
Masih di siang hari sekitar pukul 12.30, dalam gedung pencakar langit dengan ruangan paling mewah diatas kursi besarnya Morgan tampak sedang membaca dengan teliti lembar demi lembar berisi data-data yang dimintanya pada Arzan kemarin malam.
Data-data tersebut berisikan informasi penting tentang seseorang yang selama ini mengincarnya sekaligus yang membuat dia dan Reyna sulit mendapat restu keluarga untuk bersama.
Mendapat selembar foto sekaligus data diri lengkap dari si biang kerok sumber ancaman keluarganya selama ini membuat Morgan berdecis jijik.
" Hanya karena dia mantan simpanan ketua Mafia, bukan berarti aku tak mampu mengalahkannya. " Ucap Morgan.
Morgan menyeringai, tangannya membuang asal kertas-kertas yang ada ditangannya dengan tatapan tajam ke depan. Sepertinya otak cerdiknya itu tengah menyusun sesuatu, yang jelas sangat berbahaya untuk sang musuh.
" Karena Nenek tua itu aku harus menunda-nunda dalam mengikat Nana. Karena si tua itu aku harus kehilangan ingatanku sekaligus rasa cintaku untuk Nana. Karena si tua itu menjadi pria brengsek yang tidak pantas untuk Nana. Siaalan, " Maki Morgan kesal.
Morgan berdiri, berjalan menuju ujung ruangan dengan kedua telapak tangan dimasukan ke dalam saku celana brandednya.
Morgan menatap langit indah di hadapannya dengan pandangan luas, alisnya terangkat sebelah seolah berfikir dan tidak lama setelah itu, seringaian licik tercipta jelas dari ujung bibirnya.
" Freya. Haruskah aku yang ambil alih? "
_____---_______
Ketika hari mulai beranjak sore, seperti janji mereka sebelumnya kini Gavin membawa Reyna ke kediaman Bundanya, Olivia. Bukan karena dipaksa maupun terpaksa, Reyna dengan senang hati mengunjungi Olivia karena dia pun sangat rindu dengan calon mertua baik hatinya itu.
Baru saja mobil mewah Gavin terparkir di halaman, terlihat Olivia dan adik bungsunya yang langsung menyambut kedatangan mereka dengan pelukan hangat. Tentu hanya Reyna yang Olivia peluk, putranya tidak.
" Angel sayang, apa kabarmu? Kenapa baru sekarang menemui Bunda, Nak? " Sapa Olivia ramah.
" Baik, Bunda. Bunda sendiri? Ah maaf, setelah acara pertunangan, Opa makin gencar melakukan family time. " Ucap Reyna menjelaskan.
Olivia tersenyum lembut, " Bunda mengerti. Ayo sayang, kita masuk! " Reyna mengangguk dan menyamakan langkahnya dengan Olivia.
Gavin yang melihat interaksi keduanya tersenyum bahagia. Sedetik kemudian senyuman itu berubah menjadi hambar saat mengingat waktunya yang hampir habis. Bukan hampir, mungkin sudah.
" Bang, "
" Hem? " Gavin menatap adiknya.
" Fine? "
" Hem. Masuk, " Gavin menggiring adiknya masuk ke dalam rumah dengan perasaan campur aduk. Antara bahagia dan tidak rela. Bahagia karena Reyna tampak begitu cocok dengan Olivia, dan tidak rela menyadari waktunya yang memang hanya satu hari ini lagi. 12 Jam
Begitu sampai di ruang keluarga, Olivia dan Reyna terlihat mengobrol dengan tawa yang terdengar jelas dari mulut keduanya. Entah apa yang menjadi perbincangan mereka, yang jelas Gavin dan sang adik ikut bahagia dengan melupakan sesaat sesuatu yang sedaritadi mengganggu fikirannya.
" Dek, Abang ke kamar. "
" Iya, "
Tiga jam sudah Reyna habiskan waktunya bersama keluarga Gavin. Di mulai dari memasak bersama Olivia dan adik Gavin, makan bersama, bersantai sambil mengobrol serta sesi curhatan hati pun mereka lakulan bersama.
Sampai jam menunjukkan pukul 9 malam, Reyna pamitan kepada Olivia dengan Gavin yang mengantarnya pulang.
" Hati-hati! " Teriak Olivia pada motor putranya yang telah melaju dari pekarangan rumah.
Olivia menatap kepergian putra dan kekasih putranya itu dengan tatapan sendu.
" Kamu kuat, Gavin. Bunda salut sama kamu, " Gumamnya.
" Bun, "
Olivia berbalik, " Ya? "
" Berkemasnya sekarang kan? Jam 11 kita take off, "
" Ah, iya. "
Adik Gavin dan Bundanya masuk dengan sang anak yang menyentuh bawah pundak Olivia lembut.
_______-_________
" Kencengan peluknya, Gel! "
Reyna mengeratkan pelukannya pada pinggang Gavin. Kepalanya dia simpan di bahu lebar tunangannya dengan kedua telapak tangan Reyna masukkan ke dalam saku jaket Gavin di kedua sisinya.
Mata Reyna terpejam menikmati angin malam, sangat jarang sekali dia akhir-akhir keluar malam. Itu dikarenakan sang Opa Alex yang mengadakan Family Time terus-menerus.
