
Apa kabar?😂
🤣 🤣 🤣 🤣
Dengan kaki besarnya Morgan melangkah lebar menuju suatu ruangan disertai raut wajah santai diiringi siulan ringan yang keluar dari mulut tebalnya, menandakan jika kini hatinya sedang tenang dan berbunga bahagia.
Alasannya? Tentu saja karena hal yang membuatnya senang!
Brak!
Tiga pasang mata yang berada didalam ruangan itu menatap Morgan dengan tatapan terkejut. Namun yang ditatap setia menampilkan ekspresi wajah santai seolah tak berdosa.
" Malam ini, right? " Ucap Morgan menatap mereka santai.
" Apa?! " Mata Mikhael melotot menatap putranya.
Tangan Marchel mengepal, " Siapa kau berani memerintah? " Geramnya melayangkan tatapan tajam. Sementara Opa Alex hanya terduduk santai menyaksikan semua drama keluarga yang tidak ada akhirnya ini.
Sudut bibir Morgan terangkat membentuk senyuman sinis yang dilontarkannya pada tiga pria tua di depannya.
" Aku mengatakannya semata-mata untuk menunjukkan rasa hormatku pada kalian. Karena jika boleh jujur, aku masih mampu mengatasinya sendiri tanpa bantuan kalian, " Tekan Morgan. Setelah mengatakannya, dia berbalik pergi tanpa menghiraukan teriakan kemarahan dari ketiganya.
" Morgan! "
" Dasar anak kurang ajar!, " Decis Marchel menatap punggung Morgan dengan nafas memburu.
" Dia didikanku asal kau tahu, " Cetus Mikhael.
Opa Alex menghela nafas, " Panggil Gavin kemari, ".
--
Reyna berjalan menuju ranjang dan merebahkan dirinya di sana. Menghela nafas sembari menatap langit-langit kamar sebentar, setelahnya dia berguling meraih ponsel membuat posisinya menjadi tengkurap.
" Masih jam satu, " Gumam Reyna. " Udah larut kok, tapi kenapa gue gak bisa tidur ya? " Lanjutnya bermonolog.
Lagi-lagi Reyna menghela nafas. Gadis itu mematikan ponselnya dan bangkit menarik selimut setelah itu kembali merebahkan tubuhnya mencari posisi nyaman.
" Have a nice dream, Angel. Jangan memikirkan apapun, termasuk dengan siapa kau nantinya. Hem.. Dunia ini mengerikan, " Gumam Reyna sebelum tatapannya mulai sayu dengan kelopak mata yang perlahan tertutup.
Dari celah pintu kamar yang sedikit terbuka, Gavin tersenyum kecil menatap Reyna. Tatapan yang semula biasa perlahan meredup, kepalan tangannya pun perlahan melemas saat mengingat kembali percakapannya dengan tetua Alexander beberapa menit yang lalu.
" I'm so sorry, Angel. I really love you, ".
--
Di pagi hari, David terbangun karena tidak merasakan keberadaan istrinya. Calon Papah muda itu beranjak dari ranjang menuju kamar mandi sebelum berakhir dengan memeluk pinggang ramping sang istri yang ternyata sedang menyiapkan sarapan mereka di dapur.
" Ih, ngagetin aja. " Kesal Nayara menepuk pelan tangan David diperutnya.
" Sedang apa? "
" Kelihatannya? "
David mendengus, " Kalo suami tanya tuh di
jawab, bukan malah tanya balik. " Kesalnya.
" Ya lagian, tahu orang lagi masak pakek nanya segala. Basi banget, "
David melotot, " Apa?! Udah berani kamu ya? "
" Ahaha.. Ampun ampun, " Pekik Nayara menahan tangan David yang mulai menggelitiki pinggangnya.
Tangan nakal David berhenti, kembali melilit dipinggang Nayara dengan dagu bertengger nyaman dibahu sang istri.
