
Hari yang David nanti-nantikan akhirnya tiba juga. Hari, di mana dia akan menjadikan Nayara sah sebagai miliknya di mata hukum dan agama.
Lampu klelap-klelip dengan banyaknya bunga di sekitar lorong menuju altar membuat para tamu berdecak kagum akan kemewahan pesta yang keluarga mempelai sebut perayaan kecil-kecilan.
Di depan altar, David dan Nayara berdiri sebagai mempelai. Pasangan yang baru beberapa menit sah dinyatakan sebagai suami istri itu tampak saling berpegangan tangan dengan sang suami yang terlihat enggan melepaskan istrinya dikala tamu menghampiri untuk mengucap selamat.
David melirik Nayara yang terlihat cantik dengan balutan gaun pengantin putih pilihannya. Make up ala-ala pengantin ditambah rambut yang dicepol satu dengan riasan kepala yang lumayan banyak membuat istrinya ini tampak berkelas dan anggun.
Dalam hati David mengumpat saat tatapannya tertuju pada dada sang istri yang ternyata sedikit terekspos. Walaupun hanya sedikit, tetap saja dia tidak rela miliknya ditatap orang lain.
Nayara sedikit tersentak saat pinggangnya di tarik seseorang. Dia mendongak menatap David yang mendekatkan wajah ke arahnya.
" Kenapa kau tidak memberitahuku jika belahan dadamu serendah itu? "
Kening Nayara berkerut, dia menunduk menatap dadanya sendiri dan kembali menatap David dengan tatapan polos.
" Bukankah ini gaun pilihanmu? "
" Iya.. Tapi kenapa dasanya serendah itu? Jika tidak salah, yang ku pilih dulu tidak memiliki belahan dada. Bahkan kerahnya saja hampir menutupi seluruh leher. "
Nayara menggigit pipi dalamnya. Manik matanya menatap kanan kiri gelisah yang tentu disadari oleh David.
" Katakan, " Titah David tegas.
Nayara menatap David, dia kembali menunduk dengan tangan memainkan kancing tuxedo David gelisah.
" Sebenarnya.. Gaun ini dirancang ulang oleh Mommy, " Aku Nayara pada akhirnya.
" Mommy? Mommy Elly, or Bella? "
" Keduanya, "
" Serius?! " David memekik tertahan. Dia menghela nafas kasar dan kembali mendekatkan wajahnya pada Nayara.
" Kapan? Kenapa kau tidak bertanya padaku dulu? Kau tahu bukan aku tidak suka baju yang terbuka? Jika tahu akan seperti ini, sudah sejak malam ku bakar gaun pengantinmu. "
Nayara semakin menunduk, dia mengeratkan cengkramannya karena merasa takut.
" Ma-maaf, " Cicit Nayara.
" Tatap aku! "
Nayara diam, tidak berani menatap wajah David yang pastinya masih dalam mode marah.
" Nayara, "
" Ma-af, " Kata Nayara menatap David sekilas lalu kembali menunduk.
David melipat pipinya ke dalam, dia menarik Nayara semakin merapat pada tubuhnya dan memeluknya erat.
" Lain kali jika kau berani memakai pakaian terbuka lagi, habis kau! "
Nayara menelusupkan kepalanya pada dada bidang David.
" Iya, " Katanya patuh.
Di sisi lain, Reyna menatap David dan Nayara dari kejauhan. Senyuman tipis terbit di bibirnya saat mengingat percakapannya dengan Nayara tempo hari.
Hari itu...
" Naya, gue mau bicara serius sama loe. " Ucap Reyna setelah dia dan Nayara selesai membuat beberapa vidio.
" Apa? " Tanya Nayara yang duduk di tengah-tengah ranjang Reyna.
" Loe.. Sama Kak David, beneran mau nikah? " Tanya Reyna hati-hati. " Loe mau kan nikah sama dia? Maksud gue dengan senang hati gitu. Atau justru masih sama kayak pertama, terpaksa? " Lanjutnya menatap Nayara penuh tuntut.
Nayara terdiam untuk beberapa saat, tangannya tampak meremass bantal yant berada dipangkuannya.
" Sebenarnya.. Aku terpaksa, "
Reyna tercengang.
" Tapi itu dulu, waktu pertama aku tahu bahwa perjodohan ini ada karena kemauan Kak David. "
" Awalnya aku tidak ingin, aku merasa tertekan dan terpaksa mengiyakan. Tapi.. Beberapa hari bersama Kak David membuatku sadar, jika menikah dengannya bukan hal yang buruk. "
" Aku memang belum mencintainya, tapi aku akan berusaha mencintainya. Karena dia akan menjadi suamiku, dan ayah dari anak-anakku kelak. " Senyuman terbit di ujung bibir Nayara saat mengatakannya.
" Sesuatu yang terpaksa tidaklah baik, aku tahu itu. Tapi ku rasa.. Kali ini bukan karena terpaksa. Aku mau menikah dengannya sepenuh hati meskipun hatiku belum menjadi miliknya. "
" Angel, tidak semua pernikahan didasari dengan cinta. Tidak semua yang menikah memiliki cinta di antaranya. Menikah, adalah sesuatu di mana kau merasa pilihanmu dan keluargamu pantas untuk menjadi masa depanmu. Bertanggung jawab, dan dapat menjaga kita selamanya, bukan hanya sementara. Itu yang kita cari dari makna pernikahan, "
Nayara menggeleng, " Enggak. Aku gak cinta sama siapapun kok. Meskipun punya, memangnya bisa aku menikah dengan dia? " Candanya terkikik.
