mesum lu! "


" Normal, na. " Jawab Morgan mengambil bantal sofa dan menyimpannya di atas pangkuan.


" Sana! Udah sore juga. Sebaiknya loe siap-siap kalo mau perpisahan, " Usir Morgan.


" I-iya. Mor, sorry yah? " Ucap Reyna merasa tidak enak.


" Santai. Udah sana! Atau loe mau bantuin gue nidurin? "


" Ya enggaklah! Dasar gila! " Sungut Reyna berlari menuju kamarnya.


Brak!


Tawa Morgan menggelegar di ruang tengah. Sementara di kamarnya Reyna menyembunyikan kepala di antara dua bantal. Malu sekali dia dengan kejadian barusan.


_____-______


" Aku gak tahu bisa ke sini lagi atau enggak. Karena di sana keluarga membutuhkanku, dan perusahaan Papa juga membutuhkanku. Kini aku adalah tulang punggung keluarga, yang harus kembali membuat ekonomi keluargaku stabil. Aku janji, Angel. Di hari kelulusanmu, aku usahakan datang. " Ucap Gavin menatap Reyna sendu.


Reyna terdiam untuk beberapa saat. Entah kenapa perpisahaan ini seperti perpisahaan yang akan terjadi cukup lama. Mereka tidak akan bertemu untuk jangka waktu panjang.


Kenapa feeling itu ada?


" Angel? "


Reyna tersadar. Dia menormalkan ekspresinya dan menatap mata Gavin.


" Kelulusan? Maksudnya nanti aku keluar SMA? "


" Hem. Maaf, aku tahu waktunya lama. Tapi bagaimana lagi? Sudah saatnya aku berguna untuk orangtuaku. Sudah cukup aku menjadi beban sampai sebesar ini. Kini waktunya aku membalas budi. Angel, ku harap kamu tidak marah. "


Reyna tersenyum.


" Kenapa marah? Justru aku bangga sama kamu, Kak. Pemikiranmu sesuai dengan usiamu. Dewasa, " Ucap Reyna.


" Benar, kamu benar Kak. Sudah saatnya kamu menjadi berguna bagi keluargamu. Jika tidak dalam segi ekonomi, bahagiakanlah mereka dengan kehadiranmu. Aku tahu kamu lama tidak pulang karena studymu, kan? "


" Kini kamu pulang dengan membawa gelar dan kemampuan. Bisnis Papa mu sedang di ambang kehancuran. Tapi aku yakin, kamu akan bisa mengembangkannya dan menjadi seorang pengusaha terkenal. Aku yakin itu, aku tahu kamu mampu melakukannya. "


Gavin tersenyum. Dia sedikit menunduk menatap meja bundar yang terdapat beberapa cemilan dan minuman pesanan mereka.


" Dulu saat masa remaja, aku spelekan uang. Kata hemat tidak ada dalam kamusku. Aku terus berbuat sesukaku dan menghambur-hamburkannya untuk hal tidak berguna. Tanpa tahu betapa sulitnya Papaku menghasilkan uang. "


" Sekarang aku jadi mengerti, dunia berputar. Aku yang sejak lahir tidak pernah kekurangan ekonomi, kini berubah drastis setelah Papaku sakit-sakitan. Sejak itu aku sadar, bahwa sudah saatnya menjadi berguna. Akanku lupakan semua tujuan awalku dan berbelok pada kesejahteraan keluargaku. Maaf, Angel. Kamu memang penting bagiku. Tapi jika dibandingkan dengan keluarga, aku tidak bisa terus menunggu dan setia di sisimu. " Ungkap Gavin.


Mata sendunya membuat Reyna meleleh. Dia tersenyum dan menggenggam tangan Gavin.


" Jangan berkata begitu, Kak. Aku tahu, aku sadar diri. Bahkan seharusnya kamu tidak menungguku yang sampai sekarang pun belum bisa memberimu kepastian. Maaf. Dan akanku tekankan jika aku sama sekali tidak benci ataupun sakit hati dengan keputusanmu. Aku bangga, justru aku bangga terhadapmu. " Ucap Reyna.


" Masalah perasaan, biar Tuhan dan Takdir-Nya yang menentukan. Jodoh tidak akan kemana. Jika memang kamu terlahir untukku, pasti kita akan berjodoh. Pasti kita akan bertemu dengan hatiku yang sudah menjadi milikmu. Itu pasti, "


Senyuman mereka merekah. Bahkan Reyna dan Gavin tertawa kecil pada satu sama lain dengan tangan yang saling menggenggam di atas meja.