" Tumben nasi goreng, biasanya juga roti. "
" Kepengen si dede bayi ini, " Ungkap Nayara seadanya.
Memang benar, Nayara bangun pagi sekali hanya karena dirinya yang tiba-tiba ingin makan nasi goreng buatan dirinya sendiri untuk dijadikan sarapan pagi ini.
" Hem, masa? " Tanya David memiringkan sedikit kepalanya guna melihat wajah cantik Nayara.
" Iya, "
" Ya sudah. Mungkin kamu ngidam, "
" Memang iya! Bukan mungkin, " Bentak Nayara membuat David sedikit tersentak karenanya.
" Kok nyentak aku? "
" Hah? Enggak, "
David mengangguk saja biar cepat.
Ditengah keromantisan keduanya, bel rumah terdengar berbunyi nyaring beberapakali membuat David berdecak.
" Siapa yang bertamu di pagi hari begini? Mengganggu saja, " Gerutu David, namun tak urung kakinya melangkah membuka pintu.
" Hi, David. Long time no see, " Sapaan yang keluar dari mulut seorang wanita cantik dengan pakaian glamornya begitu pintu apartement terbuka.
Kening David berkerut, " Why? " Tanyanya to the point.
" Sungguh tidak sopan. Seharunya kau mempersilahkan tamu masuk, minggir! " Ucapnya menggeser tubuh David dan melangkah masuk begitu saja.
" Wah.. Apartementmu jauh lebih indah dibanding sebelumnya ya, David? "
Nayara yang sibuk menata meja makan sontak mengangkat kepalanya, hingga iris coklatnya bertubrukan dengan sosok wanita yang menjadi tamu mereka pagi ini. Hanya dalam satu kali lihat, dengan tampang tak peduli si tamu tak diundang itu membelokkan matanya ke sembarang arah.
" Indah sekali, David. Seleramu memang tidak main-main, "
Wanita itu berbalik menatap David dan lanjut bermata, " Bagaimana jika aku menginap lagi? Tidur dikamarmu dan memanggang barbeque di Gazebo pada malam harinya. Pasti seru, bukan? Sekalian bernostalgia, siapa tahu serpihan-serpihan cinta yang semula pecah bisa disatukan lagi. Hihi.. "
Nayara menghampiri suami serta si tamu dengan kening mengerut, matanya menatap David seolah meminta penjelasan.
" Naya? "
Wanita tadi berbalik, menatap Nayara dengan emosi yang jelas terpasang diwajahnya. Dan dengan tidak tahu malunya dia berkata:
" Oh hai, calon Kakak. Perkenalkan, aku calon istri kedua suamimu. Oops, suami kita maksudku. "
Deg.
Sejenak Nayara menahan nafasnya. Matanya kembali menatap David dengan emosi yang terlihat jelas dalam sorot matanya.
Jika sebelumnya Nayara adalah wanita dengan sejuta kesabaran, maka kini tidak. Hormon ibu hamil membuat emosinya tidak stabil dan meledak-ledak.
" David!! "
Buktinya sekarang. Untuk pertama kalinya Nayara memanggil nama suaminya tanpa embel-embel ' Kak ', dan lebih parahnya lagi dengan intonasi tinggi.
" Apa maksudmu? " David berkata dengan tenang. Namun sorot tajamnya dapat membuat si wanita tadi diam seribu bahasa.
" Aku mencintaimu, David. " Kalimat pertama yang wanita itu katakan setelah lama diam.
" Apa?! " Pekik Nayara.
Wanita itu mengepalkan tangannya, dia berbalik menatap Nayara dan dengan mantap berkata:
" Ya, aku mencintai suamimu jauh sebelum kau mencintainya! "
Nayara menatap dengan mata membelalak, sementara David hanya berdecis mendengarkan omong kosong wanita yang dianggapnya gila.
" Berhenti melantur. Rupanya kau masih membutuhkan psikiater untuk menyembuhkan kegilaanmu itu. Sekarang pergi! " Tegas David.
