
Nayara^
____________
Aku berlari sekuat tenaga, tidak memperdulikan teriakan-teriakan orang yang memanggil-manggil namaku. Bahkan saat Angel hendak mencekal tanganku untuk mencegah kepergianku, aku hempaskan begitu saja.
Rasanya sakit. Aku sakit dengan kenyataan ini. Aku juga kecewa. Kenapa mereka mesti mengatakan kebenarannya kepadaku? Walau tahu ini sangat menyakitkan untukku.
Aku tidak bisa menerimanya. Ini mustahil bisa ku terima.
Bayangkan saja, selama hidupku aku di caci dan direndahkan orang lain karena keadaanku. Tapi ternyata aku adalah seorang putri dari keluarga terpandang.
Bagaimana tidak sakit? Di setiap tidurku aku selalu mempertanyakan pada Tuhan, di mana keluargaku? Aku ingin menemui mereka, aku ingin menceritakan beratnya aku menjalani hidup tanpa mereka.
Jujur saja, tidak pernah terpikirkan olehku bahwa keluargaku adalah orang berada. Aku tidak menginginkannya, kenyataan ini justru malah memukulku telak.
Aku, gadis yang sering di sebut sebagai anak seorang jalangg yang terbuang justru adalah anak dari orang terpandang dan di hormati.
Aku juga, gadis yang pacarnya sia-siakan karena keadaan, justru dialah Kakakku, Kakak kandungku sendiri.
Bagaimana bisa aku terima itu? Dan lagi, jika membayangkan mereka yang hidup nyaman sementara aku hidup menderita dengan segala kekurangan, membuatku benci dan ingin menjauh saja.
Aku bukanlah gadis matrealistis yang akan bahagia mendengar kenyataan ini. Aku adalah gadis yang terlihat baik namun memiliki sejuta kebencian pada keluargaku sendiri.
Teganya mereka menelantarkanku begitu saja. Dan setelah aku dewasa, mereka baru mengetahui keberadaanku dan memintaku untuk tinggal bersama mereka? Oh.. Hidup tidak sebiadab itu!.
Di luar memang aku terlihat baik, sopan dan penyayang. Namun nyatanya, keluarga adalah titik sensitif di mana aku akan memperlihatkan keburukan diriku.
Aku benci keluarga. Aku benci mengingatku yang dibuang percuma. Bertahun-tahun hidup dalam belas kasih orang lain itu sangatlah menyedihkan. Belum lagi kami, aku dan anak-anak panti, harus berbagi barang pemberian itu. Cukup tidak cukup, semuanya harus dibagi rata.
Mereka tidak akan bisa merasakan betapa sulitnya jadi aku. Makan dengan makanan yang seadanya, aku menangis disetiap suapnya. Bukan tidak mensyukuri, namun aku sedih. Salah apa aku sampai keluargaku tidak menginginkanku?.
Dan.. Apa tadi katanya? Hilang? Jadi aku anak hilang yang dengan sendirinya menginjakkan kaki di panti asuhan?.
Oh ayolah! Itu sama sekali tidak masuk akal!.
Jika mereka mengarang cerita, tidak bisakah yang bisa diterima logika? Anak kecil yang belun mengerti apapun kehilangan keluarganya dan berakhir di panti asuhan dengan sendirinya. Apa itu masuk akal?.
Tentu tidak! Aku yakin mereka yang membuangku ke panti asuhan.
Lelah menangis sambil berlari, aku terduduk di bangku taman yang tidak jauh dari keramaian kota. Meskipun tidak ingin, air mataku tetap meluncur tanpa di suruh.
Pandangan mataku kosong, hatiku yang sakit berubah menjadi hampa. Tidak tahu lagi apa yang harus aku lakukan. Mungkin memejamkan mata adalah satu-satunya hal yang bisa membuatku sedikit lebih tenang.
Tepat di saat mata ini terpejam, usapan di kepala aku rasakan. Dengan perlahan aku membuka mata, mendongak mentap pria tampan yang sedang menatapku sendu.
Tangisan yang baru saja berhenti kini kembali pecah, aku memperlihatkan sisi lemahku padanya.
" Kak David... Hiks, ini sakit.. " Aku mengadu padanya, David. Satu-satunya pria yang mengerti aku dan mencintaiku apa adanya diriku.
Segera dia memelukku dan membenamkan kepalaku di dadanya. Posisi dia yang berdiri dan aku yang terduduk, membuatku langsung melingkarkan kedua tanganku di pinggangnya sambil menangis sejadi-jadi.
