
Reyna berjalan menuju parkiran. Dia beranjak sendirian karena Freya sudah pulang duluan dan Nayara entah David ajak ke mana. Yang pasti, Nayara akan hadir dalam perkumpulan yang Ayahnya buat sore ini.
Baru saja menginjakkan kaki di luar sekolah, motor besar Morgan sudah menghadang jalannya. Reyna kaget, selangkah saja dia maju maka bisa patah kakinya oleh ban besar milik motor pria itu.
Reyna menatap Morgan kesal, sedangkan yang di tatap hanya menatap lurus ke depan tanpa ada niatan menatap balik Reyna.
Enggan membuang-buang waktu percuma, segera Reyna memegang bahu Morgan dan naik ke atas motor dengan posisi menyamping. Karena jika melebarkan kedua kaki, paha mulusnya akan terekspos.
Brum..
Morgan melajukan motornya dengan kecepatan di atas rata-rata, membuat Reyna memekik dan memakinya dengan tangan yang refleks memeluk pinggangnya erat agar tidak terjatuh.
" Bisa gak sih, loe gak usah bar-bar kalo bawa motor? Loe mau buat gue mati muda?! " Bentak Reyna yang hanya dibalas senyuman miring oleh Morgan.
Tidak memperdulikan gerutuan Reyna, Morgan semakin menambah kecepatannya hingga tak lama setelah itu, sampailah mereka di sebuah toko barang antik.
Reyna turun dari atas motor dan membenarkan rok serta rambutnya yang acak-acakan. Dia menatap sekeliling dan terheran-heran, kenapa ayahnya menyuruh dia dan Morgan datang ke tempat seperti ini?.
" Ini Daddy gak salah apa? For what I come in this plane? Crazy, " Maki Reyna pelan.
Morgan yang baru turun setelah mencabut kunci motornya tanpa banyak bicara langsung menarik Reyna masuk.
" Eh eh, apaan ini? ".
_____-____
Sesampainya di dalam, Reyna dibuat terkagum-kagum dengan tempat ini. Bagaimana tidak? Di luar seperti toko kumuh biasa namun dalamnya? Ck, tidak bisa dia ungkapkan dengan kata-kata. Ini indah!.
" Sumpah.. Tahu dari mana Daddy tempat ini? Ck, kalau dari dulu gua tahu, jadi tongkrongan bareng Kak Gavin ini. " Gumam Reyna melupakan Morgan yang berdiri tepat di sampingnya.
Mendengar nama Gavin, membuat emosi Morgan meledak-ledak. Dia tidak suka Reyna menyebut nama pria lain, apalagi di hadapannya.
Tak kuasa menahan emosi, Morgan menarik Reyna dan memojokannya di dinding.
" Kalau lagi sama gue, jangan berani-berani loe sebut nama cowok lain. Apalagi dia, " Tegas Morgan dengan sorot mata tajam.
" Apa sih? Gak jelas loe. Awas! ".
Morgan diam tak bergeming, tatapan matanya berubah menjadi liar tak kala melihat bibir kecil Reyna yang menggoda.
Dan Reyna yang sadar akan tatapan itu melotot tajam. Sekuat tenaga dia mendorong dada Morgan menjauh.
" Loe gila, Morgan. Kalau sama gue, jaga mata sampah loe! " Kesal Reyna dan beranjak pergi.
Di tempatnya, Morgan tersenyum tipis. Tidak, lebih tepatnya seringaian sinis yang dia layangkan pada punggung Reyna yang perlahan menjauh.
" Gak bisa, Reyna. Deket loe membuat gue gila, " Ucapnya pelan. " Dan jauh dari loe, membuat gue lebih gila. " Lanjutnya dengan senyuman yang dipaksakan.
" Permisi, Den. Ini Den Morgan yang Pak Marchel utus ke mari ya? ".
Fokus Morgan tergantikan pada wanita paruh baya yang bertanya padanya.
" Ya. Aku Morgan, " Jawab Morgan.
" Oh.. Mari sini, Den! Barang pesanan Pak Marchel ada di sebelah sana. Tapi sebelum itu... Barangnya pakai pengaman berupa sidik jari, Den. Hanya bisa diambil oleh putrinya, dia— ".
" Reyna, " Potong Morgan. Dia menatap Reyna yang tidak jauh darinya, " Dia di sana! " Tunjuknya.