" Pergi? Kalau aku tidak mau? "
Nayara menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan.
" Bereskan, David! Aku tidak mau ikut campur dalam urusan kalian, " Ucap Nayara sebelum berbalik meninggalkan mereka tanpa peduli.
Tatapan David berubah tajam saat wanita tadi berbalik menatap David dengan tatapan menyedihkan yang terlihat menjijikan dimatanya.
" Pergi, Clarissa. Jangan bicara omong kosong yang dapat membuat istriku salah faham, " Titah David baik-baik, berusaha mengontrol emosinya yang hampir meledak.
" Salah faham? Bukankah itu kenyataan? David, kita akan meni— "
" Sempat. Hanya karena waktu itu ibuku sempat akan menjodohkan kita, bukan berarti aku akan menduakan istriku dengan melanjutkan perjodohan itu. Sekarang pergi dari sini! "
Clarissa menggelengkan kepalanya lemah, " Gak, enggak. Aku cinta sama kamu David. Tapi kamu lebih milih istri kamu yang gak ada apa-apanya dibanding aku?! Kamu— "
" Pergi sebelum kesabaranku habis, " Sela David cepat. " Pergi!! " Habis sudah kesabaran David dalam meladeni wanita ini.
" Dan lagi, ingat selalu perkataanku dan jangan menganggap ini hanya omong kosong semata. Lupakan aku, dan mulai hidupmu tanpa mengganggu keluargaku. Jika tidak, aku tidak akan segan-segan menghancurkan keluargamu tanpa sisa. " Ucap David dengan gigi menggertak menandakan jika ucapannya bukanlah kata-kata semata.
Clarissa terbengong menatap David tidak percaya. Dengan cepat dia menyeka air matanya dan pergi tanpa mengatakan sepatahkatapun lagi.
David menghembuskan nafasnya kasar. Melangkah menutup kembali pintu apartement dan kembali menghampiri Nayara yang tampak tenang dengan makanannya.
" Naya, " Panggil David pelan setelah mendudukkan dirinya di depan sang istri.
" Hem? "
" Dia.. "
" Bukankah wanita itu yang dibawa Kak Morgan saat resepsi kita? " Sela Nayara cepat menatap David.
Dengan gerakan agak kaku David mengangguk, " Y-ya, "
" Siapa namanya? "
" Hah? Clarissa, "
" Hem, Clarissa. " Gumam Nayara mengangguk-angguk sembari melanjutkan makannya.
David menatap istrinya heran.
" Sayang, kamu tidak marah? "
" Untuk apa? "
" Tadi itu— "
" Lupakan! Kau makanlah, David. Setelah itu antar aku ke dokter kandungan, " Sela Nayara setengah membentak.
Tanpa banyak bicara David menurut dan mulai melahap makanannya sesekali melirik ke arah istrinya yang setia dengan ekspresi wajah biasa.
_———_
Siang hari ini, Reyna dan Gavin sibuk menghabiskan waktu berdua meskipun pekerjaan mereka menumpuk di kantor. Jangan salahkan Reyna, disini Gavinlah yang sesat dengan mengajaknya membolos kerja.
Alasannya? Aneh menurut Reyna, karena begitu dia tanya Gavin hanya membalasnya dengan senyuman tanpa mengatakan sepatah katapun. Pria itu dominan terus menempelinya ketimbang mengajaknya berbicara pagi ini, seakan Reyna akan pergi jika Gavin lepas.
Seperti saat ini, Reyna berada di apartement Gavin dengan pria itu yang tidak lepas memeluk pinggangnya. Posisi mereka duduk selonjoran di atas permadani depan televisi dengan Gavin yang tidurran di atas paha Reyna dan kepala yang terbenam diperut datar kekasihnya.
" Angel.. "
" Hem, "
" Kangen, "
Reyna terkekeh mendengar suara manja Gavin yang terendam dibawahnya.
