
Nayara mengerjapkan matanya. Dengan mata sedikit buram serta nyawa yang belum sepenuhnya berkumpul dia mendudukkan dirinya di atas ranjang.
Nayara terdiam sesaat, sedetik kemudian pipinya bersemu mengingat malam tadi. Semalam sungguh menyebalkan, antara ingin menangis dan tertawa mengingat kegiatan yang dirinya lalui bersama David.
Suaminya itu tidak peduli keadaan. Nayara lelah pun tetap ritual malam pertama mereka terlaksana begitu lancar semalam. Sebal sekali jika mengingat dirinya yang terlewat lelah namun David yang masih bersemangat.
Bayangkan saja, mereka melakukannya dari pukul 10 malam sampai pukul 5 pagi. Itu pun dengan istirahat yang sedikit. Naafsu David mengerikan, pria itu baru berhenti saat dirinya tertidur atau mungkin.. Pingsan?
Nayara mendengus. Jika dia layani sampai David puas entah akan sampai kapan pergulatan panas mereka terjadi. David benar-benar sesuatu, tidak ingin Nayara mengetahui batas akhir dari kelakian suaminya itu.
" Sudah bagun? "
Nayara menatap kedatangan David dengan nampan berisi makanan dan segelas susu hangat di tangannya.
" Naya? "
" Hah? Eum, iya. " Balas Nayara gugup.
" Bangun, sarapan dulu! "
Nayara mengangguk. Dia menyibak selimut dan berjalan menuju David dengan ringisan beberapa kali terdengar di setiap langkahnya.
Nayara memakai pakaian, dia tidak teelanjang. Karena setelah melakukan itu dirinya dan David terlebih dahulu membersihkan diri. Tidak ingin ribet, jadilah Nayara memakai kemeja David. Hanya kemeja saja.
David melihat cara berjalan Nayara yang sedikit tidak normal, dia terkekeh pelan dan menutup rapat mulutnya saat sang istri sudah terduduk di sampingnya.
" Minum dulu air putihnya, setelah itu makan dan minum susu. "
Nayara mengangguk patuh. Dia mulai melahap makanan yang David bawakan dengan pelan sedangkan David hanya menemani dan memperhatikan wajah cantik istrinya yang sedang makan.
" Kak David.. Tidak makan? "
David menggeleng, " Sudah tadi di bawah, "
Nayara mengangguk faham. Ringisan kembali terdengar dari bibir kecilnya membuat ide jahil muncul di otak tampan David.
" Kenapa kamu? " Tanya David tanpa dosa.
" A-aku.. Kayak ada yang ngeganjal gitu. Shh.. Gak enak duduknya, " Keluh Nayara dengan bookong yang tidak berhenti bergerak mencari posisi nyaman.
" Ngangkaang saja, "
Blush..
Seketika otak suci Nayara travelling karena ucapan David. Sepertinya pria itu sengaja mengucapkan kata yang semalan David ucapkan berulangkali kepadanya.
" Kok diem? Gak bisa ya? Mau di bantu gak? " Goda David mengerling nakal.
" E-enggak. Kak David ish, " Kesal Nayara melihat David yang terus tersenyum menggoda ke arahnya.
" Aku siram nih, " Ancam Nayara mengangkat gelas.
" Siram aja! Biar imbang. Semalam juga kan aku nyiram rahim kamu, "
" Kak David.. " Nayara merengek membuat tawa David lepas.
" Jangan ketawa! "
" Kak David!! Aku marah nih, " Kesal Nayara cemberut.
" Ha ha.. Iya iya maaf. Ayo, lanjut lagi makannya! Kelihatannya kaki kamu sakit, jangan jalan dulu kalo gak mau aku gendong. "
" Sakit juga karena siapa, " Dumel Nayara membuat David kembali terkekeh.
" Gemesin banget sih istri aku, " Kata David mengusap kasar rambut Nayara.
" Udah ih, "
" Setelah ini kita ke mana? " Tanya Nayara menatap David.
Entahlah, setelah kegiatan mereka semalam rasanya Nayara tidak malu-malu dan sungkan jika bertanya bahkan meminta pada David. Mungkin karena sudah tidak perawan.
" Kamu maunya ke mana? " Tanya balik David.