" Terima kasih kamu mau mengerti aku, Angel. Terima kasih. Dan maaf setelah ini aku tidak bisa lagi berada di sisimu, maaf. "


" Tidak.. Tidak masalah. Hilang Gavin, ada Morgan. Ha ha.. " Tawa Reyna.


Gavin berdecis. Namun dia tetap tersenyum hangat pada gadis di depannya. Tanpa bisa ditahan tangannya terangkat mengusap kepala Reyna.


" Jika saat aku kembali hatimu justru berlabu pada pria lain, akanku coba terima. Karena sejatinya, cinta sejati hanya akan kembali pada pemiliknya. "


Malam itu mereka habiskan dengan kebersamaan yang manis. Meskipun enggan meninggalkan, namun pria dewasa itu memiliki tanggung jawab sebagai seorang anak. Dia pria, anak pertama. Sudah pasti beban keluarga harus dia yang tanggung menggantikan sang Ayah.


Gavin harus kembali. Kesenangannya sudah cukup sampai di sini. Sekarang dia harus pergi untuk kembali. Akan dia kembangkan perusahaan dan cabang-cabang perusahaan milik Papanya hingga menjadi besar.


Setelah sukses, akan kembali dia pada rumahnya. Reyna, rumahnya yang sesungguhnya.


____-_______


Matahari mulai naik ke atas bumi. Di kantin, terlihat tiga gadis yang sedang melahap makan siangnya. Siapa lagi jika bukan Reyna, Nayara dan Freya.


" Pagi tadi Kak Gavin pergi. Sebelum pergi, dia nyuruh gue ngucapin kata maaf buat loe, Frey! Maaf katanya, gak bisa nemuin loe sebelum dia pergi. Mendadak soalnya, bokapnya sakit. " Ucap Reyna.


Freya menunduk lemas, " Tapi sama loe dia sempetin waktu kan, Gel? " Gumamnya.


" Apa? "


" Hah? E-enggak. Gue gak tahu aja dia pergi dari sini. Soalnya Kak Gavin gak ngabarin gue sebelum ini, he he.. "


" Iya. Dia juga ngabarinnya mendadak, " Balas Reyna sambil mengunyah.


Freya tersenyum singkat.


" Ay!! Ayang!! "


Ketiganya menoleh pada David yang berteriak-teriak dengan menggusur dua orang yang mereka ketahui adalah anggota Osis.


" Kenapa Kakak loe, Gel? "


" Eum.. Privasi kayaknya. Frey, cabut yuk! Naya, gue sama Freya duluan yah. Bye! " Reyna menarik tangan Freya dan pergi meninggalkan Nayara.


Reyna tahu, pasti David ingin menjelaskan kesalahpahaman antara mereka. Maka dari itu Reyna memberikan waktu berdua untuk mereka.


" Apa? " Tanya Nayara biasa. Bahkan dia tidak beranjak dari duduknya.


" Loe gak percaya kalo gue ngomong langsung. Yang soal kemarin, biar mereka aja yang jelasin. Woi, ngomong! " Ucap David menyenggol lengan temannya.


Kedua pria itu saling bersampingan dan menunduk di hadapan Nayara yang menatap mereka bergantian.


" Ya sudah, ayo katakan! Aku tidak punya banyak waktu. Sebentar lagi bel masuk berbunyi, "


" Iya, Ay. Bentaran kok ini. Buruan! " Titah David.


Salah satu dari mereka maju satu langkah. Dia mendongakkan kepalanya menatap Nayara.


" David benar. Ini salah faham. Dia gak jadiin loe taruhan kok, beneran. "


David tersenyum mendengarnya. Setelah ini, pasti hubungannya dengan My Ara kembali membaik.


" Tapi dia jadiin loe pelampiasan. Waktu itu dia gak bisa dapetin Shelly, makannya deketin loe dulu supaya Shelly cemburu dan mau sama dia. Gitu, "


Deg.


Bukan hanya Nayara, bahkan David pun tersentak dengan ucapan temannya barusan.


" Heh loe apa-apaan? Jangan ngadi-ngadi yah?! Bukan gitu ceritanya gooblok! " Teriak David marah.


" Kan loe bilang harus jujur, Vid. Ini kita udah jujur loh, salah lagi? " Balas yang satunya.


" L-loe, loe berdua apaan sih? Gak gitu ceritanya nyiing! Kalian tahu, ngapain pakek ngarang segala? Loe mau gue bantaii, hah?! " Bentak David dengan mata merah.