" Perasaan kita tiap hari ketemu deh. Masa kangen, "
Gavin tidak membalas. Dia hanya bergumam dan melanjutkan posisi nyamannya di pangkuan Reyna.
Dengan sayang Reyna mengelus rambut Gavin pelan, " Kamu sebenernya kenapa sih, hari ini? Manja bener. Gak kayak biasanya, "
" Gak boleh? "
" Heran aja sih, "
Gavin semakin membenamkan kepalanya di perut Reyna. Tiba-tiba pria itu mengangkat wajahnya menatap Reyna dari bawah.
" Sore ini ke rumah aku, ya? " Pintanya.
" Boleh, aku juga pengen ketemu sama Bunda Olive. " Balas Reyna.
Gavin mengangguk. Dia bangkit dari tidurnya dan memeluk Reyna yang tentunya dibalas oleh tunangannya itu.
" Sayang banget sama kamu, Gel. Cinta apalagi, "
Reyna hanya tersenyum sembari mengelus punggung pria itu.
Gavin melepaskan pelukannya, mata sayunya menatap iris coklat Reyna membuat yang ditatap balik menatapnya heran.
" Kenapa? "
Tatapan Gavin turun pada bibir pink alami milik Reyna, dan Reyna menyadari itu.
" Kak, "
Gavin kembali menatap bola mata indah itu dengan mulut yang perlahan terbuka dan berucap:
" May I.. Kiss, you? "
Gluk.
Reyna menelan salivanya susah payah. Matanya menatap Gavin memelas berharap Gavin menarik perkataannya namun pria itu malah semakin menatapnya intens.
" Reyna.. "
" A-aku, aku— " Terlalu lama, Gavin tidak tahan.
Untuk pertama kalinya Gavin melewati batas dalam menyentuh Reyna. Dengan Reyna yang hanya pasrah memejamkan mata berusaha menikmati permainan lidah yang Gavin ciptakan.
Hanya dalam beberapa detik Gavin melepaskan ciumannya dengan menyatukan kening mereka, menatap Reyna dengan tatapan penuh sayang.
" I love you, Angel. I love you, "
Reyna memejamkan matanya saat Gavin membawanya ke dalam dekapan hangat pria itu. Membalas pelukan Gavin saat dirasa hatinya sedikit lega dari ketakutan akan Gavin yang berbuat lebih dari sekedar berciuman.
" Maaf, " Ucap Gavin yang menyadari ketakutan Reyna.
" T-tidak, tidak apa-apa. "
Gavin semakin mengeratkan pelukannya, mengecup kening Reyna penuh sayang.
" Aku bawa kamu jalan-jalan dulu, mau? Setelah itu ke rumah Bunda, " Tawar Gavin.
Masih dalam posisi berpelukan Reyna mengangguk.
" Ya sudah, ayo! "
_-_
TBC!
Berapa hari ya? Minggu? Atau mungkin Bulan Saya gak Up ini cerita? He he.. Maklum, anak sekolah. Apalagi di Akhir Oktober dan Awal November tahun lalu Saya lagi Down Down-nya. Bawaannya males aja gitu, nulis cerita. Dan yang lebih parahnya itu kebawa sampai Desember dan malahan sekarang juga🤣
Tapi Alhamdulillah.. akhir bulan tahun baru ini Saya mulai kembali menemukan semangat baru dan tentunya In Syaa Allah dengan skill penulisan baru yang semoga bisa menghibur kalian yang lagi gabut.
Bagi yang protes karena Saya baru Up dan berkata lupa alur, kalian bisa tinggalkan cerita ini atau enggak baca ulang dari awal saja, ya? Jangan komen kayak gitu! Sayanya lagi baperan, kritik dikit mungkin males lagi berhalusinasinya. Ngilang lagi dehhh..
Terima kasih ya, semua. Atas dukungan kalian kepada cerita receh ini.
See U next Chapters!👋