" Memangnya Kak David tidak bekerja ya? "
David mendengus, " Aku tanya kamu malah balik nanya, "
" Ya maaf. Serius aku tanya, Kak David gak kerja? Masa iya ambil cuti nikah. Pernikahan kita saja bahkan tidak diketahui orang kantor, " Ucap Nayara menatap David penasaran.
" Aku cuti alasan kesehatan. Jika tidak, alasan apa lagi yang bisa ku buat? Jangan khawatir. Di sana aku bos nya, jadi aku bebas. " Sombong David membuat Nayara mendecis.
" Kamu mau ke mana? " Ulang David bertanya. " Si sini saja ya? Nanti siang ke rumah Mommy, sorenya ke rumah Mommy kamu. "
" Ini juga udah siang, " Sungut Nayara.
" Ya sudah nanti sore saja. Sekalian nginep di mansion Opa. Paginya kita ke rumah kamu, nginep juga di sana. Gimana? "
" Iya, "
" Sekarang habiskan sarapannya! "
Nayara mengangguk. Dia semakin cepat memasukkan sesuap demi sesuap nasi ke dalam mulutnya hingga habis tak tersisa.
" Ahh.. Sudah, " Desah Nayara setelah menyeruput segelas susu sebagai penutup.
" Pintar, " Puji David mengusap kepala Nayara sayang.
" Kamu tunggu di sini, jangan ke mana-mana. Aku cuci dulu piringnya, " Pinta David mengecup singkat kening Nayara.
" Eh biar aku aja Kak, " Kata Nayara berdiri dari duduknya.
" Udah gak apa-apa. Kamu diem, aku ke sini lagi nanti. "
Nayara pun mengangguk merasa tidak memiliki pilihan. Sementara David sudah turun ke bawah guna mencuci piring dan gelas bekas makan Nayara.
Diam-diam Nayara tersenyum. Dia mulai merasa Nayaman bersama David. David memperlakukannya sangat manis setelah menikah dan sepertinya tidak ada alasan untuk Nayara menjauh bahkan takut pada suaminya itu.
Nayara menunduk, menatap perutnya dengan perasaan bahagia yang tergeser oleh kegundahan.
" Semalam Kak David mengeluarkannya di dalam. Jika aku hamil bagaimana? " Batin Nayara risau.
Katakanlah Nayara bodoh karena takut mengandung saat hubungan mereka saja dirahasiakan dari publik. Nayara hanya tidak ingin calon anaknya dikatai anak haram, tidak semua orang akan percaya jika nanti mereka mengungkap kebenaran kalau dia dan David telah menikah bahkan jauh sebelum resepsi diselenggarakan.
π π π π π
Pagi sampai dengan sore Reyna habiskan waktunya berdua bersama Gavin. Banyak hal yang mereka lakukan, mulai dari sarapan bersama, mengelilingi perusahaan yang ternyata terletak di pinggir pantai, juga saling bertukar cerita akan apa yang keduanya lalui selama mereka berpisah.
Gavin sangat baik, dia sangat memperhatikan Reyna sejak pria itu membawanya keluar dari kamar hotel. Dan hanya dalam kurun waktu satu hari Reyna merasa kembali mendapatkan Gavin yang dulu membuat kecanggungan hilang di antaranya.
Dan di sinilah mereka berakhir. Duduk di atas pasir dengan berteelanjang kaki menatap langit atas pantai yang mulai memperlihatkan rona merah kekuning-kuningannya.
" Aku sempat terkejut mendengar pengakuan Morgan, " Ucap Gavin membuka suara.
" Memang apa yang si gila itu katakan? "
" Dia menyukaimu, "
Reyna menatap Gavin, tawa hambar keluar dari mulutnya yang membuat siapa saja yang mendengarnya akan merasakan kemirisan dari tawa Reyna, termasuk Gavin.
" Dia hilang ingatan, Kak Gavin. " Ucap Reyna lirih. " Jika ucapanmu ditujukan pada Morgan yang dulu mungkin aku percaya. Tapi jika Morgan yang ini, aku anggap perkataanmu adalah bualan. " Lanjut Reyna tersenyum kecil.