Kekhawatiran dan ketakutan akan kehilangan Nayara terlihat jelas di mata David. Bukan ini yang dia harapkan, bukan seperti ini kenyataannya. Bukan.


Dengan tubuh sedikit gemetar David menghampiri Nayara dan menggenggam kedua tangannya.


" Ay, ayang. Dengerin gue. Loe bilang kita harus saling percaya kan? Iya kan? Please kali ini percaya gue.. Please. Ini salah faham, apa yang mereka katakan bukan kenyataannya ay. Sumpah, bukan gini ceritanya. Please percaya gue.. Please, " Mohon David.


Bahkan David sampai menempelkan tangan Nayara di keningnya.


" Ay? "


" Aku percaya kok, Kak. " Ucap Nayara.


" Ay, serius? " Tanya David girang.


" Hem. Kemarin di chat Kakak suruh aku percaya kan? Sekarang aku percaya. Aku percaya sama pengakuan mereka. Sungguh, aku percaya kok. "


" E-enggak, bu-bukan itu. Maksud gue— "


" Meskipun mereka bohong, aku gak peduli. Benar tidaknya tentang masalah kemarin, bukan lagi prioritasku untuk memperbaiki hubungan kita. Karena hubungan tanpa kejujuran, dan hubungan yang aku sendiri pun minim kepercayaan kepada Kakak, gak bakalan berhasil! Sebelum menyebar lebih banyak penyakit hati, sebelum rasa ini tumbuh kian membesar, kita sudahi saja. Selesai sampai di sini, "


Jedar!


David mundur ke belakang. Kepalanya menggeleng lemah. Di depan umum, di depan banyaknya siswa-siswi yang sedang menatap mereka sambil makan, air mata David jatuh. Jatuh karena Nayara.


Seorang David Alexander yang digilai banyak wanita menangis hanya karena seorang Nayara si gadis biasa. Banyak dari mereka yang merekam bahkan melakukan siaran langsung di akun media sosialnya.


Sungguh hal langka.


Nayara tersenyum miris. Dengan ekspresi biasa dia berjalan dan kembali berhadapan dengan David.


" Senin depan Kakak ujian. Jangan mencari penggantiku dulu yah! Fokus ujian, Kakak itu penerusnya Om Marchel yang hebat. Kakak juga harus sama hebatnya seperti Beliau, bahkan lebih. Fighting, My Ex! " Ucap Nayara mengepalkan tangannya di udara.


Tanpa beban dan tanpa berkata lagi, Nayara berbalik melangkah pergi. Sepanjang langkahnya meninggalkan David, banyak sorakan-sorakan syok dan kagum dari para Siswa/i atas tindakannya.


Mencampakkan seorang David.


Di tempatnya, David setia mematung dengan mulut menganga tidak percaya.


" Ujian? Kita putus? Sehebat Daddy? Hah, menggelikan. "


David menghapus air matanya. Dia menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan kasar.


" Okay. Okay kalo loe mau gue Kayak daddy, Nayara. Di masa depan loe akan lihat, segila apa keturunan Alexander memaksa gadis yang dia inginkan untuk menetap. Bersiap setelah gue sukses nanti, My Ara. " Ucap David menyeringai iblis.


Di ujung kantin, Shelly tersenyum puas pada pandangan di depannya. Begitupun Vika dan yang lainnya. Oh, jangan lupakan gadis yang waktu itu mengaku-ngaku sebagai tunangan Gavin.


" Langkah lanjutannya, Ly? " Tanya Vika.


" Buat apa? Kurang kerjaan banget, " Jawab Shelly ketus.


" Bagi gue, kemenangan terbesar adalah mereka putus. Deketin David? Sorry, gue gak semurahan itu sampe ngejar-ngejar dia. So? Yang pasti-pasti aja. Doi masih ada, mereka juga udah selesai. So? Everything Is Done, ".


Itulah Shelly. Si psikopat gila yang hanya akan mengejar dan mengganggu seseorang yang menyukainya dan pernah menyukainya.


Bagi Shelly, menghancurkan hubungan pria yang pernah mencintainya adalah suatu kepuasan. Dan berpacaran dengan pria yang mencintainya adalah salah satu dari kewarasannya.


Namun, jika cinta itu hilang dari pacarnya maka jangan harap kisah asmara selanjutnya akan berjalan mulus. Karena seorang Shelly mempunyai banyak taktik untuk menghancurkan hubungan orang.


Suatu kesialan bagi David pernah memiliki hati padanya.


_-_


TBC!