Wanita paruh baya itu tersenyum bahagia. Barang titipan Marchel beberapa tahun lalu, tepatnya saat Marchel masih menjabat seorang CEO di sini, Marchel datang dan menitipkan sesuatu yang pastinya sangat penting. Dilihat dari pengamanannya yang ketat, sudah pasti itu bukanlah barang yang bisa dispelekan.
Adanya barang itu serasa beban bagi si pemilik toko. Meskipun dibayar besar pertahunnya, tetap dia takut akan kehilangan barang yang sangat berharga titipan Marchel. Entah itu karena hilang, ataupun kemasukan pencuri.
" Den, di panggil atuh! Bibi mah gak berani, " Ucap si wanita paruh baya.
Tentu saja tidak berani! Karena sejak keamanan barang itu diganti oleh sidik jari Reyna belasan tahun yang lalu, gadis itu sama sekali tidak menyapanya. Wajahnya yang kaku serta lirikan tajamnya membuat si pemilik toko menyangka Reyna anak orang kaya yang sombong.
Morgan terkekeh pelan mendengarnya, " Saya coba. Na! " Teriak Morgan di akhir kalimat.
Reyna memalingkan wajahnya menatap Morgan dengan alis terangkat.
" Barangnya di sini. Ambil! ".
Reyna mengangguk. Dia berjalan menuju Morgan dan kembali melangkah mengikuti si pemilik toko menuju barang yang ayahnya pesankan.
_____-____
Elly menangis tersedu-sedu, dia memeluk Nayara erat dengan tangan yang tidak henti menggerayangi tubuh Nayara mulai dari punggung, rambut, sampai wajah.
" Hiks.. Maaf, hiks.. Maafin aku sayang. Hiks.. Maaf karena telah lalay menjagamu. Hiks... ".
Kening Nayara berkerut bingung, dia menatap David, Mikhayla, Mikhael, Bella dan Marchel secara bergantian. Lalu tatapannya teralih pada Bram, ayah Rey yang juga menatapnya haru seperti Elly kini menatapnya berderai air mata.
Tidak nyaman dengan keadaan, Nayara berusaha melepaskan pelukan Elly dan mencoba menenangkan wanita yang umurnya tidak lagi muda ini.
" Tante.. Tante kenapa? Kenapa Tante menangis seperti ini? Ada masalah apa? Tenang Tante yah... Jangan menangis, " Ucap Nayara lembut.
David menatap gadisnya lembut. Dia harus bersiap dengan keadaan Nayara setelah ini. Apapun keputusan yang Nayara buat, David akan selalu ada bersamanya dan melindungi gadisnya.
Cinta yang David miliki bertambah besar setiap hatinya. Saking besarnya, untuk pertama kalinya dia mengatakan ' Tidak ' pada ayahnya sendiri karenya Nayara.
" Sa-sayang, hiks.. A-aku, aku ibumu. " Ucap Elly menangis tersedu-sedu dengan tangan menangkup wajah Nayara.
Jeledag!.
Mata Nayara membulat, dia melangkah mundur saking terkejutnya dengan perkataan Elly. Sulit di percaya, ini sangat sulit dia percaya!.
" A-apa? " Rupanya bukan hanya Nayara yang terkejut, Rey, Morgan dan Reyna yang berada di ambang pintu pun sama terkejutnya.
" D-dad, ini? " Reyna menggantung ucapannya. Mulutnya menganga yang langsung dia tutupi menggunakan telapak tangannya.
Tersadar dari keterkejutannya, Rey melempar asal tas sekolahnya dan beralih menghampiri Bram.
" E-enggak. Salah, ini salah. Dad, ini mustahil kan? Nayara gak beneran adiknya Rey kan? " Tanya Rey dengan hati berdebar-debar.
" Dad! " Bentak Rey karena kebungkaman Bram.
Bram diam karena dia tahu putranya sangat mencintai gadis yang sayangnya adalah putrinya, adik kandung Rey.
" Enggak. Ini mustahil. Mustahil!! " Teriak Rey menggila.
" Rey diam! " Bentak Elly. " Diam! Hiks... Mommy tahu kamu suka sama Nayara. Hiks.. Tapi jangan lagi Rey, jangan lagi. Hiks.. Cukup cintai dia layaknya saudara, jangan melebihi itu. Hiks.. Dia adikmu Rey, adikmu! ".
Rey terus menggeleng, menyangkal semua kenyataan yang ada. Dirinya langsung ambruk di atas lantai dengan tangisan yang pecah.
