
David membuka lengan kirinya membawa tubuh sang istri bersandar di dadanya. Nayara menggeliat, lebih menarik selimut yang digapai David untuk menutupi tubuh polosnya.
Untuk beberapa saat mereka diam. Sampai elusan dilengan membuat Nayara mendongak menatap suaminya.
" Udah tenang? " Tanya David.
Nayara menggesekkan pipinya di dada keras David yang tidak memakai apapun.
" Hem, "
" Cerita sekarang ya? Kalau dinanti-nanti aku takut kamu pergi, "
" Iya, "
David mengeratkan pelukannya dengan sebelah tangan.
" Clarissa. Dia teman dekat aku dan Morgan saat kuliah dulu, " Ucap David membuka cerita.
" Clarissa yang aku kenal adalah gadis periang, dia baik. Tidak hanya padaku, tapi pada Morgan juga. Maka dari itu aku pun tidak sungkan berbuat baik padanya pula, "
" Suatu hari, Morgan berkata dia menyukai Clarissa. Aku marah saat itu, karena jika Morgan bersama Clarissa, Angel adikku apa kabar? "
" Saat aku marah karena pernyataan Morgan, rupanya ada Clarissa yang menguping. Mungkin saat itu dia mengira aku marah karena cemburu, dia berfikir aku menaruh hati padanya. "
" Untuk beberapa waktu aku dan Morgan saling perang dingin. Di sanalah Clarissa bermain peran, mendekatiku dan menjauhi Morgan. " Ucap David.
Nayara diam mendengarkan.
" Singkat cerita hubunganku dan Morgan membaik setelah Morgan menyadari jika dia tidak benar-benar menyukai Clarissa. Satu minggu setelah itu, kami menyelesaikan pendidikan bersama dan kembali ke kota ini. Di sini, aku melihatmu dan langsung mengikatmu tanpa sepengetahuan Clarissa. "
" Karena menurutku, tidak penting juga dia tahu. Namun setelah pernikahan kita diketahui publik dan sampai pada telinganya, seperti yang kau tahu, dia berulah. "
" Dan masalah di kantor, " Nayara menatap David lekat, begitupun sebaliknya.
" Aku salah, maaf. Aku terlalu naif menginginkan sahabat baikku kembali seperti dulu, dan menganggap jika Clarissa tidak mungkin berbuat sejauh itu. Tapi nyatanya, karena diam ku hubungan kita memburuk. Maafkan aku, "
Nayara menggenggam erat selimut yang menutupi tubuhnya, " A-aku, setiap mengingatnya aku.. Sakit banget, "
David merengkuh tubuh istrinya membuat Nayara setengah menindihnya.
" Maaf sayang, maaf. Demi apapun aku tidak berniat menyelingkuhi mu. Bodoh jika aku menyia-nyiakan hal yang dulunya ku perjuangkan setengah mati, "
Nayara menyelusupkan kepalanya di leher David.
" Maafku telah kamu dapatkan. Tapi itu tidak dapat menghilangkan bayang-bayang dan rasa sakit akibat kenaifanmu, Kak. "
David memejamkan mata erat-erat. Tangannya tanpa sadar semakin memeluk kuat tubuh Nayara.
" Aku bukan malaikat. Aku tahu ini egois tapi, bagiku sekali berkhianat tetaplah pengkhianat. "
" Apa yang harus aku lakukan? " David bertanya dengan suara serak.
" Sama seperti yang aku minta di rumah Oma, aku ingin berpisah. "
Deg.
Nafas David mulai memburu. Sepertinya Nayara tidak akan luluh jika diajak bicara baik-baik. Bolehkah sekarang dia mengandalkan sisi kejamnya?
" Jangan memancingku, Nayara. " Ucapnya berdecis.
Mata Nayara sedikit membulat, sedetik kemudian dia menghela nafas dan melonggarkan pelukan agar dapat melihat wajah David.
" Maksudku, berpisah rumah. Aku butuh waktu untuk sendiri, Kak. Dan kamu juga perlu merenungkan kesalahanmu, " Ucap Nayara dengan lembut.
Sorot tajam itu perlahan melembut. David mengangkat tangannya menyingkirkan helaian rambut yang menghalangi wajah cantik istrinya.
" Kita bisa merenungkannya tanpa berpisah, bukan? Aku tidak bisa jauh darimu, sayang. Itu bisa membuatku gila, "
Nayara menggeleng, " Tidak bisa, "
" Sayang? "
" Kak, kumohon.. "
David tersenyum lembut, tangannya melingkar dipunggung Nayara dan menarik tubuh istrinya kembali tidur diatasnya.
" Maaf, sayang. Aku tidak bisa. Untuk masalah Clarissa, pegang sumpahku jika sampai aku kembali berurusan dengannya, aku sendiri yang akan pergi darimu. "
Nayara terenyuh, tanpa sadar kepalanya dia sandarkan pada leher David dengan mata mulai terpejam.
" Hanya satu kali. Jika ada yang ke dua aku tidak bisa sepemaaf ini, "
______-_______
Dengan senyuman lebar dan teriakan membahana yang keluar dari bibir sexynya Reyna memasuki rumah.
" Mommy!! Yuhuu.. Lihat Angel bawa apa, "
" Kakak!! "
" Hi cadel, " Reyna berjongkok membawa Aaron kedalam gendongannya.
" Makan apa ini? Belepotan banget. Em, coklat. Berhenti makan coklat Aaron, mau gendut kamu?! " Tegur Reyna.
Aaron menggeleng polos, " Tapi enak, " Ceplosnya.
