
Di pagi buta, gerimis hujan melanda Ibu kota. Membuat sebagian masyarakat yang hendak beraktivitas terganggu olehnya. Terutama gadis cantik yang sedang berdiri sebal di sebuah bandara.
Reyna Angelica, sang pemeran utama yang baru pulang dari Singapura, tempatnya melaksanakan pengobatan selama 6 tahun terakhir.
Pulang karena desakan keluarga membuat Reyna menggerutu sebal, apalagi dengan cuaca yang semakin membuat moodnya memburuk. Apalagi saat mengingat seseorang yang pasti akan membuatnya tambah tidak betah tinggal di rumah sendiri.
" Semoga gue gak ketemu sama si minim akhlak itu, " Batin Reyna.
" Jam sepuluh, " Ucap seseorang di samping Reyna pelan.
Reyna tersadar, dia berdecak dan mulai menggerutu karena jemputannya belum juga datang.
" Si David mana sih? Katanya sepuluh menit tapi ini udah hampir satu jam gue nunggu kayak orang kurang kerjaan, " Gerutu Reyna menatap jam cantik yang melingkar di tangan kirinya.
" Padahal kan gue CEO, baru pulang lagi setelah ngungsi panjang. Wah gila, seraya anak pungut yang tidak di nanti-nantikan aja gue, "
Memang, Reyna sempat menjadi CEO perusahaan cabang yang Marchel ayahnya bangun di Singapura. Namun sekarang tidak lagi, karena kepulangannya ke tanah air bersifat selamanya. Tentu itu keputusan keluarga terutama sang Grandma, Lyandra. Jadi mau tidak mau, gelar CEO harus tercabut dari nama Reyna.
" Berisik Gel! Lama-lama kuping aku panas denger gerutuan kamu terus, " Nayara, si teman sekaligus mantan calon Kakak ipar tidak jadi.
Nayara memang sengaja berkunjung ke Singapura satu bulan sebelum Reyna pulang. Alasannya? Ya karena rindu Reyna.
Nayara tumbuh menjadi gadis cantik dan manis. Jika Naya bertemu dengan orang yang dulu sering membullynya, mungkin mereka akan malu melihat penampilan Naya sekarang.
Apalagi Nayara adalah seorang desaigner sekaligus pemilik butik terkenal. Ya.. Meskipun butik itu pemberian Mommynya, Ella.
Reyna mendelik, tiba-tiba dia menarik lengan Nayara mendekat ketika otak cantiknya menangkap sesuatu.
" Nay, loe sama Kakak gue pasti balikan kan? Coba deh, loe telepon dia. Pasti angkat tuh, kalo sama doi. " Pinta Reyna menggoda dengan menaik-turunkan alisnya.
Raut wajah biasa Nayara berubah menjadi mendung, dan Reyna menyadari itu.
" Ke-kenapa loe? Gue salah ngomong ya? "
Nayara metap Reyna, dia tersenyum seraya menggeleng pelan.
" Gak kok, Angel. Eh, kayaknya itu Daddy kamu. Ayok Gel! " Seru Nayara saat melihat sebuah mobil mewah berhenti tepat di hadapan mereka.
" Eh, iya. Daddy!! " Pekik Reyna berlari dengan tangan terbuka tanpa menghiraukan tasnya yang tertinggal. Pikirnya, ada Nayara yang mengambil.
Nayara membawa dua koper besar dan berlalu menyusul Reyna yang tengah melepas rindu dengan ayahnya.
" Hiks.. Angel kangen, " Reyna menangis dalam pelukan Marchel.
Marchel mengeratkan pelukannya, si Daddy yang masih hot itu mengecup dan mengusap kepala anaknya berulang kali.
" Daddy juga rindu kamu, Angel. Jangan sakit lagi ya? " Pinta Marchel membuat Reyna terharu.
Enam tahun tidak bertemu membuat keduanya saling merindukan satu sama lain. Apalagi Marchel. Meskipun pria yang dulunya di cap nakal dan dingin ini sangat jarang menaruh rasa simpati dan kasih sayang pada orang-orang, tapi tetap dia adalah seorang ayah.
Ayah mana yang tidak akan menangis haru setelah kepulangan putrinya selama enam tahun berpisah?
Melihat Reyna yang kini tumbuh sehat membuat rasa lega dapat Marchel rasakan setelah tahun-tahun terakhir hidupnya di penuhi rasa takut kehilangan putri tunggal kesayangannya.
" Angel rindu Daddy, Mommy, sama yang lain juga. " Kata Reyna parau.
" Kami juga. Kami sangat merindukan peri nakal kami ini, " Ucap Marchel mencubit pipi Reyna gemas.
" Kak David ke mana? Katanya mau jemput, sepuluh menit lagi sampai. Angel tunggu-tunggu gak ada. Ck, emang gak guna tu anak. " Curhat Reyna diakhiri makian untuk sang Kakak.
Marchel terkekeh, " Maaf, Angel. Kakak kamu ada rapat dadakan di kantor. Jadi yah.. Harap di maklum, "
Reyna mengangguk. Kemudian Reyna kembali menatap Marchel saat mengingat sesuatu.
" Dad, A-angel. Hiks.. Angel masih gak bisa— "
" Stt.. Tidak apa-apa sayang, don't worry. Seseorang yang benar-benar mencintaimu akan menerima Angel apa adanya. Percaya sama Daddy, hem? " Potong Marchel mengusap air mata putrinya lembut.
Air mata Reyna semakin mengalir deras. Rasa haru kembali menyelimuti dirinya saat mendapat dukungan dari orang terpenting dalam hidupnya.
Reyna kira, dengan kondisinya yang bisa di bilang cacat sebagai wanita akan membuatnya di asingkan oleh keluarga karena membawa aib. Tapi nyatanya tidak. Ayahnya, kepala keluarganya sendiri malah mendukung penuh tanpa mau membahasnya.
" Om, " Sapa Nayara.
" Oh, Nayara. Bagaimana perjalananmu? " Tanya Marchel basa-basi.
" Baik, Om. "
" Hem. Ayo, sebaiknya kalian masuk! Hujan semakin deras, " Titah Marchel.
Keduanya mengangguk. Setelah membuka payung besar, Marchel memberikannya pada Reyna dan Nayara dengan dirinya yang di payungi oleh Sopur dan dua tangan menarik koper gadis-gadis itu.
" Dad, Mommy apa kabar? " Tanya Reyna setelah mereka berada dalam mobil.
" Dia baik. Dia sangat merindukanmu, "
Reyna tersenyum tipis. Dia menyandarkan punggungnya pada sandaran jok sembari menghela nafas.
" Semuanya gak bakalan mudah, " Gumam Reyna. " Apalagi kalo dia tahu gue kembali, huftt... "
Marchel menatap sopir di depannya, " Jalan Pak! "
" Baik, Tuan. "
Mobil mewah berukuran besar dengan warna hitam itu pun melesat membelah jalanan kota di tengah guyuran air hujan.
________
Di sisi lain, seorang pria berotort dengan wajah tampan rupawan menyunggingkan bibirnya membentuk sebuah senyuman.
" Setelah enam tahun, sayang. " Ucapnya pelan.
_-_
TBC!