Gavin menatap Reyna lekat, " Kamu masih mencintainya, Angel? "
Reyna balik menatap Gavin tanpa membalas. Tatapannya menyirat kepedihan yang mendalam namun dapat Gavin lihat kepasrahan di dalamnya. Seakan Reyna pasrah dan menyerahkan Morgan. Hasrat gadis itu seperti tidak lagi mengharapkan kehadiran Morgan dalam hidupnya.
Baru saja Gavin hendak membuka suara, deringan di ponselnya membuatnya mengurungkan niat dan memilih mengangkatnya.
" Halo? "
" Mr Haydar, di bawah ada keributan. " Terdengar suara asisten pribadinya.
" Ada apa? Bukankah Saya sudah memintamu mengawasi keamanan selama Saya di pantai? " Ujar Gavin dingin.
" Begini Tuan, masalahnya yang mengamuk adalahβ "
" Saya segera ke sana, " Potong Gavin menutup teleponnya sepihak.
" Ada apa? " Tanya Reyna melihat Gavin berdiri terburu-buru.
" Angel, ayo kembali ke kantor! Sepertinya sepupumu itu datang dan mengacaukan semuanya, " Terka Gavin.
" Mo-morgan? Bagaimana bisa, "
" Ayo, "
Reyna menyusul Gavin dan ikut melangkah tergesa-gesa dari sana.
Sesampainya di lantai bawah perusahaan, benar saja apa yang dikatakan Gavin. Morgan berdiri angkuh dengan dagu terangkat menatap Reyna dan Gavin datar.
" Sepupu, loe ngapain di sini? " Cicit Reyna menatap kanan-kiri.
Untung saja para pegawai sudah bubar sejak satu jam yang lalu. Jika tidak, habis sudah ekspetasi Reyna akan ketidaktahuan mereka pada statusnya yang adalah salah satu anggota keluarga Alexander.
" Mainnya lupa waktu, cantik. " Ucap Morgan berkata manis namun dengan nada datar.
" Yang bawa juga tidak tahu diri sekali, " Sindirnya pada Gavin.
" Aku baru akan mengantarnya. Lagian, Angel sudah meminta izin pada Tante Bella. " Balas Gavin terkekeh sinis ke arah Morgan.
" Dan tante Bella itu juga yang menyuruh Saya menjemput putrinya, " Ujar Morgan membuat keduanya saling tatap.
" Bohong ya? " Tuding Reyna. " Masa iya Mommy suruh loe jemput gue, "
" Tidak percaya tidak masalah, " Ucap Morgan. " Pulang! " Lanjutnya memerintah.
" Akan ku antar, "
" Tidak perlu. Saya menjemputnya, " Tolak Morgan.
" Aku tidak bertanya padamu, " Sinis Gavin.
" Saya sudah berada di sini loh, Nana. "
" Tapi aku yang membawanya, aku juga yang harus mengembalikannya. " Ucap Gavin tidak mau kalah
" Jangan membuang waktu. Saya bukanlah CEO tidak ada kerjaan yang menghabiskan waktunya secara percuma hanya karena ingin memodusi gadis orang, "
" Hey apa maksudmu?! " Semprot Gavin yang merasa tersindir.
" Apa? Cepat Reyna, Saya sibuk. "
" Jika begitu silahkan Anda pulang, " Gavin yang menjawab.
" Dengan membawanya, " Tunjuk Morgan pada Reyna.
" Tidak perlu repot, dia aman bersamaku. Aku yang akan mengantarnya pulang, "
" Tapi ibunya menyuruh Saya yang menjemputnya pulang, "
" Katakan saja dia akan aku antar, "
" Begitukah? "
" Tentu, "
" Saya tidak mau. Bicara sendiri jika berani, " Tantang Morgan membuat Gavin bungkam.
Sedangkan Reyna, gadis itu hanya bisa berkedip menatap acara adu mulut antara Gavin dan Morgan. Reyna akan menatap siapa yang berbicara tanpa berminat turut campur ke dalamnya.
" Jadi aku pulang sama siapa? " Tanya Reyna ketika keduanya saling menatap tajam dalam diam.
" Aku, "
" Saya, "
Reyna menatap terkejut pada Gavin dan Morgan yang bicara bersamaan, membuatnya tanpa sadar merasa gemas pada kedua pria yang tidak mau kalah ini.
" Jika boleh aku ingin menarik lidah mereka, " Batin Reyna kelewatan gemas.
_-_
TBC!