" Hiks.. Mereka jahat! Hiks.. Kenapa mereka mengatakannya padaku? Hiks.. Mereka tidak tahu beratnya hidup yang aku jalani selama ini. Hiks.. Bisanya mereka— Hiks.. ".
Dia mengusap kepalaku dan menciuminya lembut. Mendadak hatiku melembut, tangisanku kembali mereda lagi karena kenyamanan yang dia beri.
" Tenangkan diri loe, Ara. Semuanya akan baik-baik saja. Apapun keputusan loe, gue selalu ada buat loe, Ara. Gue dukung loe, " Ucapnya lembut.
Aku mengangguk kecil. Semakin ku benamkan wajahku pada dada bawahnya dengan pelukan yang semakin mengerat. Dia pelindungku. Aku hanya memiliki Kak David dalam hidupku.
Saat aku mengeratkan pelukannya, dia tidak menolak. Kak David justru balik memelukku sambil terus menciumi kepalaku.
Beberapa menit kami dalam posisi yang sama, hingga aku mulai tenang dan melepaskan pelukanku darinya. Dia pasti pegal terus menerus dalam posisi itu. Aku merasa bersalah.
" Kak David.. Maaf, ".
Bukannya marah, dia malah tersenyum lembut dan mengusap pucuk kepalaku.
" Tidak apa. Yang penting sekarang loe udah baikkan, " Ucapnya membuat dadaku bergerumuh hebat.
Rupanya masih ada pria baik sepertinya di Zaman ini.
Aku mengangguk malu-malu.
" Ih, gemes gue. " Ucapnya mencubit hidungku.
" Ih.. Sakit, " Rengekku membuatnya tertawa.
" Tunggu di sini, gue beliin makanan dulu buat loe. Jangan ke mana-mana! " Perintahnya.
Aku mengangguk sambil memaksakan senyumanku. Dia pun tersenyum dan langsung berlalu membeli makanan di toko sebrang.
Di tempatku, aku menatap punggungnya yang semakin menjauh. Senyuman tipis aku ukir di bibirku. Aku baru sadar, aku nyaman bersamanya. Aku suka setiap perhatian yang dia beri kepadaku. Dan.. Aku telah jatuh cinta kepadanya.
Nayara, End
_____-_______
Reyna menarik pembuka kaleng dan meneguk sebagian isinya. Dia membuang nafasnya kasar dan menatap pasrah ke depan sana.
" Masih belum percaya gue, kalo Naya adik kandung Rey. " Ucapnya.
Morgan mengangguk. Dia memang berada di samping Reyna. Saat inibmereka sedang terduduk di lantai bawah teras depan.
" Gue juga, " Balas Morgan singkat.
Reyna mengerutkan alisnya, lalu beralih menatap Morgan sedikit heran.
" Gue baru sadar, akhir-akhir ini sikap loe beda, Morgan. "
" Beda gimana? "
" Ya beda, gak semenjengkelkan dan semesum minggu lalu. " Ungkap Reyna.
" Jadi loe mau gue mesumin? ".
" Ck, sinting loe! ".
Morgan tersenyum kecil, " Mau tahu alasannya gak? ".
Reyna menoleh menatap Morgan yang ternyata juga sedang menatap ke arahnya.
" Apa? ".
" Elu! " Jawabnya menatap Reyna dalam.
Tahu akhirnya pembicaraan mereka akan menjurus ke mana, Reyna pun memilih memalingkan wajahnya kembali menatap depan.
" Pengakuan loe buat hubungan kita renggang, Morgan. Andai saja waktu itu loe simpan sendiri perasaan loe, mungkin gue gak akan jaga jarak dari loe. " Ucap Reyna jujur.
" Pengecut dong gue, ".
Reyna menatap Morgan sekilas, lalu menjawab:
" Gak semua orang yang tidak mengungkapkan isi hatinya itu pengecut. Kadang mereka harus melihat keadaan juga, memungkinkan atau tidak. Jika akhirnya hanya melukai diri sendiri, untuk apa diungkapkan? ".
" Tapi gue yakin akhirnya loe ada dalam pelukan gue, Na. " Ucap Morgan menatap Reyna dalam.
" Semoga, " Gumam Reyna pelan.
" Apa? " Tanya Morgan yang tidak terlalu mendengarnya.
" Ha.. Enggak. Gue masuk duluan yah?! Mulai dingin, " Ucap Reyna bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkan Morgan sendirian.
Morgan beralih menatap lurus ke depan dengan senyuman sinis yang terukir dibalik kaleng minuman yang diteguknya.
" Reyna Morgan, bukan Rey Nayara. Kita masih bisa, ".
_-_
TBC!