" Kenapa? Kenapa harus Naya, Mih? Kenapa harus dia yang jadi adik Rey? Hiks... Kalau gini ceritanya, lebih baik Vika aja yang jadi adiknya Rey. Hiks.. Jangan wanita yang Rey cintai, Mih. Hiks.. Jangan, " Tangis Rey pilu.
David hanya mampu mendengarkan tangisan Rey. Sementara matanya terus tertuju pada Nayara, gadis itu tetap diam mematung dengan pandangan kosong.
" Sayang, Mommy— ".
" Dari dulu aku tidak memiliki keluarga, sekarang pun begitu. "
Deg.
Elly tersentak dengan perkataan Nayara, begitupun Bram dan yang lainnya.
" Nayara, kami keluarga kandungmu! " Seru Bram mulai takut.
" Mungkun iya, tapi bagiku tidak. " Balas Nayara menatap Bram.
" Sayang... Sabar dulu. Tante tahu kamu terkejut. Tapi memang beginilah kenyataannya. Jika kamu tidak percaya, Om Marchel punya hasil tes DNAnya. Kalau perlu mari kita ulang dan buka sendiri hasilnya oleh tanganmu, " Mikhayla angkat suara.
" Benar, Nayara. Sabar dulu, bicara dengan kepala dingin. Bagaimanapun kamu adalah keluarga kami, putri dari Elly dan Bram. Adik Rey, " Sambung Bella lembut.
Nayara menggeleng lemah, dia terus menggeleng dengan air mata yang jatuh dari pelupuk matanya.
" Ke mana kalian? " Tanya Nayara.
" Naya.. ".
" Ke mana kalian selama ini? Ke mana kalian saat aku sakit, terjatuh, dan mendapat cacian dari orang-orang? Ada di mana kalian?! " Teriak Nayara.
" Maaf, kami— ".
" Tidak ada, " Geleng Nayara lemah. " Kalian tidak ada saat aku butuhkan. Kalian tidak ada disetiap suka dukaku. Kalian tidak ada, " Nayara menunduk dengan air mata yang meluncur semakin deras.
" Ara, " Lirih David.
" Hiks.. Maaf, sayang. Hiks.. Maafkan Mommy yang terlambat menemukanmu. Hiks.. Maaf, " Tangis Elly.
" Tidak, tidak. Tidak perlu meminta maaf padaku, Tante. Aku tidak apa-apa, aku baik-baik saja. Saking baiknya aku dan kehidupanku... Aku tidak membutuhkan kalian. Karena sejak kakiku menginjak panti asuhan, keluargaku telah tiada. "
Ucapan Nayara bagaikan boomerang bagi semua orang. Rey? Kepalanya setia menunduk. Dia tidak sanggup melihat Nayara, dia tidak sanggup menerima kenyataan yang ada.
" Nayara sayang, jangan berbicara begitu. Kami keluargamu, kami— ".
" Keluarga keluarga keluarga! Sudahku bilang aku tidak punya keluarga! Aaa! " Nayara menjambak rambutnya sendiri dan berlari keluar dari rumah besar milik Reyna.
" Nayara!! Hiks.. Nayara kembali!! " Teriak Elly tersungkur di atas lantai.
" Biar David yang susul, " Ucap David langsung berlari mengejar Nayara.
Bram merengkuh tubuh lemas istrinya. Bukan hanya Elly, dirinya pun sama lemasnya karena perkataan Nayara yang tidak menerima mereka sebagai keluarga.
" Angel, ikut Daddy! " Marchel berbalik menaiki tangga.
" Baik, Dad. "
Bersamaan dengan langkah Reyna menyusul Marchel, Morgan pun melangkah menuju Mikhael yang sedang menggendong adik kecilnya.
" Dad, apa buktinya? " Tanya Morgan.
" Pamanmu cerdas, Morgan. Kami butuh waktu bertahun-tahun untuk menemukan gadis itu tapi pamanmu? Kurang dari satu bulan sudah menemukannya, ".
Morgan mengangguk. Lalu tatapannya teralih pada Rey yang masih mematung dengan wajah kusut dan air mata yang setia membasahi lantai.
" Pasti gak mudah, Rey. Masih mending gue sama Reyna, sepupu. Tapi adik? Gue harap loe gak gila dengan menginginkan adik loe sendiri, " Batin Morgan.
_-_
TBC!