" Iya sih. Yang tidak baik kadang suka nikmat, "
" Bawa apa? " Tanya Aaron celingak-celinguk.
" Oh, banyak dong. Tebak Kakak bawa apa? "
" Angel, " Bella datang bersama Oma Lyora. Sedangkan Oma Lyandra dan yang lainnya sibuk entah ke mana.
" Mom, Grandma. "
Dari arah pintu terlihat Morgan yang tampak kesusahan membawa banyak belanjaan Reyna.
" Astaga, Morgan. " Bella menghampiri membantu calon menantunya.
" Apa itu? Kenapa banyak sekali? " Tanya Oma Lyora dengan logat Korea. Mungkin akibat terlalu lama berada di negeri tempat para suami khayalan Reyna tinggal.
" Cucu grandma tuh! " Morgan menunjuk Reyna. " Gak cukup porotin uang, tenaga Morgan aja Nana manfaatin. Tapi Morgan sabar. Baik banget kan sama calon istri? "
Bella terkekeh, " Salah kamu sih ajak Angel belanja. Gak tahu aja anak itu suka khilaf, "
" Bukan khilaf, Bella. Seperti itulah sifat wanita. Niat membeli ini namun bukan hanya itu yang dibeli, " Sahut Oma Lyora.
" Halah, " Morgan memutar bola mata kesal.
Reyna tertawa kecil, dia menurunkan Aaron membuat bocah itu lantas mengobrak-abrik belanjaan Kakaknya.
" Jangan gitulah, ayang. Masa sama calon istri pelit, " Rayu Reyna bergelantung manja dilengan Morgan.
Morgan mendelik, " Manja aja kalo ada maunya, "
" Ihh ayang, "
" Malah gelik tahu gak Na? "
" Lah an— "
Cup.
" Gak boleh kasar, "
Reyna tersenyum lebar, dia menyandarkan kepalanya dilengan Morgan dengan pipi sedikit bersemu. Ah.. Kenapa sekarang rasanya Morgan sangat manis?
" Lagi dong, " Pinta Reyna mendongak.
" Apa? "
" Kissnyaa.. "
Cup.
" Kok di pipi? Kan aku mau kayak tadi, "
Cup.
Morgan mencium kening Reyna. Semburan merah kembali menghiasi wajah cantik calon mempelai wanita itu.
" Sweet banget kalo kamu kecup kening aku kayak tadi. Kerasa banget kamu sayang akunya, " Aku Reyna merona.
Morgan terkekeh, dia mengusap kepala Reyna lembut dengan tatapan yang ikut melembut.
" Tanpa ditunjukin juga aku memang sayang kamu, Na. Bahkan lebih dari yang kamu tahu, "
" Masa? "
" Hem, "
" Besar mana sama sayang aku? "
" Besar aku, "
" Tapi aku juga sayang kamu, "
" Aku lebih sayang kamu, "
" Aku lebih lebih, "
" Aku lebih lebih lebih, "
" Aku lebih lebih lebih lebih, "
" Aku jaaauhhh lebih lebih, "
" Aku— "
" Ekhem, serasa dunia milik berdua. " Dehem Oma Lyora menatap gelik Morgan dan Reyna.
" Iya, Mom. Kita yang ngontrak nonton saja, " Sahut Bella mengundang kekehan dari Oma Lyora.
" Apa ih, ganggu aja. " Ucap Reyna menutupi malu.
" Ahh jangan malu-malu kamu, lagian— "
" Kakak lihat Aalon gambar apa! "
Mata Reyna melotot, " Poster gue!!! "
______-_______
Di lain tempat ada Opa Alex, Marchel, Mikhael serta Opa Jack berkumpul dalam satu ruangan sedang membahas pembahasan yang sepertinya sangat penting dan rahasia.
" Jadi bagaimana? Apa langkah selanjutnya? " Tanya Mikhael.
" Diubah. Kita tidak bisa mengikutsertakan David. Selain sibuk berumahtangga, kalian juga tahu sebahaya apa bocah itu ketika marah. " Jawab Marchel.
" Biar Grandpa saja, "
Semua mata tertuju pada Opa Jack.
Opa Alex menatap Opa Jack sinis, " Cih, dengan lutut bermasalahmu kau bisa apa, Jack? " Hinanya.
" Jangan salah, aku masih bugar. Umurku boleh tua, tapi staminaku bisa dicoba. Justru melihatmu aku kasihan sekali, Alex. Apa tongkat itu tidak bosan kau bawa ke mana-mana? "
" Sialan kau, "
" Apa gadis itu masih bersama mantan Angel? " Tanya Jack mulai serius
Marchel menghela nafas, " Ya. Dan sepertinya dia akan tewas jika dibiarkan lama bersama Gavin, "
" Hem, kau benar. " Angguk Mikhael.
" Dan Morgan? "
" Kita juga tidak bisa melibatkannya. Sebisa mungkin aku dan Mikhael yang akan membereskan wanita tua itu, Daddy. Dan mengirim Morgan beserta putriku jauh dari sini, " Jawab Marchel menatap Opa Jack.
Opa Jack menyandarkan tubuhnya, " Hem.. Sungguh merepotkan jaalang mantan rivalku itu, "
" Bagaimana jika dia menyerang saat hari pernikahan cucuku? "
Pertanyaan Opa Alex membuat seluruh mata tertuju padanya.
Hening beberapa saat, namun dengan suara berat nan tegas Marchel menjawab:
" Maka saat itu juga akan kumusnahkan dia, "
_-_
TBC!