
Di malam yang semakin larut, Reyna menikmati angin malam dengan menidurkan diri di paha David uang dia jadikan bantal.
Saat ini, mereka sedang berada di balkon dekat kamar Reyna. Sejak tadi juga David tidak henti mengelus sayang kepala adiknya.
Karena terpisah yang bertahun-tahun lamanya, membuat David sejak tadi terus menempeli Reyna. Dia rindu adik reseknya.
Reyna sendiri tidak masalah, dia nyaman-nyaman saja. Tidak ada kata canggung baginya pada David meskipun mereka telah berpisah lama. Karena bagi Reyna, kebersamaan mereka sedari kecil lebih lama ketimbang perpisahan mereka.
Reyna sedikit menggerakkan kepalanya di paha David dan mendongak menatap wajah Kakaknya.
" Abang, "
" Hem, " Tangan David masih sibuk melakukan kegiatannya.
" Kaku bener kayak kanebo, " Ceplos Reyna dengan muka jutek.
" Lalu harus seperti apa? "
" Ya.. Kayak dulu kek. Loe kan tengil, "
" Kita sudah dewasa, Angel. "
" Itu aja terus dari tadi, " Kesal Reyna. " Lagian ya Bang, hanya karena kita telah dewasa sikap kita tidak harus dingin kayak Abang. Umur boleh tua, tapi jiwa harus tetap muda. Annjay, " Sorak Reyna.
" Jangan gitu! " Larang David mencubit pipi tirus Reyna.
" Aw, sakit. "
" Abang peringatkan, Angel. Jangan kekanak-kanakan lagi, jangan banyak tingkah! "
" Lah, perasaan Angel pendiem deh. Banyak tingkah dari mananya coba? " Tanya Reyna tidak tahu diri.
" Cih, pendiam apanya. "
Reyna tertawa, dia menggapai tangan David yang masih bermain di rambutnya dan giliran Reyna yang mainkan.
" Jujur ya, Angel lebih suka Abang yang tengil kayak dulu. Jangan dingin-dinginlah, ntar gak dapet jodoh. Kalo Abang gak nikah-nikah, Daddy punya cucu dari mana coba? " Tanya Reyna mencoba mengubah kedinginan seorang David Alexander.
" Dari kamu, " David menjawab dengan entengnya.
" Angel gak bisa punya anak, Abang. Abang lupa ya? "
Sorot mata David menajam, " Jangan ngaco, Angel! Ucapan adalah do'a, "
" Ya memang kenyataannya begitu, Angel gak bisa punya anak. Abang kok gini sih? Kan waktu dokternya bilang, Abang juga ada di sana. Abang lupa ya? "
" Kamu bisa sembuh. Kamu juga lupa ya, dokter bilang gitu? " Balas David.
" Angel gak mau jalani pengobatan, " Kata Reyna final.
" Biarlah ini terjadi seperti semestinya. Rasanya, Angel juga gak punya keinginan untuk menikah. Angel ingin sendiri, ada kalian juga yang bersama Angel. Kenapa harus menikah segala coba? " Ucapnya.
David menghela nafas. Sepertinya kini gilirannya untuk mengubah pola fikir Reyna.
" Apa kamu pikir kami akan selamanya ada bersamamu, Angel? Usia terus bertambah, dan kematian semakin mendekati. Jika nanti kamu tidak juga memiliki pasangan yang akan menjagamu seumur hidup, apa kau tidak merasa kesepian tinggal sendirian? " David angkat suara.
" Opa dan Oma akan meninggalkan kita lebih dulu, sementara Mommy dan Daddy semakin tua. Mereka pasti menginginkan tempat untuk menghabiskan hari tua tanpa gangguan kita. Dan Aku? Aku juga akan berkeluarga. Sedangkan kau? Bersama siapa nanti akan tinggal? Tidak mungkin kau ikut tinggal bersama aku yang telah berkeluarga, bukan? "
" Pikirkan lagi, Angel. Keluarga ada untukmu di kala sakit nanti. Keluarga ada di saat kau butuh dukungan nanti. Dan keluarga, ada untuk melengkapi hidupmu di dunia yang sementara ini. Bodoh jika kau berfikir bisa hidup tanpa yang namanya keluarga. Karena setiap orang pasti mempunyai keinginan yang sama, yaitu membangun sebuah keluarga bahagia. "
Reyna terdiam. Dia tidak mengelak ataupun menerima. Baginya membagun sebuah keluarga baru masih terasa abu-abu, dia belum siap dan belum mau jika sampai direndahkan bahkan di madu oleh suaminya karena tidak dapat memberi keturunan. Itu yang menjadi alasan Reyna tidak ingin menikah.