Lewat spion Gavin tersenyum tipis dibalik helm full facenya. Tangannya semakin lihai membolak-belokan serta menambah kecepatan berkendara.
Sepuluh menit kemudian, motor besar milik Gavin pun terparkir dihalaman rumah Reyna.
" Mampir dulu, Kak? " Tawar Reyna turun dari atas motor sambil merapikan tatanan rambutnya.
" Sudah malam, "
" Oh, langsung pulang nih? "
" Iya, "
" Ya sudah, aku masuk ya? Hati-hati dijalan! " Ujar Reyna berbalik hendak pergi.
" Ya? "
Gavin menatap Reyna sendu, " Peluk? " Ucapnya.
Kening Reyna mengernyit heran, namun tak urung dia mendekat dan menubrukkan tubuhnya pada Gavin.
" Bakalan kangen deh, aku. " Gumam Gavin mengeratkan pelukannya.
" Apasih, kayak gak bakalan ketemu lagi aja. " Kekeh Reyna hendak melepaskan pelukan mereka.
" Tunggu, bentar lagi Gel. "
" Huh, iya iya. Manja banget kamu hari ini, " Candanua.
Lima menit kemudian, Gavin melepaskan pelukannya dan menatap Reyna lekat.
" Maaf, "
" Buat? "
" Semuanya, "
" Memang kamu buat salah apa? Minta maaf segala, " Heran Reyna.
" Aku.. Akan kembali ke kota asalku, "
Deg.
" Malam ini. Dengan memutuskan perunangan kita, "
Reyna diam, berusaha mencerna perkataan Gavin dengan kepala dingin.
" Bisa tolong jelaskan? " Pinta Reyna setelah lama diam.
Gavin menarik kedua tangan Reyna dan digenggamnya erat.
" Maaf, Angel. Aku minta maaf. Tapi aku memang tidak bisa melanjutkan hubungan kita, " Ucap Gavin.
" K-kenapa? "
" Karena kamu tidak mencintaiku, "
Reyna menatap iris hitam Gavin serius.
" Kamu tahu bukan, Kak? Kalau selama ini aku sedang berusaha menerimamu, mencintaimu? Tapi kamu, kamu.. "
" Hatimu tetap miliknya, Angel. " Ucap Gavin lirih. " Meskipun ragamu mungkin selalu bersamaku, tapi aku tahu hati dan fikiranmu hanya tertuju padanya. Aku tahu, "
Reyna memejamkan matanya erat, dia menunduk dengan menghela nafas pelan. Rasanya sesak, dan dia tahu perasaan Gavin lebih sakit daripada dirinya.
" Maaf. Aku sudah berusaha, tapi nyatanya tidak bisa. Maafkan aku, "
Gavin tersenyum lembut, " Hei, tatap aku. " Titahnya mengangkat dagu Reyna.
" Tak apa, aku tak masalah. Aku sadar, Angel. Cinta itu tidak bisa dipaksakan, " Ucap Gavin.
" Sekeras apapun aku berjuang, sekuat apapun kau berusaha menerima, jika hati dan fikiranmu selalu padanya semua akan sia-sia. "
" Angel, kisah masa lalumu belum berakhir. Kesalahannya adalah, bukannya menyelesaikan namun sepertinya ini kembali pada titik awal. Di mana hati kalian terhubung tanpa peduli status dan apapun, "
" Kak Gavin— "
" Aku mencintaimu, Angel. Perpisahan ini bukan akhir dari segalanya. Kita saling melepas, untuk saling meraih bahagia. Bukan tidak cinta, tapi aku takut hubungan ini menyiksa. Tidak hanya hatimu, tapi batinku juga. "
Reyna diam tanpa mampu berkata-kata. Rasanya mulutnya kelu, ingin mengucap kalimat penyangkalan namun tidak bisa. Seolah apa yang dikatakan Gavin ada benarnya, meskipun dia tahu itu memang benar adanya.
" A-aku— Hiks.. "
Gavin membawa Reyna kedalam pelukannya. Direngkuhnya erat tubuh mantan tunangannya itu dengan kecupan-kecupan Gavin berikan di kening Reyna.
" Maaf, Angel. Maafkan aku, "
" Ti-tidak, hiks.. A-aku yang— "
" Sttt.. Tak apa, kau telah berusaha. " Mendengar kalimat itu semakin membuat Reyna terisak. Meskipun benar hatinya bukan untuk Gavin, tetap berat rasanya mengakhiri hubungan dengan seseorang yang selalu ada untuk kita selama ini. Itu berat.
Di balkon lantai atas, Morgan memperhatikan momen-momen perpisahan kedua insan itu dengan tatapan datar.
Memang ini yang harus mereka lakukan, memang merelakan yang harus Gavin berikan. Karena Reyna adalah miliknya, untuknya, masa depannya. Persetanan dengan status mereka yang Adik dan Kakak Sepupu. Semua itu tidak berlaku untuk Morgan.
Tak mau hatinya tambah panas, Morgan memilih pergi dari sana dengan perasaan sedikit senang dan sedikit marah. Senang karena akhirnya Gavin melepaskan Reyna, dan marah karena harus menyaksikan gadisnya dalam pelukan pria lain sambil menangis menyesakkan. Menyebalkan!
_-_
TBC!