" Hah.. Gue rasa enggak. Kak David gak akan tinggal diam melihat loe nikah sama cowok lain, " Ucap Reyna menghela nafas.
" Nah itu tahu, "
" Naya, jadi maksud loe gue juga gak bisa nikah sama orang yang gue cinta kalo tanpa restu keluarga, gitu? Atau kalo enggak jika gue ada di posisi loe, diminta menikah karena perjodohan. " Tanya Reyna menatap Nayara serius.
" Ya.. Itu tergantung bagaimana pria pilihan kamunya. Dia pantas tidak untukmu? Menjamin tidak masa depanmu? Karena Angel, bukannya matre, tapi hidup memang tidak bisa lepas dari yang namanya materi. Aku merasakan sendiri bagaimana hidup dengan mengharapkan pemberian orang, itu sakit, itu rumit. Maka dari itu, melihat Kak David yang sudah dapat berdiri dengan kakinya sendiri membuatku tidak ragu untuk menikah dengannya meskipun tanpa cinta. "
" Aku yakin, cinta itu akan hadir seiring berjalannya waktu. Dan lagi, masa depan anak-anakku kelak sudah terjamin jika bersamanya. Aku tidak ingin salah memilih pria dan berakhir dengan nasib anak-anakku sama sepertiku sewaktu dulu, "
Reyna mengangguk-angguk, " Bener. Kali ini loe dewasa Naya, "
" Dan lagi, satu perkataan Kak David yang membuatku semakin yakin untuk menikah dengannya. "
" Apa tuh? "
Nayara tersenyum saat mengingatnya, " Dia berkata tidak akan ada kata pisah setelah kami menikah, "
" Woah.. " Mulut Reyna membola.
" Jadilah aku yakin akan pilihan keluargaku ini. Dan sekarang menjadi pilihanku tentunya. Angel, jangan mengacau apalagi menculikku di hari pernikahanku nanti ya? Akan sangat tidak lucu jika Kak David menikah sendirian, "
Reyna terkekeh gelik mengingatnya. Jika saja waktu itu dia tidak berbincang terlebih dahulu dengan Nayara, mungkin sekarang tempat ini akan heboh dengan amukannya.
Menyelesaikan persoalan memang lebih baik ketimbang memutuskan karena amarah. Lihatlah! Reyna yang tadinya sudah memiliki rencana akan membawa kabur Nayara kini malah terduduk santai menikmati pesta pernikahan sahabatnya itu.
" Kuharap keputusanmu tepat, Nayara. Jika di masa depan kelak Kakakku membuat masalah, aku sendiri yang akan membuat kalian berpisah. " Sumpah Reyna tidak main-main.
" Jangan terlalu ikut campur dalam urusan orang lain, " Morgan muncul tiba-tiba di hadapannya.
" Terkadang keturut sertaan kita bukannya menjadi penyelesai, malah penambah masalah yang ada. "
Reyna setia menatap Morgan yang telah duduk di depannya dengan menyeruput segelas wine yang diambilkan pelayan.
" Manusia hidup tidak luput dari yang namanya masalah. Akhir bahagia atau akhir menderita tergantung bagaimana cara dia sendiri mengatasi masalahnya. "
" Menikah bukanlah akhir dari segala permasalahan yang ada, Reyna. Kita cukup diam dan mendukung langkah akhir yang mereka ambil bersama jika memang itu keputusan yang patut di ambil. "
" Dengan membiatkan temanku menjanda, begitu? " Tanya Reyna memandang Morgan kesal.
" Memangnya akhir masalah berada pada perceraian? Tidak, Reyna. Pikiranmu sungguh sempit, "
" Tapi dia temanku! Aku tidak akan membiarkan Kak David— "
" Kamu tahu David sangat mencintai istrinya. Untuk apa sekhawatir itu? Apalagi jika alasannya takut ada orang ke tiga. David bukan tipe pria yang banyak wanita, "
" Hem, Kak David tidak sepertimu. " Ceplos Reyna datar.
Morgan melipat bibirnya dan menikmati hidangan yang ada tanpa berniat menimpali perkataan Reyna.
" Saya juga tobat jika dapat kamu, " Gumam Morgan pelan.
" Apa? "
" Apa? " Tanya balik Morgan.
" Loe tadi bilang apa? "
" Tidak. Bahasamu, Angel. "
" Ya maaf, keceplosan. Gak enak habisnya, "
" Biasakan! "
" Iya-iya.. Ck, bawel! " Ketua Reyna mendelik.
Morgan tertawa pelan sambil memandang Reyna. Tiba-tiba suara Alex terdengar membuat fokusnya teralihkan.
" Angel! "
" Ya? " Reyna terdiam saat melihat sosok yang sedang dirangkul oleh Alex.
" Kak Gavin, "
_-_
TBC!