" Kau dengar, Angel? "
" Hah? Ah, i-iya. "
" Jangan berfikir yang tidak-tidak! Karena masa depan tidak ada yang tahu, Angel. Bisa saja kau hamil dalam sekali melakukannya, " Ucap David.
" Ahh.. Sudahlah! Rasanya tidak mood kita membahas pernikahan. Oh ayolah! Usiaku baru 22 tahun, belum 40 tahun. Kenapa juga harus pusing dengan yang namanya pernikahan? Aku masih ingin sukses dulu, Abang. Bukannya pusing dengan berumah tangga, " Kata Reyna bangkit dari tidurnya.
" Tapi pada akhirnya dapur dan mengurus anak adalah pilihan terakhirmu, Angel. "
" Menyebalkan, " Decis Reyna membuat David terkekeh.
" Sini! "
Reyna memeluk David dari samping dengan David yang menariknya hingga terduduk.
" Apapun keputusanmu, Abang dukung. Asalkan itu tidak merugikanmu di masa, "
Reyna terdiam dan memejamkan mata dalam pelukan David.
Beberapa saat, keheningan menyelimuti mereka. Hingga akhirnya celetukan Reyna membuat David menyeringai:
" Abang kapan nikah? "
" Dua bulan dari sekarang. Atau mungkin.. Dua minggu, " Jawab David enteng.
" Wah, demi apa?! " Pekik Reyna heboh. " Abang, dengan siapa? Jangan bilang kamu menghamili anak orang? " Tuduh Reyna dengan mata melotot.
" Tidak, bodoh! " David menyentil kening Reyna.
" Aw, sakit ih! Tapi.. Siapa calon Kakak ipar Angel? " Tanya Reyna penasaran.
David mengeluarkan senyuman penuh artinya, " Kau akan tahu nanti, "
______-______
Dentunan musik terdengar nyaring di sebuah ruangan. Dengan diiringi lampu klelap-klelip, juga hebohnya goyangan para humans yang datang untuk menghilangkan stres maupun untuk bersenang-senang semata.
Di salah satu ruangan VVIP, Morgan mengerang menerima jilatan wanita nakal di leher dan telinganya. Dia membuka mata, menatap wanita berpakaian ketat dan transparan itu dengan lapar.
" Mulai, sayang? " Goda si wanita nakal.
Morgan menarik pinggang wanita itu ke atas pangkuannya. Dia meremass bookong berisi si wanita dengan bibir yang mulai menyambar bibir tebal milik wanita itu.
Bibir mereka bertubrukan, lidah mereka saling membelit dan permainanpun semakin liar saja. Saat Morgan tergesa-gesa mengangkat wanita yang akan ditelanjanginya dan memulai permainan yang sesungguhnya, wajah cantik Reyna terlintas begitu saja dalam pikirannya.
Bruk.
" Awh, are you crazy?! " Maki si wanita yang dijatuhkan Morgan ke lantai.
Kening Morgan berkerut bingung, gerakan itu murni refleks hasil respond dari tubuhnya saat wajah Reyna memenuhi kepalanya.
" Tuan, kau kenapa? Jika tidak sedang ingin jangan di paksa, kau menyakitiku! " Ujar si wanita.
Morgan ling-lung, dia mendudukkan dirinya di sofa dan mengibaskan tangan mengusir si wanita.
Setelah wanita itu keluar dengan mulut yang mencibir, Morgan memijit kepala dengan pikiran melayang pada Reyna.
" Sial. Kenapa wajah itu terus terbayang? Kenapa aku sangat ingin memeluknya? Dan kenapa dia mampu memendam ***** gilaku disaat sedang panas-panasnya? " Gumam Morgan.
" Arghk!! " Erang Morgan mengacak rambutnya frustasi.
" Aku tidak peduli. Lebih baik aku pulang dan menenangkan diri. Berlama-lama di sini dengan mengingat si sepupu membuatku muak saja, " Gerutu Morgan memakai kembali jasnya dan pergi dari sana.
_____-_____
Sekitar pukul 2 malam, Reyna terbangun dari tidurnya. Dia melirik Bella sang ibu yang masih menutup mata dengan tangan yang memeluk pinggangnya erat.
Yah.. Malam tadi Bella kekeh ingin tidur bersamanya. Katanya untuk melepas rindu. Bahkan suami dan anak bungsunya dia tinggal demi Reyna.
Reyna tersenyum, dia mengecup kening Bella dan melepas pelukan ibunya pelan. Setelah itu, Reyna pun beranjak menuju dapur guna mengambil minun. Karena sebelum tidur Reyna lupa mengisi botolnya di kamar.
Tap.. Tap.. Tap..
Reyna menuruni satu persatu anak tangga dengan langkah agak sempoyongan. Matanya setengah terbuka dengan mulut yang berulangkali menguap.
Karena efek bangun tidur, Reyna tidak terlalu fokus pada langkahnya. Bahkan dia sendiri merasa melayang.
Hingga di tiga tangga terakhir, Reyna salah pijak hingga berakhir tubuhnya pun menjadi tidak seimbang.
Hap.
Seseorang menangkapnya. Orang itu memegang erat pinggang Reyna dengan Reyna yang memeluk orang itu tak kalah eratnya karena terkejut.
Posisinya, Reyna yang pijakannya berada di anak tangga ke tiga sementara tubuhnya condong ke bawah dengan si penangkap yang ada di bawahnya.
Reyna melotot, dengan cepat dia melepaskan pelukannya dan berdiri nornal. Reyna menajamkan penglihatan berusaha melihat orang yang telah menyelamatkannya dalam kondisi sekitar yang gelap.
" Mo-morgan? "
Morgan menatap Reyna datar. Karena wanita ini dia tidak jadi meraup kenikmatan, fikir Morgan.
" Kau mau ke mana? " Tanya Morgan serak.
" Ambil air, " Dengan polosnya Reyna mengangkat tupperware berwarna merah di tangannya.
Morgan menatap Reyna sekilas, kemudian beranjak menuju kamar David meninggalkan Reyna yang menatap kepergiannya bingung.
" Ada apa dengannya? "
Reyna menggeleng, dia pun memilih melanjutkan langkahnya menuju dapur.
Di atas, Morgan berhenti melangkah. Dia berbalik dan menatap Reyna yang telah berlalu pergi.
Tangan Morgan mengepal saat merasakan rasa itu kembali datang. Persetanan dengan bingung, dia beranjak cepat menyusul Reyna dan tanpa kata memeluknya dari belakang.
" Siapa kamu sebenarnya? "
Deg.
Reyna mematung. Gelas di tangannya sampai terlepas saking terkejutnya dengan pelukan tiba-tiba ini.
" M-mo-morgan? "
Morgan mengeratkan pelukannya dan menghirup rakus aroma tubuh Reyna yang dapat menenangkannya dalam sekejap.
" Tidur denganku, "
_-_
TBC!
...HEY BOY, I LOVE YOU! ...
Episode: 38, publik 25 Agustus di- *Hot^Buku*
Cuplikan:
...Marsya Grizella Naaruna & Arrayan Adhitya Alvian...
____^<___
" Gue tahu namanya, " Ungkap Marsya.
Reyhan terkekeh sinis, " Jadi loe udah tahu namanya ya? Wah.. Gak nyangka gue. Tapi.. Loe gak curiga gitu? " Reyhan seperti sedang memancing sejauh apa Marsya tahu mengenai Arya, adik tersayangnya itu.
" Curiga? Boy bukan elo yang patut di curigai, Kak Reyhan. " Marsya menekankan kalimat terakhirnya.
" Gue tahu, gue gak bodoh kayak Bellvania yang masih mau aja sama cowok hina kayak loe. Dan gue juga gak peduli, gue gak peduli maksud loe apa dengan berkata begitu dan gue sama sekali gak tertarik membahasnya. " Ucap Marsya final.
" Dengar, Reyhan. Jangan karena loe pacar sahabat gue jadi loe bisa atur-atur kehidupan pribadi gue. Gue sama Boy, terserah gue dong. Loe gak ada hak dan gak bakalan berhasil jika memiliki niat menghancurkan hubungan kita. Ngerti kan loe? " Tekan Marsya dengan mata melotot tajam.
Setelah berkata demikian, Marsya membalik badan dan berlalu pergi tanpa menunggu balasan dari Reyhan dan keberadaan Arya yang masih berdiri di sana.
Arya menatap Reyhan, kali ini dia yang mengeluarkan seringaian.
" Lose, " Kata Arya tanpa suara.
Arya ikut pergi dari hadapan Reyhan.
Tangan Reyhan mengepal, " Sial! " Makinya ikut pergi ke arah yang berlawanan.
Di tempat lain, tepatnya di ujung kolidor, Bellvania melihat pertengkaran mereka dengan tangan di lipat di dada. Meskipun tidak mendengar apa yang menjadi masalah hingga mereka sampai bertengkar seperti itu, tapi dengan menatapnya saja Bellvania tahu jika Reyhan cari masalah dan kembali mengancam Arya.
" Bagus, Arya. Jangan mengalah padanya lagi, " Batin Bellvania tersenyum miring.
" Bell, ayo ke kantin Icha laper! "
Tepukan di bahunya membuat Bellvania tersadar, dia menatap Icha.
" Ayo! "